Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Berpikir Positif dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum pada Mahasiswa Semester Akhir Fidiah Nur Pratiwi; Niken Titi Pratitis; Rahma Kusumandari
Journal of Health, Medical, and Psychological Studies Vol 1 No 2 (2025): December: Sanitas: Journal of Health, Medical, and Psychological Studies
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/9wbt9e71

Abstract

Public speaking anxiety remains a persistent psychological challenge among final-year university students, particularly in academic contexts that demand frequent oral presentations and evaluative communication. This field-based quantitative study examines the relationship between positive thinking and public speaking anxiety among undergraduate students in their final semester. Using a correlational research design, data were collected from 366 students selected through accidental sampling across six faculties at Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Positive thinking and public speaking anxiety were measured using validated Likert-type scales with satisfactory psychometric properties. Preliminary assumption testing indicated non-normal and non-linear data distribution, leading to the application of Spearman’s rho correlation analysis. The findings reveal a significant negative relationship between positive thinking and public speaking anxiety, indicating that students who demonstrate higher levels of constructive cognitive orientation tend to experience lower anxiety when speaking in public settings. These results highlight the central role of cognitive processes in shaping emotional responses to communication demands. The study contributes theoretically by reinforcing cognitive-based models of communication anxiety and practically by informing the design of psychological and educational interventions aimed at strengthening positive thinking to reduce public speaking anxiety among university students.
Regulasi Emosi dan Perilaku Cyberbullying pada Dewasa Awal: Peran Konformitas sebagai Mediator Moch. Rafly Putra Adryant; Mamang Efendy; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing intensity of social media use among emerging adults has raised the risk of cyberbullying behavior influenced by psychological and social factors. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and cyberbullying behavior among emerging adults in Surabaya City, with conformity behavior as a mediating variable. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The participants were 130 emerging adults aged 18–25 years who actively used social media and resided in Surabaya, selected through purposive sampling. Data were collected using emotion regulation scales, conformity behavior scales, and cyberbullying behavior scales. Data analysis techniques included correlation analysis and mediation analysis. The results indicate relationships among emotion regulation, conformity behavior, and cyberbullying behavior, as well as the mediating role of conformity behavior. In conclusion, lower emotion regulation increases cyberbullying behavior both directly and indirectly through conformity behavior. Keywords: conformity; cyberbullying; emerging adulthood; emotion regulation; social media Penggunaan media sosial yang semakin intens pada dewasa awal meningkatkan risiko munculnya perilaku cyberbullying yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan perilaku cyberbullying pada dewasa awal di Kota Surabaya dengan perilaku konformitas sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 130 dewasa awal berusia 18–25 tahun yang aktif menggunakan media sosial dan berdomisili di Kota Surabaya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa skala regulasi emosi, skala perilaku konformitas, dan skala perilaku cyberbullying. Teknik analisis data menggunakan analisis korelasi dan uji mediasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara regulasi emosi, perilaku konformitas, dan perilaku cyberbullying, serta peran mediasi perilaku konformitas. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa rendahnya regulasi emosi meningkatkan perilaku cyberbullying secara langsung maupun melalui konformitas. Kata kunci: cyberbullying; dewasa awal; konformitas; media sosial; regulasi emosi
Penggunaan Media Sosial dan Dukungan Sosial: Implikasinya terhadap Intensi Perilaku Seksual Pranikah pada Mahasiswa Kalista Altaira Arafiu; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Premarital sexual behavior intention is a critical issue among college students. This study aims to examine the relationship between social media use and social support on such intentions among students in Surabaya. A quantitative correlational method was used, involving 270 students aged 19–24 in romantic relationships, selected through purposive sampling. Instruments included the Social Media Usage Scale, Social Support Scale, and Premarital Sexual Behavior Intention Scale. Data were analyzed using multiple linear regression. Results showed a positive relationship between social media use and premarital sexual behavior intention, and a negative relationship with social support. Both variables significantly contributed to the intention simultaneously. These findings highlight the importance of sexual education and social media supervision for adolescents.Keywords: college students, premarital sexual behavior intention, social media use, social supportIntensi perilaku seksual pranikah menjadi isu penting di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial dan dukungan sosial terhadap intensi perilaku seksual pranikah pada mahasiswa di Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 270 mahasiswa berusia 19–24 tahun yang menjalin hubungan romantis, dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi Skala Penggunaan Media Sosial, Skala Dukungan Sosial, dan Skala Intensi Perilaku Seksual Pranikah. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan intensi perilaku seksual pranikah, serta hubungan negatif antara dukungan sosial dan intensi tersebut. Secara simultan, kedua variabel berkontribusi signifikan terhadap intensi perilaku seksual pranikah. Temuan ini menekankan pentingnya edukasi seksual dan pengawasan media sosial bagi remaja.Kata kunci: dukungan sosial, intensi perilaku seksual pranikah, mahasiswa, penggunaan media sosial
Perilaku Agresi akibat Problematic Social Media Use dan Peran Social Support sebagai Moderator Lorenza Dia Prameswari; Dyan Evita Santi; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescents are individuals in a crucial stage of social development, where they tend toengage and interact with their social groups to develop social skills. However, such intense social interactions may also lead to interpersonal conflicts, which have the potential to trigger aggressive behavior. This study aims to examine the moderating role of social support in the relationship between problematic social media use and aggressive behavior among adolescents. The research employed a quantitative correlational method with a total of 377 university students selected through accidental sampling. The instruments used included an aggression scale adapted from Buss & Perry (1992) with a reliability of 0.959, a problematic internet use scale from Caplan (2010) with a reliability of 0.954, and a social support scale from Sarafino and Smith (2011) with a reliability of 0.944. Data analysis was conducted using Pearson Product Moment correlation. The results showed that social support significantly moderates the relationship between problematic social media use and aggressive behavior. High levels of social support were found to reduce tendencies toward aggressive behavior, even when individuals experienced problematic social media use. Therefore, social support serves as a protective factor for adolescents.Keywords: Adolescents, Aggressive Behavior, Problematic Social Media Use, Social Support Remaja merupakan individu yang sedang berada pada tahap perkembangan sosial yang penting, di mana mereka cenderung berinteraksi dan bergabung dengan kelompok sosialnya untuk mengembangkan keterampilan sosial. Namun, interaksi sosial yang intens ini juga dapat menimbulkan konflik dalam hubungan interpersonal, yang berpotensi memicu perilaku agresi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran moderasi social support dalam hubungan antara problematic social media use dan perilaku agresi pada remaja. Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 377 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala perilaku agresi yang diadaptasi dari Buss & Perry (1992) dengan reliabilitas 0,959, skala problematic internet use dari Caplan (2010) dengan reliabilitas 0,954, dan skala social support dari Sarafino dan Smith (2011) dengan reliabilitas 0,944. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social support mampu memoderasi secara positif hubungan antara problematic social media use dan perilaku agresi. Dukungan sosial yang tinggi terbukti dapat mengurangi kecenderungan perilaku agresi meskipun individu mengalami penggunaan media sosial yang bermasalah, sehingga social support berperan sebagai faktor pelindung bagi remajaKata kunci: Perilaku Agresi, Problematic Social Media Use, Remaja, Social Support
Efektivitas Psikoedukasi Penguatan Batasan Peran terhadap Efikasi Diri dan Kelelahan Emosional Relawan Pendamping Anak di Komunitas S Nurul Khaerani Syani; Rahma Kusumandari
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.12995

Abstract

Ketidakjelasan batas peran relawan berpotensi menimbulkan kesenjangan ekspektasi antara masyarakat dan kapasitas aktual relawan, sehingga meningkatkan risiko tekanan psikologis dan kelelahan emosional (Nesbit, Christensen, & Brudney, 2018; Bakker & Demerouti, 2007). Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas psikoedukasi partisipatif sesi tunggal terhadap efikasi diri dan kelelahan emosional relawan pendamping anak pada sebuah komunitas berbasis relawan di Kota Surabaya. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest dengan 15 anggota aktif (pengurus inti dan relawan) yang dipilih melalui purposive sampling. Intervensi berupa satu sesi psikoedukasi (110 menit) yang mencakup ceramah interaktif, diskusi kasus, latihan regulasi emosi (teknik pernapasan sadar dan grounding 5-4-3-2-1), serta refleksi kelompok. Efikasi diri diukur menggunakan adaptasi General Self-Efficacy Scale (Schwarzer & Jerusalem, 1995) berdasarkan teori Bandura (1997), dan kelelahan emosional diukur menggunakan adaptasi Maslach Burnout Inventory (Maslach & Jackson, 1981). Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan peningkatan signifikan pada skor efikasi diri (rata-rata 1,73 menjadi 3,65; t = 7,440; p < 0,001) maupun skor kelelahan emosional (rata-rata 1,77 menjadi 3,87; t = 6,645; p < 0,001). Peningkatan skor kelelahan emosional diinterpretasikan melalui kerangka response-shift bias (Howard, 1980; Fokkema, Smits, Kelderman, & Cuijpers, 2013), yaitu kemungkinan peningkatan kesadaran relawan terhadap kondisi kelelahan emosionalnya sendiri setelah menerima psikoedukasi, bukan semata indikasi kondisi psikologis yang memburuk. Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi partisipatif sesi tunggal efektif meningkatkan efikasi diri relawan, namun memerlukan tindak lanjut berupa supervisi dan dukungan berkelanjutan untuk menangani kelelahan emosional yang teridentifikasi.