Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENGUATAN MODERASI BERAGAMA MELALUI PEACE EDUCATION GUNA MEWUJUDKAN JURNALISME DAMAI Sidik Permana; Mursyid Setiawan
Jurnal Soshum Insentif Vol 4 No 2 (2021): Vol 4 No 2 (Oktober, 2021): Jurnal Soshum Insentif
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36787/jsi.v4i2.598

Abstract

Abstract - Diversity is a necessity that cannot be separated from human life. In order to maintain the harmony of life in this diversity, peace must be fought for by all parties, one of which is through peace education. The goal of peace education is to produce people who are wise and able to position themselves through a process of strengthening moderation. This research is based on Johan Galtung's thoughts with his concept of "peace" and "violence" which is a reference for the creation of resolution and post-conflict. This research uses qualitative methods with literature studies through various reference sources, both from books, journals, official websites, and so on. The implementation of Johan Galtung's thoughts in peace education is expected to foster self-discipline and produce individuals who are not only able to interpret peace, create conflict resolution, are able to position themselves in every problem, but also lead to a transformative and lasting peace, without ignoring the presence of violence that will lead to peace. always present as peace is born. This is what is currently needed, especially for the world of journalism which is closely related to the flow and battle of information. With this peace education, it is hoped that a journalist can make decisions to produce journalistic work that is able to reconcile, be balanced, and even become a solution effort to produce transformation and conflict resolution. Abstrak – Keberagaman merupakan keniscayaan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Guna menjaga keharmonisan hidu dalam keberagaman tersebut, perdamaian harus diperjuangkan semua pihak, salah satunya melalui peace education (pendidikan damai). Tujuan dari peace education melahirkan insan yang bijaksana dan mampu memposisikan diri melalui proses penguatan moderasi. Penelitian ini bertitik tolak pada pemikiran Johan Galtung dengan konsep “peace” dan “violence”-nya yang menjadi rujukan bagi terciptanya resolusi dan pasca konflik. Riset ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka melalui berbagai sumber referensi, baik dari buku, jurnal, laman resmi, dan sebagainya. Implementasi pemikiran Johan Galtung dalam peace education ini diharapkan menumbuhkan kebijaksanaan diri dan melahirkan individu yang tidak hanya mampu memaknai kedamaian, menciptakan resolusi konflik, mampu memposisikan diri dalam setiap problematika, tetapi juga membawa ke arah kedamaian yang transformatif dan abadi, tanpa mengabaikan kehadiran kekerasan yang akan selalu hadir seiring perdamaian terlahir. Hal itulah yang saat ini dibutuhkan, terlebih bagi dunia jurnalistik yang erat kaitannya dengan arus dan pertarungan informasi. Dengan peace education ini, diharapkan seorang jurnalis dapat mengambil keputusan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang mampu mendamaikan, berimbang, bahkan menjadi upaya solutif untuk menghasilkan transormasi dan resolusi konflik.
A Model of Community Defending Public Awareness Development in the Bandung City Mursyid Setiawan; Cecep Darmawan
Journal of International Conference Proceedings (JICP) Vol 3, No 1 (2020): Proceedings of the 6th International Conference of Project Management (ICPM) Mal
Publisher : AIBPM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32535/jicp.v2i4.792

Abstract

The purpose of this study is to determine the model of fostering awareness of national defense for society in the Bandung city. The findings showed that the efforts to foster awareness of national defense for the society in Bandung used the pentahelix model which involved several elements, such as; government, academia, the business world, society, and media. Efforts to foster awareness of public defense were carried out through defending education and state training programs, then state defense action programs organized by Bandung National Unity and Politics Agency. The result of the process in fostering awareness of the defense of the state was the embedded values of the basic defense in every society. The implications of this research were each element incorporated in the pentahelix model continues to synergize and collaborate in shaping and fostering the awareness of the defense in the public state.
PENDIDIKAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM MEWUJUDKAN NEGARA YANG BERKETUHANAN YANG MAHA ESA Permana, Sidik; Setiawan, Mursyid
Jurnal Soshum Insentif Vol 5 No 2 (2022): Jurnal Soshum Insentif
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36787/jsi.v5i2.767

Abstract

Krisis akhlak sedang melanda bangsa Indonesia hari ini. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, yang sejatinya sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kurang diindahkan dan cenderung diabaikan. Guna menanggulangi masalah tersebut, maka Pendidikan Kewarganegaraan mendapatkan peranan penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Penelitian ini berlandaskan pada metode kualiatif dengan studi literatur sebagai basis data. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pendidikan akhlak, memuat poin-poin penting dalam mewujudkan karakter kebangsaan, khususnya dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yakni masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Oleh karena itu, Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pendidikan akhlak mesti direalisasikan, khususnya diinstitusi pendidikan, demi meminimalisir kerusakan dan menanggulangi problematika akhlak dan moralitas. Harapannya, cara ini mampu mewujudkan negara yang menjalankan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa secara konsisten dan bertanggung jawab
UPAYA UPAYA PENDIDIKAN RESOLUSI KONFLIK DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA SEKOLAH Permana, Sidik; Setiawan, Mursyid
Jurnal Soshum Insentif Vol 6 No 2 (2023): Jurnal Soshum Insentif
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36787/jsi.v6i2.1093

Abstract

Remaja berpotensi melahirkan tindakan kejahatan atau dikenal sebagai kenakalan remaja. Oleh sebab itu, pencegahan dan penanganannya perlu diupayakan, salah satunya melalui pendidikan resolusi konflik. Hal itu bertujuan tidak hanya memberikan edukasi dalam penanganan konflik, bagi anak yang berhadapan (konflik) dengan berbagai persoalan, misalnya hukum, juga sebagai upaya dalam meminimalisir kenakalan remaja. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur. Pendidikan resolusi adalah tanggung jawab semua pihak, tidak hanya institusi formal. Pihak-pihak tersebut mesti memperhatikan aspek-aspek penanganan dalam pendidikan resolusi konflik, diantaranya: 1) no emphaty; 2) no collaborative; 3) no conflict resolution intelligence; 4) no social intelligence; 5) no skill persoanl; dan, 6) using force/violence. Sehingga, fokus dalam pendidikan resolusi konflik adalah mengasah kecerdasan sosial dan penyelesaian masalah, meningkatkan kemampuan mendesain resolusi konflik, dan mendapatkan pengetahuan konflik secara positif. Melalui pendidikan resolusi konflik diharapkan individu dapat mempelajari dan mengatasi konflik yang dialami, serta mampu meningkatkan kualitas berpikir dalam menghadapi situasi konflik, khususnya dalam persoalan kenalakan remaja.
Construction of Personal Branding of Ceu Popong as a Sundanese Woman Politician through Television Media Setiawan, Mursyid
Jurnal Civicus Vol 23, No 2 (2023): JURNAL CIVICUS, DECEMBER 2023
Publisher : Department of Civic Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/civicus.v23i2.60089

Abstract

The formation of personal branding has become one of the most important political communication strategies for shaping the image of a politician. One of them is Popong Otje Djundjunan, often known as Ceu Popong. One of the ways to establish Ceu Popong's personal branding as a female politician is through television media, namely the Ngawangkong Sareng Ceu Popong program on INews Bandung television station. This study aims to analyze the construction of Ceu Popong's personal branding as a Sundanese female politician through television media. The analysis was carried out based on eight aspects of personal branding identified by Peter Montoya and Tim Vandehey (2002). A qualitative approach and case study method are used in this research. Data were collected using interviews, observation, and documentation studies. The results showed that Ceu Popong's personal branding as a female politician was formed through one of the INews Bandung television programs, namely Ngawangkong Sareng Ceu Popong. Eight aspects of personal branding, starting with specialization, leadership, personality, distinctiveness, visibility, unity, persistence, and goodwill, have been formed in Ceu Popong when presenting the television program. The formation of personal branding through television media has constructed the Ceu Popong brand as a female politician who is attached to Sundanese cultural values.
Corruption in the education sector in Indonesia: Reality, causes, and solutions Sidik Permana; Mursyid Setiawan
Integritas: Jurnal Antikorupsi Vol. 10 No. 2 (2024): INTEGRITAS: Jurnal Antikorupsi
Publisher : Komisi Pemberantasan Korupsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32697/integritas.v10i2.1326

Abstract

Corruption within Indonesia’s education sector ranks among the most frequently identified and prosecuted cases by the Corruption Eradication Commission (KPK). Education itself is a vital sector for human resource development; therefore, corruption within it poses a direct threat to the development process. This concern forms the foundation for this study, which aims to analyze the current realities, causes, and solutions to address corruption in Indonesia’s education sector. The findings of this article may serve as strategies to mitigate and prevent potential corruption within this critical sector. This study employs a literature review with a qualitative approach, drawing primarily on data from books, journals, institutional reports, accredited websites, and other relevant documents. Data analysis was conducted after compiling and reviewing various literature sources, from which insights and conclusions were derived. The results reveal a pervasive corruption problem in the education sector, supported by diverse data points. The causes of corruption are multifaceted, encompassing personal motives, societal and cultural influences, weak law enforcement and oversight, government negligence, and inadequate institutional management. Consequently, the proposed solutions are categorized into three dimensions: individual/personal, environmental/cultural, and institutional.
Pendidikan Kewarganegaraan dan Problematika Hak Asasi Manusia Pada Institusi Kepolisian dalam Kehidupan Politik Demokratis di Indonesia Setiawan, Mursyid; Novian, Rayhan Musa
Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan Vol 11, No 1 (2025): Vol 11, No 1 (2025): (Mei) Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/jipp.v11i1.14666

Abstract

AbstrakAbstrak: Isu pelanggaran hak asasi manusia menjadi salah satu problematika utama yang menuai sorotan publik terhadap institusi kepolisian, terutama dalam konteks peran strategisnya sebagai alat negara dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Kondisi ini memperkuat urgensi terkait pendidikan yang berbasis hak asasi manusia penting untuk dilakukan guna memperkuat kapasitas dan kompetensi hak asasi manusia bagi para personel polisi. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran pendidikan kewarganegaraan dalam mengatasi problematika hak asasi manusia yang menimpa institusi kepolisian. Metode deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi literatur digunakan untuk mengkaji fokus permasalahan penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kewarganegaraan berkontribusi dalam memperkuat pemahaman, sikap, keterampilan, dan nilai-nilai hak asasi manusia bagi para personel polisi. Kompetensi-kompetensi tersebut menjadi kunci dalam membangun kultur institusi kepolisian yang lebih berorientasi pada hak asasi manusia dalam kehidupan politik demokratis. Implikasinya, diperlukan perubahan pendekatan dalam proses pendidikan di kepolisian dari yang bersifat militeristik menuju suasana pembelajaran yang demokratis dan berbasis hak asasi manusia, sebagai bagian dari reformasi kelembagaan dalam sistem politik dan pemerintahan yang lebih responsif terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia.Kata Kunci: hak asasi manusia; demokrasi; politik; polisi; pendidikan kewarganegaraan.
Penguatan Political Awareness and Literacy Era Digital sebagai Wujud Bela Negara Pemuda Kabupaten Subang Darmawan, Cecep; Anggraeni, Leni; Setiawan, Mursyid; Nugraha, Dadi Mulyadi; Rustandi, Apriya Maharani; Setiawan, Agung
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/jpkm.v5i2.3674

Abstract

Kesadaran dan literasi politik pemuda di era digital menghadapi tantangan serius akibat maraknya hoaks dan disinformasi melalui media sosial serta rendahnya literasi digital masyarakat. Kondisi ini menuntut adanya upaya strategis untuk meningkatkan kesadaran dan literasi politik generasi muda sebagai wujud bela negara. Program pengabdian ini bertujuan mengkaji dampak pelatihan POLARIS (Political Awareness and Literacy) berbasis teknologi dalam memperkuat pemahaman politik pemuda di Kabupaten Subang. Metode yang digunakan adalah Participation Action Research (PAR) melalui tahapan pelatihan, diskusi, dan refleksi partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya kesadaran politik di era digital serta peserta memiliki kemampuan mengidentifikasi literasi politik yang relevan bagi pemuda saat ini. Kegiatan ini disimpulkan mampu menumbuhkan kesadaran politik dan literasi digital pemuda secara signifikan. Implikasi program ini adalah perlunya program pengembangan yang berkelanjutan di sekolah, masyarakat, dan organisasi kepemudaan untuk membangun generasi yang memiliki kesadaran dan literasi politik di era digital sebagai wujud bela negara.
Inovasi Bela Negara di Era Digital Melalui Program Kopoli-Smart Bagi Pemuda Kabupaten Subang Darmawan, Cecep; Setiawan, Mursyid; Syaifullah, Syaifullah; Wahyuni Tanshzil, Sri; Anggraeni, Leni
Jurnal Pengabdian Inovasi Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 2b (2025): Edisi khusus Dies Natalis Universitas Mataram
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/h4nn7f53

Abstract

Di era globalisasi dan kemajuan teknologi, kompetensi kecerdasan politik menjadi kunci bagi partisipasi aktif dalam kehidupan sosial politik. Melalui program Pelatihan KOPOLI-SMART berbasis teknologi, bertujuan untuk membentuk kompetensi kecerdasan politik generasi muda di Kabupaten Subang sebagai wujud bela negara di tengah ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan di era digital. Metode pelatihan ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan proses pelatihan, diskusi, serta refleksi secara partisipatif. Hasil pelatihan menunjukkan adanya pemahaman kompetensi kecerdasan politik yang ditunjukkan oleh kemampuan peserta mengidentifikasi pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai politik yang harus dimiliki oleh generasi muda. Di samping itu, para peserta pun mampu memahami peran penting media sosial sebagai wahana pendidikan politik bagi generasi muda di era digital. Dampaknya ialah meningkatnya kesadaran kritis dan partisipasi aktif generasi muda dalam kehidupan sosial politik, terutama dalam memanfaatkan media sosial secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab sebagai sarana bela negara di era digital.
Peningkatan Kesadaran Moral Mahasiswa Melalui Implementasi Board Game Edukatif Berbasis Etika Pancasila Dadi Mulyadi Nugraha; Imas Kurniawaty; Mursyid Setiawan; Avissa Nafhan Yasmin; Anggita Putri Ramadhani; Laura Barozial Amry Rosyada; Akmal Hakim
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i1.6831

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran moral mahasiswa melalui implementasi board game edukatif berbasis etika Pancasila dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Objek penelitian adalah mahasiswa semester satu pada salah satu perguruan tinggi. Penelitian menggunakan metode penelitian dan pengembangan dengan model Borg and Gall serta desain pra-eksperimental melalui rancangan One-Group Pre-test Post-test Design untuk menguji efektivitas produk. Instrumen penelitian berupa kuesioner kesadaran moral yang diberikan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media board game edukatif efektif meningkatkan kesadaran moral mahasiswa, ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata skor dari pre-test ke post-test serta hasil uji statistik yang menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah penggunaan media. Pembelajaran menggunakan board game mampu menciptakan pengalaman belajar interaktif dan reflektif yang mendorong mahasiswa untuk menganalisis dilema moral, berdiskusi, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai Pancasila. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa media board game edukatif berbasis etika Pancasila dapat menjadi alternatif pembelajaran inovatif dalam menginternalisasikan nilai moral dan memperkuat implementasi Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi.