Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Matematika

ANALISIS MODEL MATEMATIKA UNTUK PENYEBARAN VIRUS HEPATITIS B (HBV) Devi Larasati; Redemtus Heru Tjahjana
Jurnal Matematika Vol 1, No 1 (2012): jurnal matematika
Publisher : MATEMATIKA FSM, UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.411 KB)

Abstract

Infeksi Virus Hepatitis B (HBV) dapat dimodelkan dengan menggunakan model Suspected, Infected, dan Recovered (SIR). Persamaan-persamaan pada model merupakan sistem persamaan diferensial nonliner orde satu dengan tiga variabel.  Dari model SIR didapat 2 titik kesetimbangan yaitu titik kesetimbangan bebas penyakit dan titik kesetimbangan endemik virus. Rasio reproduksi dasar didapat dari dua titik kesetimbangan, yang berguna untuk mengukur tingkat penyebaran virus. Untuk menganalisis kestabilan digunakan nilai Eigen dari matriks Jacobian dan Kriteria Routh-Hurwitz. Dari analisis kestabilan diketahui titik kesetimbangan bebas penyakit stabil jika R0<1 dan titik kesetimbangan endemik virus stabil jika R0>1 .
ANALISIS MODEL ANTRIAN PADA PADEPOKAN SILATURAHMI SEMARANG Minarsih Minarsih; Heru Tjahjana
Jurnal Matematika Vol 2, No 1 (2013): JURNAL MATEMATIKA
Publisher : MATEMATIKA FSM, UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakProses antrian adalah suatu proses yang berhubungan dengan kedatangan seorang pelanggan pada suatu fasilitas pelayanan, kemudian menunggu dalam suatu baris (antrian) apabila semua pelayannya sibuk, dan akhirnya meninggalkan fasilitas tersebut setelah memperoleh pelayanan. Proses antrian dapat terjadi dimana saja, termasuk di Padepokan Silaturahmi Semarang. Padepokan Silaturahmi pada waktu-waktu tertentu dihadapkan pada situasi dimana pasien yang datang tidak dapat dilayani secara langsung sehingga pasien harus menunggu dan terjadi penumpukan pasien. Oleh karena itu, diperlukan penerapan teori antrian pada sistem pelayanan di Padepokan Silaturahmi. Dari hasil analisis, model antrian yang digunakan di Padepokan Silaturahmi adalah Multi Channnel Single Phase dimana sistem antrian yang terdapat pada tahap pembekaman untuk laju kedatangan berdistribusi Poisson dan laju pelayanan berdistribusi Eksponensial. Model antrian terbaik pada sistem pelayanan Padepokan Silaturahmi yaitu (M/M/2) : (GD/∞/∞) untuk hari Senin sampai dengan Minggu.Kata kunci : Proses antrian, sistem antrian, model antrian, Padepokan Silaturahmi.
Perbandingan Performansi Sistem Suspensi Aktif Bus Menggunakan Linear Quadratic Regulator dan Proportional Integral Derivative Siti Kholifah; R. Heru Tjahjana
Jurnal Matematika Vol 1, No 1 (2012): jurnal matematika
Publisher : MATEMATIKA FSM, UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenyamanan, ketahanan dan keamanan saat berkendara merupakan hal yang berkaitan erat dengan sistem suspensi kendaraan. Seperti pada bus yang merupakan alat transportasi masal, diperlukan sistem suspensi yang baik demi kenyamanan penumpang dan pengemudi. Sistem suspensi bus harus dapat meminimalkan defleksi, terutama saat melintas jalan yang tidak rata dan rusak. Sistem suspensi aktif merupakan salah satu alternatif untuk mendapatkan sistem suspensi yang optimal. Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem suspensi aktif pada model seperempat bus dengan membandingkan hasil dari kontrol optimal LQR dan kontrol PID. Perancangan sistem kontrol optimal dan simulasi respon dari sistem suspensi dilakukan dalam software MATLAB. Defleksi sistem suspensi aktif dengan skema LQR memiliki nilai puncak 0.0668, 0.0143 dan 0.0530 meter, dengan waktu mantap masing-masing 2.4791, 0.2645 dan 0.7916 meter. Sedangkan melalui skema PID nilai puncaknya berada pada 0.0660, 0.0067 dan 0.0640 meter dengan waktu mantap masing-masing 1.0506, 0 dan 0.6756 detik. Dengan gangguan jalan yang tidak rata sistem suspensi aktif dengan kontrol PID menghasilkan nilai defleksi yang lebih rendah dibandingkan kontrol optimal LQR pada badan bus dan daerah kerja sistem. SehinggaPID memberikan tingkat kenyamanan dan ketahanan yang relatif lebih baik. Sedangkan nilai defleksi pada roda pengendali LQR lebih rendah sehingga memberikan keamanan yang lebih baik.