Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

STUDI KOMPARATIF EFEKTIVITAS SISTEM PENGARSIPAN MANUAL DENGAN SISTEM INFORMASI KEARSIPAN DINAMIS DI BADAN ARSIP DAN PERPUSTAKAAN PROVINSI JAWA TENGAH Juliani, Delisa; Suliyati, Titiek
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.791 KB)

Abstract

Skripsi ini berjudul Studi Komparatif Efektivitas Sistem Pengarsipan Manual dengan Sistem Informasi Kearsipan Dinamis di Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penilaian efektivitas Sistem Pengarsipan Manual dengan Sistem Informasi Kearsipan Dinamis di Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif, komparatif dengan jenis penelitian kuantitatif. Subjek Penelitian yang dijadikan sumber dalam penelitian ini adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Jenis dan sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder.Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan kuesioner. Pengolahan hasil kuesioner diuji dengan uji validitas, uji reliabilitas, analisis uji Kolmogorov-Smirnov test, uji paired sampel t-test, analisis uji wilcoxon signed rank dan pengujian hipotesis. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan menggunakan program SPSS 15. Hasil pengolahan dan analisis data kuesioner didapatkan hasil bahwa penilaian efektivitas terhadap sistem pengarsipan manual dengan sistem informasi kearsipan dinamis di Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah tidak ada perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji paired sampel t-test untuk indikator mutu, t hitung 0,263 dan p 0,794 maka p > 0,05. Indikator Fleksibilitas, t hitung 1,493 dan p 0,142, maka p > 0,05. Indikator kepuasan, t hitung 1,926 dan p 0,359, maka p > 0,05. Kemudian hasil uji uji wilcoxon sign rank untuk indikator produksi hasil Z hitung -0,860 dan p 0,390, maka p > 0,05. Indikator Efisiensi, Z hitung -1,248 dan p 0,212, p > 0,05. Dengan demikian hasilnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara Sistem Pengarsipan Manual dengan Sistem Kearsipan Dinamis yaitu sama – sama dinilai efektif, dan responden menilai sistem pengarsipan manual terlebih dahulu sudah tertata dengan baik dan sistematis sebelum dikembangkan secara komputerisasi, sedangkan dengan menggunakan sistem informasi kearsipan dinamis, pengelolaan arsip dapat dilakukan dengan mudah dan cepat, dapat menghemat waktu, tenaga, serta biaya. Saran yang diajukan yaitu sosialisasi tentang sistem informasi kearsipan dinamis, penambahan sarana komputer, perbaikan koneksi jaringan internet pada area kantor, dan mengadakan pelatihan khusus tentang penggunaan sistem informasi kearsipan dinamis, agar dapat menggunakan sistem tersebut dengan baik
Analisis Pengelolaan Arsip Dinamis Aktif di Sub Bagian Umum Dan Kepegawaian Dinas Pendidikan Kota Semarang Putra, Bayu Ardiansyah; Suliyati, Titiek
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.3 KB)

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian untuk skripsi yang berjudul “Analisis Pengelolaan Arsip Dinamis Aktif padaSub Bagian Umum dan Kepegawaian di Dinas Pendidikan Kota Semarang.” Tujuan dari Penelitian ini adalah untukmengetahui pengelolaan arsip dinamis aktif yang dilakukan di Sub Bagian Umum dan Kepegawaian DinasPendidikan Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalampenelitian ini melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa kegiatan pengelolaan arsip dinamis aktif di Sub Bagian Umum dan Kepegawaian DinasPendidikan Kota Semarang dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu penciptaan arsip, penggunaan arsip danpenyimpanan arsip. Tahap penciptaaan arsip berkaitan dengan penanganan surat masuk dan surat keluar yangdilakukan dengan menggunakan sistem pola lama atau buku agenda. Tahap penggunaan arsip berkaitan dengankegiatan penemuan kembali untuk pelayanan dan peminjaman arsip. Kegiatan peminjaman arsip belum dilakukandengan menggunakan prosedur yang tepat karena belum adanya kegiatan pencatatan peminjaman arsip. Tahappenyimpanan arsip berkaitan dengan sistem penyimpanan arsip dan asas pengorganisasian arsip. Sistempenyimpanan arsip yang digunakan adalah sistem penyimpanan secara kronologis berdasarkan urutan tanggal, bulandan tahun. Asas pengorganisasian yang diterapkan menggunakan asas desentralisasi sebab di setiap unit kerja DinasPendidikan Kota Semarang mempunyai tugas untuk mengatur arsipnya masing-masing sesuai dengan tugas, pokokdan fungsi bagian di Dinas Pendidikan Kota Semarang.Analisis Pengelolaan Arsip Dinamis Aktif di Sub BagianUmum Dan Kepegawaian Dinas Pendidikan Kota Semarang
Pengaruh Pelaksanaan Kegiatan Pengawasan Kearsipan oleh ANRI Terhadap Kualitas Penyelenggaraan Kearsipan Pada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Widyantika, Inez Yusrina; Suliyati, Titiek
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.435 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pengaruh Pelaksanaan Kegiatan Pengawasan Kearsipan olehANRI terhadap Kualitas Penyelenggaraan Kearsipan pada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggaldan Transmigrasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengambilan data yang dilakukan yaitumelalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap 3 (tiga) informan. Pelaksanaanprogram pengawasan terhadap penyelenggaraan kearsipan terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap audit, tahappenilaian, dan tahap monitoring. Pada tahap audit, ANRI melihat kondisi faktual dari penyelenggaraan kearsipanlembaga yang diawasi. Pada tahap penilaian, ANRI mengeluarkan nilai penyelenggaraan kearsipan melalui hasilaudit yang dilakukan sekaligus menuliskan rekomendasi untuk memperbaiki penyelenggaran kearsipan. Padatahap monitoring, ANRI memantau perubahan terkait rekomendasi yang telah diberikan. Program PengawasanPenyelenggaraan Kearsipan melibatkan 7 (tujuh) aspek penilaian yaitu, ketaatan terhadap peraturan perundangundangan,program kearsipan, pengolahan arsip inaktif, penyusutan arsip, sumber daya manusia kearsipan,kelembagaan, serta prasarana dan sarana kearsipan. Tujuh aspek tersebut dinilai dan diakumulasi menjadi nilaiPenyelenggaraan Kearsipan pada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Melihatperubahan yang terjadi pada ketujuh aspek pengawasan, dapat disimpulkan bahwa program pengawasanpenyelenggaraan kearsipan memiliki pengaruh terhadap kualitas penyelenggaraan kearsipan di Kementerian Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Analisis Risiko Pada Arsip Kepegawaian Milik Pt Pos Indonesia (Regional Area VI) Semarang Habibie, Muhammad Luthfie; Suliyati, Titiek
Jurnal Ilmu Perpustakaan Vol 8, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.594 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko apa saja yang mengancam arsip kepegawaian milik PTPos Indonesia (Regional Area VI) Semarang serta menghitung kemungkinan terjadinya risiko tersebutsehingga dapat meningkatkan efisiensi sumber daya Kantor Pos Regional VI dalam menjaga dan merawatarsip kepegawaian. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei. Sampel yangdigunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 20 responden yang terbagi menjadi 1 kepala divisi humasdan 1 penanggung jawab kearsipan arsip kepegawaian PT Pos Indonesia (Regional Area VI) Semarang,serta 18 pegawai divisi sumber daya manusia yang mengetahui kondisi arsip kepegawaian. MetodeWeighted-Average Approximation digunakan untuk menghitung kemungkinan terjadinya kejadian risikoyang dapat merusak arsip kepegawaian. Indikator risiko yang dapat merusak arsip kepegawaian dipilihberdasarkan Records Risk Assessment Tool yang dikembangkan oleh New castle University yaitu faktorrisiko kondisi lingkungan; kesalahan manusia, kebijakan dan prosedur; keamanan ruangan; serta ruangandan unit penyimpanan arsip kepegawaian. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa arsip kepegawaianterdampak oleh fluktuasi suhu dan kelembaban ruangan, hama serangga, jamur, serta unit penyimpananyang rusak. Kemudian dari perhitungan kemungkinan risiko menggunakan metode Weighted-AverageApproximation dapat disimpulkan bahwa risiko yang perlu di prioritaskan dalam perencanaan kegiatanpreventif kerusakan arsip kepegawaian adalah unit risiko fluktuasi suhu dan kelembaban ruangan, hamaserangga, jamur dan unit penyimpanan yang rusak untuk faktor risiko ruangan dan unit penyimpanan arsipkarena memiliki tingkat kemungkinan terjadi sedang.
Lumbung Desa in Java: A Credit Institution, Poverty Management, and Financial Problem Solving for Villagers During the Colonial Period Haryono Rinardi; Yety Rochwulaningsih; Titiek Suliyati; Sutejo K. Widodo
Humaniora Vol 29, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.341 KB) | DOI: 10.22146/jh.24294

Abstract

This paper aims to examine the existence and development of Lumbung Desa or village rice barns as a credit institution during the colonial era. It was expected to be an inspiration and reference to revitalize, design, and develop barns at the village level that contributed significantly to the village welfare at the recent time.  Therefore, how and why was Lumbung Desa institution able to develop during the colonial era? How much was its contribution to the village welfare? To examine these questions, the authors used critical historical method and through economical and sociological approach. The result shows that Lumbung Desa was formed and developed by the Dutch to overcome poverty as a strategic issue at the time, especially at village level. The grand design program of Lumbung Desa was to channel loan schemes especially and savings that could be in the form of in cash or rice. It was used to help farmers against the middlemen and moneylenders who were considered as adverse parties for the villagers. Lumbung Desa existed and was managed in many villages of Java during the colonial era. It relied on rural communities with distinctive personal socio-economic relations that brought about both strengths and weaknesses for the institution. However, there were some advantages of Lumbung Desa; first, it provided loans in two types, cash and/ or rice which became major and urgent needs for the villagers; second, its presence in rural areas made farmers become customers and easily access the market; third, its flexibility made it easily transform according to rural community needs.
Bushido Pada Masyarakat Jepang : Masa Lalu dan Masa Kini Titiek Suliyati
IZUMI Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.976 KB) | DOI: 10.14710/izumi.1.1.

Abstract

ABSTRACT Special characteristic of every nation is influenced by each geographical invironment, and outside elements. Japanese nation is one of nations that has unique culture values that still exist. Japanese culture values influence mainset in their live from the past until the present. This mainset evokes awareness that Western domination can not be defeated by arms only ,but also by the spirit of bushido. The spirit of bushido can not be separated from Samurai imerged in Kamakura period (1192 -1333). Bushido is the principal and way of life that constitutes honesty, bravery, generousity, politesness, honour, dignity, faithfulness, responsibility, self control etc. This awareness leads to the edvancement in technogy and industry of Japanese nation.Because of its long existence of Samurai (1192-1912), the spririt of bushido resides in Japanese character and personality . Keyword : Bushido, Samurai, Japanese Culture
Pengembangan Motif Batik Semarang untuk Penguatan Identitas Budaya Semarang Titiek Suliyati; Dewi Yuliati
Jurnal Sejarah Citra Lekha Vol 4, No 1 (2019): Politik Ingatan, Identitas Kota, dan Warisan Budaya
Publisher : Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.871 KB) | DOI: 10.14710/jscl.v4i1.20830

Abstract

At the beginning of its development, Semarang Batik motifs did not reflect the special character of batik that developed in other regions. At that time, Semarang Batik tended to show coastal motifs and many were influenced by the Dutch and Chinese.This article highlights the development of Semarang Batik which helped shape the identity of the city of Semarang, moreover with the acknowledgement of UNESCO in 2006 which also had an impact on the development of batik motifs in each region, including Semarang. The contemporer Semarang Batik motifs are in the form of city and cultural icons, such as Tugu Muda, Blenduk Church, Marabunta Building, Blekok Srondol, Wewe Gombel, Warak Ngendok, and even food motifs such as Lumpia, Tahu Gimbal, and so on. Historical method was used in this study, includingheuristics (source collection), criticism, interpretation, and writing facts. The results of this study can be concluded that, the present Semarang batik motif developing metamorphosis from traditional motifs to contemporary ones with more varied innovations.
Budaya Peduli Arsip dalam Pengelolaan Arsip Digital Berbasis Web: Studi Kasus pada Kantor Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VI Jawa Tengah Sumarno Sumarno; Titiek Suliyati
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 5, No 1: Desember 2021
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.5.1.56-65

Abstract

Creating A Culture Of Archives Care Through WebBased Digital Archives Management. This article is the result of research on web-based digital archive management, which was conducted at the Higher Education Service Institute (LLDIKTI) Region VI Central Java. In the digital era, such as when technology is indispensable in managing archives. Records management with the support of information technology can be carried out quickly and efficiently. Success in digital archive management will solve the problem of space limitations. This research was conducted using a descriptive qualitative method that is very appropriate to solve the problems studied, especially to examine case studies. The problem to be studied is how the management of web-based digital archives in LLDIKTI Region VI Central Java is carried out efficiently. Data collection is done by observation, in-depth interviews, literature studies and documents. Data analysis was carried out with the stages of data reduction, data presentation and data verification or conclusions. The results show that web-based digital archive management in LLDIKTI Region VI Central Java still needs to be developed, especially in the Archives Unit, which is the center for archiving services. For maximum results in web-based digital archive management, it requires the commitment of the leadership and all available resources so that archive management can be carried out effectively and efficiently.
Bissu: Keistimewaan Gender dalam Tradisi Bugis Titiek Suliyati
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 2, No 1: Desember 2018
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.184 KB) | DOI: 10.14710/endogami.2.1.52-61

Abstract

As one of many ethnics in Indonesian, Bugis ethnic posses much uniqness compared to other Indonesian ethnics. Bissu  as one of Bugis traditions is gender spisification that does not exist either in man or woman. Indonesian society generally acknowledge man and woman gender. This is different from gender qualification in Bugis society. In Bugis society gender  has five categories: Oroane is man either  physically or its role in every day live; makkunrai is a woman either  physically or its nature as woman; calalai is a woman behaves as a man; calabai is a man behaves  as a woman. Bissu is a group does not belong to the four above genders. The  performance of Bissu is very special because of its costume. This group wear neither man  or woman costumes.Traditional Bugis society consider  Bissu as combination of the four above gender. Not all Calalai or Calabai can become a Bissu. Being a Bissu is gods gift. Bugis society respect higly to Bissu, because Bissu has knowledge about tradition, family root, social life,  traditional  mystical cure and the life of gods. Bissu is able to communicate with the deaths and gods. Because Bisu is considered  as a holy creature, they have an exlusive life. At present, the number  and activities of Bissu is decreasing  because of the changing of the   government sytem: from monarchy to republic,  the DI/TII rebellion in 1950, that wanted to abolish Bissu existence due to the abuse of Islamic law.
Rumah Bugis sebagai Bentuk Pemertahanan Budaya Masyarakat Bugis di Desa Kemojan Karimunjawa Titiek Suliyati
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 2, No 2: Juni 2019
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.444 KB) | DOI: 10.14710/endogami.2.2.203-211

Abstract

This paper examines the Bugis house in the Kemojan Village of Karimunjawa as a form of cultural retention of the Bugis people. The efforts of the Bugis community of Kemojan Karimunjawa Village maintain the preservation of the Bugis house as their residence because they try to maintain their culture. Besides that they want to introduce to the people around them their identity through the philosophy contained in the construction of Bugis houses. Although the Bugis house in Kemojan Village is different from the Bugis house in South Sulawesi, but in principle the philosophy and concept of development are the same. The development of tourism which is rampant in Karimunjawa has caused Bugis people in Kemojan Village to take the initiative to build several Bugis houses on the beach for Home Stay. Home Stay was built in accordance with the rules and forms of Bugis houses in Sulawesi. With the existence of Bugis houses for the sake of this tourism, it is hoped that the public will get to know the Bugis culture overseas