Retno Sutomo
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine, Public Health, And Nursing Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Perilaku pada Anak Sekolah Dasar Nurul Istiqomah; Retno Sutomo; Sri Hartini
Sari Pediatri Vol 21, No 5 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.5.2020.302-9

Abstract

Latar belakang. Anak usia sekolah dengan masalah perilaku akan memperlihatkan kerusakan keterampilan sosial dan mengalami penolakan dari teman sebayanya. Pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak juga akan memengaruhi kepribadian anak. Anak akan sulit bersosialisasi dan berkembang apabila terdapat kesalahan pola asuhorang tua.Tujuan. Mengetahui hubungan antara pola asuh Ibu dengan perilaku pada anak sekolah dasar.Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan studi cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2018. Subjek penelitian berjumlah 110 bu dari anak SD yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang dipilih secara multistage cluster random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pola asuh orang tua, Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ), Brief Family Relationship Scale (BFRS), dan kuesioner demografi. Analisis data bivariat dengan Chi-square atau Fisher’s dan dilanjutkan dengan Coefficient Contingency. Hasil. Anak yang mengalami masalah perilaku secara keseluruhan sebesar 43,7%. Pola asuh demokratis merupakan pola asuh terbanyak yang diterapkan oleh ibu (78,2%). Terdapat hubungan antara pola asuh ibu dengan perilaku anak (p<0,05). Kesimpulan. Terdapat hubungan antara pola asuh ibu dengan perilaku anak SD. Peneliti selanjutnya diharapkan meneliti pola asuh dan perilaku anak tidak hanya menggunakan laporan ibu saja, tetapi menggunakaan metode observasi serta melibatkan lebih dari satu informan.
Profil dan Faktor yang Berhubungan dengan Masalah Perilaku pada Remaja di Kota Sorong Papua Barat Dirgantari Pademme; Retno Sutomo; Lely Lusmilasari
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.42 KB) | DOI: 10.14238/sp19.4.2017.189-95

Abstract

Latar belakang. Remaja dengan masalah perilaku memiliki kecenderungan melakukan perbuatan merusak atau merugikan bagi dirinya dan orang lain. Faktor terkait dengan masalah perilaku di antaranya jenis kelamin, usia, kedekatan dengan orang tua (hubungan dengan orang tua), keterlibatan orang tua dengan anak yang kurang dan pendidikan orang tua. Tujuan. Mengetahui profil dan faktor yang berhubungan dengan masalah perilaku pada remaja di Kota Sorong Papua BaratMetode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2017. Subjek penelitian berjumlah 566 orang siswa/i kelas X yang telah memenuhi kriteria inklusi yang dipilih secara simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah strength and difficulties questionairre (SDQ), Brief family relationship scale (BFRS) dan kuesioner demografi. Analisis data bivariat dengan chi-square dan analisis multivariat regresi logistik.Hasil. Masalah perilaku pada aspek hubungan dengan teman sebaya abnormal 38,87%, aspek emosional abnormal 25,80%, conduct problems abnormal 24,38%, hiperaktivitas abnormal 9,72%, dan prososial abnormal 2,83%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa hanya keeratan hubungan antara orang tua dengan anak yang mempunyai hubungan bermakna dengan masalah perilaku keseluruhan, p=0,001 (p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu dan jumlah saudara dengan masalah perilaku keseluruhan (p>0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa keeratan hubungan antara orang tua dengan anak yang berhubungan dengan masalah perilaku remaja di Kota Sorong (OR=2,67, CI95% 1,71-4,16, R2=0,03%).Kesimpulan. Terdapat hubungan keeratan antara orang tua dan anak dengan masalah perilaku remaja di Kota Sorong.
Hubungan antara Defisiensi Besi dengan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder pada Anak Desi Fajar Susanti; Sunartini H; Retno Sutomo
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.29-34

Abstract

Latar belakang. Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan gangguan perilaku yang paling banyak dijumpai padaanak. Defisiensi besi diduga berperan dalam kejadian ADHD melalui perubahan neurotransmiter dopamin. Feritin serum merupakanindikator reliabel simpanan besi dalam tubuh termasuk otak.Tujuan. Untuk mengkaji hubungan antara defisiensi besi dan kejadian ADHD pada anak.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di RSUP Dr Sardjito dan Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak(P3TKA) Yogyakarta. Diagnosis ADHD berdasarkan kriteria DSM IV-TR. Subjek penelitian dipilih secara consecutive mencakup 35anak dengan ADHD and 35 anak tanpa ADHD. Dilakukan pengukuran kadar serum feritin pada semua subyek. Hubungan antaradefisiensi besi dengan ADHD dianalisis dengan chi square dan rerata feritin serum dengan uji Mean WhitneyHasil. Kadar feritin serum yang rendah ditemukan pada 34% anak dengan ADHD dan 25% pada anak tanpa ADHD tetapi secarastatistik tidak berbeda bermakna. Penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rerata feritin serum pada pasien ADHDdan tanpa ADHD (24.4 ±22.04 μg/L vs.24.4±19.9 μg/L, p > 0,01).Kesimpulan. Prevalensi defisiensi besi pada anak ADHD dibandingkan tanpa ADHD tidak berbeda secara bermakna.
Faktor Risiko Kejadian Sakit Tuberkulosis pada Anak yang Kontak Serumah dengan Penderita Tuberkulosis Dewasa Nevita Nevita; Retno Sutomo; Rina Triasih
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.5-10

Abstract

Latar belakang. Anak yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa berisiko tinggi untuk terinfeksi dan sakit TB. Pelacakan terhadap anak kontak serumah (contact screening) berpotensi menurunkan morbiditas dan mortalitas TB pada anak. Namun demikian, kegiatan itu belum rutin dilakukan di negara-negara endemis karena keterbatasaan tenaga dan fasilitas.Tujuan. Mengetahui faktor risiko sakit TB pada anak yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasaMetode. Penelitian kasus kontrol pada anak usia ≤15 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TB paru dewasa yang diobati di 18 Puskesmas, 2 balai pengobatan paru, dan 3 rumah Sakit di Kotamadya Yogyakarta antara bulan agustus 2010 dan Juni 2012. Kami melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, uji tuberkulin, dan foto Rontgen dada pada semua anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk menentukan ada tidaknya sakit TB. Dikatakan sakit TB apabila terdapat paling sedikit satu gejala TB dan foto Rontgen dada yang sugestif TB atau ditemukannya gejala dan tanda extrapulmonary TB.Hasil. Terdapat 126 anak, 21 sebagai kasus dan 105 sebagai kontrol. Karakteristik anak (usia balita (OR 1,94 95% CI (0,76–4,93), telah mendapatkan vaksinasi BCG (OR 1,09 95% CI (0,12–8,83)) karakteristik kasus indeks (derajat BTA sputum positif (OR 2,72 95% CI (0,76 -9,78), orang tua sebagai kasus indeks (OR 1,05 95% CI (0,42–2,67)) dan karakteristik lingkungan (polusi asap rokok dalam rumah (OR 1,07 95% CI (0,38–2,99) dan jumlah anggota keluarga >6 (OR1,85 95% CI (0,70–4,88) tidak berhubungan dengan risiko terjadinya sakit TB pada anak kontak serumah.Kesimpulan. Risiko kejadian sakit TB pada anak tersebut tidak berhubungan dengan karakteristik anak, kasus indeks, dan lingkungan yang diteliti.
Perbedaan Perilaku Anak Prasekolah Berdasarkan Pola Pengasuhan Tri Sondang Situmorang; Nurnaningsih Nurnaningsih; Retno Sutomo
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.382 KB) | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.314-9

Abstract

Latar belakang. Perkembangan anak, termasuk perkembangan perilaku dan psikologis, merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian bagi orang tua; karena akan memengaruhi masa depan anak. Dasar-dasar pembentukan kepribadian dan perilaku ditentukan oleh apa yang dialami serta dihayati dalam 5-6 tahun pertama. Pola asuh merupakan proses di dalam keluarga yang merupakan interaksi orang tua dan anak. Pola asuh orang tua diyakini memengaruhi perilaku anak. Tujuan. Menilai perbedaan proporsi kejadian gangguan perilaku anak usia prasekolah berdasar perbedaan pola pengasuhan orang tua.Metode. Penelitian observasional analitis dengan desain cross sectional di Yogyakarta antara Maret-April 2014. Pola asuh orang tua dan perilaku anak masing-masing dinilai dengan the parenting scale dan strengths and difficulties questionnaire (SDQ). Kriteria inklusi ialah anak usia prasekolah usia 3-6 tahun dan orang tua setuju ikut penelitian. Subjek dieksklusi bila pengisian perangkat penelitian dinilai tidak lengkap. Perbedaan proporsi gangguan perilaku antara pola asuh demokratis dan non-demokratis dianalisis dengan uji chi square.Hasil. Hasil penelitian menunjukkan kedua pola asuh berhubungan dengan kejadian gejala emosional (p=0,00), kejadian menimbulkan masalah (p=0,01), kejadian hiperaktif (p=0,00), masalah anak dengan sebaya (p=0,00)dan antara pola asuh orang tua dengan total kejadian gangguan perilaku anak (p=0,00). Kesimpulan. Pola pengasuhan yang berbeda akan menghasilkan perilaku yang berbeda pula.  
Kesepakatan Hasil antara Kuesioner Pra Skrining Perkembangan, Parent’s Evaluation of Developmental Status, dan Tes Denver-II untuk Skrining Perkembangan Anak Balita Nur M. Artha; Retno Sutomo; Indria L. Gamayanti
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.266-70

Abstract

Latar belakang. Masalah perkembangan anak cenderung meningkat. Deteksi dini secara periodik merupakanhal yang penting. Kuesioner praskrining perkembangan (KPSP), Parent’s evaluation developmental status(PEDS) dan tes Denver II adalah perangkat yang sering digunakan dalam skrining perkembangan anak.Seyogyanya ketiga instrumen tersebut memiliki kesepakatan yang baik dalam menilai perkembangananak.Tujuan. Menilai kesepakatan hasil antara PEDS dengan Denver II dan KPSPMetode. Penelitian rancangan potong lintang dilakukan pada balita usia 6-60 bulan dari Posyandu diKabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Kodya Yogyakarta dari bulan September-Oktober 2012.Kuesioner PEDS diisi oleh orangtua dengan panduan petugas, sedangkan KPSP dan tes Denver II dilakukanoleh dokter terlatih. Hasil ketiga pemeriksaan tersebut dianalisis dengan menghitung koefisien kesepakatankappaHasil. Prevalensi gangguan perkembangan menurut KPSP, PEDS, dan tes Denver II masing-masing 6%,24%, dan 10,5%. Nilai kappa antara KPSP dan PEDS 0,17, KPSP dan tes Denver II 0,6, serta PEDS dantes Denver 0,29.Kesimpulan. Kesepakatan antara hasil pemeriksaan KPSP dan tes Denver II cukup baik, sementara antaraKPSP dan PEDS dan antara PEDS dan tes Denver II rendah
Hubungan antara Kadar Zink Plasma dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPP/H) Sir Panggung T.S; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.205-9

Abstract

Latar belakang. Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPP/H) atau attention deficit/ hyperactivity disorder (ADHD)merupakan gangguan neuro-behavioral yang paling sering pada anak dengan dampak besar bagi individu dan masyarakat. PrevalensiGPP/H di Indonesia 0,4% - 26,2%. Penelitian di berbagai negara menunjukkan keterlibatan zink dalam etiologi dan terapi GPP/H.Belum didapatkan data mengenai hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak di Indonesia.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar zink plasma dengan GPP/H pada anak.Metode. Penelitian kasus kontrol dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito dan Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh KembangAnak (P3TKA) Yogyakarta pada Desember 2010-Maret 2011. Subyek adalah adalah 69 anak berusia 3-18 tahun, 34 anakdengan GPP/H dan 35 kontrol. Kadar zink plasma diperiksa dari sampel darah vena menggunakan metode atomic absorbancespectrophotometry (AAS). Analisis statisik menggunakan analisis deskriptif dan analisis bivariat dengan uji Chi-square terhadapperbedaan proporsi defisiensi zink antara kelompok kasus dan kontrol.Hasil. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderita GPP/H,dengan nilai p=0,028, OR sebesar 8,8 (IK95% antara 1,02-76,07).Kesimpulan. Proporsi defisiensi zink pada anak yang menderita GPP/H lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak menderitaGPP/H, zink kemungkinan mempunyai peran dalam kejadian GPP/H.
Gangguan Tidur pada Anak dengan Epilepsi dan Faktor yang Memengaruhi Riona Sari; Agung Triono; Retno Sutomo
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.7-13

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur merupakan salah satu komorbid yang sering dijumpai pada anak dengan epilepsi. Sampai saat ini data mengenai hal tersebut masih sangat terbatas.Tujuan. Mengetahui prevalensi dan faktor yang memengaruhi gangguan tidur pada anak dengan epilepsi.Metode. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang pada anak usia 3-18 tahun, yang telah didiagnosis epilepsi minimal 6 bulan. Pasien dengan palsi serebral, diabetes melitus, penyakit jantung, asma, hipertrofi adenotonsil dan anak dengan epilepsi yang telah bebas kejang lebih dari satu tahun dieksklusi dari penelitian. Subyek dipilih secara konsekutif selama periode November 2016 – Maret 2017 di Poliklinik Neurologi Anak RSUP Dr. Sardjito. Gangguan tidur dinilai dengan kuesioner sleep disturbance scale for children (SDSC). Hasil. Di antara 93 subyek, 63 (67,7%) mengalami gangguan tidur, terbanyak (63,2%) adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur. Tipe kejang umum, onset epilepsi kurang dari 3 tahun, monoterapi dan obat anti epilepsi fenobarbital paling sering mengalami gangguan tidur. Akan tetapi, hanya tipe kejang umum yang berhubungan dengan gangguan tidur (OR 5,2, IK95% 1,35-9,96, p=0,016). Kesimpulan. Prevalensi gangguan tidur pada anak dengan epilepsi sangat tinggi, terbanyak gangguan memulai dan mempertahankan tidur dan berhubungan dengan tipe kejang umum.Gangguan tidur merupakan salah satu komorbid yang sering dijumpai pada anak dengan epilepsi. Sampai saat ini data mengenai hal tersebut masih sangat terbatas. 
Hubungan Asma dengan Gangguan Perilaku pada Anak Diana Mariana Damanik; Retno Sutomo; Amalia Setyati
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.272 KB) | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.391-6

Abstract

Latar belakang. Asma adalah salah satu penyakit pernapasan kronis dengan prevalensi yang meningkat padaanak maupun dewasa sejak dua dekade terakhir. Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan hubunganantara asma dengan gangguan perilaku.Tujuan. Menganalis hubungan antara asma dengan gangguan perilaku serta mengidentifikasi faktor yangterkait.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2012. Penelitian melibatkan77 anak usia 4-18 tahun, yang didiagnosis asma di RSUP Sardjito dan 77 anak non asma. Subjek penelitiandiambil secara consecutive serta matching usia dan jenis kelamin. Anak dengan penyakit kronis lain, cacatfisik atau mental yang berat dieksklusi dari penelitian. Gangguan perilaku pada semua subjek dinilai denganstrength and difficulties questionnaire (SDQ). Faktor yang berhubungan dengan gangguan perilaku, yaituonset asma, derajat asma, dan penggunaan kortikosteroid inhalasi turut dianalisis dengan metode chi squareserta regresi logistik.Hasil. Masalah perilaku ditemukan 27,3% pada kelompok asma dan hanya 9,1% pada kelompok nonasma (OR 3,75, IK95% 1,48-9,45, p=0,003). Gangguan emosional dan conduct problem secara signifikanlebih sering terjadi pada kelompok asma, sedangkan perilaku prososial lebih tinggi pada anak non asma.Berdasarkan analisis multivariat dengan regresi logistik ditunjukkan derajat asma merupakan faktor yangberhubungan dengan gangguan perilaku (OR 8,83, IK95% 2,02-38,60, p=0,01) dan conduct problem (OR6,35 IK95% 1,48-27,25, p=0,01).Kesimpulan.Gangguan perilaku lebih sering terjadi pada anak dengan asma dibandingkan anak sehat sertaberhubungan dengan derajat asma.