Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun Studi Kualitatif pada Ibu-Ibu di Kampung Nelayan Muara Angke Jakarta Utara; Studi Kualitatif Intan Silviana Mustikawati
ARKESMAS [Arsip Kesehatan Masyarakat] Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : UHAMKA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.531 KB) | DOI: 10.22236/arkesmas.v2i1.514

Abstract

Washing Hand Behavior Using Soap Among Mothers’ of Underfive Children at Kampung Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara. A Qualitative Study Introduction. The result of Joint Monitoring Program (JMP) showed the low prevalence of washing handusing soap at five critical important times.Objective. This study was aimed at gathering indepth information regarding the behavior as well as itssupporting factors and obstacles among mothers of underfive years old children living at a fishing villageMuara Angke, North Jakarta.Methods. The study employed qualitative approached and used purposive technique to got 5 informantsmothers of underfive years old childern, one informant from fishermen group and one puskesmas’ staff. Stepsin analyzing data consist of reducing data, presenting data, dan setting a conclusion. Results. Household mother informants aged 25-35 tahun, have highschool level of education. Family withmonthly income above Rp 3.000.000,00 installed pipewater fasilities. There is no public water fascilitiescould be used for washing hand, The Puskesmas had not conducted a PHBS campaign and public training.Most household informants comprehended what is and benefit of washing hand with soap, diseases could beprovoke by washing hand without soap; some mothers could state the critical important time to wash hand with soap; yet most of them could not state the steps and proper technique of healthy washing hand. Theattitude of informants toward washing hand was positive. Most informants report that they did not alwayswashing hand with soap at 5 critical times recommended and that their acts of washing hand were improper. Conclutions. With positive knowledge on and attitude toward washing hand with soap, the habit of proper washing of mothers could be improve through training and reduce the obstacle.
Hubungan Pengetahuan Dan Keterpaparan Media Dengan Perilaku Seks Pranikah Remaja di SMA Muhammadiyah 2 Tangerang Sulistio Tri Purnomo; Intan Silviana Mustikawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 2, No 1 (2014): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.032 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v2i1.101

Abstract

AbstrakPerilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis (Sarwono, 2012). SMA Muhammadiyah 2 Tangerang terletak di tengah kota Tangerang yang  sangat strategis dengan tempat rekreasi Situ Cipondoh serta warung internet (warnet) di sekitar sekolahan. Tujuan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengertahuan dan keterpaparan media dengan perilaku seks pranikah remaja di SMA Muhammadiyah 2 Tangerang. Metode Penelitian adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X di SMA Muhammadiyah 2 Tangerang berjumlah 134 siswa. Jumlah sampel adalah 100 siswa dengan pengambilan sampel secara Stratified Random Sampling. Analisis data dilakukan dengan  menggunakan uji spearman rank. Hasil penelitian ini adalah responden terbanyak berumur 15 tahun (57%), dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (53%), serta tingkat pendidikan terakhir orang tua responden terbanyak yaitu SMA pada Ayah (50%) dan SMA pada Ibu (47%). Pengetahuan responden tentang perilaku seks pranikah remaja yaitu tinggi sebanyak 53% responden, ngaruh teman sebaya yaitu tinggi sebanyak 52% responden, keterpaparan media massa yaitu tinggi sebanyak 52% responden, dan perilaku seks pranikah remaja pada siswa kelas X di SMA Muhammadiyah 2 Tangerang yaitu tinggi sebanyak 54% responden. Tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang perilaku seks pranikah dengan perilaku seks pranikah remaja (p value=0,060 > α=0,05), ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku seks pranikah remaja (p value=0,000 < α=0,05), ada hubungan keterpaparan media massa dengan perilaku seks pranikah remaja (p value=0,000 < α=0,05). Perlu adanya penyuluhan atau seminar tentang dampak perilaku seksual pranikah pada remaja dan pemeriksaan Hp siswa di sekolah.Kata kunci: pengaruh teman sebaya, keterpaparan media massa, perilaku seks pranikah
Pengetahuan, Sikap, dan Peran Kader Kesehatan dalam Perawatan Metode Kanguru (PMK) di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara: Studi Kualitatif Intan Silviana Mustikawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 7, No 1 (2019): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.886 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v7i1.172

Abstract

AbstractNeonatal mortality rates is quite high in Indonesia, where one of the main problem causing it was low birth weight babies (LBW). Kangaroo Mother Care (KMC) is an intervention that can be done to reduce mortality in LBW, by making direct contact between the skin of the baby and the mother. The purpose of this study was to identify knowledge, attitudes, and roles of community health workers in KMC practice. This research was qualitative study. The informants in this study were 5 community health workers and 5 health workersin Tanjung Priok Subdistrict, North Jakarta. Informants was collected purposively. Data was collected by in-depth interviews and analyzed by content analysis. Community health workers understood about benefit and how to practice KMC, and had positive attitudes regarding benefit of KMC. However, they did not know about the duration of KMC and people who can do KMC. The role of community health workers was to provide information about exclusive breastfeeding and KMC practices, motivate and remind mothers to practice KMC; monitor infant weight; and help mothers to do KMC. In carrying out its functions, community health workers need to get training in advance regarding KMC. Community health workers can play a role in monitoring KMC practice. Keywords: knowledge, attitudes, role, community health workers, Kangaroo Mother CareAbstrakAngka kematian neonatus cukup tingi di Indonesia, dimana salah satu penyebab utamanya adalah bayi berat lahir rendah (BBLR). Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kematian pada BBLRdengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan ibu.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi pengetahuan, sikap, dan peran kader kesehatan dalam PMK. Jenis penelitian ini adalah studi kualitatif. Informan dalam penelitian ini yaitu 5 orang kader kesehatan dan 5 orang petugas kesehatan di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pengambilan informan dilakukan secara purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan analisisi data dilakukan secara content analysis. Secara umum, kader kesehatan memahami mengenai manfaat dan cara mempraktekkan PMK, serta mempunyai sikap yang positif mengenai manfaat PMK. Namun kader kesehatan kurang mengetahui mengenai durasi PMK dan orang yang dapat melakukan PMK. Peran kader kesehatan dalam praktek PMK yaitu memberikan informasi mengenai ASI eksklusif dan praktek PMK, memotivasi dan mengingatkan ibu untuk praktek PMK, memantau berat badan bayi, dan membantu ibu mempraktekkan PMK. Dalam menjalankan fungsinya tersebut, kader kesehatan perlu mendapatkan pelatihan terlebih dahulu mengenai PMK. Kader kesehatan dapat berperan dalam pemantauan praktek PMK.Kata Kunci: pengetahuan, sikap, peran, kader kesehatan, Perawatan Metode Kanguru 
Determinan Sosial Perilaku Pertolongan Persalinan Pada Masyarakat Suku Baduy Luar, Propinsi Banten, Jawa Barat Intan Silviana Mustikawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 6, No 1 (2018): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.23 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v6i1.147

Abstract

Abstract Birth attendant by health worker is one of the important indicators in reproductive health aimed at reducing maternal and child mortality. The cause of not optimal birth attendant by health worker was still lack of knowledge and public awareness about health service benefit of mother and still high trust to shaman (paraji) which is part of belief system and culture of society. The purpose of this research was to analyze the social determinants of birth attendant behavior among Baduy Luar tribe women, Banten province. This research was analytic study with cross sectional approach. The population in this study was Baduy Luar mothers who had children under five years old in Kadungketug village, Banten province. Sampling method used was purposive sampling with the number of respondents is 60 people. Dependent variable was birth attendant behavior and independent variable were age, education, occupation, parity, and distance of health service. Data were collected by questionnaire and analyzed using univariate and bivariate analysis (statistical test χ²). The results: most of the respondents were 20-34 years old (90%), uneducated (100%), weaver (50%), one parity (50%), average distance of health service was 7,4 km, and birth attendant by shaman (90%). Based on χ² statistical test, occupation and parity were social determinats of birth attendant behavior (p <0,05). The conclusion, there was need to continuous communication, information and education efforts on birth attendant behavior by health worker among Baduy Luar tribe woman.Keywords: birth attendant behavior, social determinants, maternal health AbstrakPerilaku pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan merupakan salah satu indikator penting dalam kesehatan reproduksi yang bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak. Penyebab masih banyaknya masyarakat yang persalinannya tidak ditolong oleh tenaga kesehatan yaitu kurangnya pengetahuan dan sikap mengenai manfaat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan masih tingginya kepercayaan terhadap dukun (paraji) dalam menolong persalinan. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menganalisis determinan sosial perilaku pertolongan persalinan pada masyarakat suku Baduy Luar, Propinsi Banten, Jawa Barat. Jenis penelitian ini adalah studi analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu suku Baduy Luar yang mempunyai anak dibawah usia lima tahun di desa Kadungketug, Banten. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 60 orang. Variabel dependen yaitu perilaku pertolongan persalinan dan variabel independen yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, paritas, dan jarak pelayanan kesehatan. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat (uji statistik χ²). Sebagian besar responden berumur 20-34 tahun (90%), jumlah paritas satu (50%), tidak berpendidikan (100%), pekerjaan menenun (50%), jumlah paritas satu (50%), rata-rata jarak pelayanan kesehatan adalah 7,4 km, dan persalinan ditolong oleh dukun (90%). Berdasarkan uji statistik χ², pekerjaan dan paritas merupakan determinan sosial perilaku pertolongan persalinan (p <0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah perlu upaya komunikasi, informasi, dan edukasi secara berkelanjutan mengenai perilaku pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan kepada pada wanita suku Baduy Luar.Kata kunci: perilaku pertolongan persalinan, determinan sosial, kesehatan ibu
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERSONAL HYGIENE DENGAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE DI RW 04, BANTARAN SUNGAI CILIWUNG, KELURAHAN MANGGARAI, JAKARTA Intan Silviana Mustikawati; Faradillah Faradillah
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 1, No 2 (2013): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.74 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v1i2.81

Abstract

AbstrakPerilaku merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Masyarakat dengan kondisi personal hygiene yang buruk akan berpotensi menimbulkan penyakit-penyakit. Kelurahan Manggarai merupakan daerah dengan keadaan rumah yang padat dan tingkat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terburuk di Jakarta Selatan. Keadaan rumah tinggal pada RW 04 Kelurahan Manggarai yang berada di bantaran Sungai Ciliwung merupakan faktor resiko bagi masyarakat untuk terkena penyakit karena terpapar pencemaran air sungai. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan antara pengetahuan tentang personal hygiene dengan perilaku personal hygiene pada ibu-ibu yang tinggal di RW 04, Bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan Manggarai, Jakarta. Metode penelitian adalah cross sectional, dengan sampel sebanyak 80 orang, yang diambil melalui sampling jenuh. Sebagian besar responden adalah ibu yang berusia 30-39 tahun (43,75%), berpendidikan SMA (45%), tidak bekerja (90%), dan berpartisipasi dalam penyuluhan kesehatan (63,8%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu-ibu di RW 04, Bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta memiliki pengetahuan yang baik mengenai personal hygiene (56,3%) dan memiliki perilaku personal hygiene yang baik (63.8%). Berdasarkan uji statistic spearman rank, didapatkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang personal hygine dengan perilaku personal hygiene (r =0,479; p<0,05). Perlu adanya peningkatan kegiatan penyuluhan dan peningkatan fasilitas kesehatan yang memadai dalam rangka mendukung perilaku masyarakat dalam upaya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.Kata kunci: pengetahuan, Personal Hygiene, Perilaku Personal Hygiene
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERSONAL HYGIENE DENGAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE DI RW 04, BANTARAN SUNGAI CILIWUNG, KELURAHAN MANGGARAI, JAKARTA Intan Silviana Mustikawati; Faradillah Faradillah
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 1, No 1 (2013): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.231 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v1i1.66

Abstract

AbstrakPerilaku merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Masyarakat dengan kondisi personal hygiene yang buruk akan berpotensi menimbulkan penyakit-penyakit. Kelurahan Manggarai merupakan daerah dengan keadaan rumah yang padat dan tingkat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terburuk di Jakarta Selatan. Keadaan rumah tinggal pada RW 04 Kelurahan Manggarai yang berada di bantaran Sungai Ciliwung merupakan faktor resiko bagi masyarakat untuk terkena penyakit karena terpapar pencemaran air sungai. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan antara pengetahuan tentang personal hygiene dengan perilaku personal hygiene pada ibu-ibu yang tinggal di RW 04, Bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan Manggarai, Jakarta. Metode penelitian adalah cross sectional, dengan sampel sebanyak 80 orang, yang diambil melalui sampling jenuh. Sebagian besar responden adalah ibu yang berusia 30-39 tahun (43,75%), berpendidikan SMA (45%), tidak bekerja (90%), dan berpartisipasi dalam penyuluhan kesehatan (63,8%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu-ibu di RW 04, Bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta memiliki pengetahuan yang baik mengenai personal hygiene (56,3%) dan memiliki perilaku personal hygiene yang baik (63.8%). Berdasarkan uji statistic spearman rank, didapatkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang personal hygine dengan perilaku personal hygiene (r =0,479; p<0,05). Perlu adanya peningkatan kegiatan penyuluhan dan peningkatan fasilitas kesehatan yang memadai dalam rangka mendukung perilaku masyarakat dalam upaya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.Kata kunci: pengetahuan, Personal Hygiene, Perilaku Personal Hygiene
Analisis Perilaku Pencarian Pengobatan (Health Seeking Behaviour) Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita di Muara Angke, Jakarta Utara Intan Silviana Mustikawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 2, No 2 (2014): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.936 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v2i2.113

Abstract

AbstrakPenyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan balita di negara berkembang. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi nasional ISPA di Indonesia adalah 25,5%.  Sebagian besar ISPA bersifat ringan, disebabkan oleh infeksi virus, dan dapat sembuh sendiri (self-limited diseases), namun ISPA juga dapat menjadi berat dan menyebabkan kematian. Kebanyakan masyarakat masih sering salah menyimpulkan gejala penyakit ISPA, dikarenakan gejala awalnya bersifat ringan, sehingga terlambat dalam penanganan oleh pihak medis, yang dapat menyebabkan pneumoni pada anak dan dapat mengakibatkan kematian. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis mengenai perilaku pencarian pengobatan penyakit ISPA pada balita di wilayah Muara Angke, Jakarta. Jenis penelitian yaitu kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam pada ibu-ibu yang mempunyai balita berusia 1-3 tahun di Muara Angke. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa perilaku pengobatan sendiri merupakan pilihan pengobatan pertama kali untuk pengobatan penyakit ISPA, perilaku pengobatan ke pelayanan kesehatan merupakan pilihan pengobatan kedua apabila penyakit belum sembuh juga, pelayanan kesehatan yang lebih banyak dipilih yaitu dokter praktek, lama sakit sebelum dibawa berobat ke pelayanan kesehatan yaitu 2 hari, kondisi keparahan penyakit yang memutuskan ibu untuk berobat ke pelayanan kesehatan yaitu panas tinggi dan batuk parah, dan pengambil keputusan  mengenai pencarian pengobatan didominasi oleh ibu. Perlu adanya upaya Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat dan para penjual obat (shopkeeper) mengenai upaya pengobatan penyakit ISPA yang sesuai, agar dapat dilakukan pengobatan dini dan pencegahan pertama agar penyakitnya tidak bertambah parah.Kata kunci: perilaku pencarian pengobatan, penyakit ISPA, balita
PERSEPSI KARYAWAN TERHADAP KETERSEDIAAN FASILITAS DAN SARANA PENANGANAN COVID-19 DI TEMPAT KERJA BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PROTOKOL KESEHATAN Yenni Nuriati; Ade Heryana; Intan Silviana Mustikawati; Namira Wadjir Sangadji
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 9, No 4 (2021): JULI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.804 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v9i4.30224

Abstract

COVID-19 is an infectious disease caused by the corona virus which has led to pandemic in all countries, especially Indonesia. The transmission of COVID-19 between humans is influenced by social interactions, for example closed contact at schools, offices and the community. In supporting business continuity in a pandemic situation, workplaces and industries are required to apply health protocols that have been stipulated in the regulations of the Indonesian Ministry of Health to control and prevent occupational related to COVID-19. The preliminary survey found that out of 10 employees, 69% of employees sometimes or never adhere to health protocols. The purpose of this study was to determine the factors related to employee compliance in implementing health protocols at office. This research used descriptive quantitative method with cross sectional design. This study involved all employees (72 samples).  Results:  The employee’s perception of a COVID-19 handling equipments is related to employee health protocols compliance (p-value < 0.001). Employee health protocol is not related to knowledge of COVID-19 (p-value = 0.347) and attitude (p value = 1.00). to increase employee compliance in the workplace, the company can provide a special officer unit that handles COVID-19 who can conduct surveillance at any time to reprimand and impose social punishment if employees do not implement heakth protocols in the workplace.  
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STRESS KERJA PADA PETUGAS CALL CENTER NOMOR TUNGGAL PANGGILAN DARURAT (NTPD) JAKARTA SIAGA 112 DI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH DKI JAKARTA TAHUN 2021 Kevin Antonio Situmeang; Ade Heryana; Intan Silviana Mustikawati; Anggun Nabila
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 10, No 1 (2022): JANUARI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.046 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v10i1.31984

Abstract

Employees work stress  can harm themselves and the company. The purpose of this study was to determine the factors associated with work stress on the call center officer of the Jakarta Emergency Call 112 (NTPD). Research design used cross sectional with quantitative approach. The study was conducted in April 2021 - August 2021. Sample were 40 participant that selected with total sampling method. Data was analyze in univariate and bivariate tests using the chi-square statistical test with α = 0.05. The results showed call center officers with female sex 21 people (52.5%), College 33 people (82.5%), no work stress 23 people (54,7%), moderate workload 21 people (52.5 %), positive work climate 24 people (60.0%). Based on bivariate analysis, it was found that there was a relationship between work stress of call center officers and education (p value = 0.029, PR = 2.571). Based on bivariate analysis, it was found that there was a relationship between work stress of call center officers and education (p value = 0.029, PR = 2.571). It is hoped that the company's management will conduct emergency training and communication training on a regular basis to help officers with low education be better prepared to serve the community. In addition, management provides stress management counseling activities and provides sports facilities and vacation activities for staff relaxation.
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA USIA PRODUKTIF DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU TAHUN 2021 Aldila Nur Rahmawati; Gisely Vionalita; Intan Silviana Mustikawati; Rini Handayani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 5 (2022): SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkm.v10i5.35178

Abstract

Tuberculosis (TB) is a major global health problem with an estimated 10.4 million new TB cases worldwide. Based on data from health reports at the Pasar Minggu Subdistrict Health Center in 2021 (January - August) there were 82 new cases of bacteriological confirmation (18.5%) from 441 patient visits. The purpose of this study was to determine the factors related to the incidence of pulmonary tuberculosis at the Pasar Minggu Subdistrict Health Center in 2021. This study used a cross sectional design with the population being all medical records of patients at the Pasar Minggu subdistrict health center as many as 441 medical records and samples taken used as many as 117 medical records. Data analysis used univariate and bivariate analysis with Chi Square test. The results of univariate analysis showed that more patients had tuberculosis, age at risk, male sex, highly educated, working, good nutritional status. The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between age, gender, nutritional status and the incidence of tuberculosis. It is recommended that the Puskesmas Puskesmas run and socialize the program to increase community independence so that the community, especially those at the age who are not at risk (over 50 years), implement a smoking cessation clinic program (KBM). carry out a nutritional counseling program specifically for tuberculosis patients who experience poor nutritional status and carry out a program of providing additional food for tuberculosis patients who cannot afford it in the form of packaged milk, eggs and biscuits during the treatment of pulmonary tuberculosis.Keywords: Tuberculosis, Age, Gender, Nutritional Status.