Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Persepsi, Kesiapsiagaan, dan Adaptasi Masyarakat Kelurahan Aur Terhadap Ancaman Banjir Berulang Sungai Deli, Kota Medan Amrullah Alayubbi Sinaga; Otniel Ketaren; Frida Lina Tarigan; Donal Nababan; Rinawati Sembiring
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v5i2.7764

Abstract

This research aims to analyze the perception, preparedness, and adaptation strategies of the community residing along the Deli Riverbanks in Aur Village, Medan, against the threat of recurring floods. This area is a densely populated settlement with high vulnerability to annual river overflows. The study employs a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews with 11 informants, field observations, and documentation. The results indicate that community perception has undergone risk normalization, where small-scale flooding is perceived as a natural seasonal routine, thereby decreasing emotional vigilance. Regarding preparedness, the study reveals an absence of a formal Early Warning System (EWS) and limited standard evacuation equipment. However, the community has developed informal preparedness based on local knowledge and observations of natural signs. Adaptation strategies are implemented structurally through the construction of two-story or stilt houses and socially through the strengthening of social capital in the form of inter-neighbor solidarity and mutual cooperation (gotong royong) practices. This study concludes that community resilience in Aur Village is primarily supported by collective experience and strong social bonds rather than formal government infrastructure support.
An Analysis of Factors Related to the Preparedness of Health Workers at the Harian Community Health Center, Samosir Regency Jonri Gultom; Rinawati Sembiring; Janno Sinaga; Kesaktian Manurung; Donal Nababan
JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/2e95d808

Abstract

Health workers at primary health care facilities, such as community health centers (puskesmas), play a crucial role in all phases of disaster management. However, their preparedness often remains suboptimal due to limited training, experience, and coordination capacity. This study aimed to analyze factors associated with disaster preparedness among health workers at Harian Community Health Center, Samosir Regency. A quantitative research with a cross-sectional design was applied. The total population of 51 health workers was included using a total sampling technique. Data were collected using a structured questionnaire validated for reliability and accuracy, and analyzed using chi-square and multiple logistic regression tests. The results showed significant relationships between disaster management training (p=0.043), involvement in disaster response (p=0.008), participation in the Rapid Response Team (TGC) (p=0.012), knowledge (p=0.035), and attitude (p=0.049) with disaster preparedness. In contrast, age (p=0.471), gender (p=1.000), education level (p=0.323), and work experience (p=0.750) were not significantly related. Multivariate analysis identified participation in the TGC as the most dominant factor influencing preparedness, with Exp(B) = 21.635. These findings highlight the need to strengthen disaster preparedness at the primary care level through regular training, simulation exercises, and empowerment of TGC teams as key components of the health emergency response system
Faktor Sosial Ekonomi Keluarga Berhubungan dengan Status Gizi Balita Puskesmas Medan Sunggal Rinawati Sembiring; Agnes Purba; Marthalena Simamora; Agus Satriani Lase; Dika Rahmin Lase
INVOLUSI: Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 16 No 2 (2026): Vol. 16, No. 2 Juni 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/involusi.v16i2.2310

Abstract

Status gizi balita merupakan salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Faktor sosial ekonomi keluarga berperan dalam menentukan status gizi balita. Data Dinas Kesehatan Kota Medan menunjukkan balita dengan gizi kurang menurun dari 550 pada tahun 2022 menjadi 298 pada tahun 2023. Survei awal di UPT Puskesmas Medan Sunggal tahun 2024, tercatat 850 balita dan 24 balita mengalami masalah gizi kurang dan 10 balita mengalami stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita di wilayah kerja UPT Puskesmas Medan Sunggal. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu yang memiliki balita (1-59 bulan) sebanyak 850 orang. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat, sehingga diperoleh 272 balita sebagai sampel, yang diambil secara proporsional dari empat kelurahan di Kecamatan Sunggal. Variabel independen meliputi pengetahuan ibu, pendapatan keluarga, dan jumlah anggota keluarga, sedangkan variabel dependen adalah status gizi balita. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner dan antropometri kriteria BB/U, TB/U, BB/TB, kemudian dianalisis secara statistik untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan uji Gamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan status gizi balita, serta antara pendapatan keluarga dan status gizi balita. Sementara itu, jumlah anggota keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status gizi balita. Faktor pengetahuan dan pendapatan keluarga berperan dalam menentukan status gizi balita, sedangkan jumlah anggota keluarga tidak berhubungan secara signifikan. Upaya peningkatan edukasi gizi dan pemberdayaan ekonomi keluarga perlu menjadi perhatian dalam program perbaikan status gizi balita. Kata Kunci: Status Gizi, Balita, Pengetahuan, Pendapatan, Jumlah Keluarga
ANALISIS FAKTOR RESIKO KEJADIAN STUNTING DI KABUPATEN NIAS BARAT TAHUN 2024 Debora Daeli; Donal Nababan; Rinawati Sembiring; Rahmat Alyakin Dachi; Johansen Hutajulu
Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, sehingga menyebabkan anak memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya. Tujuan: untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian stunting di Kabupaten Nias Barat. Metode: kuantitatif analitik dengan metode korelasional dan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, mulai dari April hingga Oktober 2024, di wilayah Kabupaten Nias Barat. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh balita usia 24–59 bulan yang melakukan pemeriksaan di posyandu dan tercatat dalam data posyandu. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 158 balita usia 24–59 bulan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi dan wawancara, serta didukung oleh data sekunder dari Profil Kesehatan Kabupaten Nias Barat. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square, dengan memperhatikan nilai p dan Odds Ratio (OR) sebagai ukuran kekuatan hubungan antar variabel. Hasil: menunjukkan bahwa beberapa faktor berisiko terhadap kejadian stunting, antara lain: riwayat pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), usia ibu saat hamil, jarak antar kelahiran, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, riwayat penyakit infeksi, serta status imunisasi. Simpulan: untuk meningkatkan intensitas penyuluhan kepada masyarakat, khususnya terkait pentingnya pemberian ASI eksklusif dan jenis-jenis MP-ASI yang tepat. Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi mengenai usia ideal untuk kehamilan dan persalinan guna mencegah terjadinya stunting di masa mendatang.
ANALISIS KEPUASAN PASIAN ATAS PELAYANAN RAWAT JALAN DI POLI PENYALIT DALAM RSU. ESHMUM MEDAN Rizky Haryantari; Kesaktian Manurung; Asima Sirait; Donal Nababan; Rinawati Sembiring
Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pelayanan poli rawat jalan yaitu jenis layanan medis di rumah sakit yang dirujuk kepada pasien waktu kurang dari 24 jam, hingga tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. Layanan ini bertujuan untuk melaksanakan observasi, menetapkan diagnosis, memberikan terapi, melakukan rehabilitasi, serta menyelenggarakan berbagai layanan kesehatan lainnya Tujuan: untuk mengevaluasi keterkaitan antara mutu pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien terhadap layanan rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam RSU Eshmun Medan Metode: menggunakan pendekatan analitis dengan desain potong lintang (cross-sectional). Populasi melibatkan seluruh pasien rawat jalan yang datang ke Poliklinik Penyakit Dalam RSU Eshmun Medan selama bulan Juni 2023, yang berjumlah 283 orang. Sampel diambil sebanyak 96 orang, menggunakan rumus penentuan sampel untuk estimasi proporsi, dan diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan oleh peneliti. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi α = 0,05. Simpulan: bahwa ada hubungan yang signifikan antara mutu layanan dan kepuasan pasien (α < 0,05). Dengan kata lain, semakin baik kualitas pelayanan yang disediakan oleh rumah sakit, maka tingkat kepuasan pasien pun akan semakin tinggi Hasil: diharapkan dapat memberikan saran bagi pihak rumah sakit agar meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap semua aspek layanan, baik dari segi struktural maupun fungsional. Setiap unit layanan dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih profesional, berkualitas, dan fokus pada kepuasan pasien.
ANALISIS HUBUNGAN PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT, ORGANIZATIONAL TRUST, DAN WORK ENVIRONMENT TERHADAP KINERJA PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS SEKUPANG BATAM Alma Pradifta; Jenny Marlindawani; Mido Ester J. Sitorus; Kesaktian Manurung; Rinawati Sembiring
Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Indonesia merupakan negara dengan beban Tuberkulosis (TB) tinggi dan menempati peringkat kedua setelah India. Rendahnya pencapaian indikator success rate (SR) menjadi tantangan utama bagi tim pelaksana Program TB, yang dipengaruhi oleh faktor organisasi, petugas, lingkungan, dan manajemen program. Tujuan: mengetahui pengaruh perceived organizational support, organizational trust dan work environment terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam. Metode: secara kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan di Puskesmas Sekupang Batam yang berjumlah 63 orang. Penentuan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan total sampling sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 63 sampel. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil: Terdapat hubungan perceived organizational support, organizational trust dan work environment terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam. Variabel yang paling berhubungan terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam work environment (X3).. Kesimpulan: Terdapat hubungan perceived organizational support, organizational trust dan work environment terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam
ANALISIS AKURASI DAN EFISIENSI SISTEM PENILAIAN LUKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN WOUND ASSESMENT DIGITAL Henny Syapitri; Riah Ukur Ginting; Marthalena Simamora; Rinawati Sembiring; Asrizal Asrizal
JURNAL MUTIARA ELEKTROMEDIK Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Mutiara Elektromedik
Publisher : Prodi Teknik Elektromedik Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Penilaian luka secara manual masih menghadapi tantangan berupa variasi subjektivitas antar penilai yang dapat memengaruhi akurasi dan konsistensi hasil evaluasi klinis. Seiring meningkatnya beban penanganan luka kronis dan kebutuhan transformasi digital layanan kesehatan, sistem penilaian luka berbasis teknologi menjadi alternatif yang berpotensi meningkatkan ketepatan dan efisiensi kerja tenaga kesehatan. Namun, efektivitas implementasi teknologi ini masih bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor pengguna, kondisi klinis, serta karakteristik luka. Tujuan: menganalisis akurasi, konsistensi, dan efisiensi penilaian luka digital serta memahami pengalaman tenaga kesehatan dalam menggunakannya dalam praktik klinis. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik di Asri Wound Care Center Medan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan tenaga medis luka dan dokter, serta observasi langsung terhadap penggunaan aplikasi penilaian luka digital. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan persepsi terkait akurasi, alur kerja, dan aspek subjektif klinis. Hasil: menunjukkan bahwa penilaian luka digital memberikan akurasi dan konsistensi yang lebih tinggi dibandingkan metode manual, terutama dalam pengukuran ukuran luka dan identifikasi jaringan. Digital wound assessment juga meningkatkan efisiensi waktu melalui proses dokumentasi otomatis yang mempercepat alur kerja klinis. Meskipun demikian, beberapa aspek subjektif seperti bau luka, nyeri, dan penilaian kedalaman luka tetap membutuhkan pemeriksaan manual. Kesimpulan: bahwa teknologi penilaian luka digital merupakan alat bantu yang efektif dalam meningkatkan kualitas evaluasi luka, tetapi belum dapat sepenuhnya menggantikan peran klinis tenaga kesehatan. Pendekatan hibrid yang menggabungkan kemampuan teknologi dengan keahlian klinis tetap menjadi strategi terbaik untuk menghasilkan penilaian luka yang komprehensif dan akurat.
RELATIONSHIP BETWEEN PSYCHOLOGICAL FATIGUE AND WORK STRESS WITH PERFORMANCE AMONG MOTHERS WORKING AT ALASA PUBLIC HEALTH CENTER, NORTH NIAS REGENCY Taruli Rohana Sinaga; Rinawati Sembiring; Seri Asnawati Munthe; Mido Ester J Sitorus; Enjel Siska Dewita Hulu
Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Mutiara Ners
Publisher : Program Studi Ners UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Working mothers in the health sector, particularly in community health centers, face the challenge of playing dual roles as professionals and homemakers. This situation has the potential to cause psychological fatigue and work stress, which can impact their performance. This study aims to analyze the relationship between psychological fatigue and work stress and their effects on the performance of working mothers at the Alasa Public Health Center (PHC) in North Nias Regency. This study is quantitative and cross-sectional. The sample comprised 36 married women employed at the Alasa PHC. Data were collected using a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis using the chi-square test. The results showed a significant relationship between psychological fatigue and performance (p = 0.0005 < α = 0.05) and a significant relationship between work stress and performance (p = 0.001 < α = 0.05). Mothers who experienced psychological fatigue and high work stress tended to show low performance. This situation is exacerbated by heavy workloads, significant domestic responsibilities, particularly within the family environment, lack of rest time, and minimal social support. This study recommends managerial efforts to identify and manage psychological factors affecting working mothers, including emotional support from superiors, colleagues, and family, adequate rest time, more flexible work schedules, and improved welfare. The implementation of these strategies is expected to reduce psychological fatigue and work stress, thereby significantly and measurably improving the performance of female health workers, particularly working mothers, thereby positively impacting overall performance.