Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

REPRESENTASI KONSEP DIRI REMAJA PADA FILM LADY BIRD (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Ifti Anugrah; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 3 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i3.16313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi konsep diri remaja dalam film Lady Bird melalui adegan-adegan yang memuat tanda pencarian jati diri remaja dan mengetahui pesan yang ingin disampaikan dari makna representasi film Lady Bird. Penelitian ini adalah analisis konten kualitatif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Model semiotika Roland Barthes digunakan untuk menyusuri tanda dan makna dari rangkaian audiovisual yang ditampilkan film yang diteliti. Sumber data primer adalah adegan-adegan film yang berkaitan dengan konsep diri remaja. Sumber data sekunder literatur dan kepustakaan digunakan untuk proses analisis data. Analisis semiotika Roland Barthes terdiri dari penanda, petanda, makna denotatif, makna konotatif, dan mitos yang didapatkan dari adegan yang dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) film Lady Bird memuat representasi konsep diri remaja sesuai dengan kondisi yang mempengaruhi pembentukan konsep diri yaitu, a) usia kematangan, b) penampilan diri, c) kepatuhan seks, d) nama dan julukan, e) hubungan keluarga, f) teman-teman sebaya, g) kreativitas, h) cita-cita; 2) pesan yang dapat diambil dari analisis terdapat dua pesan utama, a) pesan pertama yaitu konsep diri remaja cenderung positif dipengaruhi kondisi keluarga yang mendukung dan harmonis, dan b) pesan kedua yaitu konsep diri remaja cenderung positif terbentuk oleh pengalaman dari lingkungan sosial yang mampu diatasi, dari pengalaman tersebut remaja mampu belajar sehingga terjadi pendewasaan diri. Kata kunci: Roland Barthes, representasi, konsep diri remaja, film 
ANALISIS MANAJEMEN MEDIA PENYIARAN BATIK TV PEKALONGAN DI ERA KONVERGENSI MEDIA Prisca Devina Dwijayani; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 2 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i2.15813

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen media penyiaran Batik TV Pekalongan sebagai televisi lokal milik pemerintah di era konvergensi media. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif engan pendekatan kualitatif. Objek dalam penelitian ini adalah Batik TV Pekalongan. Sedangkan subjek penelitian ditentukan dengan cara purposive, pemilihan dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Subjek penelitian yang dipilh adalah direktur operasional, unit pemberitaan, unit program feature dan unit administrasi kerjasama. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi informasi dengan mencari pemusatan informasi. Sedangkan analisis data yang digunakan melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi beberapa perubahan dalam manajemen media penyiaran di era konvergensi media diantaranya komunikasi lebih banyak dilakukan melalui media untuk berkoordinasi. Komunikasi yang terjadi tidak hanya satu arah tapi dua arah. Selain itu, teknologi membantu dalam pengolahan pesan sebelum disiarkan. Media sosial memberikan banyak pengaruh dalam penyebaran pesan. Dari sisi konten terjadi perubahan dari konten analog menjadi konten digital, sehingga dapat dikonsumsi oleh berbagai pihak. Sedangkan dari sisi ekonomi, pendapatan tidak hanya diperoleh dari iklan, namun pendapatan juga diperoleh melalui media sosial. Stategi manajemen media dalam kerangka konvergensi media belum optimal karena belum ada sistem yang baik dan keterbatasan kemampuan sumber daya manusia.Kata kunci : manajemen, penyiaran, konvergensi media
PENGARUH MOTIF PENGGUNAAN SECOND ACCOUNT INSTAGRAM TERHADAP KEPUASAN HIDUP Safina Rahma; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 3 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i3.16310

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan hidup. Pada penelitian ini, aspek-aspek dari motif penggunaan second account Instagram dianalisis satu per satu pengaruhnya terhadap kepuasan hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta Angkatan 2016-2018 yang memiliki akun utama dan second account Instagram. Setelah dilakukan pra survei, ditemukan populasinya yaitu sebesar 94 orang sehingga tidak dilakukan penarikan sampel. Hasil penelitian ini yaitu bahwa tidak ada pengaruh dari motif penggunaan second account Instagram terhadap kepuasan hidup karena angkanya sangat kecil yaitu 0,2%. Berdasarkan analisis yang dilakukan pada masing-masing aspek, ditemukan empat aspek yaitu pengetahuan tentang orang lain, keren, interaksi sosial, dan hiburan memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan hidup. Aspek lainnya yaitu dokumentasi serta eksperimen dengan media baru dan hobi memiliki pengaurh negatif terhadap kepuasan hidup. Sedangkan aspek kreativitas, ekspresi diri visual, dan penyampaian opini tidak memiliki pengaruh terhadap kepuasan hidup. Kata kunci: media sosial, Instagram, second account, motif, kepuasan hidup, Uses and Gratifications
REPRESENTASI RASISME DALAM FILM BODIED (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Wahyu Lestari; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 5 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i5.16377

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) representasi rasisme dalam film Bodied; 2) pesan yang disampaikan melalui tanda audiovisual kepada penonton dalam film Bodied. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika Roland Barthes. Model semiotika Roland Barthes digunakan untuk menyusun tanda dan makna dari seluruh rangkaian unsur audiovisual yang direpresentasikan dalam film. Sumber data primer adalah adegan-adegan film yang berkaitan dengan aspek rasisme. Sumber data sekunder diperoleh dari literatur dan kepustakaan yang digunakan untuk proses analisis data. Analisis semiotika Roland Barthes terdiri dari penanda, petanda, makna denotasi, makna konotasi dan mitos. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasisme direpresentasikan dalam film Bodied ke dalam empat aspek melalui; 1) identitas ras, 2) rasisme, 3) stereotip, dan 4) budaya hiphop. Identitas ras ditunjukan pada karakter masing-masing tokoh yang dipengaruhi oleh latar belakang rasial serta budaya. terdapat tiga bentuk tindakan rasisme dalam film Bodied yaitu rasime personal, microagression/ keseharian, dan hinaan/slur. Pesan yang disampaikan melalui tanda audiovisual dalam film Bodied yaitu tindakan rasisme banyak dilakukan oleh kaum mayoritas terhadap minoritas. Kulit putih bertindak sebagai minoritas dalam partisipasinya menekuni budaya kulit hitam. Oleh karena itu, tindakan rasis tidak hanya inheren pada ras kulit putih akan tetapi juga ras kulit hitam. Kontestasi sikap rasis tersebut tercermin dalam bentuk prasangka rasial, labelisasi atau streotip terhadap ras lain, dan diskriminasi rasial. Fenomena tersebut terus terjadi secara berulang-ulang ketika masyarakat ras yang berbeda bertemu dan berinteraksi.Kata kunci: Analisis semiotika, resresentasi, ras
ENCODING-DECODING KHALAYAK TENTANG KEKERASAN VERBAL DALAM VIDEO GAMING REZA ‘ARAP’ OKTOVIAN (STUDI ANALISIS AUDIENS STUART HALL) Nadya Zulfa Afifah; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 2 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i2.15810

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan; 1) bentuk kekerasan verbal dalam konten video gaming Reza ‘Arap’; 2) encoding/decoding penonton pada konten kekerasan verbal video gaming Reza ‘Arap’ menurut Stuart Hall. Penelitian bersifat kualitatif dengan metode analisis audiens Stuart Hall. Objek dalam penelitian ini adalah video gaming Reza. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis konten dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan analisis resepsi dengan teori encoding-decoding Stuart Hall, yang mana hasil penelitian akan menentukan posisi audiens terhadap kekerasan verbal yang dilakukan Reza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) Kekerasan verbal yang dilakukan oleh Reza meliputi ucapan atau ungkapan yang mengacu pada sesuatu yang vulgar, tabu, menghina, menyerang sesuatu atau seseorang menurut masyarakat; 2) ada empat unsur yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu resepsi audiens tentang kekerasan verbal sebagai candaan, katarsis, umpatan dan imitasi. Para informan memahami kekerasan verbal dalam video gaming Reza ‘Arap’ Oktovian sebagai suatu kata umpatan yang ditujukan untuk bahan candaan, sebagian audiens merasa puas ketika melihat Reza mengumpat, dan sebagian besar audiens berada pada posisi negosiasi terhadap poin imitasi kekerasan verbal yang Reza lakukan; 3) informan mengalami desensitisasi kekerasan verbal.Kata kunci: analisis resepsi, kekerasan verbal, video gaming, youtube
ANALISIS RESEPSI TENTANG CITRA PUBLIK PEREMPUAN DALAM FILM CRITICAL ELEVEN Rachela Belinda Fatharani; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i1.15803

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui pemaknaan audiens tentang peran domestik perempuan, (2) mengetahui pemaknaan audiens tentang peran publik perempuan, dan (3) mengetahui pemaknaan audiens tentang citra publik perempuan dalam film Critical Eleven. Penelitian ini adalah analisis resepsi khalayak dengan pendekatan kualitatif. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah film Critical Eleven. Sedangkan subjek penelitian adalah audiens film Critical Eleven dengan kriteria perempuan berusia 18 sampai dengan 22 tahun. Jumlah subjek penelitian sebanyak 21 orang yang terbagi dalam 3 (tiga) kelompok Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan analisis konten deskriptif dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT). Analisis data dilakukan dengan teknik analisis resepsi encoding-decoding Stuart Hall yang meliputi pengumpulan, analisis, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) audiens film Critical Eleven memaknai peran domestik perempuan sebagai tanda bakti seorang perempuan terhadap suaminya serta peran domestik merupakan kewajiban laki-laki dan perempuan, (2) audiens film Critical Eleven memaknai peran publik perempuan sebagai mata pencaharian dan relasi, status sosial dan harga diri, serta aktualisasi diri, (3) audiens film Critical Eleven memaknai citra publik perempuan dalam film Critical Eleven dalam citra pigura, persahabatan, dan manfaat. Namun masing-masing audiens memiliki pandangan dan prinsip sendiri sehingga ada bagian tertentu dari konten Critical Eleven yang tidak disetujui oleh audiens, seperti penampilan dan cara bergaul. Sehingga posisi pembacaan penonton Critical Eleven berada pada posisi pembacaan negosiasi.Kata kunci: analisis resepsi, Critical Eleven, film
REPRESENTASI RASISME DALAM FILM THE HATEFUL EIGHT (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Pamadya Andanawarih; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i1.15799

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan; 1) representasi rasisme melalui tanda-tanda yang terkandung dalam film The Hateful Eight menurut pendekatan semiotika Roland Barthes; 2) pesan yang disampaikan melalui tanda audiovisual kepada audiens dalam film The Hateful Eight. Penelitian bersifat kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes. Objek penelitian yang dipilih adalah film The Hateful Eight. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan studi pustaka terhadap konten film berdasarkan landasan teori. Analisis data menggunakan model analisis semiotika Roland Barthes, yang terdiri atas penanda, petanda, makna denotatif, makna konotatif, dan mitos dari adegan yang dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan; 1) rasisme direpresentasikan dalam film The Hateful Eight dalam lima bentuk, a) hinaan, b) rasisme personal, c) rasisme institusional, d) rasisme keseharian, dan e) stereotip. Intensitas tindakan dan respon karakter dipengaruhi oleh latar belakang rasial mereka serta keberpihakan dalam perang saudara sebagai latar film; 2) pesan yang disampaikan melalui tanda audiovisual dalam film The Hateful Eight adalah a) rasisme sulit dihapuskan meski ada peraturan sosial yang melawan rasisme dan tindakan rasis dapat muncul dalam konteks interaksi tertentu, dan b) kehidupan ras minoritas sebagai target rasisme masih terancam ras mayoritas dan terdapat ketegangan hubungan antar ras meskipun terdapat hukum yang menjunjung ekualitas ras. Kata kunci: Analisis semiotika, Roland Barthes, film, rasisme
ANALISIS RESEPSI KHALAYAK TERHADAP KEJAHATAN DALAM SINETRON LEPAS AZAB DI INDOSIAR Diana Fitrianingrum; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 4 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i4.16352

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui perilaku penonton ketika menonton sinetron lepas Azab di Indosiar, (2) mengetahui pemaknaan penonton terhadap kejahatan dalam sinetron lepas Azab di Indosiar, (3) mengetahui bagaimana posisi penonton ketika berhadapan dengan teks sinetron lepas Azab di Indosiar. Penelitian ini merupakan penelitian analisis resepsi khalayak dengan pendekatan kualitatif. Informan penelitian ini adalah penonton sinetron lepas Azab Indosiar yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis resepsi dengan teori encoding-decoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat dua perilaku yang ditunjukkan dalam penelitian ini yaitu zapping dan multitasking, (2) pemaknaan terhadap kategori kejahatan dalam program ini, informan mengatakan bahwa kejahatan yang ditampilkan tidak sepenuhnya menggambarkan realitas karena terlalu berlebihan, (3) terakhir, untuk kategori kejahatan seluruh informan berada pada posisi negosiasi. Kata kunci: analisis resepsi, sinetron lepas Azab, khalayak televisi
REPRESENTASI HOMOSEKSUALITAS DALAM FILM METHOD (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Rizqi Qurrota A'yuni; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i1.15804

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui representasi homoseksualitas yang tergambar melalui tanda-tanda yang terkandung dalam adegan-adegan dalam film Method. Peneliti berusaha untuk mempresentasikan dan menganalisis bentuk homoseksual menurut analisis semiotika Roland Barthes. Penelitian ini merupakan analisis konten dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian semiotika Roland Barthes. Sumber data dalam penelitian ini diambil dari adegan pada film. Analisis data dalam penelitian ini terdapat langkah-langkah yang terdiri atas penanda, petanda, makna denotatif, makna konotatif, dan mitos untuk menganalisis adegan dalam film tersebut. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa terdapat 16 adegan yang mempresentasikan perilaku homoseksualitas, namun bentuk perilaku yang ditunjukkan terdapat 11 perilaku homoseksual, yaitu 1) suara lembut, 2) tatapan mata, 3) bisikan, 4) sentuhan, 5) pelukan, 6) ciuman, 7) menolak ajakan berhubungan intim dengan lawan jenis, 8) berenang berdua, 9) foto mesra, 10) ungkapan cinta, dan 11) kecewa dan sakit hati. Berdasarkan hal tersebut, dalam setiap adegan memperlihatkan suatu perkembangan kedekatan antara kedua aktor yaitu Young Woo dan Jae Ha. Faktor kedekatan inilah yang akhirnya membentuk perasaan cinta dari keduanya. Perilaku homoseksual yang terbentuk dalam film Method diawali oleh suatu pertemanan dalam projek kerja yang kemudian berubah menjadi hubungan intim antar keduanya. Sehingga, perilaku homoseksual dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kata Kunci: Film, Homoseksualitas, Representasi, Roland Barthes
RESEPSI KHALAYAK TERHADAP PROGRAM “KATAKAN PUTUS” TRANS TV Adam Surya Dewangga; Dyna Herlina Suwarto
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2019): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v2i1.15800

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui perilaku khalayak pada saat menonton program “Katakan Putus”, (2) mengetahui resepsi khalayak pada program “Katakan Putus” TRANS TV, (3) mengetahui alasan khalayak untuk menonton program “Katakan Putus” TRANS TV. Penelitian ini merupakan penelitian analisis resepsi khalayak dengan pendekatan kualitatif. Objek dalam penelitian ini adalah program “Katakan Putus” TRANS TV. Sedangkan subjek atau informan penelitian ini adalah penonton program “Katakan Putus” yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis resepsi dengan teori encoding-decoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) khalayak program “Katakan Putus” biasa mengganti channel untuk menghindari iklan dan menonton program serupa (reality show) di stasiun televisi lain serta melakukan aktivitas lain ketika menonton program “Katakan Putus”, (2) khalayak berada pada posisi pembacaan negosiasi dan menganggap bahwa program “Katakan Putus” tidak sepenuhnya menggambarkan realitas, (3) alasan khalayak menonton program “Katakan Putus” yakni sebagai sarana hiburan, sebagai penghilang rasa penat. Pengawasan sosial, sebagai bahan pelajaran bagi diri sendiri dan anaknya. Serta bahan pembicaraan, misalnya ketika berbincang dengan teman-teman di sekolah, kampus, atau di pasar.Kata kunci:  analisis resepsi, katakan putus, dan khalayak televisi