Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Analisis Kualitas Air dan Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Air Laut di Perairan Pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang Jawa Tengah Sulistyo, Anggita Al Haris; Suprijanto, Jusup; Yulianto, Bambang
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.38751

Abstract

Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah termasuk ke dalam salah satu fasilitas pelabuhan di Indonesia yang menaungi beberapa industri di dalamnya. Lokasi penelitian kali ini bertempat di salah satu fasilitas pelabuhan yaitu Dermaga Nusantara yang secara umum memiliki aktivitas pelabuhan seperti bongkar muat batu bara, pasir, dan log kayu menggunakan alat berat seperti Exavator dan Wheel Loader. Adanya banyak aktivitas pelabuhan dapat dikatakan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi keadaan atau baik buruknya air laut serta kadar timbal (Pb) pada air laut di area Dermaga Nusantara. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air laut, menganalisis kadar logam berat pada air laut dan menganalisis tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir timbulnya pencemaran laut. Analisis kualitas perairan menggunakan alat ukur thermometer digital, pH meter, DO meter, secchi disk, dan refractometer. Pengujian kandungan timbal (Pb) menggunakan alat AAS dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro. Hasil pengukuran suhu pada kisaran 30,5-32,2°C; nilai pH pada kisaran 6,35-7,56; nilai dissolved oxygen (DO) pada kisaran 5,22-8,51 mg/l; nilai kecerahan pada kisaran 3,18-3,52 meter; dan nilai salinitas pada kisaran 31-35 ppt. Hasil uji kandungan timbal (Pb) yaitu pada kisaran 0,390 – 0,640 mg/l. Nilai pengukuran kualitas air tersebut masih tergolong memenuhi standar baku mutu, akan tetapi pada uji kandungan timbal hasil yang didapatkan masih melebihi standar baku mutu sesuai dengan PP Nomor 22 Tahun 2021 Republik Indonesia mengenai Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan KepMen LH Nomor 51 Tahun 2004 mengenai Baku Mutu Air Laut Pelabuhan.  Tanjung Emas Port, Semarang, Central Java is included in one of the port facilities in Indonesia which houses several industries in it. The research location this time is located at one of the port facilities, namely the Nusantara Jetty which generally has port activities such as loading and unloading of coal, sand, and wood logs using heavy equipment such as excavators and wheel loaders. The existence of many port activities can be regarded as a factor that can influence the condition or good and bad of sea water and levels of lead (Pb) in sea water in the Nusantara Pier area. This research was conducted to determine the quality of seawater, analyze levels of heavy metals in seawater and analyze preventive measures that can be taken to minimize marine pollution. Analysis of water quality using digital thermometers, pH meters, DO meters, secchi disks, and refractometers. Testing for lead (Pb) content using the AAS tool was carried out at the Diponegoro University Environmental Engineering Laboratory. Temperature measurement results in the range of 30.5-32.2°C; pH value in the range of 6.35-7.56; dissolved oxygen (DO) value in the range of 5.22-8.51 mg/l; brightness value in the range of 3.18-3.52 meters; and salinity values in the range of 31-35 ppt. The test results for lead (Pb) content were in the range of 0.390 – 0.640 mg/l. The water quality measurement value is still classified as meeting the quality standard, but the lead content test results obtained still exceed the quality standard according to PP Number 22 of 2021 of the Republic of Indonesia concerning the Implementation of Environmental Protection and Management and Minister of Environment Decree Number 51 of 2004 concerning Port Seawater Quality Standard.
Keberadaan mikroplastik pada kerang darah (Anadara granosa) dari TPI Tambak Lorok, Semarang Arifin, Muhammad Sholeh; Suprijanto, Jusup; Ridlo, Ali
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36448

Abstract

Keberadaan mikroplastik diperairan dapat terakumulasi dalam tubuh biota melalui insang dan rantai makanan. Kerang darah termasuk organisme sesil yang hidup bergantung pada ketersediaan zooplankton, fitoplankton dan material organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mikroplastik pada kerang darah (Anadara granosa) di TPI Tambak Lorok, Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sampel kerang darah diambil dari hasil tangkapan nelayan TPI Tambak Lorok pada bulan Oktober 2021 dan Januari 2022. Sampel dibedakan dengan perlakuan pencucian dan tanpa pencucian. Sampel didestruksi menggunakan KOH 10% sebanyak 3:1 berat sampel selama 24 jam, apabila terdapat sisa bahan organik maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 5 ml selama 24 jam. Sampel disaring menggunakan filter paper dengan bantuan vacuum pump. Hasil penelitian menunjukan adanya mikroplastik pada kerang darah dari TPI Tambak Lorok, Semarang. Berdasarkan hasil identifikasi visual menggunakan mikroskop binokuler, bentuk mikroplastik yang ditemukan yaitu fiber, film, fragment dan pellet. Proses pencucian mengakibatkan penurunan mikroplastik sebesar 18% (42,8 partikel/individu) pada bulan Oktober 2021 dan 16% (20,8 partikel/individu) pada bulan Januari 2022. Hasil kelimpahan mikroplastik pada sampel tanpa pencucian dan dengan pencucian secara berturut – turut pada bulan Oktober 2021 sebesar 134,2 dan 91,4 partikel/individu dan Januari 2022 sebesar 72,6 dan 51,8 partikel/individu. The presence of microplastics in the waters can accumulate in the body's biota through the gills and the food chain. Blood clams are sessile organisms that live depending on the availability of zooplankton, phytoplankton and organic matter. This study aims to determine microplastics in blood clams (Anadara granosa) at TPI Tambak Lorok, Semarang. The research method used is descriptive qualitative. Samples of blood clams were taken from the catches of TPI Tambak Lorok fishermen in October 2021 and January 2022. The samples were different with washing and non-washing treatment. Samples were destructed using 10% KOH as much as 3:1 sample weight for 24 hours, if there was residual organic matter then 30% H2O2 was added as much as 5 ml for 24 hours. The sample is filtered using filter paper with the help of a vacuum pump. The results showed the presence of microplastics in blood clams from TPI Tambak Lorok, Semarang. Based on visual acquisition using a binocular microscope, the forms of microplastics found were fiber, film, fragments and pellets. The washing process resulted in a reduction of microplastics by 18% (42.8 particles/individual) in October 2021 and 16% (20.8 particles/individual) in January 2022. The results of microplastic retention in samples without washing and with washing respectively in October 2021 it was 134.2 and 91.4 particles/individual and January 2022 it was 72.6 and 51.8 particles/individual.
Analisis Kadar Pb dan Cu pada Kerang Hijau Budidaya di Tambak Lorok serta Analisis Risiko Kesehatan Konsumsi untuk Manusia Salsabila, Nada; Suprijanto, Jusup; Ridlo, Ali
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.38865

Abstract

Kota Semarang termasuk wilayah di Jawa Tengah yang memiliki aktivitas industri yang padat dan meningkat setiap tahun, aktivitas ini menyebabkan pencemaran oleh logam berat semakin meningkat. Tambak Lorok termasuk kedalam wilayah Kota Semarang yang dikelilingi oleh aktivitas industri dan sebagai wilayah untuk melakukan budidaya kerang hijau. Kerang hijau adalah komoditas makanan laut yang diminati oleh masyarakat karena mempunyai kandungan gizi serta bernilai ekonomis yang tinggi. Kerang hijau hasil budidaya dari Tambak Lorok diketahui mengandung logam berat dan tidak layak untuk dimakan oleh manusia. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kadar timbal dan tembaga yang terakumulasi pada kerang hijau hasil panen budidaya dari Tambak Lorok dan mengetahui jumlah aman konsumsi kerang hijau berdasarkan analisis risiko kesehatan lingkungan. Metode yang dilakukan pada penelitian yaitu menggunakan metode ICP-OES dan perhitungan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL). Logam berat yang terkandung dalam sampel yang diambil berdasarkan hasil penelitian yaitu untuk kadar logam berat timbal pada stasiun 1 dan 2 untuk kerang hijau yang berukuran kecil dan berukuran besar yaitu < 0,04 mg/kg sedangkan kadar tembaga stasiun 1 untuk kerang ukuran kecil yaitu 2,35 mg/kg, ukuran besar yaitu 2,85 mg/kg sementara stasiun 2 kerang ukuran kecil memiliki kadar 2,07 mg/kg, kerang ukuran besar yaitu 2,51 mg/kg. Jumlah aman konsumsi kerang berdasarkan perhitungan rata-rata berat badan orang dewasa 58 kg jumlah aman konsumsi kerang ukuran kecil yaitu 0,54 mg/kg/hari sedangkan kerang ukuran besar yaitu 0,45 mg/kg/hari. Semarang City is a region in Central Java which has dense and increasing industrial activity every year, this activity causes pollution by heavy metals to increase. Tambak Lorok are the areas in Semarang City that are near and surrounded by industrial activities and as an area for cultivating green mussels. Green mussels are a seafood commodity that is in high demand by the public because of its health nutritional and high economic value. Green mussels cultivated from Tambak Lorok are known to contain heavy metals and are unhealthy for consumption. Therefore this study aims to know the contents of heavy metals found in green mussels cultivated from Tambak Lorok and determine the safe amount of green mussels consumption based on an analysis of environmental health risks. The method of this research is used the ICP-OES method and the calculation of Environmental Health Risk Analysis (ARKL). The research results showed that the heavy metal lead content at stations 1 and 2 for small and large green mussels was <0.04 mg/kg while the heavy metal content of copper at station 1 for small shells was 2.35 mg/kg, for large shells was 2.85 mg/kg and station 2 small shells is 2.07 mg/kg, large shells are 2.51 mg/kg. The safe amount of shellfish consumption is based on the calculation of an average adult body weight of 58 kg. The safe amount of small green mussels consumption is 0,54 mg/kg/day while that of large green mussels is 0,45 mg/kg/day.  
Pola Arus dan Sebaran Fosfat di Perairan Selat Sunda: Ocean Current and Phosphate Distribution in The Sunda Strait Coastal Waters Rahayu, Shafira Primasty; Pranowo, Widodo Setiyo; Setiyadi, Johar; Sumardana, I Wayan Eka; Suprijanto, Jusup
Jurnal Hidropilar Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Hidropilar
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37875/hidropilar.v9i1.280

Abstract

Selat Sunda adalah selat yang letaknya di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra yang menghubungkan antara Laut Jawa dan Samudra Hindia. Faktor angin mempengaruhi pergerakan arus permukaan di suatu perairan. Sebaran fosfat di perairan dipengaruhi oleh pola arus yang terjadi di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab terkait bagaimana pola dan sebaran fosfat di perairan Selat Sunda secara musiman. Metode penelitian menggunakan perangkat lunak ODV (Ocean Data View) versi 5.6.3. untuk menghasilkan gambaran pola arus secara horizontal, sebaran fosfat secara horizontal dan vertikal secara dua dimensi. Sumber yang didapatkan dari data sekunder melalui Marine Copernicus. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi spasial dan musiman dalam sebaran fosfat di perairan Selat Sunda secara runtut di mana setiap musim diwakili oleh bulan Januari (musim barat), bulan April (musim peralihan I), bulan Juli (musim timur), dan bulan Oktober (musim peralihan II). Alur arus paling dominan berasal dari Laut Jawa dengan melewati Selat Sunda kemudian berputar di Pulau Kalagian dan menuju Samudra Hindia. Berdasarkan sebaran fosfat secara horizontal, konsentrasi paling tinggi berada di sekitar perairan Banten dan Jakarta pada kedalaman yang rendah. Sedangkan sebaran fosfat secara vertikal, konsentrasi fosfat bertambah seiring bertambahnya kedalaman perairan. Penelitian ini memberikan wawasan mengenai karakteristik arus dan sebaran fosfat, serta pemahaman tentang sebaran fosfat dan variabilitas musiman yang terjadi.
Analisis Lingkungan Perairan pada Kawasan Budidaya Kerang Darah (Anadara Granosa) di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau Riza, Subkhan; Putra, Iskandar; Effendi, Irwan; Suprijanto, Jusup; Widowati, Ita
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Rokan Hilir merupakan daerah penghasil kerang darah (A. granosa) terbesar di Provinsi Riau dengan produksi sebesar 6.492,47 ton pada tahun 2018. Kegiatan budidaya kerang darah yang tinggi akan berpengaruh terhadap daya dukung perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting budidaya kerang darah dan menganalisis kualitas perairan pada kawasan budidaya kerang darah di Kabupaten Rokan Hilir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dan eksperimen. Produksi kerang darah di Kabupaten Rokan Hilir saat ini sebesar 6.492,47 ton atau 49,67% dari total 13.072,21 ton produksi perikanan budidaya. Parameter kualitas perairan di kawasan budidaya adalah ; salinitas + 34 ppt, suhu 28,7 - 290C, pH sekitar 8, oksigen terlarut 4,4 – 6,1 mg/l dan alkalinitas 120 – 125 mg/l, berada pada kisaran standar baku mutu yang baik untuk mendukung kehidupan kerang darah. Sedangkan parameter kecerahan berkisar 50,0 – 55,0 cm, berada dibawah standar baku mutu yang dipersyaratkan yakni 60,0 cm. Perairan kawasan budidaya kaya akan plankton yakni Lokasi I : 30.959 ind/l, Lokasi II.A : 15,032 ind/l dan Lokasi II.B :5.011 ind/l sebagai makanan alami bagi pertumbuhan kerang darah. Sampel air menunjukkan hasil negatif terhadap kontaminasi bakteri E. coli, Coliform, dan Salmonella dengan kadar 0 ind/100l dan negatif. Demikian juga dengan kontaminasi pada sampel kerang menunjukkan nilai < 3 dan negatif sehingga aman untuk dikonsumsi. Kadar logam berat timbal (Pb), cadmium (Cd) dan merkuri (Hg) pada sampel air berkisar 0,036 – 0,082 mg/kg dan pada sampel kerang berkisar 0,074 – 0,163 mg/kg berada dibawah baku standar maksimum sehingga aman untuk dikonsumsi. Sampel sedimen dan air di perairan Panipahan diidentifikasikan mengandung mikroplastik berupa nilon, polyethylene dan polypropylene.
Distribution Nudibranch and Carnivorous Fish in The North Bali Sea Wirawan, Kadek Fendi; Munasik, Munasik; Suprijanto, Jusup; Pravitasari, Anggi Karina
Jurnal Kelautan Tropis Vol 27, No 1 (2024): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v27i1.20168

Abstract

The presence or absence of certain types of carnivorous coralfish in a coral reef ecosystem accurately indicates the health of a coral reef ecosystem and the organisms associated with it; one of them is the nudibranch. This research aims to determine whether the presence of carnivorous fish in coral reef ecosystems affects the quality of the nudibranch life cycle and the distribution size in terms of predation. Nine carnivorous fish species were found at the three research stations, the largest group being triggerfish and grouper found in Lovina Reef and Menjangan island. Observed from the size distribution of nudibranchs, the presence of nudibranchs in the three research locations shows sizes ranging from small to large, namely from the Phyllididae nudibranch group. The dead body of the nudibranch was found in Tulamben reef, but it could not be confirmed whether the nudibranch was preyed by carnivorous fish. Carnivorous fish are not predators and do not affect the life cycle of nudibranchs observed from the complete size distribution of nudibranchs from small to large. Nudibranch predators cannot digest nudibranch bodies because their bodies are venomous; they use them as self-defense against the predators. Nudibranchia are not always found when preyed on by fish.
Identifikasi Tingkat Kematangan Gonad Kerang Darah (Anadara Granosa) Di Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau Riza, Subkhan; Putra, Iskandar; Suprijanto, Jusup; Widowati, Ita
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riau Province needs to develop blood cockle (Anadara granosa) of seeding technology as an effort to reduce dependence on natural capture and dependence on seeds for cultivation from nature, which can threaten the sustainability of these biota resources. This research aims to determine the growth in length, weight and condition index of blood clams, and determine the gonad maturity level (TKG) of blood cockle. Length growth analysis (morphometric) in August 2019 with size classes small, medium to large and there was an increase in October 2019 in average size to medium to large. The results of the weight growth analysis (biometric) in August 2019 showed a value of b= 1.8903 and in October 2019 a value of b= 2.1382 indicating negative allometry. Where the increase in length is faster than the increase in weight. The gonads have developed well because they have reached a condition index > 20.00. The results of macroscopic analysis showed that blood cockle samples could be distinguished between male gamete cells and female gamete cells based on the color and shape of the gonads. Based on macroscopic and histological analysis, it shows that the level of gonad maturity is thought to have reached stage II (developing) in the developing stage. By knowing the gonad maturity level of the blood cockle, it is hoped that it can be implemented in supporting the construction of a blood cockle hatchery unit in Riau Province.
Potential of Shells as a Source of Calcium Suprijanto, Jusup; Widowati, Ita
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.61977

Abstract

 Shellfish are also known as by-products, namely production results that are not utilized or not consumed, where the value of this by-product can be increased/added through a process known as Reduce-Reuse and Recycle (3R). This research aims to determine the potential of shellfish as a source of calcium. Samples of clams (Paphia undulata), blood clams (Tegillarca granosa), and Asian Moon Scallop (Amusium pleuronectes) were obtained from Tambak Lorok Fish Auction Place, Semarang; then taken to the Marine Biology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Diponegoro to have the shells, and air dry until dry after drying the shell. Calcium and mineral content were analyzed using the XRF method at the Integrated Laboratory, Universitas Diponegoro. The results of the study showed that the calcium (CaO) content of the three shellfish was the lowest in the clam (P. undulata) at 45.79%, then the Asian moon Scallop (A. pleuronectes) at 45.89%, and the highest in the blood cockle T. granosa namely 92.41%.  It can be concluded that the shells of clams, blood clams, and Asian Moon Scallops contain high levels of calcium and minerals, which have the potential to be used as an additional ingredient in concrete/paving blocks and fish feed.