Claim Missing Document
Check
Articles

Pelaksanaan Diagnostik Kesulitan Belajar Peserta Didik oleh Guru Danny Soesilo, Tritjahjo; Kristin, Firosalia; Windrawanto, Yustinus
Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 14 No 01 (2024)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/j.js.2024.v14.i01.p59-67

Abstract

Kesulitan belajar yang dialami peserta didik sangat mengganggu proses belajar dan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar hingga perolehan prestasinya menjadi tidak optimal. Oleh karena itu, permasalahan peserta didik dalam belajar di SD perlu dibantu oleh guru kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pelaksanaan diagnostik kesulitan belajar yang dilakukan guru, mata pelajaran yang dirasa sulit oleh peserta didik, jenis kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik, instrumen yang digunakan oleh guru dalam melakukan diagnosis kesulitan belajar, hambatan-hambatan yang dihadapi oleh guru dalam melakukan diagnosis kesulitan belajar, dan tindakan-tindakan guru dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian adalah 23 guru SD yang tersebar di empat (4) kecamatan kota Salatiga, baik SD negeri maupun swasta. Variabel dalam penelitian ini adalah pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar peserta didik yang dilakukan guru pada peserta didik di SD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa survey untuk pengumpulan data tentang pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar peserta didik SD di kota Salatiga menggunakan angket dan wawancara untuk mengumpulkan data sebagai pelengkap data dari angket. Teknik analisis yang digunakan berupa analisis deskriptif kualitatif mengenai data yang sudah dikumpulkan melalui angket dan wawancara. Hasil penelitian menemukan bahwa semua guru yang menjadi subjek penelitian melakukan diagnostik kesulitan belajar. Di setiap sekolah selalu ada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar yang dialami peserta didik lebih banyak yang berhubungan dengan kegiatan akademik. Instrumen yang digunakan guru dalam melakukan diagnostik kesulitan belajar pada umumnya guru menggunakan observasi dan tes hasil belajar, serta panduan wawancara. Pelaksanaan dianostik kesulitan belajar pada umumnya (dominan) dilakukan guru pada akhir pembelajaran, Kesulitan belajar yang dialami peserta didik di SD pada umumnya berupa mata pelajaran matematika dan Bahasa Indonesia. Dalam proses diagnostik kesulitan belajar, hampir semua guru melakukan identifikasi peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar, dan melakukan penentuan faktor faktor penyebab kesulitan belajar peserta didiknya. Bantuan yang dilakukan guru untuk menangani kesulitan belajar peserta didik pada umumnya berupa pendampingan belajar peserta didik dan memberi tambahan waktu belajar (les) pada peserta didik, serta memberi saran atau rujukan pada orangtua untuk berkonsultasi orang yang lebih ahli. Hambatan yang dihadapi guru dalam kesulitan belajar peserta didik yang paling banyak ditemui adalah guru merasa instrumen diagnostik kesulitan belajar peserta didik tidak tersedia secara lengkap, dan guru kelas merasa belum terampil menggunakan instrumen untuk mendiagnostik kesulitan belajar peserta didik Kata Kunci: Diagnostik Kesulitan Belajar
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT FANATISME TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF FANS JKT48 (BENERPITU48) DI SALATIGA: HUBUNGAN ANTARA TINGKAT FANATISME TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF FANS JKT48 (BENERPITU48) DI SALATIGA Rahtri Nugraheni Budiyanti; Tritjahjo Danny Soesilo; Yustinus Windrawanto
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Press
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.9149

Abstract

This study aims to determine the relationship between the level of fanaticism and consumptive behavior among members of the JKT48 fan community Benerpitu48 in Salatiga. The research employed a quantitative correlational approach with 85 respondents selected using purposive sampling. The research instruments consisted of a fanaticism scale (modified from Chung et al., 2005) and a consumptive behavior scale (adapted from Engel et al., 1994). Data were analyzed using Kendall’s tau_b test. The results showed that most respondents had high to very high levels of fanaticism, while the majority demonstrated low consumptive behavior. The correlation test produced a value of r = –0.421 with p < 0,01, indicating a significant negative relationship of moderate strength. These findings suggest that the higher the level of fanaticism, the lower the consumptive behavior of community members. This differs from previous studies stating that fanaticism triggers consumptive tendencies, leading to the conclusion that fanaticism in this community context functions as a protective factor.
PERAN ORANG TUA SARANI DALAM PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL REMAJA Christy Uji Omega Banunaek; Yustinus Windrawanto; Adhi Krisna Maria Agustin
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.43822

Abstract

This study examines the role of Sarani parents (baptismal sponsors) in the psychosocial development of adolescents at GMIT Imanuel Oenali. The presence of Sarani parents is considered important because they are not only witnesses of baptism but also spiritual companions who are expected to support adolescents in their emotional, social, and identity development. Adolescence is a transitional period characterized by identity exploration and psychosocial challenges, therefore guidance from adult figures is needed. This research used a qualitative method with data collected through in-depth interviews and documentation involving adolescents, Sarani parents, and church leaders. The results show that Sarani parents contribute to adolescents’ psychosocial development through spiritual guidance, emotional support, moral example, and involvement in church activities. Their presence helps adolescents manage emotions, build self-confidence, and develop positive social relationships. However, the study also found challenges such as limited communication and varying levels of involvement from Sarani parents. Overall, collaboration between Sarani parents, biological parents, and the church plays an important role in supporting the healthy psychosocial development of adolescents.
PENGARUH KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XI SMK PGRI 1 SALATIGA Christwin Gideon Wehantouw; Tritjahjo Danny Soesilo; Yustinus Windrawanto
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.44088

Abstract

This study aims to analyze the effect of learning independence on the academic achievement of eleventh-grade students at SMK PGRI 1 Salatiga. Learning independence is considered an important internal factor that supports students in managing their learning process effectively, including regulating learning strategies, managing time efficiently, and taking responsibility for academic tasks. This research employed a quantitative approach using a simple linear regression design. The population consisted of all eleventh-grade students of SMK PGRI 1 Salatiga in the 2024/2025 academic year totaling 30 students, and the sampling technique used was total sampling, meaning that all members of the population were included as research participants. Data on learning independence were collected using a questionnaire, while academic achievement data were obtained from students’ academic scores documented by the school. The results of the study indicate that learning independence has a significant positive effect on students’ academic achievement, with a significance value of 0.003 (p < 0.05). The coefficient of determination shows that learning independence contributes 26.6% to students’ academic achievement, while the remaining 73.4% is influenced by other factors outside the scope of this study. These findings indicate that students with higher levels of learning independence tend to achieve better academic performance, therefore teachers and schools need to encourage the development of students’ learning independence to improve academic success.