Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : MEDIAN

Partisipasi Masyarakat Terhadap Pelestarian Hutan Cagar Alam Di Kampung Saporkren Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat Irnawati Irnawati
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.544 KB) | DOI: 10.33506/md.v10i1.153

Abstract

Kawasan cagar alam memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tinggi dan dapat dijadikan sebagai modal dasar pelaksanaa pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. evaluasi kondisi komunitas hutan cagar alam di kampung Sapokren sangat berguna dalam mamantau proses regenerasi terhadap pelestarian Hutan Cagar Alam di Waigo Barat. Metode yang di pakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara. Partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan cagar alam penelitian ini terdiri atas kemauan, kemampuan dan kesempatan yang dimiliki masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan partisipasi, Perilaku masyarakat tentang upaya pelestarian dapat dilihat dari motivasi responden mengikuti kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh pemerintah setempat yang mencapai 55%  dalam tingkat sukarela motivasi masyarakat yang ikut ambil bagian dalam menjaga dan melestarikan hutan cagar alam di Kampung Saporkren Distrik Waigeo Selatan.
Studi Sekuestrasi Karbon Pada Tegakan Jati (Tectona grandis Linn.) Di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong Azis Maruapey; Irnawati Irnawati
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v11i1.478

Abstract

Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengetahui biomassa dari tegakan Jati (Tectona grandis L.) di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong; untuk mengetahui sekuestrasi karbon pada tegakan Jati; danuUntuk mengetahui sekuestrasi karbondioksida (CO2) pada tegakan Jati          Metode yang dipergunakan adalah metode petak  tunggal. Penentuan areal lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi penelitian secara sengaja dengan mempertimbangkan petak ukur yang dibuat terdapat jenis tegakan Jati (Tectona grandis L.). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode petak tunggal dengan ukuran 20 m x 20 m (Fachrul, 2007). Dalam penelitian ini, untuk menghitung biomassa dalam kaitannya dengan estimasi sekuestrasi karbon pada tegakan Jati dilakukan melalui sampling tanpa pemanenan secara in situ yaitu metode ini merupakan cara sampling dengan melakukan pengkukuran tanpa melakukan pemanenan. Metode ini antara lain dilakukan dengan mengukur diameter atau tinggi pohon dan menggunakan persamaan alometrik untuk mengekstrapolasi biomassa dan estimasi sekuestrasi karbon. .           Nilai dari potensi biomassa yang terkandung pada tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong dimasukkan dalam persamaan Allometrik, menunjukkan bahwa berat biomassa dari hasil perhitungan 5 petak pengamatan (luasan 0,2 ha) adalah 26.161,13 g. Sehingga untuk mengetahui berat biomassa dalam luasan satu hektar maka hasil dari perhitungan setiap plot dikalikan lima, dengan asumsi rata–rata jumlah tegakan Jati sebanyak 1.100 tegakan per hektar maka jumlah biomassa yang terkandung dalam tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong adalah sebesar 130.805,65 g/ha.Estimasi sekuestrasi karbon pada tegakan Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong berjumlah 12.295,73 g, sekuestrasi karbon tertinggi terdapat pada plot atau petak pengamatan III yaitu sebesar 3.593,15 dan terendah pada petak IV yaitu sebesar 1.714,41. Jumlah karbon yang terkandung pada tegakan jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong sebesar 61.478,65 g/ha hasil ini diperoleh dari jumlah karbon pada setiap plot contoh dikalikan lima karena ukuran plot pengamatan hanya seluas 20 x 20 m2 sebanyak 5 petak. Jumlah sekuestrasi karbondioksida yang tersimpan pada tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong adalah sebesar 12.295,73 g, dengan demikian maka tegakan Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong mempunyai potensi serapan karbondioksida sebesar 45.125,33 g atau 225.626,65 g/hektar.
Kajian Karakteristik Morfometri Daerah Aliran Sungai Klawoguk Kota Sorong Berbasis Sistem Informasi Geografis Anif Farida; Irnawati Irnawati
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.256 KB) | DOI: 10.33506/md.v12i2.1004

Abstract

DAS Klawoguk yang masuk dalam wilayah Kota Sorong mempunyai permasalahan yang selalu berulang yaitu banjir. Hampir setiap ada hujan yang jatuh dengan intensitas yang cukup tinggi akan mengakibatkan banjir di beberapa lokasi yang dekat dengan sungai. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik morfometri DAS Klawoguk dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Parameter morfometri yang dihitung adalah luas DAS, panjang sungai utama, kemiringan sungai utama, bifurcation ratio, form factor, circularity ratio, drainage density, texture ratio dan length of overland flow. Analisis spasial dilakukan dengan bantuan software MapInfo Professional 11.5 sedangkan analisis dekripstif kualitatif  dilakukan dengan cara mengkaji hasil perhitungan morfometri DAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas DAS Klawoguk 31,26 km2 dengan panjang sungai utama 20,61 km dan kemiringan sungai utama 0,01 (1 %). Nilai Rb (bifurcation ratio) sebesar 13,68, form factor sebesar 0,020 yang berarti bentuk DAS tidak bulat dan circularity ratio (Rc) 0,25 termasuk dalam kategori bentuk DAS memanjang. Kerapatan drainase 3,52 km/km2 masuk dalam kelas sedang, nilai texture ratio 3,87 dan nilai length of overland flow sebesar 1,76. Berdasarkan parameter morfometri tersebut DAS Klawoguk mempunyai kenaikan debit banjir yang cepat dengan air tidak tergenang terlalu lama, volume runoff yang dihasilkan juga cukup besar, kemampuan infiltrasi yang rendah dan durasi waktu yang diperlukan oleh aliran untuk mencapai outlet tidak terlalu cepat.
Analisis Potensial Hutan Sagu Alam Dan Pengelolaan Secara Tradisional Oleh Masyarakat Adat Kampung Puragi Distrik Metemani IRNAWATI IRNAWATI; Nurhidaya Nurhidaya; Aprisa Rian Histiarini
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 13 No. 3 (2021): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v13i3.1602

Abstract

Masyarakat adat Kampung Puragi Distrik Metemani merupakan masyarakat lokal yang mengolah pati sagu secara tradisional serta pemanfaatannya masih terbatas sebagai pangan pokok masyarakat tertentu yang memiliki potensi pohon sagu (Metroxylon sp) yang luas. Namun luas arealnya masih belum di ketahui serta belum ada data real tentang potensi dan pemanfaatan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat adat kapung puragi.Tujuan penelitian ini adalah membahas sejauh mana potensi hutan sagu alam dan pengelolaan sagu secara tradisional oleh masyarakat adat Kampung Puragi Distrik Metemani Kabupaten Sorong Selatan. Metode yang digunakan untuk mengukur potensi adalah metode jalur berpetak seluas 2 Ha serta metode survey dan wawancara secara langsung kepada masyarakat adat dalam  pengolahan sagu secara tradisional dan secara modern di Kampung Puragi Distrik Metemani.Hasil yang di dapat dari kegiatan ini adalah kampung puragi dipengaruhi oleh adat istiadat warganya mulai dari perkawinana, perselisihan serta kepemilikan hak ulat tanah adat. Luas hutan sagu alam kampung Puragi adalah 2.800 Ha serta proses pemanenan dan pengolahan sagu oleh masyarakat adat masih secara tradsional yaitu memotong batang sagu menjadi beberapa bagian (tual) dengan ukuran 1,2 meter, kulit batangnya dilepas, lalu ditotok menjadi halus kemudian diangkut denkat sumber air untuk dicuci/diremas dengan air untuk mendapatkan pati sagu atau tepung sagu yang halus terpisah dari pengendapan air remasan saguKesimpulan dari kegiatan ini adalah berdasarkan hasil survey potensi di duga bahwa hutan sagu alam masih sangat tinggi mencapai 363.520 Pohon serta pengolahan pati sagu secara tradisional masih sangat sederhana menggunakan bahan alam. 
Penyadapan Getah Damar Dan Nilai Manfaat Ekonomi Bagi Masyarakat Kampung Manggroholo Distrik Saifi Kabtupaten Sorong Selatan Irnawati Irnawati; Lona H Nanlohy; Adam Sagisolo
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v14i1.1676

Abstract

Agathis disebut juga damar termasuk dalam famili Araucariaceae  Pohon muda biasanya bertajuk kerucut, hanya saat dewasa tegakannya menjadi lebih membulat atau tidak beraturan. Kawasan hutan kampung Manggroholo Distrik Saifi Kabupaten Sorong Selatan merupakan kawasan hutan adat yang cukup banyak ditumbuhi pohon Agarhis (Agthis labilardieri) secara alamiah yang menghasilkan gerah damar dan mempunyai nilai ekonomi yang prospektif. Aktifitas penyadapan dan pengumpulan getah damar dilakukan oleh masyarakat merupakan salah satu kegiatan pokok bagi masyarakat dalam menunjang social ekonomi keluarga.  Aktifitas dan pengumpulan getah damar kopal (masyarakat menyebut kopal) telah lama dilakukan oleh masyarakat di Kampung Manggrohol sebagai mata pencaharian pokok dan tenaga kejanya semua berasar dari anggota keluarga. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktifitas penyadapan Getah Damar dan Nilai Manfaat Ekonominya Bagi Masyarakat Kampung Manggroholo Distrik Saifi Kabupaten Sorong Selatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik survey terhadap Kepala Keluarga dan observasi secara langsung terhadap aktifitas masyarakat terkait penyadapan getah damar yang disertai wawancara. Penentuan sampel 10 % dari jumlah 123 KK jadi responden 12 KK yang berprofesi pencari getah damar. Hasil penelitian bahwa Proses dan cara pengambilan (pemanenan) getah damar sampai saat ini sebagian besar masyarakat masih menggunakan cara tradisional yaitu melukai pohon damar dengan menggunakan parang/kapak, jenis damar yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat kampong adalah damar putih dari pohon Agtahis Labilardieri dan damar merah dari pohon Vatica sp. Nilai ekonomi Petrdapatan masyarakat dari sekali mengambil getah damar berkisar antara Rp. 825.000-1.375.000. Total pendapatan masyarakat responden mencapai Rp. 12.632.000,- per aktivitas menyadap, dimana rata-rata pendapatan responden mencapai Rp. 1.052.000 per aktivitas menyadapan.
Kelembagaan Lokal Masyarakat Suku Maybrat Kampung Kamisabe Dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan Inawati Irnawati; Syarif Ohorella; Nurhidaya Nurhidaya
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.095 KB) | DOI: 10.33506/md.v14i2.1936

Abstract

Sistem pengusahaan Hutan Alam dalam prakteknya, masyarakat memiliki perangkat hukum yaitu berupa aturan-aturan adat yang sangat baik dalam mengatur status penguasaan/kepemilikkan lahan hutan, sampai dengan mengelola hasil-hasil tanaman ”tertentu” yang diusahakannya. Di Kampung Kamisabe Distrik Muswaren, untuk status kepemilikan sumberdaya lahan di hutan Alam, sejak dulu telah diatur secara adat berdasarkan masing-masing kelompok marga atau yang yakni suatu kesatuan kekerabatan masyarakat yang terdiri dari beberapa rumah tangga dengan memakai nama keluarga berupa marga yang sama di dalam suatu wilayah perkampungan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengkaji bentuk dan peran kelembagaan adat masyarakat dalam mengatur dan mengelola sumberdaya hutan. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem Kelembagaan Adat dalam pengelolaan Sumberdaya Hutan. Penelitian ini di rancang dengan menggunakan metode studi kasus dengan beberapa teknik pengumpulan data yakni melalui : Wawancara individual (individual interview), pengamatan terlibat (participant observation), dan diskusi kelompok terfokus (focused group discussion). Hasil penelitian menunjukan bahwa Masyarakat Kampung Kamisabe memiliki sistem kekerabatan masyarakat yang terdiri dari kesatuan-kesatuan geneologis yang berperan dalam pengaturan pengelolaan sumberdaya hutan termasuk Tanah dan Air didasarkan pada teritorial geneologis. Pengelolaan hasil-hasil Hutan diatur melalui sistem Kelembagaan Adat yang berlaku di wilayah Kelembagaan Adat yang diselenggarakan oleh Kepala Pemerintah Kelembagaan Adat dan para dewan Kelembagaan Adat kampung melalui musyawarah Kelembagaan Adat di tingkat Kampung.
Study on the Utilization of Itchy Leaf Plants (laportea sp.) By the Community of Bariat Village, Konda District South Sorong Regency Irnawati Irnawati; Mira Herawati Soekamto; Nur Hidaya
Median : Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal Median
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/md.v15i2.2565

Abstract

Itchy leaves are a kind of herbaceous plant that comes from the Urticaceae family where if applied all over the body it will cause a very itchy effect. After the itchy sensation for 5 minutes, the pain and sore effects will work very effectively. The local Papuan people, especially the South Sorong area, are active in using itchy leaves as an effective traditional medicine to cure muscle pain, but until now it has not been known to identify the types of itchy leaves used by local people. This research examines the identification of the types of itchy leaves plants used. The methods used as aspects of the utilization of Itchy Leaf plants are observation, interviews, and filling out questionnaires. While the results of the study showed that there were three types of Itchy Leaf plants in Bariat Village, Konda District which belonged to 1 (one) family, namely Urticaceae. There are 3 types of itchy leaves, namely Laportea decumana (kafa'), Laportea stimulants syn (kafasa), and Laportea peltata (Kafa'). Furthermore, this group of Itchy Leaf plants is used by the community by rubbing, squeezing the leaves, wrapping and as a trap for wild animals.