Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Ezra Science Bulletin

PENCIPTAAN SKENARIO FILM FIKSI THE BLUE MOON KILLER MENGGUNAKAN PLOT TWIST ANAGNORISIS Meysyaputri, Chairunnisa; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.250

Abstract

Skenario The Blue Moon Killer lahir dari keresahan terhadap isu pembunuhan yang dipicu oleh dendam, yang menyoroti pentingnya pengelolaan emosi dengan cara yang sehat dan damai. Isu ini kemudian diolah menjadi sebuah cerita drama misteri yang intens dan penuh intrik. Melalui skenario ini, penulis bertujuan untuk menggambarkan dampak negatif dari tindakan balas dendam serta menyajikan kisah yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan nilai edukatif bagi berbagai kalangan. Penuturan cerita dalam skenario ini menggunakan teknik plot twist anagnorisis, yang merupakan plot twist di mana karakter utama atau penonton menyadari kebenaran tersembunyi yang mengubah keseluruhan pemahaman terhadap cerita. Plot twist ini hadir pada adegan kunci, yaitu di scene 51, 74, dan 77, ketika karakter protagonis akhirnya menyadari bahwa dalang di balik serangkaian pembunuhan adalah seseorang yang sangat dekat dengan mereka.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan plot twist anagnorisis mampu memberikan dampak emosional yang mendalam pada penonton, serta meningkatkan kualitas narasi dalam skenario film. Selain itu, isu balas dendam yang diangkat memberikan kedalaman psikologis pada karakter dan relevansi sosial yang kuat.
MISE EN SCENE UNTUK MENCIPTAKAN GAMBAR METAFORA DALAM FILM FIKSI FEMENINE Situngkir, Rivaldo Cristenseen; Pradhono, Choiru; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.266

Abstract

Film fiksi Femenine mengisahkan tentang seorang pria bersifat femininbernama Dendi. Tokoh Dendi yang mengalami pemahaman seksual, streotipdanmaskulinitas oleh lingkungan. Maraknya kasus ini menjadi tema besar dalampembuatan film Femenine . Film ini menggunakan konsep penerapan Mise EnScene untuk menciptakan Visual Metaphor pada film Femenine . Tujuan dari penciptaan karya ini adalah dengan mengahadirkan elemen Mise en scene padafilm untuk menghadirkan Visual Metaphor, sehingga penonton dapat mengonseptualkan ke suatu hal atau kejadian. Film Femenine ini tidak hanyamenampilkan pesan verbal (dialog dan ekspresi pemain) tetapi jugamenampilkan pesan non verbal dari setting, acting, lighting, dan Wandrobe, yangmendukung terciptanya film ini. Sedangkan di dalam film terdapat aspek-aspek yangmembentuk sebuah film, diantaranya sentuhan pada aspek Mise en scene mampuuntuk mengonstruksi pemahaman penonton pada sebuah filmyang tidak hanyamendapat informasi namun juga dapat membangun aspek emosi.
PENERAPAN THREE ACT STRUCTURE PADA PENCIPTAAN SKENARIO KEMBALI KE TITIK NOL Muhammad Farhan Aulia; Suisno, Edy; Fitri, Dynia
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.269

Abstract

Pertanggung jawaban dari skenario film Kembali ke Titik Nol bertujuan untuk menyampaikan kepada para pembaca skenario tentang kesejahteraan gaji guru honorer yang sangat memprihatinkan. Sehingga para pembaca dapat memahami seberapa memprihatinkan nasib guru honorer di Indonesia. Skenario Kembali ke Titik Nol bercerita tentang perjuangan seorang guru honorer yang memiliki keinginan untuk membeli rumah KPR subsidi karena diusir oleh juragan yang punya kontrakan akan tetapi memiliki kesulitan untuk membayar DP rumah dalam waktu singkat tersebut yang membuatnya terpaksa harus menjadi kurir ganja. Tujuan terciptanya karya ini untuk menciptakan skenario dengan membagi cerita dalam tiga pembabakan, sehingga membuat cerita tidak berbelit-belit. Penciptaan skenario Kembali ke Titik Nol untuk menerapkan teori Three Act Structure yang dimana berfungsi membagi cerita dalam tiga pembabakan Set-up, Konfrontasi, Resolusi yang berfungsi agar membuat alur cerita tidak berbelit-belit dengan mengangkat tema kesejahteraan gaji guru honorer, menghasilkan skenario yang menarik untuk diproduksi.
MINUMAN TRADISIONAL TUAK DALAM PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER EXPOSITORY TUAK Septian, Farell; Sasongko, Hery; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.270

Abstract

Film tuak merupakan film dokumenter berdurasi 15 menit yangmenceritakan seputar minuman tuak, dari segi pembuatan, kandungan hinggahukum yang mengatur tentang minuman tuak itu sendiri.Penulis yang juga sebagaifilmmaker membuat film dokumenter dengan pendekatan exspository, dan jugavoice over sebagai penutur cerita agar informasi dapat dipahami dengan mudah olehpenonton. Film dokumenter ini memakai teori Bill Nichols sebagai pendukungdalam karya film dokumenter ini .Film ini bertujuan untuk jadi pemahaman tentangminuman tradisional tuak,baik itu darisisi manfaat dan negatifnya.Film dokumenterini jadi media edukasi pemahaman tentang konsumsi minuman tuak,dan jugakeputusan untuk mengkomsumsinya adalah keputusan pribadi.
VISUALISASI PENGARUH NARKOBA DENGAN PENERAPAN SUBJECTIVE SHOT PADA FILM FIKSI DEEPA Dwianto, Robby; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.320

Abstract

Film merupakan media komunikasi visual yang efektif dalam menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat. Skripsi ini membahas penciptaan film fiksi Deepa sebagai bentuk visualisasi pengaruh narkoba dengan menerapkan teknik pengambilan gambar subjective shot. Konsep subjective shot dipilih untuk membangun kedekatan emosional antara karakter dan penonton, di mana kamera bertindak sebagai mata subjek untuk memperlihatkan sensasi dan pengalaman karakter secara langsung. Dalam proses produksi, pengkarya menggunakan kombinasi camera movement, handheld, camera shaking, serta variasi angle seperti eye level, low angle, dan dutch angle guna memperkuat nuansa halusinasi dan ketidakstabilan akibat pengaruh narkoba. Film Deepa menceritakan perjuangan seorang pecandu narkoba yang ingin berhenti, namun justru menyeret temannya ke dalam kecanduan yang berujung pada tragedi. Hasil akhir menunjukkan bahwa penggunaan subjective shot berhasil menciptakan pengalaman visual yang intens dan mampu menyampaikan efek destruktif narkoba secara emosional kepada penonton. Karya ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam penciptaan film bertema sosial dengan pendekatan visual yang imersif dan edukatif.
KOSTUM TOKOH KIRAN UNTUK MEMPERKUAT KESAN PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA FILM TUHAN, IZINKAN AKU BERDOSA KARYA HANUNG BRAMANTYO Yanti, Enjelly Pebri; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.468

Abstract

Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa adalah film bergenre drama religi yang menceritakan kisah seorang mahasiswi yang taat agama, namun mengalami kekecewaan dan pengkhianatan di lingkungan keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kostum tokoh Kiran dan perannya dalam memperkuat perubahan psikologis. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui telaah dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kostum yang dikenakan Kiran menjadi elemen mise en scene yang paling dominan dalam menegaskan dan menggambarkan perubahan psikologis yang dialami. Dalam film ini terdapat 20 scene yang menunjukkan pergeseran kostum yang dikenakan oleh Kiran.