Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

ANALISIS KAPASITAS PENAMPANG TERHADAP BERBAGAI KALA ULANG BANJIR DI SUNGAI LOBONG, KECAMATAN TUTUYAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR Sahusilawane, Gravenno; Sumarauw, Jeffry S. F.; Tangkudung, Hanny
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 5 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Lobong di Bolaang Mongondow Timur pernah meluap dan membanjiri beberapa daerah yang dilewatinya yang mengakibatkan kerugian bagi warga yang tinggal disekitar sungai maupun pengguna jalan raya. Untuk mengantisipasi banjir yang akan terjadi, dibutuhkan studi mengenai kapasitas penampang sungai Lobong.Analisis dilakukan dengan mencari frekuensi hujan menggunakan metode Log Pearson III. Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan harian maksimum dari tahun 2010 s/d 2018 berasal dari pos hujan Buyat-Buyat. Data tahun 2009 diambil dari pos hujan terdekat yaitu Nuangan-Lanut. Setelah didapat besaran hujan, dilakukan pemodelan hujan aliran, simulasi debit banjir, debit puncak, serta simulasi tinggi muka air pada penampang yang telah diukur dilakukan dengan program komputer HEC-HMSHasil simulasi menunjukkan bahwa semua penampang sungai Lobong yang ditinjau, sudah tidak mampu menampung debit banjir yang terjadi untuk kala ulang 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun.Kata kunci: Kapasitas Penampang, Sungai Lobong, Kala ulang, Tinggi Muka Air, HEC-HMS.
PERENCANAAN SISTEM DRAINASE DI KAWASAN PUSAT KOTA AMURANG Laoh, Gabriela Lelli; Tanudjaja, Lambertus; Wuisan, Eveline M.; Tangkudung, Hanny
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 5 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKawasan pusat kota Amurang yang terletak di ibukota kabupaten Minahasa Selatan merupakan kawasan yang dipadati oleh fasilitas-fasilitas seperti pertokoan, rumah makan, pasar tradisional, hotel, bank termasuk pemukiman warga. Genangan air yang terjadi setiap kali turun hujan memberikan dampak yang negatif antara lain kerusakan jalan, serta terganggunya aktivitas warga di kawasan tersebut. Untuk menanggulangi masalah genangan yang sering terjadi perlu perencanaan sistem drainase yang baik di kawasan pusat kota. Untuk mengidentifikasi masalah genangan air, dilakukan observasi langsung di daerah penelitian, kemudian dilanjutkan dengan desain rencana tata letak sistem drainase. Dilakukan analisis hidrologi untuk mendapatkan debit rencana berdasarkan data curah hujan yang telah diperoleh,dilanjutkan dengan analisis hidrolika untuk mencari kapasitas eksisting saluran yang relevan dengan rencana tata letak sistem drainase. Tata letak rencana sistem drainase direncanakan dengan menentukan saluran interceptor di sisi selatan jalan trans Sulawesi terlebih dahulu sehingga pembebanan aliran dari luar lokasi penelitian tidak masuk ke lokasi tinjauan. Dari hasil analisis, perlu dilakukan perubahan tata letak sistem drainase. Terdapat 48 ruas saluran eksisting yang masih relevan dengan rencana tata letak sistem drainase dan 10 gorong- gorong yang masih sesuai. Untuk saluran eksisting, 9 ruas saluran tidak memenuhi sehingga dilakukan perubahan dimensi saluran. Sedangkan untuk gorong- gorong terdapat 4 ruas yang tidak memenuhi. Rekomendasi untuk saluran yang baru berjumlah 17 ruas dan 5 gorong- gorong. Kata kunci : analisis hidrologi, debit rencana, analisis hidrolika.
PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI DESA POOPO KECAMATAN RANOYAPO KABUPATEN MINAHASA SELATAN Leke, Sharon Grace; Wuisan, Eveline M.; Tangkudung, Hanny
JURNAL SIPIL STATIK Vol 5, No 1 (2017): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air adalah unsur penting dalam kelangsungan hidup semua mahluk. Warga Desa Poopo, menggunakan sumur sebagai sumber air bersih, namun pada musim hujan sumur warga menjadi keruh sedangkan pada musim kemarau sumur warga menjadi kering. Desa Poopo memliki potensi mata air, namun belum dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu perlu direncanakan suatu sistem penyediaan air bersih agar dapat memenuhi kebutuhan air penduduk.                        Sistem penyediaan air bersih di Desa Poopo direncanakan untuk memenuhi kebutuhan hingga tahun 2025. Untuk memprediksi jumlah kebutuhan air bersih maka digunakan proyeksi jumlah penduduk dengan analisis regresi.                                         Hasil survey dan analisis menunjukkan bahwa jumlah pertumbuhan penduduk Desa Poopo hingga tahun rencana 2025 adalah 1444 jiwa, dengan jumlah kebutuhan air bersih sebesar 1,453 liter/detik. Sumber air yang digunakan berasal dari mata air dengan debit sesaat sebesar ±5,3 liter/detik, lebih besar dari debit kebutuhan air. Dalam perencanaan ini untuk menangkap air dari mata air dibuat bronkaptering dan kemudian air dialirkan melalu pipa transmisi ke Bak Pelepas Tekan. Perpipaan dihitung dengan menggunakan persamaan Hazen-Williams dengan menggunakan pipa HDPE. Untuk melayani kebutuhan air bersih penduduk Desa Poopo sampai tahun 2025, dibutuhkan 15 Keran Umum Kata Kunci : Desa Poopo, Sistem Penyediaan, Kebutuhan Air
ANALISIS DEBIT BANJIR DAN TINGGI MUKA AIR SUNGAI TEMBRAN DI KABUPATEN MINAHASA UTARA Nadia, Kivani; Mananoma, Tiny; Tangkudung, Hanny
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 6 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Tembran di Kabupaten Minahasa Utara, melewati Desa Suwaan, Kecamatan Kalawat. Sungai Tembran juga melintasi kawasan pembangunan jembatan yang merupakan bagian dari jalan Tol Manado-Bitung, sehingga diperlukan perhitungan debit banjir dan elevasi tinggi muka air yang nantinya akan diperlukan pada perencanaan struktur jembatan tersebut.Analisis debit banjir dan elevasi tinggi muka air dilakukan dengan mencari frekuensi hujan dengan menggunakan metode Log Pearson III. Data hujan yang digunakan berasal dari dua pos hujan, yaitu pos hujan Kaleosan dan pos hujan Talawaan. Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan harian maksimum selama 10 tahun, yaitu dari tahun 2008 s/d 2017. Setelah diperoleh besaran curah hujan, pemodelan hujan aliran pada program komputer HEC-HMS menggunakan metode HSS Soil Conservation Services, dan untuk kehilangan air dengan SCS Curve Number (CN). Aliran dasar (baseflow) menggunakan metode recession. Dilakukan kalibrasi parameter HSS SCS sebelum melakukan simulasi debit banjir dengan menggunakan uji koefisien determinasi (r²). Dalam kalibrasi ini, parameter yang akan dikalibrasi adalah lag time, curve number, recession constant, baseflow dan ratio to peak. Batasan setiap parameter disesuaikan dengan nilai standar pada program komputer HEC-HMS. Hasil uji koefisien determinasi (r²) menunjukkan nilai 0,852. Analisis debit banjir dilakukan dengan parameter terkalibrasi menggunakan program komputer HEC-HMS. Debit puncak hasil simulasi setiap kala ulang dimasukkan dalam program komputer HEC-RAS untuk simulasi tinggi muka air pada penampang yang telah diukur. Hasil simulasi menunjukkan bahwa semua penampang Sungai Tembran yang ditinjau masih mampu menampung debit banjir yang terjadi untuk kala ulang 5 tahun, 10 tahun, 50 tahun dan 100 tahun. Kata kunci: Sungai Tembran, Debit Banjir, Tinggi Muka Air, HEC-HMS, HEC-RAS.
STUDI PERBANDINGAN ANTARA HIDROGRAF SCS (SOIL CONSERVATION SERVICE) DAN METODE RASIONAL PADA DAS TIKALA Palar, Ronaldo Toar; Kawet, Lingkan; Wuisan, Eveline M.; Tangkudung, Hanny
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 3 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DAS Tikala adalah bagian dari DAS Tondano dimana perubahan tata guna lahan dan kepadatan penduduk yang semakin meningkat, mengakibatkan erosi dan banjir. Kondisi limpasan yang sesungguhnya perlu dihitung untuk menganalisis kondisi tersebut.Metode Hidrograf SCS memperhitungkan faktor kelompok tanah, tata guna lahan serta kelembapan tanah. Sedangkan Metode Rasional memperhitungkan koefisien pengaliran, intensitas hujan dan luas daerah pengaliran dalam menghitung debit limpasan.Berdasarkan hasil analisis menyimpulkan kesimpulan dengan periode ulang yang digunakan ada perbedaan antara metode hidrograf SCS tanpa dimensi dengan Metode Rasional. Berdasarkan karakteristik DAS dan data-data yang tersedia, serta tataguna lahan pada kondisi saat pengamatan maka metode yang sesuai yaitu metode hidrograf SCS tanpa dimensi.Kata Kunci: Debit limpasan, Metode hidrograf SCS, Metode Rasional
PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI DESA SEA KECAMATAN PINELENG KABUPATEN MINAHASA Rottie, Risky Yohanes; Mananoma, Tiny; Tangkudung, Hanny
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 9 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Sea memanfaatkan mata air Kolongan dan mata air Beria sebagai sumber air bersih. Penyediaan air bersih di desa Sea masih ditangani secara berkelompok dengan sistem distribusi tidak tertata dengan baik, menggunakan pipa-pipa sederhana yang sebagian besar sudah rusak. Untuk itu perlu direncanakan pengembangan sistem penyediaan air bersih bagi masyarakat desa Sea. Sistem penyediaan air bersih yang dapat memenuhi kebutuhan air bersih di desa Sea sampai tahun 2033. Kebutuhan air bersih dihitung berdasarkan proyeksi jumlah penduduk menggunakan analisis regresi linear, logaritma dan eksponensial. Untuk merencanakan sistem perpipaan distribusi air bersih menggunakan program Epanet 2.0. Hasil perhitungan dengan menggunakan regresi linear diperoleh jumlah penduduk desa Sea sampai tahun 2033 berjumlah 12.572 jiwa dan kebutuhan air bersih mencapai 6,2860 liter/detik. Dalam perencanaan ini yang dimanfaatkan sebagai sumber air adalah mata air Beria karena debit sebesar 10,676 liter/detik mampu mencukupi kebutuhan air desa Sea. Pengembangan sistem penyediaan air bersih terdiri dari pipa transmisi berdiameter 4”. Dimensi reservoir distribusi 6 m x 5 m x 4,6 m. Sedangkan diameter pipa distribusinya bervariasi dimulai dari 1/2” sampai 3”. Kata kunci : Desa Sea, Kebutuhan Air, Sistem Penyediaan
PERENCANAAN SISTEM DRAINASE KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS SAM RATULANGI Pania, Hery Giovan; Tangkudung, Hanny; Kawet, Lingkan; Wuisan, Eveline M.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 3 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Universitas Sam Ratulangi merupakan salah satu universitas berkembang dan terbesar di Sulawesi Utara dengan visi menjadi excellent university di Indonesia. berdasarkan hasil observasi, dilapangan didapati bahwa sering terjadi genangan dan sedimentasi yang disebabkan kondisi sistem drainase eksisting tidak berfungsi dengan optimal. Setelah dianalisis, disusun rencana sistem jaringan baru yang bertolak dari kondisi eksisting dan permasalahan di lokasi penelitian. Dari fakta diatas dilakukan tinjauan terhadap masalah genangan dan sedimentasi di kawasan tersebut. Metode analisis yang diterapkan pada penulisan ini meliputi analisis hidrologi yang bertujuan menghitung debit rencana dengan menggunakan metode rasional dan analisa hidrolika untuk menghitung kapasitas debit saluran eksisting dan saluran baru. Kedua hasil ini dibandingkan (Qkaps>Qrencana) untuk melihat kemampuan dari setiap saluran. Berdasarkan hasil analisis, dari 50 ruas saluran dan 21 gorong-gorong eksisting, 35 ruas dan 11 gorong-gorong bisa dipertahankan, 15 ruas dan 10 gorong-gorong harus diperbesar dan perlu penambahan 11 saluran dan 4 gorong-gorong baru. Perencanaan sistem jaringan drainase yang baru menujukan bahwa permasalahan yang terjadi karena adanya sedimentasi dan berkurangnya kapasitas saluran akibat kondisi saluran drainase yang rusak. Perlu dilakukan pemeliharaan saluran berupa normalisasi saluran, pemasangan kisi-kisi penahan sampah, dan pembersihan saluran secara periodik. Kata kunci: Debit Rencana, Drainase Eksisting, Genangan
DESAIN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH DI KELURAHAN TINOOR Sulong, Marvil Fredrik; Mananoma, Tiny; Tanudjaja, Lambertus; Tangkudung, Hanny
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 2 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

System penyedian air bersih di Kelurahan Tinoor belum tertata dengan baik. Pada saat musim penghujan pipa saluran air mengalami kerusakan : tersumbat, bocor bahkan pecah yang diakibatkan oleh longsor pada daerah tebing yang dilalui oleh pipa. Distribusi hidran umum tidak sesuai dengan jumlah penduduk yang ada. Oleh sebab itu perlu peninjauan kembali atau perencanaan ulang sistem penyediaan air bersih, sehingga dapat memenuhi kebutuhan air penduduk. Dalam skripsi ini direncanakan sistem penyediaan air bersih di Kelurahan Tinoor hingga tahun 2031. Proyeksi jumlah penduduk menggunakan analisis regresi, sehingga diketahui jumlah penduduk pada tahun rencana guna memprediksi jumlah kebutuhan air bersih. Mencari sumber air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan merencanakan sistem penyediaan air yang dapat menyalurkan air secara merata ke seluruh penduduk yang ada di Kelurahan Tinoor. Dari survey dan analisis, jumlah pertumbuhan penduduk Kelurahan Tinoor hingga tahun rencana 2031 adalah 8113 jiwa, dengan jumlah kebutuhan air bersih sebesar 9 liter/detik. Dalam perencanaan ini sumber air berasal dari mata air Sapaa’ dengan debit sesaat sebesar ±100 liter/detik, lebih besar dari debit kebutuhan air. Dengan demikian kebutuhan air di Kelurahan Tinoor dapat terpenuhi. Dari hasil analisis, pipa utama yang dihitung secara manual menggunakan rumus Hazen-Williams didapat ukuran pipa 4 inch. Pipa distribusi dihitung dengan menggunakan program EPANET 2.0 didapat ukuran pipa yang bervariasi yaitu 3 inch, 2 inch, dan 1 inch.Kata kunci : Kebutuhan Air, Sistem Penyediaan, Air Bersih.
PERBANDINGAN PENURUNAN KONSOLIDASI Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 9, No 55 (2011): JURNAL TEKNO-SIPIL
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tulisan ini ditinjau tanah tiga lapisan dengan ketebalan total 14 meter. Tinjauan perhitungan penurunan konsolidasinya dilakukan pada setiap ketebalan 0,5 meter dan jarak drain vertikal yang ditinjau adalah pada 0,60 meter; 3,00 meter; 4,80 meter dan 6,00 meter dengan jari-jari drain yang sama yaitu 3 cm. Jadi n = R / r bervariasi sebagai berikut : 10, 50, 80 dan 100. Dari hasil tinjauan tiga dimensi terlihat setelah diplot ke grafik, ternyata asimtotis ke suatu garis horisontal yang bila dibandingkan dengan yang satu dimensi berbanding 2,2 : 1,0 (2,2 kali lebih besar penurunannya). Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa jika jarak drain diambil bervariasi untuk waktu t yang besar, hasilnya akan tetap menuju ke suatu harga yang relatif sama yang harga penurunannya Sc adalah 2,2 kali harga penurunan Sc untuk satu dimensi. Berdasarkan hasil tersebut, bisa disimpulkan tinjauan penurunan konsolidasi satu dimensi bisa digunakan untuk tiga dimensi dengan memakai faktor keamanan sebesar 2,2 atau lebih.Kata kunci : konsolidasi satu dimensi, konsolidasi tiga dimensi, faktor keamanan
ANALISIS NERACA AIR SUNGAI RANOWANGKO Dengo, Dzul Firmansah; Sumarauw, Jeffry S. F.; Tangkudung, Hanny
TEKNO Vol 14, No 65 (2016): JURNAL TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Ranowangko merupakan sungai yang menjadi sumber utama dalam memenuhi kebutuhan air di daerah sekitarnya. Potensi air sungai ini banyak digunakan untuk mengairi kawasan irigasi di daerah tersebut. Sementara itu ketersediaan air di sungai Ranowangko cenderung akan mengalami penurunan, sehingga dibutuhkan adanya suatu studi neraca air untuk melihat bagaimana keseimbangan antara ketersediaan air di sungai Ranowangko dan kemungkinan penggunaan serta kebutuhan air di daerah layanannya. Analisis ketersediaan dan kebutuhan air dilakukan pada dua titik tinjauan berdasarkan data-data yang tersedia, yaitu ; peta topografi, data hujan setengah bulanan, data klimatologi, data luas lahan irigasi, dan data debit. Ketersediaan air dihitung pada dua titik tinjauan menggunakan model NRECA sedangkan kalibrasi dilakukan pada data tahun 2013 dengan tingkat keakuratan yang dihitung menggunakan model Coefficition of Determination (R2) sebesar 0,75. Kebutuhan air dihitung dengan membuat sistem pola tanam dimana terdapat 3 musim tanam dalam satu tahun dan dilakukan sistem pengairan secara terus menerus. Hasil analisis neraca air menunjukkan bahwa terjadi kekurangan air di beberapa periode, diantaranya pada periode Juli II, Agustus I, September I, September II, Oktober II, November I, November II, dan Desember I pada titik tinjauan A serta periode September II, Oktober II, November I dan Desember I pada titik tinjauan B. Kata kunci : sungai Ranowangko, NRECA, kebutuhan air irigasi, neraca air