Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal Community Service Consortium

PENGEMBANGAN INDUSTRI SANDAL ASRON NAFIK DESA WEDORO, KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO Suyanto, Mohammad; Abdulrahim, Muslimin
Journal Community Service Consortium Vol 1 No 1 (2020): Journal Community Service Consortium
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/consortium.v1i1.3263

Abstract

Home Industri Sepatu dan sandal merupakan usaha yang banyak dijalankan di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Industri kecil sepatu dan sandal yang berada di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo sudah lama berdiri mulai dari tahun 2.000 an dan semakin bertambahnya tahun jumlah pengrajin sepatu dan sandal semakin bertambah. Industri kecil sepatu dan sandal masih bersifat tradisional karena dalam mengerjakan barang produksi masih menggunakan teknologi/alat yang masih sederhana. Faktor yang mendukung eksisnya suatu industry kecil adalah manajemen/pengelolaan, tersedianya bahan baku serta kebijakan Pemerintah setempat dan faktor yang kurang mendukung adalah teknologi/alat, modal, tenaga kerja, pemasaran. Pola persebaran industri kecil sepatu dan sandal mayoritas berkumpul di satu desa karena faktor warisan dan peran manusia itu sendiri, hal ini dapat membuktikan bahwa Home Industri dapat dijadikan sebagai salah satu strategi dalam mencapai pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan sekali pengembangan Home Industri sebagai salah satu langkah strategis dalam rangka meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian masyarakat Jawa Timur, khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja. Terdapat 26 (dua puluh enam) usaha rumah tangga di Desa Wedoro yang memproduksi sandal diantaranya bapak Asron Nafik, di mana beliau terhimpun pada kelompok usaha “Home Industri Sepatu dan sandal”. Mitra sangat berharap dapat meningkatkan produksinya baik dari sisi kuantitas maupun kualitas dan bisa menjadikan usaha rumah tangga ini menjadi sumber utama ekonomi keluarga. Beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu manajemen usaha yang masih sederhana, pemasaran masih berupa pesanan dan dititipkan dibeberapa toko sekitar yang dikenalnya, proses produksi dilakukan dengan manual, serta kemasan kurang menarik. Berdasarkan kondisi tersebut, kami menawarkan solusi yaitu dengan pengadaan teknologi tepat guna mesin seset tungkak serta manajemen usaha kecil yang terampil, manajemen pemasaran dan manajemen keuangan sederhana.
USAHA RUMAH TANGGA KONVEKSI DI DESA TUGU, KECAMATAN SENDANG, KABUPATEN TULUNG AGUNG, PROPINSI JAWA TIMUR Suyanto, Mohammad; Abdulrahim, Muslimin; Ofani, Maria farnilinda
Journal Community Service Consortium Vol 2 No 1 (2021): Journal Community Service Consortium
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/consortium.v2i1.3306

Abstract

Desa Tugu. Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulung Agung berada dilereng Gunung Wilis. Mayoritas warga berpenghasilan dari hasil pertanian dan perkebunan, begitu juga dengan ibu Karyati. Ibu Karyati sebagai warga desa tersebut tinggal bersama suami dengan empat orang anak, suaminya sehari hari bekerja sebagai petani yang merupakan andalan ekonomi keluarga. Ibu Karyati. Ibu Karyati memiliki usaha sampingan yaitu sebagai penjahit dan memiliki banyak pelanggan dari warga setempat juga sudah dikenal oleh beberapa desa tetangga terutama untuk seragam sekolah juga guru-gurunya, hal ini terjadi karena hasil jahitannya disukai oleh pelanggannya juga sangat sedikit pesaingnya.Ibu Karyati sehari harinya dibantu oleh seorang tenaga penjahit yang sudah dikader dari awal yang bekerja paruh waktu, hal ini disebabkan karena mesin jahit yang dimiliki hanya satu unit sehingga bergantian. Berdasarkan hasil survei dan penjelasan mitra diperoleh informasi bahwa mitra sering menolak pelanggan yang menginginkan selesai lebih cepat dari jadwal yang ditentukan oleh mitra karena harus antri. Dimusim tahun ajaran baru dan menjelang hari raya Idhul Fitri mengalami kesulitan karena pekerjaan yang menumpuk Masalah yang dihadapi Mitra yaitu: (1). Kurangnya mesin jahit, (2) Kurangnya kemampuan dalam managemen pengelolaan usaha. Memperhatikan permasalahan tersebut pengabdi memberikan solusi pengadaan mesin jahit serta memberikan pelatihan manajemen pengelolaan usaha. Dengan menggunakan mesin jahit yang dimiliki hanya satu unit rata-rata sehari hanya mampu menyelesaikan 3- 5 potong pakaian, setelah diberi bantuan satu mesin jahit dan diberi pelatihan managemen pengelolaan usaha yaitu dengan membuat jadwal antrian serta sistem pola kerja ibu karyati dapat menyelesaikan 15-20 potong pakaian, sehingga sangat membantu ekonomi keluarga dan hal ini masih bisa dikembangkan lebih besar lagi menjadi usaha konveksi