Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Perbandingan Numeric Rating Scale Nyeri Pascaoperasi Kolesistektomi Laparoskopik Antara Blokade Erector Spinae Plane Dan Pethidine Intravena Arrys Prabowo; Reza Widianto Sudjud; Ricky Aditya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n2.2405

Abstract

Nyeri pascaoperasi harus diatasi dengan baik. Berbagai metode analgetik dilakukan untuk mengatasi nyeri pascaoperasi kolesistektomi laparoskopik, namun tidak ada yang ideal dalam menangani nyeri pascaoperasi. Blokade erector spinae plane adalah teknik baru untuk penanganan nyeri pascaoperasi kolesistektomi laparoskopik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan nyeri pascaoperasi kolesistektomi laparoskopik yang dinilai dengan NRS nyeri antara pasien yang menggunakan blokade erector spinae plane dan petidin intravena. Penelitian dilakukan pada periode Juni–Oktober 2020 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak terkontrol buta tunggal terhadap 30 pasien. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, kelompok petidine intravena (kelompok A, n=15) dan kelompok blokade erector spinae plane (kelompok B, n=15). Nyeri pascaoperasi dinilai dengan NRS pada 0–1 jam, 1–6 jam, 6–12 jam, dan 12–24 jam. Analisis data numerik dengan uji T tidak berpasangan dan Mann Whitney. Data kategorik dengan uji chi square. Skor NRS pada kelompok blokade erector spinae plane lebih rendah dibanding dengan kelompok petidin intravena pada 6–12 jam pascaoperasi (p=0,002) dan kebutuhan rescue analgetik pada 6–12 jam lebih rendah pada kelompok blokade. Metode analgetik blokade erector spinae plane pada pasien pascaoperasi kolesistektomi laparoskopik lebih baik daripada petidin intravena. Comparison of Pain Numeric Rating Scale between Erector Spinae Plane Block and Intravenous Pethidine Post-Laparoscopic Cholecystectomy Postoperative pain is a complaint that must be properly managed. Various analgesic methods are implemented to alleviate laparoscopic cholecystectomy postoperative pain, but none are ideal in managing postoperative pain. Erector spinae plane block is a new technique in laparoscopic cholecystectomy postoperative pain.  This study aims to discover the difference in post laparoscopic cholecystectomy pain measured using the NRS pain scale in patients with erector spinae plane block and intravenous pethidine. The study was conducted between June–October 2020 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This was a single blind control trial in 30 patients. Patients were divided into two groups, an intravenous pethidine group (group A, n=15) and an erector spinae plane block group (group B, n=15). Postoperative pain was measured using the NRS pain scale on hour 0–1, 1–6, 6–12, and 12–24. Numerical data was analyzed using the unpaired T test and the Mann Whitney test. Categorical data using the chi square test. NRS measurements in the erector spinae plane block group were lower compared to the intravenous pethidine group in hour 6–12 postoperation (p=0.002) and the need for a rescue analgesic in hour 6–12 lower in the blokade group. The analgesic method erector spinae plane block in patients post laparoscopic cholecystectomy is better than intravenous pethidine. 
Angka Mortalitas dan Faktor Risiko pada Pasien Geriatri yang Menjalani Operasi Emergensi Akut Abdomen di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2014−2015 Donny Prasetyo Priyatmoko; Reza Widianto Sudjud; Rudi Kurniadi Kadarsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.67 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1109

Abstract

Geriatri memiliki kekhususan yang perlu diperhatikan dalam bidang anestesi dan tindakan operasi karena terdapat kemunduran sistem fisiologis dan farmakologis sejalan dengan penambahan usia. Penelitian di Yunani tahun 2007 menjelaskan bahwa angka mortalitas akibat tindakan operasi setelah usia 65 tahun menjadi 3 kali lipat dibanding dengan usia 18−40 tahun. Angka mortalitas geriatri tahun 2007 pada operasi elektif sebesar 5%, sedangkan operasi emergensi sebesar 10%. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh angka mortalitas dan faktor risiko pada pasien geriatri yang menjalani operasi emergensi akut abdomen tahun 2014−2015. Tipe penelitian ini merupakan deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap 180 subjek penelitian yang diambil di bagian rekam medis sejak Juli−Oktober 2016 pada pasien geriatri yang menjalani operasi emergensi akut abdomen di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2014−2015. Hasil penelitian ini memperlihatkan angka mortalitas sebesar 9% dengan faktor penyebab mortalitas paling dominan adalah syok sepsis sebesar 50%. Faktor predisposisi disebabkan oleh indeks massa tubuh <18,5 kg/m2 sebesar 56,3%, diagnosis primer tumor intestinal sebesar 31,3%, penyakit penyerta diabetes melitus sebesar 31,3%, sepsis sebesar 93,8%, hipoalbumin sebesar 56,3% dan status fisik ASA 4E sebesar 62,5%. Simpulan, faktor presipitasi disebabkan oleh waktu respons penanganan >6 jam sebesar 93,8% dan komplikasi pascaoperasi severe sepsis disertai pneumonia sebesar 50%. Kata kunci: Akut abdomen, angka mortalitas, geriatri, operasi emergensi Mortality Rate and Risk Factor in Geriatric Patients Undergo Emergency Surgery for Acute Abdoment in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in 2014−2015Geriatric has special anesthetic and surgical consideration because of reducing physiologic function and pharmacodynamic as the age increase. A study in Greece in 2007 shows that surgery in patient more than 65 year old has three times mortality rate than 18–40 years old patients. Geriatric mortality rate in 2007 undergo elective surgery is 5%, while the emergency surgery 10%. Purpose of this study was to obtain mortality rate and risk factor in geriatric patients underwent emergency surgery for acute abdomen in 2014−2015. This was a descriptive retrospective study of 180 subjects taken from the medical records in July to October, 2016 in geriatric patients underwent emergency surgery for acute abdomen at the Dr. Hasan Sadikin hospital in 2014−2015. Results of this study showed a mortality rate of 9%, with most dominant factors that cause mortality was septic shock (50%). Predisposing factors was the body mass index <18.5 kg/m2 (56.3%), the diagnosis of primary tumor intestinal amounted to 31.3%, comorbidities of diabetes mellitus at 31.3%, sepsis (93.8%), hipoalbumin (56.3%) and ASA physical status 4E (62.5%). In conclution, precipitation factors caused by response time >6 hours (93.8%) and postoperative complications of severe sepsis with pneumonia (50%).Key words: Acute abdomen, emergency surgery, geriatrics, mortality rate
Perbandingan Pemberian Cairan Liberal dan Restriktif terhadap Mean Arterial Pressure, Laju Nadi, dan Capaian Nilai Post Anesthetic Discharge Scoring System Usia 1–3 Tahun di Bedah Rawat Jalan Melliana Somalinggi; Reza Widianto Sudjud; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.073 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1289

Abstract

Teknik pemberian cairan liberal yang masih banyak digunakan sering menjadi berlebihan termasuk pada bedah rawat jalan. Puasa yang tepat, operasi yang singkat, serta perdarahan yang minimal pada bedah rawat jalan hanya memerlukan pemberian cairan restriktif. Penelitian ini bertujuan mengetahui mean arterial pressure (MAP) dan laju nadi intraoperatif serta capaian postanesthetic dischange skoring system (PADSS) antara pemberian cairan liberal dan restriktif anak usia 1−3 tahun di bedah rawat jalan. Penelitian bersifat eksperimental acak terkontrol buta tunggal dengan randomisasi secara acak sederhana pada 42 anak usia 1−3 tahun, status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I-II di bedah rawat jalan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2016 sampai Mei 2017. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok liberal diberikan cairan rumatan intraoperatif formula Holiday-Segar, penggantian puasa serta penggantian cairan ‘ruang ketiga’; dan kelompok restriktif diberikan hanya cairan rumatan intraoperatif 2 mL/kgBB/jam. Data dianalisis dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney. Dari hasil penelitian didapatkan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan, tidak terdapat perbedaan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS antara pemberian cairan liberal dan restriktif pada anak usia 1−3 tahun yang menjalani bedah rawat jalan.Kata kunci: Cairan intraoperatif, laju nadi, mean arterial pressure, pediatrik, postanesthetic discharge scoring system
Perbandingan Preemptive Analgesia Kombinasi Ibuprofen 75 Miligram dan Parasetamol 250 Miligram per Oral dengan Parasetamol 1 Gram per Oral Terhadap Numeric Rating Scale pada Pasien Pascabedah Odontektomi Hilmy Manuapo; Doddy Tavianto; Reza Widianto Sudjud
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v7n3.1834

Abstract

Analgesik dosis tinggi dapat menimbulkan berbagai efek samping. Penggunaan kombinasi analgesik bekerja melalui mekanisme yang berbeda dan memiliki efek sinergis. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan lama analgesik antara kombinasi ibuprofen 75 mg dan parasetamol 250 mg per oral dibanding dengan parasetamol 1 g per oral terhadap nyeri pascabedah odontektomi. Penelitian eksperimental dengan uji klinis acak tersamar buta ganda terhadap 26 subjek penelitian yang menjalani odontektomi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli–Oktober 2019. Subjek dibagi menjadi kelompok P (Parasetamol) dan kelompok K (Kombinasi). Data hasil penelitian diuji secara statistik menggunakan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini didapatkan perbandingan lama analgesik pascabedah kelompok K (74,23±15,79 menit) lebih lama dibanding dengan kelompok P (50,76±17,22 menit) dengan p<0,05. Hasil skor nyeri pascabedah odontektomi pada kelompok K (2,92±0,75) lebih rendah dibanding dengan kelompok P (3,92±0,86) dengan p<0,05. Simpulan penelitian ini adalah kombinasi preemptive analgesia ibuprofen dan parasetamol per oral memiliki efek analgesik yang lebih lama dibanding dengan parasetamol per oral pada pascabedah odontektomi. Comparison of Preemptive Analgesia using Oral Combination of Ibuprofen 75 Milligrams and Paracetamol 250 Milligram and Oral Paracetamol 1 Gram on Duration of Analgesics After OdontectomyHigh dose analgesic can cause multiple side effects. Use of analgesics combination enable analgesics to work through different mechanisms and produce a synergistic effect. This study aimed to evaluate the analgesic effects of oral 75 mg ibuprofen and 250 mg paracetamol combination in comparison to oral 1 g paracetamol on post-odontectomy pain. This study was an experimental double blind randomized clinical trial conducted on 26 subjects who underwent odontectomy in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of July‒October 2019. Subjects were divided into P (Paracetamol) group and K (combination) group. Data collected were statistically tested using the Mann-Whitney test. Results showed that the time when post-odontectomy pain started in K group (74.23±15.79 minutes) was significantly longer when compared to that of P group (50.76±17.22 minutes) with p<0.05. The post-odontectomy pain score in K group (2.92±0.75) was also lower than that of P group (3.92±0.86), with p<0.05. In conclusion, oral analgesic agent combinations have a longer analgesic effect than oral paracetamol only in post-odontectomy patients.
Korelasi antara Lama Pintas Jantung Paru dan Lama Bantuan Ventilasi Mekanis pada Pasien Pascabedah Pintas Arteri Koroner di Unit Perawatan Intensif Jantung Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tias Diah Setiari; Reza Widianto Sudjud; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.127 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1106

Abstract

Pintas jantung paru (PJP) diperlukan untuk sebagian besar prosedur bedah pintas arteri koroner (BPAK). Fungsi paru dan oksigenasi menurun sekitar 2–90% pada pasien pascabedah jantung dengan PJP. Ketergantungan terhadap ventilator setelah BPAK secara signifikan berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian ini adalah mengorelasikan waktu PJP dengan lama bantuan ventilasi mekanis pada pasien BPAK. Penelitian ini merupakan analisis kohort retorospektif pada 43 pasien yang menjalani BPAK dengan PJP yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Jantung Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari 2014 sampai Juni 2015. Lama PJP dibagi menjadi ≤90 menit dan >90. Lama bantuan ventilasi mekanis terbagi menjadi ≤12 jam dan >12 jam. Parameter yang dicatat pada penelitian ini adalah usia, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, lama PJP, waktu klem aorta, dan lama bantuan ventilasi mekanis. Analisis stastistik menggunakan uji korelasi Lambda, signifikan jika nilai p<0,05. Penelitian ini menunjukkan korelasi yang cukup kuat antara waktu PJP dan lama bantuan ventilasi mekanis setelah BPAK dengan korelasi positif (0,545) dan signifikan (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah semakin lama waktu PJP berkorelasi dengan memanjangnya lama bantuan ventilasi mekanis. Kata kunci: Bedah pintas arteri koroner, pintas jantung paru, ventilasi mekanis Correlation between Cardiopulmonary Bypass Time and Duration of Mechanical Ventilation after Coronary Artery Bypass Graft at Cardiac Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungCardiopulmonary bypass (CPB) is necessary for majority of procedures in coronary artery bypass grafting (CABG) surgery. Lung function and oxygenation are impaired in 20% to 90% of CPB cardiac surgery patients. Ventilator dependency following CABG is often associated with significant morbidity and mortality. This study aims to correlate the CPB time and duration of mechanical ventilation after coronary artery bypass graft. This was a retrospective analysis cohort study on 43 consecutive patients undergoing CABG on CPB who admitted to cardiac intensive care unit between January 2014 and June 2015 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The CPB time divided into <90 minutes and ≥90 minutes. Duration of mechanical ventilation was defined as ≤12 hours and ≥12 hours ventilation. Parameters recorded in this study were age, weight, height, body mass index, CPB time, aortic cross-clamp time and duration of mechanical ventilation. Statistical analysis was performed using Lambda correlation, significanti if p value <0.05. This study showed moderate correlation between CPB time and duration of mechanical ventilation after CABG surgery with a positive (0.545) and significant correlation (p<0.05). Conclusion of this research is longer CPB timed correlated with prolonged mechanical ventilationKey words: Cardiopulmonary bypass time, coronary artery bypass grafting, mechanical ventilation
Angka Kejadian Ventilasi Mekanis Berkepanjangan pada PAscabedah Pintas Arteri Koroner di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2014-2016 Reza Widianto Sudjud; Rudi Kurniadi Kadarsah; Esther Dian Cahyaningtyas Hintono
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n1.2015

Abstract

Bedah Pintas Arteri Koroner adalah salah satu tindakan intervensi untuk mengembalikan perfusi koroner. Pascabedah jantung membutuhkan bantuan ventilasi mekanis yang apabila berkepanjangan akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian ventilasi mekanis berkepanjangan pascabedah pintas arteri koroner berdasar atas usia, jenis kelamin, fraksi ejeksi ventrikel kiri preoperatif, waktu pintas jantung paru, kadar hemoglobin pascaoperasi, dan komorbiditas pada pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2014–2016. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif berdasar data rekam medis. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil angka kejadian ventilasi mekanis berkepanjangan adalah 69,7%. Penelitian ini menunjukkan angka kejadian ventilasi mekanis berkepanjangan pascabedah pintas arteri koroner berdasarkan usia ≤65 tahun adalah 68,1%, usia >65 tahun 75,7%, laki-laki 69,1%, perempuan 73,1%, fraksi ejeksi >50% sebesar 73,3%, fraksi ejeksi sebesar 66,3%, waktu pintas jantung paru ≤90 menit 47,7%, waktu pintas jantung paru >90 menit 81,6%, kadar hemoglobin pascaoperasi <10 g/dL sebesar 75%, kadar hemoglobin ≥10 g/dL sebesar 66,9%, pasien dengan komorbiditas 69,7% dan tanpa komorbiditas 69,8%. Sebagai simpulan, didapatkan angka kejadian ventilasi mekanis berkepanjangan lebih tinggi pada pasien usia >65 tahun, pasien perempuan, pasien dengan fraksi ejeksi ≤50%, waktu pintas jantung paru >90 menit dan kadar Hb pascaoperasi <10 g/dL Incidence Rates of Prolonged Mechanical Ventilation in Patients Post Coronary Arterial Bypass Grafting at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2014–2016Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) is an intervention to restore coronary perfusions. Postcardiac surgery requires mechanical ventilation, which, if prolonged, will increase morbidity and mortality.The purpose of this study was to determine the incidence of prolonged mechanical ventilation post-CABG based on age, sex, preoperative left ventricular ejection fraction (LVEF), cardio pulmonary bypass (CPB) time, postoperative hemoglobin levels, and patient comorbidity at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2014-2016. The method used in this study was an observational descriptive retrospective approach based on medical records. The results of this study showed the incidence of prolonged mechanical ventilation incidence was 69.7%. This study showed that incidence of post-CABG prolonged mechanical ventilation based on age ≤65 years old were 68.1%, age >65 years old were 75.7%, men were 69.1%, women were 73.1%, LVEF ≤50% were 73.3%, LVEF >50% were 66.3%, CPB time <90 minutes were 47.5%, CPB time >90 minutes were 81.6%, postoperative hemoglobin level <10 g/dL were 75%, hemoglobin level ≥10 g/dL were 66.9%, patients with comorbidities were 69.7% and without comorbidities were 69.8%. In conclusion, there was higher incidence of prolonged mechanical ventilation in patients >65 years old, woman, with LVEF ≤50%, CPB time >90 minutes and postoperative hemoglobin level <10 g/dL.
Hemoglobin Level Decrease after Open Heart Surgery in a Tertiary Hospital in Indonesia Anabella Nifulea; Reza Sudjud Widianto; Rama Nusjirwan
Althea Medical Journal Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v7n3.1924

Abstract

Background: Open heart surgery is usually performed by connecting the heart to a cardiopulmonary bypass (CPB) machine. The use of the CPB machine may decrease the hemoglobin level and a very low hemoglobin levelcould cause seriouscomplications.This study aimed to explore the decrease in hemoglobin level after open heart surgery.Methods: A cross-sectional retrospective descriptive study was conducted on medical records of patients underwent coronary artery bypass graft (CABG) surgery and heart valve surgery in a tertiary hospital in Indonesia in  2018. The total sampling method was deployed to all medical records of patients underwent CABG surgery (n=25) and patients underwent heart valve surgery (n=3).Results: The decrease in hemoglobin level among young-adult female patients after heart valve surgery was 6.8 g/dl. The average decrease in mid-adult male and female patients after CABG surgery were 6 g/dl and 5.8 g/dl, respectively, and, after the heart valve surgery, the levels were 8.5 g/dl and 5.4 g/dl, respectively. The average decrease in Hb level among late-adult male and female patients after CABG surgery was 6.1 g/dl and 5.4 g/dl, respectively.Conclusion: Hemoglobin level decreases after an open heart surgery. Therefore, observation on the hemoglobin level to prevent complications and to facilitate early treatment is necessary.
Lessons Learned from Rapid Development of CPAP Ventilator Vent-I during Covid-19 Pandemic in Indonesia Syarif Hidayat; Jam'ah Halid; Tatacipta Dirgantara; Mipi Ananta Kusuma; Hari Utomo; Reza Widianto Sudjud; Ike Sri Rejeki; Sandro Mihradi; Sri Raharno; Dadang Rukanta; Hari Tjahjono
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 52 No. 5 (2020)
Publisher : Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2020.52.5.11

Abstract

Here, lessons learned during the development of the CPAP ventilator 'Vent-I', aimed to help COVID-19 patients with breathing difficulties, are presented. Within only weeks, the Vent-I was developed, complying with functionality, safety and reliability requirements and passing the clinical trial. It was then distributed to hospitals all over Indonesia. Two billion rupiahs were raised through crowdfunding within one week. When the project was officially closed, more than one thousand Vent-I devices had been distributed and more than twelve and a half billion rupiahs had been raised. Currently, commercialization and mass production of the device have been started. From this project several lessons can be learned. First and foremost, the spirit of gotong royong"“ sincere collaboration within the community to help each other "“ is still firmly rooted within the people and the society of Indonesia. Noble values, i.e. sincerity, sensitivity and concern about the needs of the community, willingness to serve voluntarily and public trust, made the team dare to try and face failure. The spirit of social entrepreneurship, willingness to listen to the user and collaboration with the relevant authority can accelerate development process. The availability of knowledge and skills that constitute an innovation ecosystem in Bandung, supported by business, social institutions and government, was also a key success factor..
Antibiotic Utilization Pattern in the Intensive Care Unit of Tertiary Hospital in West Java, Indonesia Taradharani Wikantiananda; Adi Imam Tjahjadi; Reza Widianto Sudjud
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/ijihs.v7n2.1633

Abstract

Objective: To find out the pattern of antibiotic utilization in intensive care unit (ICU). The high use of antibiotics in intensive care may increase antibiotic resistance.Methods: This was a retrospective study with total sampling method from patients who were treated in ICU in the period of January to June 2016. Selected data is processed using the Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) Classification/Defined Daily Dose (DDD) system as an international measurement standard for analyzing and comparing usage applied by the WHO.Results: The results showed that of the 57 medical records collected, the total antibiotic use was 295.72 DDD/100 bed-days. Levofloxacin, meropenem, ceftriaxone, ceftazidime, and metronidazole were the five maximally utilized antibiotics with 143.18, 49.88, 30.62, 19.74, dan 16.99 DDD/100 bed-days respectively.Conclusion: The most frequently used of antibiotics is ceftriaxone, used in 54.39% of patients. Whereas in number, the most widely used antibiotic is levofloxacin with a total of 143.18 DDD/100 bed-days.
Gambaran Persepsi Masyarakat tentang Keberadaan Pelayanan Paliatif di Kota Bandung Neta Oktriyani Poerin; Nita Arisanti; Reza Widianto Sudjud; Elsa Pudji Setiawati
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 3 (2019): Volume 4 Nomor 3 Maret 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.45 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i3.21242

Abstract

Meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit stadium terminal memerlukan pelayanan kesehatan yang lebih intensif. Pelayanan paliatif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain, memberikan dukungan kepada pasien dan keluarga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang keberadaan pelayanan paliatif di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observational dengan desain penelitian studi potong lintang. Besar sampel adalah 96, dan teknik sampling yang digunakan adalah cluster, consecutive sampling. Sampel diambil dari 9 cluster yaitu puskesmas dengan cakupan program penyakit kronis yang tinggi berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bandung tahun 2018. Subjek penelitian ini adalah masyarakat pengunjung puskesmas di Kota Bandung baik pasien maupun keluarga yang mengantarkan pasien dan masyarakat yang menandatangani formulir infomed consent. Penelitian dilakukan dari bulan September-Oktober 2018. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang berisi 20 pernyataan. Validitas dan reliabilitas kuesioner menggunakan uji Rasch Model. Persepsi positif jika nilai di atas logit person dan persepsi negatif jika nilai di bawah logit person. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 51% responden memiliki persepsi positif dan 49% memiliki persepsi negatif. Simpulan dari penelitian adalah persepsi masyarakat Kota Bandung mengenai keberadaan pelayanan paliatif hampir sama. Selisih antara persepsi positif dan negatif tidak terlalu jauh maka masih perlu dilaksanakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pelayanan paliatif.Kata Kunci: Kota Bandung, Masyarakat, Pelayanan Paliatif, Persepsi