Claim Missing Document
Check
Articles

Natural Zeolite Modification using Dithizone and Its Application as Adsorbent of Cu(II) Agnidian Setyorini; Suhartana Suhartana; Pardoyo Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 2 (2018): Volume 21 Issue 2 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.808 KB) | DOI: 10.14710/jksa.21.2.98-101

Abstract

Activation of zeolites with dithizone by reflux method was carried out at 50°C for 6 hours and the results were analyzed using FTIR and GSA. Furthermore, the modified zeolite dithizone was used to adsorb Cu2+ metal ions on variations of adsorption time of 5, 10, 15, 30 and 60 min, variation of adsorption pH 2, 3, 4, 5 and 6 as well as variations in concentrations of 250, 500, 1000, 1500 and 2000 ppm. The results showed that there was a vibrational shift and a new peak emerged on the FTIR zeolite activation spectrum and modified zeolite indicating that the dithizone was present in the zeolite. GSA analysis results show that the surface area of activated zeolite is greater than natural zeolite ie 4,205 m2/g and 5,459 m2/g respectively, whereas dithizone-zeolite had a much smaller surface area of 0.925 m2/g. The selectivity of adsorption of activated zeolite to Cu(II) was greater than of dithizone-zeolite. The optimum adsorption contact time was 10 min for dithizone-zeolite and 30 min for activated zeolite. The optimum adsorption pH was at pH 5 for both adsorbents, as well as the optimum adsorption concentration at 250 ppm for both adsorbents.
Studi Kemampuan Adsorpsi Zeolit Alam Terdealuminasi terhadap Senyawa Fenol dan 2-Metoksifenol pada Asap Cair Sekam Padi: Eksperimen dan Komputasi AB Initio Wempie Gressangga; Suhartana Suhartana; Parsaoran Siahaan
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 3 (2011): Volume 14 Issue 3 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.807 KB) | DOI: 10.14710/jksa.14.3.94-99

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang studi kemampuan adsorpsi zeolit alam terdealuminasi terhadap senyawa fenol dan 2-metoksifenol pada asap cair sekam padi. Penelitian ini dilakukan melalui dua pendekatan yaitu eksperimen dan komputasi ab initio. Dealuminasi zeolit dilakukan dengan pengasaman menggunakan asam HCl dan H2SO4. Zeolit alam sebelum dan sesudah didealuminasi dianalisis menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA). Asap cair sebelum dan sesudah adsorpsi dianalisis menggunakan GC-MS. Pemodelan dilakukan pada tingkat teori HF/6-31G** diperoleh energi interaksi terendah antara segmen dimer tetrahedral zeolit rasio Si-Al 2-0 dengan fenol sebesar -19,3313 kkal/mol dan dengan 2-metoksifenol sebesar -22,1246 kkal/mol. Dealuminasi zeolit alam menggunakan asam HCl 6N diperoleh rasio Si/Al tertinggi sebesar 19,2432. Hasil adsorpsi asap cair diperoleh kadar fenol dan 2-metoksifenol terendah ketika diadsorpsi menggunakan zeolit alam dengan rasio Si/Al tertinggi dengan kadar masing-masing 0,52% dan 28,4%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi rasio Si/Al mampu meningkatkan kemampuan adsorpsi senyawa fenol dan 2-metoksifenol pada asap cair sekam padi, melalui hasil pemodelan juga dibuktikan bahwa segmen tetrahedral zeolit rasio Si-Al tertinggi memiliki energi interaksi terendah terhadap molekul fenol dan 2-metoksifenol.
Sintesis Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dan Aplikasinya Untuk Adsorpsi Asap Cair Feti Dwi Kurniati; Pardoyo Pardoyo; Suhartana Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 3 (2011): Volume 14 Issue 3 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.296 KB) | DOI: 10.14710/jksa.14.3.72-76

Abstract

Sintesis arang aktif menggunakan bahan dasar tempurung kelapa telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mensintesis arang aktif dari tempurung kelapa, menggunakan arang aktif untuk mengadsorpsi asap cair serta menentukan kondisi adsorpsi optimum berdasarkan warna, bau dan kuantitas senyawa fenolat dan asam. Aktivasi arang tempurung kelapa dilakukan menggunakan asam phospat dan natrium klorida dengan waktu perendaman 24 jam. Karakterisasi gugus fungsi dilakukan menggunakan FTIR. Adsorpsi asap cair dilakukan dengan waktu kontak 7, 30 dan 60 menit. Analisis senyawa penyusun asap cair dilakukan menggunakan GC-MS. Kadar total fenol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan metode Follin Ciocalteau, sedangkan analisis kadar total asam menggunakan metode titrimetrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif mampu mengadsorpsi warna, bau dan menurunkan jumlah senyawa fenolat dan asam. Dan hasil terbaik untuk adsorpsi asap cair diperoleh dari arang aktif 3F (arang aktif yang diaktivasi oleh H3PO4 dengan adsorpsi selama 60 menit). Asap cair setelah adsorpsi berwarna jernih dan mempunyai bau yang tidak menyengat. Analisis gugus fungsi menunjukkan adanya gugus hidroksil dan karboksil. Analisis GC-MS menunjukkan kehilangan sejumlah senyawa pada asap cair setelah diadsorpsi. Senyawa-senyawa yang hilang umumnya didominasi oleh senyawa fenolat dan asam. Penurunan tertinggi terhadap senyawa fenolat sebesar 76,6% dan penurunan tertinggi terhadap asam sebesar 58,2%.
Pengolahan Limbah Cair Industri Batik dengan Metoda Elektrokoagulasi Menggunakan Besi Bekas Sebagai Elektroda Titik Darmawanti; Suhartana Suhartana; Didik Setiyo Widodo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 13, No 1 (2010): Volume 13 Issue 1 Year 2010
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.728 KB) | DOI: 10.14710/jksa.13.1.18-24

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengolahan limbah cair industri batik dengan metoda elektrokoagulasi menggunakan besi bekas sebagai elektroda yang bertujuan untuk memisahkan zat warna naftol dari limbah. Selama proses elektrokoagulasi logam besi mampu membentuk Fe(OH)3 yang berperan sebagai adsorben zat warna, karena floks Fe(OH)3 mampu mengadsorpsi zat warna naftol sehingga zat warna dapat dipisahkan dari limbah. Pada proses elektrokoagulasi dilakukan penentuan kondisi terbaik yang meliputi potensial aplikasi, variasi pH dan waktu elektrolisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh potensial aplikasi sebesar 5 volt dengan pH terbaik 2 dengan waktu elektrolisis selama 15 menit. Pada temperatur kamar, elektrokoagulasi limbah cair batik memberikan penurunan absorbansi sebesar 98,53%, sedangkan penurunan kandungan COD, TSS dan kekeruhan masing-masing adalah 83,64%, 99,27% dan 98,57%. Data FTIR menunjukkan adanya kemiripan serapan yang muncul antara limbah sebelum elektrolisis dan endapan hasil elektrolisis. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar zat warna telah dapat dipisahkan dari limbah cair dan metoda ektrokoagulasi dapat diaplikasikan untuk mengatasi limbah cair berwarna.
Pengaruh Variasi Jenis Pelarut pada Rendemen Sintesis Senyawa Kompleks Bis-Asetilasetonatodiaquonikel(II) Novia Mintari; Suhartana Suhartana; Sriatun Sriatun
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 18, No 1 (2015): Volume 18 Issue 1 Year 2015
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.07 KB) | DOI: 10.14710/jksa.18.1.29-33

Abstract

Sintesis Senyawa Kompleks Bis-Asetilasetonatodiaquonikel(II)  telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mensintesis senyawa kompleks bis-asetilasetonatodiaquonikel(II) ([Ni(acac)2(H2O)2]) dengan menggunakan pelarut metanol, etanol dan aseton serta membandingkan pengaruh pelarut yang digunakan terhadap hasil sintesis senyawa kompleks. Senyawa kompleks [Ni(acac)2(H2O)2] dibuat dengan memodifikasi metode Pawlikowski dengan perbandingan mol ion pusat dengan ligan adalah 1:3. Karakterisasi senyawa kompleks dilakukan menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR), Atomic Absorption Spectroscopy (AAS), dan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil FTIR menunjukkan adanya gugus O pada asetil aseton yang terkoordinasi pada ion pusat Ni2+ membentuk kompleks [Ni(acac)2(H2O)2]. Spektra UV-Vis menghasilkan serapan maksimum untuk kompleks [Ni(acac)2(H2O)2] dalam pelarut metanol pada panjang gelombang 294,5 nm, dengan energi transisi sebesar 406,72 KJmol-1, dan rendemen 19,26%. Kompleks [Ni(acac)2(H2O)2] dalam pelarut etanol memiliki panjang gelombang maksimum pada 294,5 nm, dengan energi transisi sebesar 406,72 KJmol-1, dan rendemen 18,69%. Sedangkan kompleks [Ni(acac)2(H2O)2] dalam pelarut aseton mempunyai panjang gelombang maksimum pada 293 nm, dengan energi transisi sebesar 408,80 KJmol-1, dan rendemen 16,99%.
Elektrodekolorisasi Indigo Karmin Menggunakan Alumina dan Karbon Bekas Sriatun Sriatun; Kuwatno Kuwatno; Suhartana Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 10, No 3 (2007): Volume 10 Issue 3 Year 2007
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.245 KB) | DOI: 10.14710/jksa.10.3.61-66

Abstract

Dekolorisasi zat warna indigo karmin telah dilakukan dengan metode elektrolisis. Dalam metode ini telah diteliti pengaruh pH dan temperatur terhadap kemampuan dekolorisasi indigo karmin. Adanya elektrokoagulasi/elektroflokulasi disebabkan oleh kemampuan flok Al(OH)3 mengadsorb indigo karmin dan membentuk kompleks Al-indigo karmin. Flok Al(OH)3 dihasilkan oleh elektrolisis larutan dengan menggunakan alumunium bekas sebagai anoda dan karbon sisa baterai sebagai katoda. Elektrolisis dilakukan selama 150 menit dengan tegangan luar 12 Volt. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan dekorisasi terhadap indigo karmin oleh flok Al(OH)3 dipengaruhi oleh pH dan temperatur larutan. Kemampuan dekolorisasi minimum pada pH=6 dan akan meningkat pada kondisi basa dan asam. Persentase dekolorisasi maksimum pada temperatur ruang adalah 51,95% pada pH=14. Persentase dekolorisasi optimum adalah 98,33% pada temperatur 70oC pada pH=10.Kata kunci : elektrodekolorisasi, indigo karmin, alumunium
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks Zn(II)-8-Hidroksikuinolin Eka Sulistya Hermawati; Suhartana Suhartana; Taslimah Taslimah
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 3 (2016): Volume 19 Issue 3 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.117 KB) | DOI: 10.14710/jksa.19.3.94-98

Abstract

Senyawa koordinasi adalah senyawa yang terbentuk karena adanya ikatan antara ligan dengan ion pusat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memperoleh senyawa kompleks Zn(II)-8-Hidroksikuinolin dengan pelarut asetonitril, metanol dan etanol serta menentukan karakteristik dari produk yang diperoleh. Metode penelitian ini dilakukan dengan mencampurkan larutan ZnCl2 dan larutan 8-Hidroksikuinolin disertai pengadukan dengan menggunakan magnetik stirrer selama 60 menit. Karakterisasi uji dilakukan dengan menggunakan UV-Vis, FTIR dan AAS. Dari sintesis kompleks Zn(II)-8-Hidroksikuinolin dalam pelarut asetonitril, metanol dan etanol,  diperoleh rendemen  sebesar 73,07 % ; 63,46% ; dan 48,67%, dengan panjang gelombang maksimum berturut-turut sebesar 319,5 nm ; 313 nm ; and 320 nm. Adanya ikatan Zn-N teridentifikasi pada pita serapan pada kisaran 439,79 cm-1 hingga 513,09 cm-1, sedangkan ikatan Zn-O teridentifikasi pada pita serapan pada kisaran 542,98 cm-1 hingga 543,95 cm-1. Dapat disimpulkan bahwa Zn(II) terkoordinasi dengan ligan 8-Hidroksikuinolin membentuk endapan senyawa kompleks Zn(II)-8-Hidroksikuinolin berwarna kuning.
Pengaruh Pelarut pada Rendemen Sintesis Senyawa Kompleks Bis-asetilasetonatokobalt (II) Ika Ayu Fajarwati; Suhartana Suhartana; Pardoyo Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 17, No 1 (2014): Volume 17 Issue 1 Year 2014
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.277 KB) | DOI: 10.14710/jksa.17.1.27-30

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pelarut pada rendemen sintesis senyawa kompleks bis-asetilasetonatokobalt (II). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh senyawa kompleks bis-asetilasetonatokobalt (II) dengan pelarut yang bervariasi, membandingkan hasil karakterisasi senyawa kompleks yang terbentuk, dan menentukan pelarut yang baik dalam sintesis senyawa kompleks tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Powlikowski. Tahapan penelitian ini meliputi sintesis senyawa kompleks dengan variasi pelarut dan karakterisasi dengan analisis menggunakan UV-Vis, AAS dan FTIR. Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan mereaksikan Co(NO3)2.6H2O dengan ligan asetilaseton dengan perbandingan 1:3 mol dalam berbagai pelarut (metanol, aseton, dan kloroform). Endapan yang diperoleh dianalisis menggunakan FTIR dan Uv-Vis sedangkan filtrat yang peroleh dianalisis dengan AAS. Sintesis senyawa kompleks dari ion logam Co dengan asetilaseton dengan variasi pelarut menghasilkan senyawa kompleks bis-asetilasetonatokobalt (II). Spektra FTIR menunjukan ikatan koordinasi antara atom pusat Co dan ligan asetilasetonat (Co-O) pada bilangan gelombang 424,34 cm-1. Hasil analisis UV-Vis menunjukkan senyawa kompleks mempunyai panjang gelombang maksimum yang sama yaitu pada 491 nm dengan energi 10Dq sebesar 243,335 kJ/mol. Rendemen senyawa kompleks dalam pelarut metanol sebesar 0,53 gram, aseton 1,37 gram dan kloroform 1,08 gram. Pelarut yang baik dalam sintesis ini adalah pelarut aseton.
Kemampuan Quanin pada Ekstraksi Kation Fe2+ dan Senyawa Kompleks [Fe(CN)6]4- pada Fasa Air dan Kloroform Suhartana Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 10, No 2 (2007): Volume 10 Issue 2 Year 2007
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.358 KB) | DOI: 10.14710/jksa.10.2.50-53

Abstract

Besi adalah merupakan kation yang mudah terlarut di dalam air. Seringkali keberadaannya pada industri electroplating kurang dikehendaki. Salah satu cara untuk mengurangi (dekonsentrasi) kation besi dilakukan dengan membuat senyawa kompleksnya, yang dapat terlarut dalam pelarut organik. Dengan ligan quanin kation Fe2+ dapat dipungut kembali sebesar 98,56 %, sementara senyawa kompleks [Fe(CN)6]4- dapat dipungut 62,24 %.
Pengaruh Variasi D-Glukosa sebagai Template terhadap Karakter Silika Hasil Sintesis Abu Sekam Padi untuk Uji Adsorpsi-Desorpsi Urea Sriyanti, Sriyanti; Setyowati, Dwi; Suhartana, Suhartana
Greensphere: Journal of Environmental Chemistry Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Issue 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/gjec.2022.16334

Abstract

Sintesis silika mesopori dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi aditif D-glukosa terhadap karakter silika mesopori yang dihasilkan, dan kemampuan silika mesopori dalam adsorpsi-desorpsi urea. Sintesis silika mesopori dilakukan dengan menambahkan natrium silikat (Na2SiO3) dari abu sekam padi ke dalam larutan D-glukosa dengan variasi konsentrasi 15 wt%, 30 wt%, 45 wt%, 60 wt%, 75 wt%. Larutan HCl 3M ditambahkan secara bertahap hingga mencapai pH 7. Penghilangan D-glukosa menggunakan metode ekstraksi air dengan proses sentrifugasi, serta uji kualitatif dengan pereaksi Benedict. Selanjutnya dilakukan uji kemampuan adsorpsi-desorpsi pada urea. Karakterisasi hasil menggunakan spektrofotometri serapan atom, metode Brunauer Emmet Teller (BET) gas sorption analyzer (GSA), spektrofotometer FTIR, dan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partikel bahan halus sampai kasar seiring dengan variasi konsentrasi D-glukosa yang ditambahkan. Analisis FTIR silika hasil sintesis dengan berbagai konsentrasi D-glukosa 15%, 30% berat, 45% berat, 60% berat, dan 75% berat menunjukkan adanya gugus Si-OH dan Si-O-Si. Spektra dekonvolusi FTIR juga menemukan bahwa rasio Si-OH/Si-O-Si pada MS-30 lebih tinggi dibandingkan variasi konsentrasi lainnya. Hasil analisis GSA menunjukkan bahwa silika gel memiliki pori berukuran meso pada sampel MS-30 dan MS-60. Distribusi ukuran pori seragam MS-30 dan MS-60. Hasil analisis spektrofotometer UV-Vis menunjukkan bahwa daya adsorpsi MS-30 lebih tinggi dari yang lain yaitu 55,40%, daya desorpsi MS-30 lebih rendah dari yang lain yaitu 13,72%. Hasil AAS menunjukkan bahwa natrium silikat mengandung kadar Si 16.342 ppm sehingga silika yang diperoleh sebesar 32,68%.