Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

EDUKASI GIZI SEIMBANG ANAK USIA 0-2 TAHUN PADA IBU-IBU DI KELURAHAN HARAPAN MULIA, KEMAYORAN/ JAKARTA PUSAT Sri Wuryanti; Himmi Marsiati; Sri Hastuti Andayani
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2019): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.543 KB) | DOI: 10.32734/abdimastalenta.v4i1.2369

Abstract

Data Riskesdas 2010 menunjukkan 5% dari balita di Indonesia masih mengalami kekurangan gizi dan 37% balita Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak. Salah satu penyebab dari permasalahan ini adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi balita. Untuk mencegah terjadinya malnutrisi pada balita, termasuk bayi usia dibawah 1 tahun, WHO merekomendasikan strategi global pemberian makan bayi dan anak, yaitu pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan dan mulai memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) sejak usia 6 bulan dengan tetap melanjutkan pemberian ASI paling tidak sampai usia 2 tahun. Kelurahan Harapan Mulia terdiri dari 9 RW dan 12 RT. Di wilayah ini terdapat 10 Posyandu dengan jumlah balita sebanyak 1503 anak. Berdasarkan hasil data kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada bulan Desember 2016 di Kelurahan Harapan Mulia didapatkan pengetahuan dan pemahaman Ibu-ibu Kader tentang gizi di periode 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) masih kurang, serta jumlah kader yang terlatih hanya 42%. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang berkelanjutan ini dengan sasaran wanita usia subur (WUS), ibu hamil atau ibu yang mempunyai baduta atau balita dan kader didapatkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang gizi seimbang untuk anak balita, khususnya anak usia 0-2 tahun.
Design of Rice Husk Rotary Dryer using Waste Heat Electrostatic Precipitator of The Cement Industry ASTI DESI FITRIYANI; RATU FENNY MULDIANI; SRI WURYANTI
Journal of Green Science and Technology Vol 7 No 3 (2023): Journal of Green Science and Technology Vol.7 No.3 Special Edition : Applied scie
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v7i3.35

Abstract

ESP or electrostatic precipitator is a device used to capture particulate matter, such as dust, in exhaust gases using electrostatic principles. In the cement industry, ESP is commonly placed after the clinker cooler to clean the exhaust air from the cooling process, ensuring it is free from clinker dust. The clinker cooler is a device that cools down the clinker using air, reducing its temperature from an initial temperature of around 1450°C to approximately 100°C - 120°C. The exhaust air from the clinker cooler is then passed through the ESP at temperatures ranging from around 237°C to 311°C. Based on the temperature data, the exhaust air from the ESP has the potential for heat reuse for other processes, including as a heat source for drying rice husk, which is a common alternative fuel used in the cement industry and typically has a moisture content of around 25%-37%. The results of this design indicate that the exhaust heat from the ESP, with an input temperature of 275°C, is capable of drying rice straw pellets from a moisture content of 25% to 14.73% using a designed rotary dryer with a capacity of 21.6 t/h, a length of 41.58 m, and a diameter of 2.92 m. It is constructed using ASTM 283 C material with a thickness of 8.76 mm and is insulated with a 15.6 mm thick layer of aluminum foil
Pembentukan Remaja Peduli Stunting di Lokus Stunting Desa Pareang, Kabupaten Pandeglang sri wuryanti; Himmi Marsiati; Syukrini Bahri; Yusnita
Info Abdi Cendekia Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/iac.v8i2.179

Abstract

Stunting merupakan suatu kondisi di mana tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan anak dengan usia yang sama. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan anak, gangguan perkembangan otak yang berdampak pada fungsi kognitif/kecerdasan, serta ketika dewasa rentan mengalami penyakit tidak menular. Kelompok sasaran prioritas pada percepatan penurunan stunting adalah remaja, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Salah satu kegiatan pencegahan stunting pada remaja adalah skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri. Program pencegahan stunting pada remaja ini belum berjalan dengan baik di tingkat nasional, daerah, maupun di lokus stunting. Desa Pareang merupakan salah satu desa lokus stunting di Kabupaten Pandeglang pada tahun 2023. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kepedulian remaja pada stunting melalui pembentukan kelompok remaja peduli stunting (Repenting). Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 04-05 Juni 2024 di Balai Desa Pareang, Kabupaten Pandeglang. Kegiatan ini berupa pembentukan kader remaja peduli stunting (Repenting), pemeriksaan status gizi dan kadar Hb, edukasi gizi seimbang untuk cegah anemia, serta pemantauan minum tablet tambah darah pada remaja putri di Desa Pareang. Hasil pengabdian masyarakat ini meningkatkan pengetahuan remaja tentang stunting dan asupan gizi seimbang, tetapi belum berhasil meningkatkan kepatuhan remaja putri untuk mengkonsumsi tablet tambah darah.