Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KOSTUM TOKOH KIRAN UNTUK MEMPERKUAT KESAN PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA FILM TUHAN, IZINKAN AKU BERDOSA KARYA HANUNG BRAMANTYO Yanti, Enjelly Pebri; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.468

Abstract

Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa adalah film bergenre drama religi yang menceritakan kisah seorang mahasiswi yang taat agama, namun mengalami kekecewaan dan pengkhianatan di lingkungan keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kostum tokoh Kiran dan perannya dalam memperkuat perubahan psikologis. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui telaah dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kostum yang dikenakan Kiran menjadi elemen mise en scene yang paling dominan dalam menegaskan dan menggambarkan perubahan psikologis yang dialami. Dalam film ini terdapat 20 scene yang menunjukkan pergeseran kostum yang dikenakan oleh Kiran.
Struktur Naskah Heart of Almond Jelly Karya Wishing Chong Terjemahan Teguh Hari Prasetyo dengan Gaya Realisme dan Genre Tragikomedi Harahap, Elliza; Efendi, Leni; Birowo, Pandu; Suisno, Edy
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Cerano Seni: Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2025)
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jcs.v4i2.27816

Abstract

This study aims to analyze the structure of the script Heart of Almond Jelly by Wishing Chong translated by Teguh Hari Prasetyo, et al to find out the dramatic material of the script. The analysis method used to explore the script in structure and texture is the textual analysis method. Heart of Almond Jelly brings the reader or audience as if witnessing what happens in the reality of everyday life, and discusses a lot about the household problems of a married couple. The conclusion obtained from this research is that the script Heart of Almond Jelly by Wishing Chong translated by Teguh Hari Prasetyo has two characters. The main character is Sayoko and the antagonist is Tatsuro. Heart of Almond Jelly is a reinterpretation of the realism script to realize emotional values and character deepening in realizing drama and has a tragicomedy play form and realism style.
PENERAPAN MODEL HERO’S JOURNEY UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER TOKOH UTAMA PADA SKENARIO FIKSI FANTASI BUMINTARA alifra zuhran; Edy Suisno; Eriswan Eriswan
Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media Vol 3, No 1 (2025): Cinelook: Journal of Film, Television, and New Media (Juanuary-June 2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cl.v3i1.3623

Abstract

Skenario fiksi fantasi Bumintara merupakan skenario yang dilatarbelakangi oleh isu perpecahan yang dapat diakibatkan dari keberagaman yang ada di Indonesia, sehingga menyadarkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika  yang artinya “Berbeda-beda Tetap Satu Jua”. Keresahan ini menjadi sumber ide cerita yang kemudian dikemas menjadi cerita fantasi petualangan dalam skenario Bumintara. Penciptaan skenario Bumintara memiliki tujuan untuk memperlihatkan dampak buruk perpecahan yang dapat diatasi dengan sikap saling tolong menolong dan bekerja sama hingga mencapai persatuan dan kesatuan. Skenario ini diharapkan dapat menjadi sarana hiburan yang edukatif dan juga menarik untuk berbagai kalangan usia.Penuturan cerita skenario Bumintara menggunakan model hero’s journey oleh Christopher Vogler yang memiliki 12 tahapan cerita. Melalui model hero’s journey penulis dapat mengembangkan karakter tokoh utama berkat tahapan yang telah dibagi oleh Vogler. Model hero’s journey ini mempermudah penulis dalam proses penulisan skenario, sebab terdapat panduan lengkap untuk merangkai peristiwa dan konflik pada setiap tahapannya. Konflik sangat berpengaruh besar dalam perkembangan tokoh utama, karena tanpa adanya konflik tokoh utama tidak akan mengalami perkembangan.   
PERANCANGAN PERTUNJUKAN OPERA MINANGKABAU MALIN NAN KONDANG SEBAGAI ALIH WAHANA KABA MALIN KUNDANG EDY SUISNO; ISWANDI ISWANDI; R.M PRAMUTOMO; LILI SUPARLI; NOVESAR JAMARUN
Dance and Theatre Review Vol 4, No 1: May 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v4i1.4373

Abstract

Perancangan Pertunjukan Opera Minangkabau Malin Nan Kondang sebagai Alih Wahana KabaMalin Kundangadalah proses penciptaan pertunjukan Opera Minangkabau yang bertitik tolak dari penafsiran ulang kaba Malin Kundang. Proses penciptaan pertunjukan Opera Minangkabau tersebut, diawali dari sebuah riset terhadap berbagai penafsiran atas kaba Malin Kundang sebagai titik tolak terbentuknya penafsiran baru atas kaba tersebut..Penafsiran baru tersebut kemudian dikreasi untuk menghasilkan bentuk lakon baru, yang kemudian diberi judul Malin Nan kondang.Lakon baru inilah yang menjadi pijakan dalam perancangan pemanggungan (spektakel) yang mencirikan sebuah pertunjukan Opera Minangkabau.Penuangan tersebut merupakan bentuk perancangan yang dimulai dari analisis lakon, pembuatan adegan demi adegan dan penempatan aspek pendukung opera yang meliputi gerak, dendang dan penghayatan seni peran. Aksentuasi opera diwujudkan dengan penggunakan ragam seni tradisi Minangkabau bagi kebutuhan perancangan Opera Minangkabau secara keseluruhan. Aksentuasi itu meliputi dialog dengan dendang, penggunaan koreografi dan paduan suara dan dialog yang berbentuk puisi.Kata kunci : Kaba Malin Kundang; Lakon Malin Nan Kondang; Opera Minangkabau
Penokohan dalam Lakon Maut dan Sang Dara Wenhendri Wenhendri; Edy Suisno
Creativity And Research Theatre Journal Vol 7, No 1 (2025): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v7i1.5808

Abstract

This research “Characterization of Characters in Ariel Dorfman’s Maut dan Sang Dara (Death and Maiden; trans. Mimi Notokusumo) is a study of characters in the play by emphasizing the reading and reflection on the speech and actions of each character. This study is also to see the uniqueness of each character especially in determining the existence of main character and its relation with another characters. Opposing or supporting relationship of each characters is described in relation to the main conflict of the play. The research begins with a ‘three-dimensional reading’ by examining their identities physically, psychologically, and sociologically. This step is followed up by exploring the various emotions, thoughts, and actions of the main characters as a result of the emotions, thoughts, and actions of the other characters. Ultimately, the reading of characters in Maut dan Sang Dara sees and finds differences in each character which then sharpens and deepens the conflict in the story. Maut dan Sang Dara, Ariel Dorfman, Characterization, and Relation of character.
EKRANISASI CERITA RAKYAT MALIN KUNDANG DALAM SKENARIO FILM TELEVISI MALIN NAN KONDANG Suisno, Edy
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 1 No 01 (2022): Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.664 KB) | DOI: 10.22437/cs.v1i01.18689

Abstract

Penciptaan Skenario Malin Nan Kondang merupakan upaya perancangan skenario Film Televisi yang bertitik tolak dari cerita rakyat Minangkabau Malin Kundang. Upaya perancangan tersebut merupkan hasil dari reinterpretasi cerita rakyat Malin Kundang melalui pendekatan alih wahana (ekranisasi) dengan menggunakan pendekatan hermeunetic. Hasil dari ekranisasi tersebut diwujudkan dalam skenario Film Televisi dengan judul Malin Nan Kondang. Skenario Malin Nan Kondang dirancang dengan tetap mempertahankan alur sebagaimana yang ditemukan dalam cerita rakyat Malin Kundang tetapi merubahnya dari format cerita rakyat (folklor) Malin Kundang menjadi format skenario film televisi, dengan melakukan perubahan pada aspek struktur cerita rakyat yang dirancang secara berlawanan (dekonstruktif) dalam susunan strukturnya. Penempatan struktur yang berlawanan tersebut pada akhirnya berdampak pada perubahan signifikan pada aspek penokohan, aspek dramatik dan juga aspek latar cerita. Dengan demikian perancangan skenario film televisi ini lebih dari sekedar kerja adaptasi tetapi merupakan penerapan konsep ekranisasi (alih wahana) secara utuh dari genre sastra menuju skenario film untuk kebutuhan kreativitas sinematik (perfilman).
Transformation of Minangkabau Traditional Theatre in Contemporary Performance: Aesthetic and Dramaturgical Study Edy Suisno
Melayu Arts and Performance Journal Vol 8, No 2 (2025): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v8i2.31391

Abstract

This study examines the transformation of Minangkabau traditional theatre in contemporary performance, with particular attention to aesthetic and dramaturgical changes in the adaptation of Randai as a folk theatre form. Randai has long been recognized as a performative expression that integrates kaba narrative, acting, dendang, music, silek-based movement, and circular staging patterns within the cultural order of Minangkabau society. However, contemporary theatre practices have opened new possibilities for reinterpreting these traditional elements through experimentation with space, body, visual composition, rhythm, and performance structure. This research aims to analyze how Minangkabau traditional theatre is transformed into contemporary performance and to identify the aesthetic and dramaturgical implications of such transformation. The study uses a qualitativedescriptive method with an interpretive approach. Data were collected through literature study, visual documentation from open sources, and textual analysis of scholarly sources related to Randai, traditional theatre, performance studies, and contemporary dramaturgy. The findings show that the transformation of Minangkabau traditional theatre occurs through the reconfiguration of narrative structure, the expansion of actor movement, the modification of musical functions, the reinterpretation of circular space, and the shifting position of tradition from communal representation to artistic exploration. These changes do not necessarily eliminate traditional identity; rather, they create a dialogic space between inherited cultural values and contemporary theatrical imagination. The novelty of this study lies in its effort to position the transformation of Minangkabau traditional theatre not merely as modernization, but as an aesthetic and dramaturgical negotiation that allows tradition to remain productive within contemporary performance discourse.