Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Agroteksos

Refleksi kemempanan sistem bedeng permenen dalam mitigasi kelangkaan air di tanah vertisol tadah hujan Lombok Selatan IGM. Kusnarta; Mahrup .; Sukartono .; M. Ma’shum
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 26 No 1 (2016): jurnal agroteksos 1 April 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem bedeng permanen (permanent raised beds) telah terbukti sebagai sebuah sistem penyiapan lahan pertanian untuk berbagai komoditas yang sensitif terhadap suasana kelebihan air (water logging). Penelitian lapangan di tanah Vertisol tadah hujan, bertipe iklim D4, yang didisain menurut rancangan Acak Kelompok berblok, mengungkap sebuah luaran (output) yang merefleksikan suatu kemempanan sistem tersebut dalam mitigasi kondisi kelangkaan air pada lahan tadah hujan dengan jenis tanah Vertisol. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi parameter kemampuan sistem bedeng permanen, seperti gejala kapiler, efisiensi pemakaian air (EPA) tanaman, dan hasil tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala kapiler pada sistem bedeng secara nominal mampu menurunkan potensial lengas tanah pada zone perakaran tanaman cabai merah, terjadi peningkatan EPA dan peningkatan hasil aktual cabai merah. Aplikasi mulsa jerami pada sistem bedeng permanen (P1) secara konsisten unggul dibandingkan perlakuan-perlakuan pupuk kandang (P2), jerami dan pasir (P3), maupun pupuk kandang dan pasir (P4). Indikasi kemempanan sistem bedeng yang diberikan jerami tercermin pada potensial lengas -0,384kPa, laju kenaikan kapiler 1,26 mm/menit, EPA 1,62 kg/m3 air, dan potensial hasil 5,66 ton/ha. Abstract Permanent raised beds technology has been proven to be an agricultural land preparation system for various commodities that are sensitive to the water logging condition. Field research on rainfed vertisol with the climate type of D4, which is designed according to the Randomized block, revealing an outcome that reflects the mitigation of water scarcity conditions in rainfed vertisol. The purpose of this research is to identify some parameters that indicate the capabilities of permanent raised beds in mitigation of water scarcity, such as capillary rise, crop water use efficiency (WUE), as well as crop yield. The results showed that the capillary raise in the permanent raised beds technology could nominally lowering the soil moisture potential of the root zone of red pepper, increased WUE and increase the actual yield of red pepper. Straw mulch application on permanent raised beds (P1) is consistently superior to application of manure (P2), straw plus sand (P3), and manure plus sand (P4). The effectiveness of permanent raised beds system appear under rice straw application that resulted in soil water potential of -0,384kPa, the rate of capillary rise of 1.26 mm/min, WUE of 1.62 kg/m3, and the potential yield of 5.66 tones/ha.
PEMANFAATAN KOMPOS DAN BIOCHAR SEBAGAI BAHAN PEMBENAH TANAH LAHAN BEKAS PENAMBANGAN BATU APUNG DI PULAU LOMBOK Sukartono (1; uwardji (2; Ridwan (3
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 25 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 2 Agustus 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.982 KB)

Abstract

Abstrak Meluasnya aktifitas penambangan batu apung di Pulau Lombok berpengaruh terhadap penurunan kualitas tanah, yang diindikasikan oleh rusaknya struktur tanah, rendahnya status hara N, P dan K , menurunnya kandungan bahan organik tanah dan keragaman hayati. Tanah yang telah terdegradasi ini membutuhkan pembenahan secara khusus. Pembenah organik yakni kompos dan biochar merupakan bahan pembenah yang potensial dalam memperbaiki kesuburan tanah terdegradasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian kompos dan biochar terhadap perbaikan sifat fisik dan kimia tanah dari lahan bekas penambangan batu apung. Percobaan dilaksanakan di rumah kaca dan laboraturium Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram, sejak bulan September sampai Desember 2014, menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis pembenah organik yakni kompos (P1), biochar (P2) dan campuran kompos dan biochar (P3). Faktor kedua adalah takaran pembenah yakni 200 g/10 kg tanah (B1) dan 600 g/10 kg tanah (B2). Perlakuan tersebut ditata secara faktorial dan masing-masing kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pembenah organik berpengaruh terhadap peningkatan C-organik tanah. Tanah yang diperlakukan dengan biochar memiliki nilai C-organik yang lebih tinggi dari pada pembenah lainnya. Takaran pembenah organik juga berpengaruh nyata terhadap pH, C-organik dan KTK. Meskipun demikian, tidak ada interaksi antara jenis dan takaran bahan pembenah terhadap variable tanah dan tanaman. Pemberian biochar relatif lebih mampu meningkatkan kemampuan tanah menahan air dibandingkan dengan kompos dan campuran kompos dan biochar. Lombok caused severe soil degradation including soil structure deteoration, declining of major nutrients in particular N,P and K, loss of soil organic matter and soil biodiversity. Compost and biochar are potential organic amendments to remediate degraded soils. This study was conducted to evaluate effect of compost and biochar on improving soil properties of degraded pumice stone mining land. A glass house and laboratory experiment using soil sample from degraded land of norther Lombok was conducted in Faculty of Agriculture, University of Mataram commencing from September to December 2014 using a factorial of completly randomized design (CRD). The first was type of organic amendments namely compost (P1), biochar (P2) and compost mixed with biochar as P3.The second factor was the concentration of organic amenment including 200g/10kg of soil (B1) and 600 g/10kg of soil (B2). The results showed that application of biochar increased soil organic-C in which the value of organic-C was significantly higher at biochar treated-soils compared to other amendments. Application rates of organic amendements also increased soil pH, organic-C, and CEC. There was no interaction of types of organic amendments against its rates observed at soil and agronomic variables. Thus, biocha applied in degraded soil of pumice mining land could also improved soil water holding capacity.
APLIKASI BIOCHAR DAN PUPUK ORGANIK SUPERGANIK YANG DIPERKAYA DENGAN HARA MIKRO Fe DAN Zn TERHADAP PERTUMBUHAN JAGUNG Baharuddin (1; Tejowulan (2; Sukartono (3
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 26 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 3 Desember 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.631 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) mengetahui tanggapan tanaman jagung terhadap pemberian pupuk organik yang diperkaya dengan unsur mikro Fe dan Zn dan (2) mengetahui takaran optimum hara mikro Fe dan Zn sesuai jenis bahan /pupuk organik yang diberikan. Target yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah diharapkan dapat dirakit bahan pupuk organik plus ( pupuk organik yang diperkaya dengan unsur hara mikro Fe dan Zn berdasarkan kekahatannya). Untuk mencapai sasaran yang diharapkan dilaksanakan penelitian dengan desain faktorial 2x8 yang ditata secara acak lengkap.yang dilaksanakan di Rumahkaca Fakultas Pertanian Unram, menggunakan tanah Inseptisol berkadar bahan organik rendah dan kahat hara mikro Fe dan Zn. Faktor pertama adalah jenis bahan pupuk organik, yaitu Arang Hayati (Biochar) dan Pupuk Superganik. Faktor kedua adalah dosis hara mikro (Fe – Zn) yang terdiri atas 8 taraf: (0-0, 5-0, 0-5, 5-5, 10-0, 0-10, 5-10, dan 10-5 kg Fe-Zn per-ha), sehingga seluruhnya ada 16 kombinasi perlakuan yang dilaksanakan dalam 3 ulangan. Variabel tanah yang dikaji adalah: C-organik, pH, KTK, kadar hara P, Fe, dan Zn. Variabel tanaman meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun, serta bobot kering tanaman. Data agronomis dianalisis dengan analisis varians (anova) dan beda rata-rata perlakuan dibandingkan dengan uji BNJ pada taraf nyata 5%. Kemanjuran (keefektifan) penggunaan bahan pupuk organik dikaji berdasarakan nilai persentase peningkatan pertumbuhan pada setiap perlakuan pengayaan unsur hara mikro Fe-Zn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang hayati (Biochar) dan pupuk organik Superganik nyata mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung. Pupuk organik Superganik lebih manjur (efektif) daripada arang hayati dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung. Pengayaan arang hayati dengan 10 kg Zn/ha tanpa Fe dapat meningkatkan bobot brangkasan kering sebesar 22 % dan pengayaan pupuk organik Superganik dengan dosis hara mikro yang sama dapat meningkatkan bobot brangkasan kering sebesar 19%. ABSTRACT The research was aimed to find out the response of maize growth on the application of charcoal and organic fertilizers (Superganik) as a result of Fe and Zn added ; and to determine the optimum doses for maize growth. The experiment was designed according to a Complatelely Randomized Design, which consisted of two factors and was arranged in a factorial. The first factor was two levels of organic fertilizers, that were Charcoal and Superganic Organic Fertilizer, and the second factor were micronutrients (Fe and Zn), which consisted of eight levels, namely : (0 – 0 ; 5 – 0 ; 0 – 5 ; 5 - 5 ; 10 – 0 ; 0 – 10 ; 5 – 10 and 10 – 5) kg Fe-Zn ha-1, respectively. Each treatment was replicated three times, therefore 16 combination treatments were obtained. Data collected were analysed by using analysis variance at 5% of significant level. The effectiveness of organic fertilizers used were calculated by the value of percentage growth. The soil variables observed were organic carbon, pH, CEC, P, Fe and Zn cocentration. In addition, plant variables were plant height, the number of leaves and shoot dry weight. The results of this study indicated that, charcoal and organic fertilier superganic had significant effect on the growth of maize. Moreover, superganic was more effective compared with those of charcoal, and the enrichment of micronutrients Fe and Zn had positive influence on the effectiveness of organic fertilizers. The addition of 10 kg Zn-1 ha without Fe on charcoal had increased shoot dry weight by 22%, and by 19% on Superganic organic fertilizer.