Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : jmtss

KAJIAN TINGKAT KENYAMANAN FISIK RUANGAN BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA (STUDI KASUS GEDUNG FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS SAMUDRA) Efrinton Sihotang; nova purnama; haikal fajri
Jurnal Media Teknik Sipil Samudra Vol 7 No 1 (2026): April 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik. Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenyamanan fisik ruangan memiliki peran penting dalam mendukung efektivitas kegiatan pembelajaran dan aktivitas kerja di lingkungan perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan fisik ruang kuliah dan ruang kerja di Gedung Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Samudra berdasarkan pengukuran kondisi fisik ruangan serta persepsi pengguna. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui pengukuran langsung di lapangan serta penyebaran kuesioner kepada pengguna ruangan. Parameter yang dianalisis meliputi aspek spasial ruang, suhu udara, kelembapan udara, sirkulasi udara, tingkat pencahayaan, dan tingkat kebisingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas ruang kuliah berkisar antara 33–79,6 m² dengan rasio luas per pengguna 1,37–2,2 m², sedangkan ruang kerja berkisar antara 15–34 m² dengan rasio 2,67–15 m² per pengguna. Suhu udara ruang kuliah berada pada kisaran 28,71–29,96 °C dan ruang kerja 26,68–28,91 °C dengan kelembapan udara 52,2–84,1%, yang sebagian berada di luar rentang kenyamanan berdasarkan standar SNI. Tingkat pencahayaan berkisar antara 89,2–1.133 lux pada ruang kuliah dan 92,6–1.124 lux pada ruang kerja, sementara tingkat kebisingan berkisar antara 23,317–50,329 dBA dan masih berada di bawah ambang batas standar. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebagian besar aspek kenyamanan berada pada kategori cukup hingga nyaman, namun beberapa ruang masih memerlukan perbaikan terutama pada aspek ventilasi, suhu udara, serta penataan ruang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan luas efektif ruang, kepadatan pengguna, serta sistem ventilasi dan penghawaan yang belum optimal menjadi faktor utama yang memengaruhi tingkat kenyamanan fisik ruangan.
PENILAIAN KERENTANAN SEKTOR KONSTRUKSI PASCA BENCANA BANJIR SEBAGAI DASAR STRATEGI PENGURANGAN RISIKO BENCANA GEMPA BUMI DI KOTA LANGSA, ACEH Ari Juanda; rajib muammar; arissa sabilla; haikal fajri
Jurnal Media Teknik Sipil Samudra Vol 7 No 1 (2026): April 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik. Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Langsa City, Aceh, is an area prone to both flooding and earthquakes. Recurrent flooding can deteriorate building conditions, including foundation damage, wall cracking, material degradation, and reduced structural performance, which may increase vulnerability to future earthquake events. This study aims to assess the vulnerability of the construction sector following flood disasters as a basis for developing earthquake risk reduction strategies in Langsa City. A descriptive qualitative approach was employed using field observations and in-depth interviews. The collected data were analyzed through thematic analysis based on three dimensions: technical, socio-cultural, and political-economic aspects. The findings reveal that construction sector vulnerability in Langsa City is multidimensional. From the technical aspect, vulnerability is associated with material deterioration, wall cracks, and inadequate drainage systems. From the socio-cultural aspect, limited public awareness of earthquake-resistant construction practices and reliance on traditional building experience contribute to increased vulnerability. From the political-economic aspect, financial constraints, unequal distribution of rehabilitation assistance, and weak construction oversight further exacerbate risks. The study concludes that reducing earthquake vulnerability in post-flood areas requires integrated efforts, including structural strengthening, drainage improvement, community education on disaster-resilient construction, and the incorporation of flood and earthquake risk considerations into local development policies.