Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Penentuan Derajat Luka pada Kekerasan Mekanik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari - Juli 2019 Kelwulan, Jessica E.; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.28604

Abstract

Abstract: Determination of the degree of injury is highly important to identify the type and severity of abuse, in order to decide the level of punishment against the perpetrators. In case of living victim, a doctor may provide information regarding the injury. Type of injury, type of violence that caused the injury, and determination of injury's qualification or degree of injury, will be translated in the form of Visum et Repertum . Visum et Repertum is necessary to uncover clarity, truth and complete proof of material about a crime. It is important for a doctor to be able to determine the qualification of an injury in order to decide the severity of the sentence against the suspect. This study was aimed to determine the degree of injury in mechanical violence at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January to July 2019. This was a retrospective and descriptive study using Visum et Repertum data. The results obtained 39 cases of mechanical violence. Majority of cases had sharp violence (24 cases; 61.5%), second degree injuries (29 cases; 74.4%), males (34 cases; 87%), and the age range was 15-24 years old (17 cases; 43.5%). In conclusion, most cases were males, age range of 15-24 years, had sharp violence with second degree injury.Keywords: mechanical violence, degree of injury Abstrak: Penentuan derajat luka sangat penting dilakukan untuk mengetahui jenis penganiayaan yang dilakukan dan berat ringannya ancaman hukuman terhadap pelaku. Visum et Repertum (VeR) sangat diperlukan untuk mencari kejelasan, kebenaran, dan pembuktian materil yang selengkap-lengkapnya tentang suatu tindak pidana. Kemampuan seorang dokter dalam menen-tukan kualifikasi luka sangat penting bagi pihak berwajib untuk menentukan berat ringannya hukuman terhadap tersangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat luka pada kekerasan mekanik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari sampai Juli 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data hasil VeR. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 39 kasus kekerasan mekanik. Mayoritas kasus ialah akibat kekerasan tajam pada 24 kasus (61,5%), luka derajat dua pada 29 kasus (74,4%), jenis kelamin laki-laki pada 34 kasus (87%), dan rentang usia 15-24 tahun pada 17 kasus (43,5%). Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kasus berjenis kelamin laki-laki, rentang usia 15-24 tahun, dengan kekerasan tajam dan luka derajat dua.Kata kunci: kekerasan mekanik, derajat luka
Kelengkapan Rekam Medik Kasus Kekerasan Fisik akibat Tindak Pidana di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Periode September 2017- Agustus 2018 Lumentut, Cherryl A.; Kristanto, Erwin G.; Siwu, James F.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 1 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.1.2019.23208

Abstract

Abstract: Complete medical record is clearly important to health service of a hospital. In cases of violence, medical records play a significant role in law enforcement. Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital is categorized as type A service hospital that has been fully accredited in 2015. Therefore, its medical personnels should be responsible for the completeness of each patient’s medical record, especially of violence cases. This study was aimed to determine the completeness of physical violence cases’ medical records due to criminal acts at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in the period of September 2017-August 2018. This was a descriptive retrospective study. The results obtained as many as 40 cases of physical violence due to criminal acts. The medical record completeness of physical violence cases due to criminal acts were as follows: in Emergency Care 40%, inpatients 12%, surgery 58.82%, anesthesia/ sedation 45.45%, blood transfusion 66.67%, and informed consent 96.87%. Conclusion: In physical violence cases due to criminal acts, the medical record completeness with informed consent had higher percentage than the other medical record documents.Keywords: completeness of medical record, physical violence casesAbstrak: Kelengkapan rekam medik merupakan hal penting dalam pelayanan kesehatan dari suatu rumah sakit. Dalam kasus kekerasan, rekam medik berperan dalam penegakan hukum. RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou sebagai rumah sakit pelayanan tipe A yang telah terakreditasi paripurna pada tahun 2015, sudah seharusnya kelengkapan rekam medis bagi setiap pasien menjadi tanggung jawab tenaga medis terutama rekam medik kasus kekerasan yang ada di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan rekam medik kasus kekerasan fisik akibat tindakan pidana di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode September 2017 - Agustus 2018. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 40 kasus kekerasan fisik akibat tindak pidana. Secara keseluruhan kelengkapan rekam medik pada kasus kekerasan fisik akibat tindak pidana di Instalasi Rawat Darurat sebesar 40%, rawat inap 12%, tindakan operatif 58,82%, tindakan anestesi/sedasi 45,45%, transfusi darah 66,67%, dan informed consent 96,87%. Simpulan: Pada kasus kekerasan fisik akibat tindakan pidana, kelengkapan rekam medik dengan informed consent memiliki persentase yang lebih tinggi daripada berkas rekam medik lainnya.Kata kunci: kelengkapan rekam medik, kasus kekerasan fisik
Peran Bagian Forensik Dalam Penanganan Jenazah Coronavirus Disease 2019 Kalembiroh, Dheana C.; Mallo, Nolla T. S.; Siwu, James F.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 3 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.3.2021.32027

Abstract

Abstract: In a corpse of COVID-19, transmission to a living person can occur through droplets that come out of the body opening, when the body  is moved or when it comes in contact with the body fluids of the body. At the time of the COVID-19 outbreak, mutual vigilance is needed when finding cases of death, both from patients with positive monitoring (PDP) and positive confirmation of COVID-19 and bodies who died of unknown causes such as in sudden death or corpses. with other diseases but suspected COVID-19. This requires specific management steps to prevent the occurrence of spread. Therefore it is necessary to develop guidelines for handling the bodies of those who died, both in the community and in health service facilities. The aim of this study is to know the role department of the forensics in handling the corpse of Covid-19. The  methods in this article used simple case study literature. Source articles were selected from databases: ProQuest, Google Scholar and PubMed. The role department of the forensics in handling the body of Covid-19 is in accordance with the protocol issued by WHO regarding the guidelines for handling corpse of Covid-19 so that transmission from corpse to people has not been found so far. In conclusion, the role department of the forensic in handling corpse of Covid- 19 must be supported by the community by following health protocols and for their traditions in handling corpse, they must adapt to this pandemic era.Keywords: Handling, corpse of Covid-19 Latar Belakang: Pada jenazah COVID-19, penularan ke orang hidup dapat terjadi melalui droplet yang keluar dari lubang tubuh, ketika jenazah dipindahkan atau ketika kontak dengan cairan tubuh jenazah. Pada saat terjadinya wabah COVID-19, dibutuhkan kewaspadaan bersama ketika menemukan kasus  kematian, baik dari pasien dengan pemantauan (PDP) dan konfirmasi positif COVID-19 maupun jenazah yang meninggal dengan sebab yang belum diketahui seperti pada keadaan sudden death (mati mendadak) maupun jenazah dengan penyakit lain namun dicurigai COVID-19. Hal ini membutuhkan langkah-langkah tatalaksana secara spesifik untuk mencegah terjadinya penyebaran Oleh karena itu perlu disusun pedoman penanganan jenazah yang meninggal, baik di lingkungan masyarakat maupun di fasilitas pelayanan kesehatan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran bagian forensik dalam penanganan jenazah Covid-19. Metode penelitian ini berbentuk literatur kasus sederhana, dimana pencarian artikel dilakukan melalui 3 database, yaitu: ProQuest, Google Scholar, dan PubMed. Peran bagian forensik dalam penanganan jenazah Covid-19 sudah sesuai dengan protokol yang telah di keluarkan oleh WHO tentang  pedoman penanganan jenazah Covid-19 sehingga penularan dari jenazah ke orang sampai saat ini tidak ditemukan. Sebagai simpulan, peran bagian forensik dalam penanganan jenazah Covid-19 harus didukung oleh masyarakat dengan cara mengikuti protokol kesehatan dan untuk tradisi mereka dalam penanganan jenazah harus menyesuaikan dengan era pandemi ini.Kata Kunci: Penanganan, jenazah Covid-19
HUBUNGAN KADAR HbA1c DENGAN NEUROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK KIMIA FARMA HUSADA SARIO MANADO Matasak, Vita Beata Monica; Siwu, James F.; Bidjuni, Hendro
JURNAL KEPERAWATAN Vol 6, No 1 (2018): E-Journal Keperawatan
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jkp.v6i1.19530

Abstract

Abstract: Neuropathy is the most common complication experienced by type 2 DiabetesMellitus. Control of blood sugar is very important to do, one of them is HbA1c Purpose: Thepurpose of this study is to determine the correlation between HbA1c Levels and Neuropathy inType 2 Diabetes Mellitus in Kimia Farma Husada Clinic Sario Manado. Sample: The samplewas 31 respondents with neuropathy history, using total sampling technique. Research Design:This research is a cross-sectional that is descriptive correlative. Result: The data are collectedby questionnaire and analyzed by Spearman test with significance level = 0,05. Conclusion:There is no significant correlation between HbA1c Levels and Neuropathy in Type 2 DiabetesMellitus (p = 0,707).Keywords : Type 2 Diabetes Mellitus, HbA1c Level, Neuropathy.Abstrak: Neuropati merupakan komplikasi tersering yang dialami penderita DM tipe 2.Kontrol gula darah sangat penting untuk dilakukan, salah satunya HbA1c Tujuan: Penelitianini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Kadar HbA1c Dengan Neuropati padapenderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Kimia Farma Husada Sario Manado. Jumlahsampel: Penelitian ini dilakukan kepada 31 penyandang DM tipe 2 yang memiliki riwayatneuropati dan pemilihan sampel menggunakan teknik total sampling. Desain Penelitian:Penelitian ini adalah penelitian cross-sectional yang bersifat deskriptif korelatif,. HasilPenelitian: Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis melalui uji Spearmandengan tingkat kemaknaan = 0,05. Kesimpulan: tidak ada hubungan yang signifikan antaraKadar HbA1c Dengan Neuropati pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (p = 0,707).Kata Kunci : Diabetes Melitus Tipe 2, Kadar HbA1c, Neuropati
GAMBARAN KORBAN MENINGGAL DENGAN CEDERA KEPALA PADA KECELAKAAN LALU LINTAS DI BAGIAN FORENSIK BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2011-2012 Lumandung, Feibyg Theresia; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3608

Abstract

Abstrack: Traffic accidents lately occur anywhere and are already familiar. Most accidents are motor accident with head injury, where it can lead to death. This research isto describe the victim died with a head injury in a traffic accident forensics section BLU Prof.Dr.R.D.Kandou Hospital Manado period 2011-2012. In this study, researcher uses retrospective descriptive method. Datawere collected from medical records of all cases of accidents in the years 2011-2012. The conclusion ofthis research, cases of traffic accidents with head injuries are more prevalent than others, most especially in the region of the temporal head injury can effect to death. Researcher suggests that tightened regulations in traffic and further enhanced prevention efforts from the government, police, and medical teams. Keyword : head injury, traffic accident    Abstrak: Kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini terjadi dimana saja dan sudah tidak asing lagi. Kasus kecelakaan terbanyak adalah kecelakaan bermotor dengan cedera kepala, dimana hal ini dapat mengakibatkan kematian. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran korban meninggal dengan cedera kepala pada kecelakaan lalu lintas dibagian forensik BLU RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado periode tahun 2011-2012. Dalam penelitian ini peniliti, menggunakan metode deskriptif retrospektif. Data penelitian dikumpulkan dari rekam medik seluruh kasus kecelakaan di tahun 2011-2012.Kesimpulan dari penelitian ini, kasus kecelakaan lalu lintas dengan cedera kepala lebih banyak terjadi dari cedera lainnya, khusunya paling banyak cedera kepala di regio temporalis yang dapat mengakibatkan kematian. Peneliti menyarankan agar lebih diperketat lagi peraturan-peraturan dalam berlalu lintas dan lebih ditingkatkan lagi berbagai usaha pencegahan dari pihak pemerintah, kepolisian, dan tim medis. Kata kunci :Cedera kepala, kecelakaan lalu lintas.
Gambaran Kasus Penganiayaan di Wilayah Kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022 Tumiwa, Josua S.; Siwu, James F.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol. 12 No. 2 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i2.54472

Abstract

Abstract: Illness and death can occur not only as a result of abnormalities or disease, but also through accidents or criminal acts. One form of crimes that is often encountered is persecution. Langowan is one of the areas in North Sulawesi where acts of abuse are often found. This study aimed to describe cases of persecution in the working area of Polsek Langowan in years 2021-2022. This was a descriptive and retrospective study with a cross-sectional design using reports of cases of persecution in the working area of Polsek Langowan in years 2021-2022. The results obtained a total of 55 cases of persecution occurred in 2021-2022, and the highest percentages of cases were in July 2021 and January 2022, each of six cases (10.91%). Gender was dominated by men, namely 52 cases (94.55%). The largest age range is 17-25 years which was late adolescence with a total of 24 cases (43.64%). The most common form of maltreatment was moderate maltreatment in 50 cases (90.91%). The most common type of violence was blunt violence with a total of 34 cases (58,62%). Most of the injuries occurred on the head with a total of 38 cases (50%). In conclusion, the most persecution occurred in July 2021 and January 2022, dominated by male victims, aged 17-25 years, moderate form of persecution, blunt violence, and the location of injury on the head. Keywords: persecution; blunt trauma; victim   Abstrak: Kesakitan dan kematian bisa terjadi bukan hanya akibat adanya kelainan atau penyakit, tetapi juga melalui kecelakaan maupun tindakan kejahatan. Salah satu bentuk kejahatan yang sering ditemui yaitu penganiayaan. Langowan merupakan salah satu daerah di Sulawesi Utara yang sering didapatkan adanya tindak penganiayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus penganiayaan di Wilayah Kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022. Jenis penelitian ialah potong lintang dengan mengumpulkan data sekunder yaitu laporan kasus penganiayaan di wilayah kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 55 kasus penganiayaan di wilayah kerja Polsek Langowan periode 2021-2022, dengan kasus penganiayaan terbanyak terjadi pada bulan Juli 2021 dan Januari 2022 dengan total masing-masing enam kasus (10,91%). Jenis kelamin didominasi oleh laki-laki yaitu sebanyak 52 kasus (94,55%). Rentang usia terbanyak yaitu 17-25 tahun yang merupakan masa remaja akhir dengan total 24 kasus (43,64%). Bentuk penganiayaan terbanyak yaitu penganiayaan sedang sebanyak 50 kasus (90,91%). Jenis kekerasan terbanyak yaitu kekerasan tumpul dengan total 34 kasus (58,62%). Lokasi perlukaan terbanyak terjadi di bagian kepala dengan total 38 kasus (50%). Simpulan penelitian ini ialah penganiayaan paling banyak terjadi di bulan Juli 2021 dan Januari 2022, didominasi oleh korban laki-laki, usia 17-25 tahun, bentuk penganiayaan sedang, jenis kekerasan tumpul, dan lokasi perlukaan di bagian kepala. Kata kunci: penganiayaan; trauma tumpul; korban
Gambaran Hasil Autopsi di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2020 - Desember 2022 Setiawan, Dwipania P.; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.53427

Abstract

Abstract: The rise in cases of natural or unnatural deaths in Manado has led to suspicions about the cause of death; therefore, the police will ask for help from forensic doctors to carry out autopsies. This study aimed to obtain the autopsy description, especially at Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado for the period of January 2020 - December 2022. This was a retrospective and descriptive study using data from the visum et repertum results. The results showed that there were 97 autopsy cases; 21 of which were excluded. The most frequent cases were in 2021 and 2022, namely 28 cases (36.84%). Most cases were male (89.47%). The largest age group was early adulthood (26-35 years) (28.95%). The most common cause of death was unnatural death (92.1%), with sharp violent death cases (92.1%). For natural deaths, cardiovascular disease and lung disease were the highest (each of 50%). In conclusion, autopsies are often performed on men in early adulthood (26-35 years), with unnatural deaths in cases of sharp violence, while the most common natural deaths are cardiovascular and lung diseases. Keywords: autopsy; cause of death; sharp violence; cardiovascular disease; lung disease    Abstrak: Maraknya kasus kematian wajar atau tidak wajar di Manado menyebabkan munculnya kecurigaan tentang sebab kematian sehingga dari pihak kepolisian akan meminta bantuan ahli dokter forensik untuk dilakukan autopsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran autopsi terutama di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2020 – Desember 2022. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil visum et repertum. Hasil penelitian mendapatkan 97 kasus yang di autopsi; 21 di antaranya dieksklusi. Kasus terbanyak pada tahun 2021 dan 2022 yaitu 28 kasus (36,84%). Sebagian besar kasus berjenis kelamin laki-laki (89,47%). Kelompok usia terbanyak yaitu dewasa awal (26-35 tahun) (28,95%). Penyebab kematian  terbanyak ialah kematian tidak wajar (92,1%), dengan kasus kematian kekerasan tajam (92,1%). Untuk kematian wajar didapatkan penyakit kardiovaskuler dan penyakit paru yang terbanyak (masing-masing 50%). Simpulan penelitian ini ialah autopsi yang sering dilakukan pada jenis kelamin laki-laki, usia dewasa awal (26-35 tahun), dengan kematian tidak wajar kasus kekerasan tajam, sedangkan pada kematian wajar penyebabnya ialah penyakit kardiovaskuler dan penyakit paru yang terbanyak. Kata kunci: autopsi; sebab kematian; kekerasan tajam; penyakit kardiovaskuler; penyakit paru
Gambaran Pola Luka pada Kasus Kematian Akibat Kekerasan Tajam di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Tahun 2023 Caise, Olivia; Siwu, James F.; Mallo, Nola T. S.
e-CliniC Vol. 13 No. 2 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i2.61264

Abstract

Abstract: Sharp violence is caused by the use of objects with sharp or pointed sides, so that, it can cause injuries to parts of the body. Attacks with sharp weapons and deaths from stabbing occur all over the world, from countries with high rates of crime and violence to countries known to be the safest in the world. This study aimed to determine wound pattern in cases of death due to sharp violence in Rumah Sakit Bhayangkara Level III Manado in 2023. This was a descriptive and retrospective study using secondary data from Visum et Repertum from Rumah Sakit Bhayangkara. The results found 15 cases of death due to sharp violence throughout 2023. Most cases were found in May (26.7%) followed by December (20%) with the most requests for Visum et Repertum from Manado (53.3%). The most common age group was 21-69 years (40%); all of them were male (100%). The type of wound was dominated by stab wound (93.3%). The most common location was in the chest area (60%) which mostly hit the heart and lungs (33.3%). In conclusion, the cases of death due to sharp violence are all male, young adult age group (21-30 years), and the most common type of stab wound in the chest area that affects the lungs and heart organs. Keywords: wound pattern; sharp violence   Abstrak: Kekerasan tajam diakibatkan oleh penggunaan benda bersisi tajam maupun runcing sehingga dapat menimbulkan luka pada bagian tubuh. Serangan dengan senjata tajam dan kasus kematian akibat penikaman terjadi di seluruh dunia, mulai dari negara dengan tingkat kejahatan dan kekerasan yang tinggi hingga negara-negara yang dikenal paling aman di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola luka kasus kematian akibat kekerasan tajam di RS Bhayangkara Tingkat III Manado tahun 2023. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder hasil Visum et Repertum dari RS Bhayangkara Tingkat III Manado Sulawesi Utara. Hasil penelitian mendapatkan 15 kasus kematian akibat kekerasan tajam di RS Bhayangkara Tingkat III Manado sepanjang tahun 2023, paling banyak kasus dijumpai pada bulan Mei (26,7%) diikuti bulan Desember (20%) dengan permintaan Visum et Repertum paling banyak dari Kota Manado (53,3%). Kelompok usia terbanyak pada golongan usia 21-69 tahun (40%), seluruhnya berjenis kelamin laki-laki (100%). Jenis luka didominasi oleh luka tusuk (93,3%). Lokasi terbanyak pada daerah dada (60%) yang paling banyak mengenai jantung dan paru (33,3%). Simpulan penelitian ini ialah kasus kematian akibat kekerasan tajam seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, golongan usia dewasa muda (21-30 tahun), paling banyak dijumpai jenis luka tusuk pada daerah dada yang mengenai organ paru dan jantung. Kata kunci: pola luka; kekerasan tajam