Articles
Gambaran Persepsi Masyarakat tentang Keberadaan Pelayanan Paliatif di Kota Bandung
Neta Oktriyani Poerin;
Nita Arisanti;
Reza Widianto Sudjud;
Elsa Pudji Setiawati
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 3 (2019): Volume 4 Nomor 3 Maret 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (254.45 KB)
|
DOI: 10.24198/jsk.v4i3.21242
Meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit stadium terminal memerlukan pelayanan kesehatan yang lebih intensif. Pelayanan paliatif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain, memberikan dukungan kepada pasien dan keluarga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang keberadaan pelayanan paliatif di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observational dengan desain penelitian studi potong lintang. Besar sampel adalah 96, dan teknik sampling yang digunakan adalah cluster, consecutive sampling. Sampel diambil dari 9 cluster yaitu puskesmas dengan cakupan program penyakit kronis yang tinggi berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bandung tahun 2018. Subjek penelitian ini adalah masyarakat pengunjung puskesmas di Kota Bandung baik pasien maupun keluarga yang mengantarkan pasien dan masyarakat yang menandatangani formulir infomed consent. Penelitian dilakukan dari bulan September-Oktober 2018. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang berisi 20 pernyataan. Validitas dan reliabilitas kuesioner menggunakan uji Rasch Model. Persepsi positif jika nilai di atas logit person dan persepsi negatif jika nilai di bawah logit person. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 51% responden memiliki persepsi positif dan 49% memiliki persepsi negatif. Simpulan dari penelitian adalah persepsi masyarakat Kota Bandung mengenai keberadaan pelayanan paliatif hampir sama. Selisih antara persepsi positif dan negatif tidak terlalu jauh maka masih perlu dilaksanakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pelayanan paliatif.Kata Kunci: Kota Bandung, Masyarakat, Pelayanan Paliatif, Persepsi
Hemostasis dan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)
Ibnu Umar;
Reza Widianto Sujud
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 2 (2020): May
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.02.04
Rangkuman Hemostasis merupakan mekanisme tubuh yang bekerja untuk melindungi tubuh dari perdarahan dan kehilangan darah. Sistem ini melibatkan faktor plasma, trombosit dan dinding pembuluh darah. Oleh karna itu, mekanisme hemostasis mencerminkan keseimbangan antara mekanisme prokoagulan dan antikoagulan yang dikaitkan dengan proses fibrinolisis. Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) merupakan penyakit serius dimana terjadi aktivasi koagulasi yang meningkat, persisten, generalisata serta biasanya menyebabkan pembentukan mikrotrombus pada mikrovaskular. Pada saat yang sama, konsumsi trombosit dan protein koagulasi dapat menginduksi perdarahan masif. DIC selalu memiliki penyakit yang mendasarinya seperti infeksi berat, keganasan hematologi, trauma atau gangguan obstetrik. Tatalaksana DIC berupa manajemen penyakit yang mendasarinya, terapi antikoagulan, dan supportive care berupa transfuse komponen darah. Wawasan patofisiologi tentang koagulopati konsumtif saat ini mengarahkan pada pilihan terapi yang ditujukan untuk mengurangi pembentukan thrombin atau regulasi aktivasi koagulasi. Akan tetapi, keuntungan klinis terapi tersebut masih belum dapat ditetapkan.
Diagnosis dan Tatalaksana ARDS
Ramacandra Rakhmatullah;
Reza Widianto Sudjud
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (528.675 KB)
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) mempengaruhi sekitar 200.000 pasien setiap tahunnya di Amerika Serikat, mengakibatkan hampir 75.000 kematian. Angka mortalitas yang cukup tinggi menunjukkan bahwa ARDS kurang terdiagnosis sehingga mengalami penundaan terapi. Tinjauan pustaka ini disusun untuk memahami diagnosis ARDS berikut perkembangan tatalaksananya. Penegakan diagnosis disesuaikan dengan konsensus definisi ARDS Berlin 2012. Penerapan definisi Berlin pada beberapa negara berkembang yang memiliki keterbatasan fasilitas menyebabkan ARDS kurang terdiagnosis. Alternatif penegakan diagnosis muncul dari studi Kigali yang menggabungkan definisi American-European Consensus Conference (AECC) 1994 dan definisi Berlin 2012. Fokus utama penegakan diagnosis tetap pada empat gejala klinis yaitu onset gagal nafas yang berhubungan dengan perburukan klinis pasien, edema paru selain karena sebab hidrostatik, temuan foto toraks, dan tingkat hipoksemia. Terapi utama dari ARDS adalah mengatasi hipoksemia diikuti dengan identifikasi dan terapi penyebab ARDS. Terapi hipoksemia menggunakan prinsip lung protective strategy untuk mencegah VILI (Ventilator Induced Lung Injury). Terapi selanjutnya bersifat suportif dan farmakologis yang bertujuan untuk meningkatkan pengiriman oksigen dan menurunkan konsumsi oksigen. Terapi cairan konservatif juga penting dilaksanakan untuk mencegah keseimbangan cairan positif. Kecepatan dalam menegakkan diagnosis dan ketepatan memberikan terapi sangat mempengaruhi outcome dan prognosis. Penelitian lebih lanjut tentang ARDS masih diperlukan.
Korelasi Kadar Limfosit dengan Nilai P/F Rasio Pada Pasien Covid-19 Derajat Berat
Yazid Bustomi;
Reza Widianto Sudjud;
Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15851/jap.v11n1.2793
Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek dirawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125; R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit <1.000 uL dan P/F rasio <150 mmHg (p<0,05). Simpulan, tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada COVID-19 derajat berat, walaupun pada sebagian besar kasus COVID-19 derajat berat didapatkan penurunan limfosit dan P/F rasio.
Analisis Terhadap Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Mortalitas Pasien Sindrom Guillain-Barré Yang Dilakukan Plasmaferesis
Primta Bangun;
Reza Widianto Sudjud;
Ardi Zulfariansyah
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Publication In-Press
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/jai.v0i0.56915
Latar Belakang: Guillain-Barré Syndrome (GBS) merupakan penyakit autoimun yang mengenai sistem saraftepi yang banyak ditemukan di dunia. Penyakit inimemiliki manifestasi berupa kelemahan, arefleksia ototsecara progresif dan dapat menyebabkan kelemahan pada otot-otot pernapasan. Hal ini menyebabkan penderitamembutuhkan bantuan ventilasi mekanik. AmericanSociety for Apheresis (ASFA) menyatakan pengobatan linipertama krisis Guillain-Barré Syndrome (GBS) fase akutadalah dengan pemberian Therapeutic Plasma Exchange/Plasmaferesis. Therapeutic Plasma Exchange merupakan prosedur yang relatif aman dan sudah seringdilakukan di General Intensive Care Unit (GICU) RumahSakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisisfaktor-faktor risiko yang berhubungan dengan mortalitaspasien GBS yang telah menjalani terapi plasmaferesis.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitikmultivariat dengan desain kasus kontrol yang dilakukanpada 55 sampel pasien GBS yang mendapatkan terapiplasmaferesis di GICU RSHS Bandung dan Rumah Sakit(RS) Bhayangkara Tingkat II Medan. Penelitian inibersifat retrospektif dengan mengambil data dari rekammedis serta menyajikan karateristik dasar subjek.Hasil: Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa diantarafaktor-faktor risiko yaitu usia, komorbid, dan lama penggunaan ventilasi mekanik, yang paling berhubungandengan mortalitas pasien GBS yang telah menjalani terapiplasmaferesis adalah faktor lamanya penggunaan ventilasimekanik >14 hari.Kesimpulan: Faktor risiko penggunaan mesin ventilasimekanis berkepanjangan (>14 hari) berhubungan dengantingginya kejadian mortalitas/kematian pada pasien GBS yang menjalani terapi di RSHS Bandung, maupun di RS Bhayangkara Tingkat II Medan.
Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit dalam Meningkatkan Efisiensi Pelayanan di Rumah Sakit
Nurlatifah Rahmayanti;
Ulfah Halimatu Sa’diyah;
Reza Widianto Sudjud;
Vip Paramarta
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 08 (2023): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59141/comserva.v3i08.1094
Sistem informasi yang telah terkomputerisasi memberikan manfaat dalam hal kecepatan dan ketepatan penanganan informasi, untuk membatasi kesalahan yang terjadi. Kerangka Data Eksekutif Klinik Medis (SIMRS) adalah kerangka mekanis yang dilengkapi untuk menangani informasi dengan cepat, tepat, dan menciptakan berbagai macam data komunikasi untuk diberikan kepada semua tingkatan dewan di klinik darurat. Tujuan penelitian ini untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang system informsi, menganalisis manfaat dari penerapan system informasi di rumah sakit, memberikan rekomendasi dan solusi untuk pengembangan system informasi dan menyebutkan perangkat software dan hardware yang dibutuhkan dalam penerapan system informasi rumah sakit. Kerangka data dalam ujian ini, para ahli mengumpulkan informasi survei tertulis dengan desain topikal berdasarkan ide-ide penalaran yang disusun untuk menanggapi pertanyaan logis dengan mengumpulkan dan membicarakan sumber-sumber ilmiah sesuai subjek atau poin mereka. Penelitian ini menggunakan metode pencarian literatur terstruktur. Hasil pencarian membahas rumah sakit sebagai pusat kesejahteraan dan mempertahankan layanan medis berkualitas tinggi sesuai dengan undang-undang. Sistem informasi rumah sakit berkembang setiap tahunnya, terutama dengan penerapan Industri 4.0 dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi dan pelayanan kesehatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perhatian utama pada pelayanan kesehatan berkelanjutan dan penerapan kerangka inovasi data dapat meningkatkan administrasi pasien. Meskipun SIMRS dan SI rumah sakit membawa manfaat besar, tantangan dalam implementasi dan pengembangan tetap menjadi fokus utama.
Pengaruh Derajat Keparahan Penyakit (Skor APACHE II) terhadap Utilisasi Sumber Daya (Skor TISS-28) dan Biaya Perawatan Pasien di ICU
Muhammad Ikhwan Nur;
Reza Widianto Sudjud;
Osmond Muftilov Pison
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15851/jap.v12n2.3740
ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret–Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor APACHE II, sementara utilisasi sumber daya ICU dinilai dengan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28 harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp6.657.925,00. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r=0,538; r2=0,289; p ≤0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r=0,502;r2=0,253; p≤0,001. Derajat keparahan berdasarkan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.
Post-operative nursing bleeding management in mitral valve repair-re-exploration patient during early post-operative period: A case report
Ulfah Nurrahmani;
Riani Siti Hafsah;
Reza Widianto Sudjud
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jkp.v12i1.2363
Background: One of the first targets of post-operative care for cardiac surgery is to control bleeding. Significant bleeding can affect cardiac function as it can lead to hemorrhagic shock, severe anemia, and cardiac tamponade. Valve surgery has a mortality rate of 3.4%. Mitral valve repair surgery has a mortality rate of 1.2% compared to a valve replacement mortality rate of 4.5%. A quick and appropriate decision in the management of bleeding is one of the factors determining the patient's outcome. This study aims to report on nursing bleeding management in mitral valve repair-re-exploration patient during early postoperative period. This research is qualitative research using the case study method. Case: 59-year-old female with a medical diagnosis of mitral valve prolapse with severe mitral regurgitation of non-significant coronary artery diseases performed mitral valve repair surgery. This case has a score of 1 on the Papworth scale, which means low risk of bleeding. During treatment in the ICU, there was an increase in blood production from the chest tube of 1,670 ml within six hours post-surgery. PT APTT value was within normal range. Bleeding management during early post-operative period was carried out, namely conducting supporting laboratory tests, monitoring hypotension, monitoring urine production, performing chest tube maintenance, giving blood transfusions, fluid management and collaboration for re-exploration. Re-exploration surgery was performed at the sixth hour of post-operative care. Conclusion: The application of post-operative nursing bleeding management in mitral valve repair-re-exploration patient during the early post-operative period provides good clinical outcomes. Effective collaboration (multi-disciplinary teams) between cardiac surgeon, perfusionist, anesthetist, clinical pharmacist, and nurse is required to prevent and manage post-operative bleeding.
Comparison of Intravenous Administration of Remifentanil with Fentanyl for Increased Blood Sugar Levels in Post Cardiac Surgery Patients
Irvan;
Tavianto, Doddy;
Sudjud, Reza Widianto
Indonesian Journal of Anesthesiology and Reanimation Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Anesthesiology and Reanimation (IJAR)
Publisher : Faculty of Medicine-Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20473/ijar.V6I12024.14-22
Introduction: The incidence of hyperglycemia in patients with heart disease undergoing cardiac surgery reaches 50% in patients without a history of Diabetes Mellitus. This condition of hyperglycemia can increase morbidity and mortality. Objective: This study aims to assess the effect of using the agent remifentanil intravenously 0.5-1 µg/kgBW bolus followed by maintenance at a dose of 0.05-0.1 µg/kgBW/minute intravenously compared to the use of fentanyl 3-10 µg/kgBW followed by a maintenance dose of 0.03-0.1 µg/kgBW/minute for increased blood sugar levels in patients undergoing cardiac surgery with the Cardiopulmonary Bypass (CPB) procedure. Methods: This study is an experimental study with a single-blind randomized controlled design. Patients will be divided into 2 groups consisting of 12 patients each, namely group R (remifentanil) received remifentanil, and group F (fentanyl) received fentanyl. Blood sugar levels will be checked before and after surgery. Results: The research has been conducted at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from February 2023 to May 2023. The average increase in blood sugar levels in the remifentanil group was 74 mg/dl, while in the fentanyl group, it was 90 mg/dl. The p-value given is 0.214. Statistical test results showed that the value of p> 0.05. Conclusion: This study concludes that there is no significant difference in the increase in blood sugar levels between the two groups (remifentanil and fentanyl). This can be caused by the use of opioid doses in the lower range and more complex surgical procedures in our research.
Angka Morbiditas Pascaoperasi Tulang Belakang akibat Posisi Prone di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode November 2015Desember 2016
Nugraha, Ade Aria;
Sudjud, Reza Widianto;
Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (240.536 KB)
|
DOI: 10.24244/jni.vol6i3.51
Latar Belakang dan Tujuan: Operasi tulang belakang mengalami peningkatan secara signifikan selama dekade terakhir. Posisi prone dibutuhkan sebagai akses pada operasi tulang belakang melalui pendekatan posterior. Operasi tulang belakang dengan posisi prone memiliki risiko terjadi cedera yang dapat menyebabkan morbiditas serius.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka morbiditas pascaoperasi tulang belakang dengan posisi prone di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.Subjek dan Metode: Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan rancangan potong lintang pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan menjalani operasi tulang belakang dengan posisi prone dari bulan November 2015 sampai dengan bulan Desember 2016.Hasil: Hasil penelitian ini dari 99 subjek penelitian diperoleh 8 kasus (8,1%) cedera penekanan, 1 kasus (1%) cedera mata, dan 1 kasus (1%) cedera pada saraf tepi. Perubahan fisiologi dan efek penekanan akibat posisi prone serta keadaan selama operasi memengaruhi terjadinya morbiditas pada pasien yang menjalani operasi tulang belakang.Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah angka morbiditas pascaoperasi tulang belakang akibat posisi prone di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode November 2015Desember 2016 sebanyak 10 kasus (10%).The Incidence of Patients Morbidity After Spinal Surgery with Prone Position in Dr. Hasan Sadikin General Hospital During November 2015December 2016Background and Objective: The rate of spine surgeries has increased significantly over the past decade. Prone position is required as an access to spinal surgery through the posterior approach. Spinal surgery with prone surgery poses a risk of injury that can lead to serious morbidity. The purpose of this study was to determine the number of postoperative morbidity of the spine due to prone position in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung Subjects and Methods: The methods of this research is descriptive observational with cross sectional design and subjects of this study is patient undergo spine surgery in prone position in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung period November 2015 ? December 2016. Results: Results of this study had shown that among 99 subjects, 8 cases (8.1%) were diagnosed with pressure ulcer, 1 case (1%) with eye injury, and 1 case (1%) with peripheral nerve injury. The physiological changes in a prone position, pressure effect and conditions during surgery might lead to morbidity in patients undergoing spinal surgery.Conclusion: The conclusion of this study is the rate of postoperative morbidity of the spine due to prone position in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung period November 2015December 2016 as many as 10 cases (10%).