Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

BELAJAR DAN MENGAJAR DALAM PANDANGAN AL-GHAZÂLÎ Solichin, Mohammad Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 1 No 2 (2006)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.551 KB) | DOI: 10.19105/tjpi.v1i2.202

Abstract

Al-Ghazâlî merupakan tokoh pemikir Islam yang banyak memberikan karya monumental dalam berbagai kajian keislaman. Beliau dikenal luas sebagai seornag tokoh sufi, oleh karenanya tidak heran jika pemikirannya banyak diilhami oleh nilai-nilai tasawwuf, termasuk hasil pemikirannya dalam bidang pendidikan. Dalam hal belajar dan mengajar misalnya, al- Ghazâlî terinspirasi dengan pola kehidupan sufi, yaitu bagaimana seorang anak didik dan pendidik melaksanakan aktivitas belajar mengajarnya berdasarkan perspektif ajaran Islam. Sebagai titik tolak dari kedua aktivitas itu al-Ghazâlî menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar itu harus diniatkan sebagai aktivitas ibadah kepada Allah dan mencari keridhaan- Nya.
FITRAH; KONSEP DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Solichin, Mohammad Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2007)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.691 KB) | DOI: 10.19105/tjpi.v2i2.219

Abstract

Salah satu tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia paripurna melalui pembiasaan, penanaman, pemberian hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Tujuan pendidikan Islam sebagaimana diatas dapat diwujudkan dengan upaya mengarahkan, membimbing anak didik dan--yang lebih penting dari itu--menumbuhkembangkan potensi-potensi alamiah yang diterima anak sejak ia dilahirkan. Potensi-potensi itulah yang dikenal--dalam pendidikan Islam--sebagai fitrah. Fitrah dengan berbagai derivasinya dikembangakan melalui proses pembelajaran dalam pendidikan Islam dengan menekankan keseimbangan antara fitrah lahiriyah dan fitrah bâthiniyah.
ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DAN APLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Solichin, Mohammad Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 3 No 1 (2008)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.493 KB) | DOI: 10.19105/tjpi.v3i1.226

Abstract

Islamisasi ilmu pengetahuan sejak kelahirannya mengundang para ahli untuk memperbincangkannya. Kalangan cendekiawan Muslim yang berpendapat pentingnya ilmu pengtahuan meyakini bahwa ilmu pengetahuan sangat urgen untuk diislamkan, mengingat ilmu pengetahuan—dalam pandangan mereka—telah teracuni nilai-nilai ideologi dan filosofi Barat yang banyak bertentangan dengan ajaran Islam. Adalah al-Faruqi dan al-Attas—dua tokoh sentral—ide islamisasi ilmu pengetahuan yang secara getol mempropagandakan ide itu dengan tujuan mengembalikan ilmu pengetahuan yang dinilai telah keluar dari kerangka aksiologisnya. Dalam pikiran mereka, ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini bukan lagi untuk kemanfaatan manusia tapi telah mengarah kepada kerusakan dan kehancuran umat manusia.
PENDIDIKAN ISLAM KLASIK (Telaah Sosio-Historis Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam Masa Awal Sampai Masa Pertengahan) Solichin, Mohammad Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 3 No 2 (2008)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.431 KB) | DOI: 10.19105/tjpi.v3i2.237

Abstract

Pendidikan Islam secara historis dimulai pada zaman Rasulullah SAW. dalam bentuk membimbing dan mendidik para sahabatnya dengan ajaran Islam yang merupakan penjelasan dari ayat-ayat al-Qur’an yang beliau terima dari Allah melalui Jibril. Pada masa itu, pendidikan Islam berkisar aktivitas baca tulis al-Qur’an beserta makna yang dikandungnya. Pasca wafatnya, pendidikan dilanjutkan oleh para sahabat, tabi’în, dengan pengembangan yang cukup signifikan, dengan ditambahnya materi pendidikan Islam—sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat muslim saat itu. Pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, pendidikan Islam berkembang pesat baik materi, metode, dan tempat-tempat pendidikan sebagai imbas semakin berkembangnya komunitas muslim menjadi komunitas kosmopolit yang ditandai dengan maju pesatnya berbagai cabang ilmu pengetahuan.
TAZKIYAH AL-NAFS SEBAGAI RUH REKONSTRUKSI SISTEM PENDIDIKAN ISLAM Solichin, Mohammad Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.939 KB) | DOI: 10.19105/tjpi.v4i1.242

Abstract

Islamic education ia a mean of value transmission and islamic doctrines to the students in order to understand, internalize, and practice the islamic doctrines precisely. Meanwhile, the core of islamic doctrines is to implant good morals. And this the prophetic mission of Muhammad SAW, prefecting morals of humans. Inserting good morals as the soul of developing the planning, actuating, and evaluating islamic education. These efforts are very crucial to avoid misleading orientation of islamic education as mastering knowledge only (Islamology) without understanding, penetrating, and actuating in daily life. The efforts to reconstruct islamic educaton as exsplain above can be carried out by formulating instructional goals, designing curriculum, and implementing Islam by referring to pervading good morals (akhlak) through tazkiyah al-nafs.
ETIKA PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN PERSPEKTIF KH. HASYIM ASY’ARI (Telaah Kitab Adâb al-‘Alim wa al-Muta’allim) Sulhan, Sulhan; Solichin, Mohammad Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 2 (2013)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.562 KB) | DOI: 10.19105/tjpi.v8i2.390

Abstract

Dalam perspektif Islam, pendidikan dipahami sebagai upaya pendidik untuk menjadikan peserta didik memilki kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam. Untuk mencapai tujuan pendidikan Islam di atas, peserta didik dituntut memiliki etika, sebagai wahana dalam memperoleh pengetahuan, yang bermanfaat dalam menjalani kehidupannya. Berkaitan dengan etika peserta didik dalam memperoleh pengetahuan dan kemampuan, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari memberikan berbagai anjuran dan nasihat sebagai bekal bagai peserta didik dalam melakukan aktivitas belajar. Dalam tulisan ini, etika diposisikan sebagai akhlak dalam Islam.
MUTU KELAS UNGGULAN MADRASAH ALIYAH DARUL ULUM BANYUANYAR PELENGAAN PAMEKASAN Solichin, Mohammad Muchlis
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 2 (2014)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.752 KB) | DOI: 10.19105/tjpi.v9i2.411

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk mendeskripsikan tentangmutu kelas unggulan di Madrasah Aliyah Darul Ulum Banyuanyar.Madrasah ini merupakan satu satu madrasah di pesantren yangmelakukan pelbagai langkah inovatif dalam penyelenggaraan kelasunggulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penyelenggaraankelas unggulan dilatarbelakangi oleh pertimbangan ideologis-religius. 2) Mutu lulusan kelas unggulan dapat dilihat dari prestasi kejuaraan,kemampuan siswa dalam berbahasa asing, prestasi dalam Ujian Akhirdan diterimanya siswa pada beberapa perguruan tinggi ternama. 3)Faktor pendukung kelas unggulan adalah kemampuan guru dalampembelajaran dan semangat pengasuh untuk menghasilkan lulusanyang bermutu.
Pendidikan Islam sebagai Ruang Publik: Studi tentang Partisipasi Siswa dalam Pengambilan Keputusan Sekolah di Madrasah Ainul Falah Bukhari, Ach Baidlawi; Solichin, Mohammad Muchlis; Syarif, Zainuddin; Hasan, Nor; Hasan, Mohammad
Literasi: Jurnal Pendidikan Guru Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic education serves not only as a means of transferring religious knowledge but also as a social space that shapes students’ character, values, and democratic awareness. This article aims to analyze how Islamic education can function as a public space that enables student participation in decision-making processes within the school environment. This study employs a qualitative approach using a case study method at Madrasah Ainul Falah. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving teachers, students, and school administrators. The findings indicate that student participation in school decision-making can enhance democratic awareness, social responsibility, and leadership skills among students. Furthermore, the practice of deliberation implemented in student organization activities and madrasah discussion forums serves as a vehicle for democratic education that aligns with Islamic values. Thus, Islamic education holds great potential to become a public sphere that fosters a democratic culture rooted in Islamic values.
Internalisasi Nilai Hak Asasi Manusia dalam Kurikulum Pendidikan Islam: Studi Lapangan di MA Ainul Falah Bakeong Guluk-Guluk Sumenep Qadariyah, Lailatul; Solichin, Mohammad Muchlis; Atiqullah; Siswanto
Literasi: Jurnal Pendidikan Guru Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is motivated by the importance of integrating Human Rights values into Islamic education, which is often perceived as having a gap with the concept of human rights. Values such as justice, equality, and tolerance are inherently embedded in Islamic teachings; however, in educational practice, these values are not always systematically internalized within the curriculum. Many Islamic educational institutions still convey these values implicitly without explicitly linking them to the concept of human rights, which may lead to a partial understanding among students. This research employs a qualitative approach with a case study design conducted at MA Ainul Falah. The research subjects include the principal, teachers, and students. Data were collected through semi-structured interviews, observations of the learning process, and documentation such as lesson plans, syllabi, and school regulations. Data analysis follows the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing, while data validity is ensured through source and technique triangulation. The findings indicate that the internalization of human rights values occurs through stages of understanding, internalization, and practice, which are integrated into both classroom learning and school culture. Teachers apply cognitive, affective, and psychomotor strategies in the process. The main challenges include limited teacher understanding, the absence of explicit curriculum integration, and school culture constraints, while solutions involve teacher training, curriculum integration, and strengthening an inclusive school culture.
Pesantren Resistance to Modern Education System and It’s Implication to Culture of Learning: a Study on Pondok Pesantren Al-Is'af Kalabaan, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur Solichin, Mohammad Muchlis
ADDIN Vol 13, No 1 (2019): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v13i1.5664

Abstract

Pesantren (Islamic boarding school) grew as traditional Islamic education institutions since the beginning of Islam arrival to Indonesia. The kiai in the traditional pesantren educated the student set of classical Islamic text books those organized by the method sorogan and bandongan. In the early 20th century, pesantrens have got challenge with school education system that introduced by Dutch Colonial Government in the first 1900s. The challenge to pesantren also came from Muslim Reformist which also performed modern educational system in their schools and madrasah. Facing the challenge, most of pesantren modernized their educational system by performing schools and madrasah affiliated to the Indonesian government. There were only a few pesantrens those rejected the of modern educational system. Pesantren al- Is’af rejected the school education system and had ben keeping the sustainability of traditional education of Islamic knowledge teaching learning. The rejection brought about the effort of the pesantren in sthrengtening teaching learning classical Islamic textbook (kitab kuning) with sorogan and bandongan methods. Some of the text books had taugt the rule of santri learning. There were many rules, norms and belief that resulted the culture of learning in Pesantren.