Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA KEPITING BAKAU (SCYLLA SERRATA) DI KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Syah, Shinta Utiya; Riza, Subkhan
Selodang Mayang: Jurnal Ilmiah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Vol. 10 No. 1 (2024): JURNAL SELODANG MAYANG
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Indragiri Hilir Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47521/selodangmayang.v10i1.365

Abstract

Indragiri Hilir Regency also has quite a large crab cultivation potential. The potential for crab cultivation fishery land reaches 14,500.00 Ha, but it has not yet been utilized optimally. This research aims to: (1) determine the potential of the aquaculture sector in Indragiri Hilir Regency, (2) determine aquaculture commodities in Indragiri Hilir Regency, and (3) determine the technology for cultivating mud crabs (Scylla serrata). This research uses a descriptive research approach. Primary data collection was carried out using participant observation methods, in-depth interviews, questionnaires, and FGD (focus group discussions), as well as in situ and ex situ measurements of water and soil quality parameters. The data was analyzed using Shift share analysis, LQ analysis, Agglomeration analysis and Specialization analysis, as well as descriptive analysis. Indragiri Hilir Regency has a potential area of fishery cultivation reaching 35,195.89 ha, but only 1,515.00 ha (4.30%) has been utilized. The contribution of the fisheries sector to the GDP of Indragiri Hilir Regency in 2013 - 2017 averaged 20.84%. The fisheries sector is the base sector in Indragiri Hilir Regency. The fisheries sector is classified as a specialized business in Indragiri Hilir Regency so it has a competitive advantage. The leading commodity in the aquaculture sector in Indragiri Hilir Regency is Mud Crab (Scylla serrata). Based on water quality measurements, it shows that the main parameters of water quality at the research location are in accordance with the mud crab habitat quality index Kabupaten Indragiri Hilir juga memiliki potensi budidaya kepiting yang cukup besar. Potensi lahan perikanan budidaya kepiting mencapai 14.500,00 Ha, namun belum belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui potensi sektor perikanan budidaya di Kabupaten Indragiri Hilir, (2) menentukan komoditas perikanan budidaya di Indragiri Hilir, dan (3) mengetahui teknologi budidaya kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metoda participant observation, wawancara mendalam, kuesioner, dan FGD (focus group discussion), serta pengukuran secara in situ dan ex situ terhadap parameter kualitas air dan tanah. Data dianaisis dengan analisis shift share, analisis LQ, analisis Aglomerasi dan analisis Spesialisasi, serta analisis secara deskriptif. Kabupaten Indragiri Hilir memiliki potensi luas lahan budidaya perikanan mencapai 35.195,89 ha, namun baru dimanfaatkan sebesaar 1.515,00 ha (4,30%). Kontribusi sektor perikanan terhadap PDRB Kabupaten Indragiri Hilir pada Tahun 2013 – 2017 rata-rata sebesar 20,84%. Sektor perikanan merupakan sektor basis di Kabupaten Indragiri Hilir. Sektor perikanan tergolong usaha tersepesialisasi di Kabupaten Indragiri Hilir sehingga memiliki keunggulan kompetitif. Komoditas unggulan sektor perikanan budidaya di Kabupaten Indragiri Hilir adalah Kepiting Bakau (Scylla serrata). Berdasarkan pengukuran kualitas perairan menunjukkan bahwa parameter utama kualitas air pada lokasi penelitian sesuai dengan indeks kualitas habitat kepiting bakau.
Pemanfaatan Potensi Limbah Industri Pengolahan Ikan Patin (Pangasius Sp) Di Kabupaten Kampar iqbal, imam; Riza, Subkhan; Gevisioner; Utiya Syah, Shinta; Muhammad Ilham, Andi; Mastina, Tien
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patin processing industry produces waste in the form of bones, heads, entrails and skin. Waste from the catfish processing industry in Kampar Regency has not been widely used by the community. Generally, processed waste is immediately thrown away or buried in the ground because there is no commercial utilization effort. This research aims to calculate the potential and utilization of waste from patin fish (Pangasius sp) processing industry in Kampar Regency. This research uses a descriptive research approach. Data analysis was carried out descriptively referring to research results and other related references. The potential for catfish skin waste produced from the fish fillet processing industry in Kampar Regency is 11.98 kg/month. Catfish skin can be processed into gelatin. The potential waste of catfish bones and heads originating from the catfish fillet processing industry is 142.76 kg/month. Patin bones can be processed into fish bone meal and gelatin. The potential for catfish innards from the smoked catfish processing business in Kampar Regency is 20,693.49 kg every month. Catfish viscera and abdominal fat waste can be processed into fish oil, biodiesel, fish meal, fertilizer and animal feed.
Iterasi Momentum Fragmentasi Batubara Mencapai Bentuk Serbuk NASUTION, LUKMAN HAKIM; Gapar, Gapar; Budiman, Fajar; Riza, Subkhan; Arief Yanto Putra, Eka; Yudha Satria, Rama; Juli Harnis, Emri
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ukuran batubara semakin kecil mampu meningkatkan efisiensi kerja boiler pembangit listrik, namun untuk mendapatkan ukuran tersebut diperlukan metode yang mampu memprediksi ukuran dihasilkan. Eksperimental metode iterasi momentum disajikan, dimana dibangun melalui eksperimental fragmentasi sampel batubara berukuran 1mm3 dan 10mm3 menjadi serbuk dengan dinding landasan pejal berntuk parabolic. Kemudian proses analisis dengan pengiraan secara matematik dilakukan, dan membuktikan bahwa iterasi momentum per millimeter skala dapat menentukan ukuran akhir batubara yang dihasilkan. Bermula dari 1 fragment batubara berukuran 1mm3 dan 10mm3 menjadi 5.314.410 fragments dengan ukuran masing-masing fragments dalam unit millimeter adalah 0.000001852, dan massa setiap fragments dalam kg adalah 0.0000000001. Ini membuktikan bahwa fragments size hingga bentuk serbuk dengan metode iterasi momentum dapat diaplikasikan pada batubara sebagai bahan bakar boiler pembangkit listrik, dan pengolahan sampah tanpa proses pemisahan menjadi partikel skala nanometer untuk meningkatkan nilai fungsi serta nilai guna dari sampah secara tenoekonomi di Provinsi Riau. Keywords: Iterasi momentum, fragmentation, coal powder form.
Analisis Lingkungan Perairan pada Kawasan Budidaya Kerang Darah (Anadara Granosa) di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau Riza, Subkhan; Putra, Iskandar; Effendi, Irwan; Suprijanto, Jusup; Widowati, Ita
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Rokan Hilir merupakan daerah penghasil kerang darah (A. granosa) terbesar di Provinsi Riau dengan produksi sebesar 6.492,47 ton pada tahun 2018. Kegiatan budidaya kerang darah yang tinggi akan berpengaruh terhadap daya dukung perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting budidaya kerang darah dan menganalisis kualitas perairan pada kawasan budidaya kerang darah di Kabupaten Rokan Hilir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dan eksperimen. Produksi kerang darah di Kabupaten Rokan Hilir saat ini sebesar 6.492,47 ton atau 49,67% dari total 13.072,21 ton produksi perikanan budidaya. Parameter kualitas perairan di kawasan budidaya adalah ; salinitas + 34 ppt, suhu 28,7 - 290C, pH sekitar 8, oksigen terlarut 4,4 – 6,1 mg/l dan alkalinitas 120 – 125 mg/l, berada pada kisaran standar baku mutu yang baik untuk mendukung kehidupan kerang darah. Sedangkan parameter kecerahan berkisar 50,0 – 55,0 cm, berada dibawah standar baku mutu yang dipersyaratkan yakni 60,0 cm. Perairan kawasan budidaya kaya akan plankton yakni Lokasi I : 30.959 ind/l, Lokasi II.A : 15,032 ind/l dan Lokasi II.B :5.011 ind/l sebagai makanan alami bagi pertumbuhan kerang darah. Sampel air menunjukkan hasil negatif terhadap kontaminasi bakteri E. coli, Coliform, dan Salmonella dengan kadar 0 ind/100l dan negatif. Demikian juga dengan kontaminasi pada sampel kerang menunjukkan nilai < 3 dan negatif sehingga aman untuk dikonsumsi. Kadar logam berat timbal (Pb), cadmium (Cd) dan merkuri (Hg) pada sampel air berkisar 0,036 – 0,082 mg/kg dan pada sampel kerang berkisar 0,074 – 0,163 mg/kg berada dibawah baku standar maksimum sehingga aman untuk dikonsumsi. Sampel sedimen dan air di perairan Panipahan diidentifikasikan mengandung mikroplastik berupa nilon, polyethylene dan polypropylene.
Analisis Pengelolaan Limbah Kulit Durian di Provinsi Riau Terhadap Potensi Ekonomi dan Dampak Lingkungan Ariyanti, Dita; Rimantho, Dino; Maryana, Roni; Sekarini, Artanti; Hasibuan, Monalisa; Riza, Subkhan; Utiya Syah, Shinta
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Durian, known as the "King of Fruits" in Southeast Asia, is economically important in Indonesia, particularly in Riau Province. It not only serves as a local delicacy but also has export and agro-tourism potential. However, data from the Riau Central Statistics Agency (BPS) show fluctuating plantation areas and production rates from 2019 to 2022, with a decrease in plantation areas but varying production levels, peaking in 2022. These fluctuations affect durian rind waste generation, posing environmental concerns. Preliminary studies suggest that current waste management practices are inadequate despite the potential for converting durian rinds into useful products like organic fertilizers or biofuels. This study aims to analyze plantation areas, production rates, and durian rind waste generation in Riau while evaluating consumer attitudes and behaviors regarding waste management. It employs both quantitative methods, such as data collection from BPS and field surveys, and primary methods like questionnaires. Analysis includes descriptive statistics and ANOVA tests to assess waste generation differences across sales locations. The findings indicate significant fluctuations in plantation areas and production, with Kampar district leading in both categories. High waste generation rates underscore the need for improved management strategies. Although consumer surveys show awareness of waste issues, practical implementation lags. This research provides insights into optimizing durian production and waste management, aiming to balance economic benefits with environmental sustainability in Riau Province.
Pemanfaatan Kanal pada Kawasan Gambut untuk Pengembangan Budidaya Ikan di Kabupaten Pelalawan Riza, Subkhan; Miswaruddin; Harahap, Sampe; Hendrik; Putra, Iskandar
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saluran kanal dibangun sebagai cadangan air untuk kawasan perkebunan, mengatasi kebakaran hutan dan lahan serta sarana transportasi. Selain itu saluran kanal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui usaha budidaya ikan. Penelitian ini berujuan untuk mengidentifikasi saluran kanal yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya ikan, dan menilai kualitas air dan budidaya ikan pada saluran kanal di kawasan gambut.Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.Hasil penelitian menunjukkan panjang total saluran kanal di Kabupaten Pelalawan sepanjang 4.730.958 meter, terdiri dari dengan izin IUPHHK sepanjang 3.071.338 meter, izin HGU sepanjang 726.380 meter dan kanal masyarakat sepanjang 933.240 meter.Saluran kanal yang dikelola masyarakat yang bisa dimanfaatkan untuk usaha budidaya ikan sekitar 1% dari 933.240meter atau 9.332 meter.Kualitas air di saluran kanal terdiri dari pH berkisar 3.9-4.7, suhu 26-31 oC, oksigen terlarut 2.50-2.80 ppm, amoniak 0.43-0.58 dan kecerahan 25-30 cm.. Ikan yang dapat dipelihara adalah jenis ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dengan kepadatan 150 ekor/m2 (300 ekor/wadah) dengan wadah budidaya adalah karamba modifikasi yaitu bagian bawah dan sebagian dinding tertutup oleh papan yang dilapisi plastik terpal, sedangkan jenis ikan lainnya adalah jenis Toman yang relatif mudah dalam pemeliharaannya. Berdasarkan analisis didapatkan bobot mutlak 136,5 g, laju pertumbuhan harian 7,6 %, tingkat kelulushidupan 91 % dan konversi pakan 0,8 untuk ikan lele dumbo.
Prospek Limbah Sagu Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau Riza, Subkhan; Suharman, Indra; Putra, Iskandar; Adelina; Fatra, Warman; HS, Irdoni
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 1 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya jumlah limbah sagu yang dihasilkan di sentra-sentra produksi sagu di kabupaten Kepulauan Meranti masih belum dimanfaatkan secara optimal dan banyak yang dibuang ke perairan sehingga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat dari limbah sagu yaitu dengan cara memanfaatkannya sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan pakan ikan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui potensi limbah sagu di kabupaten Kepulauan Meranti, membuat formulasi pakan ikan dengan bahan baku imbah sagu, dan melakukan uji pertumbuhan ikan menggunakan pakan campuran limbah sagu. Data primer diperoleh dari observasi di lapangan, analisis di laboratorium, dan pengujian pertumbuhan ikan. Produksi sagu di kabupaten Kepulauan Meranti sekitar 198,162 ton/tahun dengan limbah padat berupa ampas sagu sekitar 14% dari total produksi. Ampas sagu tersedia secara kontinyu sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. Hasil analisa proksimat ampas sagu dalam bobot kering menunjukkan bahwa kadar protein ampas sagu relatif rendah, berkisar 0.96 – 1.01%. Ampas sagu dapat menyediakan energi relatif tinggi dari karbohidrat dalam bentuk bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) dengan kandungan berkisar 72.13 – 80.76%. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa dengan menggunakan pakan dari ampas sagu, pertumbahan bobot ikan nila lebih besar yakni 26.5 g dibandingkan ikan lele dumbo hanya 1.2 g. Dengan demikian ampas sagu dapat dimanfaatkan untuk ikan herbivora dalam jumlah lebih banyak dibandingkan untuk ikan karnivora.
Identifikasi Tingkat Kematangan Gonad Kerang Darah (Anadara Granosa) Di Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau Riza, Subkhan; Putra, Iskandar; Suprijanto, Jusup; Widowati, Ita
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riau Province needs to develop blood cockle (Anadara granosa) of seeding technology as an effort to reduce dependence on natural capture and dependence on seeds for cultivation from nature, which can threaten the sustainability of these biota resources. This research aims to determine the growth in length, weight and condition index of blood clams, and determine the gonad maturity level (TKG) of blood cockle. Length growth analysis (morphometric) in August 2019 with size classes small, medium to large and there was an increase in October 2019 in average size to medium to large. The results of the weight growth analysis (biometric) in August 2019 showed a value of b= 1.8903 and in October 2019 a value of b= 2.1382 indicating negative allometry. Where the increase in length is faster than the increase in weight. The gonads have developed well because they have reached a condition index > 20.00. The results of macroscopic analysis showed that blood cockle samples could be distinguished between male gamete cells and female gamete cells based on the color and shape of the gonads. Based on macroscopic and histological analysis, it shows that the level of gonad maturity is thought to have reached stage II (developing) in the developing stage. By knowing the gonad maturity level of the blood cockle, it is hoped that it can be implemented in supporting the construction of a blood cockle hatchery unit in Riau Province.
Analisis Potensi Pengembangan Komoditas Unggulan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau: - Riza, Subkhan; Gapar; Setyawati, Rafika
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The coastal area of Bengkalis Regency is extensive and holds significant potential for aquaculture development; however, much of this potential remains underutilized. The purpose of this research is to: 1) determine the existing condition of potential aquaculture resources, 2) analyze the fisheries sector's contribution to the economy, and 3) identify location-specific superior aquaculture commodities in Bengkalis Regency. This research employed a literature study method. Results indicate that out of 27,775.79 Ha of potential aquaculture land, only 233.22 Ha (8.40%) has been utilized. Specifically for shrimp ponds, only 129.03 Ha (9.06%) of the 1,423.89 Ha potential is in use. Although the fisheries sector's contribution to the Gross Regional Domestic Product (GRDP) from 2019 to 2023 remains relatively small (3.05%–6.22%), the Location Quotient (LQ) value (>1) indicates that fisheries is a base sector in Bengkalis Regency. Furthermore, agglomeration and specialization analyseswith an αit value of ∞ 1, it indicates that aquaculture is concentrated and is a specialized business activity.. The specific superior commodity identified is Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei), which is widely cultivated using intensive technology, efficient production facilities, and feed management..