Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENINGKATAN LITERASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI MELALUI PELATIHAN DAN BUKU PANDUAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Supriyadi, Supriyadi; Barus, Robi Agape; Rusilowati, Ani; Isnaeni, Wiwi; Susilaningsih, Endang; Djuniadi, Djuniadi; Sun’an, Ulin Nuha; Rapi, Muhamad; Fardiana, Rina; Suraji, Suraji; Lia, Roudloh Muna Lia
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.22228

Abstract

Setiap peserta didik memiliki kesiapan, potensi, kemampuan, karakter, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan di dalam diri peserta didik membutuhkan pembelajaran atau perlakuan yang berbeda pula untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Pembelajaran berdiferensiasi menjadi jawaban bagi guru untuk memberikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Namun, kenyataannya di lapangan masih banyak guru yang belum memiliki pemahaman yang komprehensif terkait pembelajaran berdiferensiasi dan penyusunan asesmennya dan pemahaman antar guru masih sering terjadi perbedaan penafsiran. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman atau literasi guru terkait pembelajaran berdiferensiasi dan penyusunan asesmennya, serta bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi serta penyusunan asesmennya. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi, pelatihan dan pendampingan terhadap 72 guru di korwilcam Bancak, Kabupaten Semarang dan beberapa guru di Malaysia. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu pemahaman guru terkait pembelajaran berdiferensiasi menjadi meningkat dari yang awalnya sebelum pelatihan guru yang paham hanya 20% dan setelah pelatihan guru-guru 100% menjadi paham dengan rincian 88% menyatakan sangat paham, 10% menyatakan paham, dan 2% menyatakan cukup paham. Selain itu, guru-guru juga menyatakan keterampilannya meningkat dari yang awalnya sebelum pelatihan guru yang terampil hanya 20% dan setelah pelatihan guru-guru 100% menjadi terampil dengan rincian 85% menyatakan sangat meningkat, 12% menyatakan meningkat dan 3% menyatakan cukup meningkat. Para guru juga menyatakan bahwa buku panduan pembelajaran berdiferensiasi sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman guru terkait pembelajaran berdiferensiasi, dimana sebesar 95% guru menyatakan sangat bermanfaat dan 5% guru menyatakan bermanfaat.
Keabsahan Clickwrap Agreement dalam Perspektif Asas Kebebasan Berkontrak di Indonesia Santoso, Steven Surya; Suraji, Suraji
Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 6 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities (IJSSH)
Publisher : Indonesian Publication Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Advances in information technology have driven the use of electronic contracts, one of which is the clickwrap agreement, which is widely used in modern digital transactions. However, this form of agreement raises legal issues regarding its validity and the application of the principle of freedom of contract, particularly due to its inherently one-sided nature and limited room for negotiation. This study aims to analyze the validity of clickwrap agreements from the perspective of the principle of freedom of contract and to examine the challenges and implications within Indonesian contract law. The research method employed is normative legal research using a legislative and conceptual approach. Legal materials were collected through literature review and analyzed using the syllogistic method with deductive reasoning. The results of the study indicate that clickwrap agreements are valid and meet the requirements for a valid contract under Article 1320 of the Civil Code. However, the application of the principle of freedom of contract has not been optimal due to the lack of room for negotiation for users. The challenges that arise include an imbalance of power between the parties, a lack of user understanding of the contract’s contents, the potential for clauses that are detrimental to users, and regulatory ambiguity. The implications of these conditions relate to legal certainty, the status of the parties, consumer protection, law enforcement, and the development of contract law.
PEMBERDAYAAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN DALAM RANGKA MELINDUNGI KEPENTINGAN KONSUMEN KURANG MAMPU Suraji, Suraji; Pranoto, Pranoto
Yustisia Vol 2, No 3: December 2013
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v2i3.10144

Abstract

AbstractThis research proposed to identify consumer weakness in solving of dispute with businessman; identify and describe consumer effort in solving of dispute with businessman. It was empirical research which used qualitatively and descriptively method. This research used primary data perceived from interview result and secondary data perceived from act, literature, document and Lp2K’s brochure. Data collection was done by field observation and bibliography. And then, the datum would analyzed by qualitatively and interactively model. The result of the research showed some conditions influenced consumer weakness when faced businessman. Firstly, when faced businessman from State-Owned corporation and Local corporation: (1) because State-Owned corporation stronger than consumer; (2) State-Owned corporation and Local corporation always dodged to give compensation to consumer when they were loss out; (3) businessman was represented by their staff and could not make direct decision; (4) businessman always prolonged time to construct team for compensation investigation; (5) businessman usually recovery, continue and live on without give compensation according the agreement. Secondly, when faced private businessman: (1) businessman compensated lowest amount only; (2) businessman said that only their rule was obedient. consumer endeavor could run by two sides: Firstly, from consumer themselves: (1) improvement of legal communication among consumer; (2) improvement of legal understanding generally; (3) understanding of Consumerism Law. Secondly, influence of outsider: (1) legal extension; (2) talk show; (3) letters from readers; (4) consumer education; (5) seminar about consumerism law; and (6) press broadcast.Keywords: consumer endeavor, solving of dispute.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketidakberdayaan konsumen dalam menyelesaikan sengketa dengan pelaku usaha serta mengidentifikasi dan mendeskripsikan upaya-upaya yang dapat ditempuh oleh konsumen dalam rangka penyelesaian sengketa dengan pelaku usaha. Penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan, maupun data sekunder yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan, literatur, dokumen-dokumen dan brosur-brosur dari LP2K. Pengumpulan data dilakukan dengan penelitian lapangan dan kepustakaan. Selanjutnya data akan dianalisis secara kualitatif dengan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan konsumen tidak berdaya ketika berhadapan dengan pelaku usaha. pertama, ketika berhadapan dengan pelaku usaha BUMN dan Perusahaan Daerah : (1) karena posisi BUMN lebih kuat dibandingkan dengan konsumen, (2) BUMN dan Perusda selalu berkelit untuk memberi ganti rugi kepada konsumen apabila terjadi kerugian yang menimpa konsumen, (3) pelaku usaha hanya diwakili oleh stafnya sehingga tidak berani memutus secara langsung, (4) pelaku usaha selalu mengulur waktu bahwa ia akan membentuk tim pengkaji ganti rugi, (5) pelaku usaha biasanya hanya sanggup memperbaiki, menyambung atau menghidupkan lagi tanpa mau mengganti sesuai perjanjian. Kedua, ketika berhadapan dengan pelaku usaha swasta : (1) pelaku usaha hanya mau mengganti kerugian sekecil mungkin, (2) pelaku usaha berdalih bahwa aturan yang dibuatnya itulah yang harus dipatuhi. Upaya pemberdayaan konsumen dapat ditempuh melalui dua sisi, pertama, dari diri konsumen : (1) perlunya peningkatan komunikasi hukum konsumen, (2) peningkatan pemahaman hukum secara umum, (3) pemahaman Undang-undang Perlindungan Konsumen. Kedua, pengaruh pihak luar : (1) penyuluhan hukum, (2) acara dengar pendapat (talkshow), (3) surat pembaca, (4) pendidikan konsumen, (5) seminar hukum perlindungan konsumen, dan (6) siaran pers.Kata Kunci : pemberdayaan konsumen, penyelesaian sengketa.