Dian Tjahyadi
Department Of Obstetric And Gynaecology, Faculty Of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Indonesian Version of the Chapron’s Screening Method for Endometriosis Diagnosis based on Questionnaire as a Tool for Better Endometriosis Screening in Indonesia Hendrana, Aisyah Riseta Aini; Tjahyadi, Dian; Bayuaji, Hartanto; Rachmawati, Anita; Prasetyo, Nogi Eko; Djuwatono, Tono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.890

Abstract

Objective: This study aims to translate, develop, and assess the validity and reliability of the Indonesian version of Professor Chapron’s screening method for endometriosis diagnosis based on the questionnaire as a tool for better endometriosis screening in Indonesia.Methods: Development of the questionnaire using 5 steps: translation, synthesis, back translation, expert committee review, and pretesting by involving language expert and subject expert. The analysis includes the validity and reliability of the questionnaire.Results: A sample of 30 subjects was enrolled. The questionnaire was consist of 3 sections, including characteristic patient questions, yes or no questions (8 questions), and pain scale questions (5 questions). Of the 8 yes or no questions, 7 were valid (r >0.300), and one question was not valid (r<0.300). The yes or no questions were reliable (Cronbach’s alpha 0.6968). All of the 6 pain scale questions were valid (r>0.300) and reliable (Cronbach’s alpha 0.790).Conclusion: This study represent the Professor Chapron’s questionnaire for endometriosis screening into another language (Bahasa) than the original. It showed that the questionnaire was reliable, and one question was not valid (removed from the questionnaire). The questionnaire can be used in Indonesia for screening method in Indonesia.Versi Indonesia dari Kuesioner Chapron untuk Metode Skrining dalam Diagnosis Endometriosis sebagai Alat Skrining Endometriosis di IndonesiaAbstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menerjemahkan, mengembangkan, dan menilai validitas dan reliabilitas versi bahasa Indonesia dari metode Skrining Professor Chapron berdasarkan kuesioner, sebagai alat untuk skrining endometriosis yang lebih baik di Indonesia.Metode: Pengembangan kuesioner menggunakan 5 langkah: penerjemahan, sintesis, penerjemahan balik, telaah komite ahli, dan pra-uji dengan melibatkan ahli bahasa dan ahli subjek. Analisis yang dilakukan yaitu uji validitas dan reliabilitas kuesioner.Hasil: Sampel penelitian sebanyak 30 orang. Kuesioner terdiri atas 3 bagian, yaitu pertanyaan karakteristik pasien, pertanyaan ya atau tidak (8 pertanyaan), dan pertanyaan skala nyeri (5 pertanyaan). Sebanyak 7 pertanyaan ya atau tidak, hasilnya valid (r>0,300) dan 1 pertanyaan tidak valid (r<0,300). Pertanyaan ya atau tidak hasilnya reliabel (Cronbach’s alpha 0,6968). Semua pertanyaan skala nyeri hasilnya valid (r>0,300) dan reliabel (Cronbach’s alpha 0,7900).Kesimpulan: Penelitian ini mengembangkan serta menilai validitas dan reliabilitas kuesioner Professor Chapron untuk skrining endometriosis dalam versi bahasa Indonesia. Kuesioner ini reliabel dengan 1 pertanyaan tidak valid (dihilangkan dari kuesioner). Kuesioner ini dapat digunakan di Indonesia untuk metode skrining endometriosis di Indonesia.
THE EFFECT OF TRADITIONAL KALIMANTAN DANCE EXERCISES ON MENSTRUAL PAIN (DYSMENORRHEA) INTENSITY AMONG FEMALE ADOLESCENTS Gifari, Muhammad Aulia; Tjahyadi, Dian; Fathia, Alia Salma Nour
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 3 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i3.3272

Abstract

Dismenorea merupakan gangguan ginekologi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, khususnya progesteron, yang memicu rasa nyeri dengan tingkat keparahan bervariasi. Kondisi ini umum terjadi pada remaja putri dan berdampak pada kualitas hidup serta kemampuan belajar mereka. Produksi prostaglandin yang berlebihan menjadi penyebab utama kontraksi uterus, berkurangnya aliran darah, dan meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri. Salah satu alternatif non-farmakologis untuk mengurangi nyeri haid adalah aktivitas fisik seperti menari. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh latihan tari terhadap tingkat nyeri haid pada remaja putri. Desain penelitian yang digunakan ialah komparatif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), Total 50 partisipan dibagi ke dalam dua kelompok yakni remaja putri yang mengikuti latihan tari dan tidak mengikuti latihan tari, masing-masing 25 orang, diperoleh melalui purposive sampling dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan dengan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok mengikuti latihan tari memiliki rata-rata nyeri sebesar 2,24 (SD = 1,480), sementara kelompok yang tidak mengikuti latihan tari sebesar 4,48 (SD = 2,267). Uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p 0,000 (p <0,001). Hasil ini mengindikasikan bahwa latihan tari berkontribusi signifikan dalam menurunkan intensitas nyeri haid. Aktivitas fisik ritmis seperti latihan menari yang dilakukan rutin dua kali seminggu dengan durasi 60 menit, dapat menjadi solusi yang efektif, ekonomis dan menyenangkan dalam manajemen nyeri haid bagi remaja putri.
The Role of Neuron Growth Factor and Interleukin-10 in The Development of Pain in Adenomyosis: A Narrative Review Heriyanto, Agus; Tjahyadi, Dian; Rachmawati, Anita; Adlino, Luky
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.931

Abstract

Introduction: Adenomyosis, a benign uterine condition characterized by endometrial tissue within the myometrium, leads to uterine enlargement, infertility, dysmenorrhea, and heavy menstrual bleeding. While its precise etiology remains elusive, delayed pregnancy may contribute to its increasing incidence among infertile women. This condition, predominantly affecting parous women, is also associated with higher rates of early miscarriage. Although immune dysregulation in endometriosis is well-documented, comparable research in adenomyosis is limited.Objective: This review aims to explore the roles of Interleukin-10 (IL-10), an anti-inflammatory cytokine, and Neuronal Growth Factor (NGF), a neuroimmune factor, in adenomyosis.Discussion: Elevated IL-10 levels in ectopic endometrial tissue suggest a potential immunosuppressive mechanism that may exacerbate symptoms. NGF is also implicated in the pain and inflammation associated with adenomyosis. A deeper understanding of the interplay between IL-10 and NGF could offer critical insights into the inflammatory nature and pain mechanisms of this condition.Conclusion: This review proposes IL-10 as a potential inflammatory biomarker and NGF as a pain marker in adenomyosis, paving the way for future research into novel therapeutic targets. Elucidating these pathways could lead to treatments focused on mitigating inflammation and alleviating associated symptoms of adenomyosis.Keywords: adenomyosis; neuronal growth factor; interleukin-10; pelvic pain Peran Neuron Growth Factor (NGF) dan Interleukin-10 (IL-10) dalam pembentukan Nyeri pada Adenomyosis : Sebuah Review NaratifAbstrakPendahuluan: Adenomyosis, suatu kondisi rahim jinak yang ditandai dengan adanya jaringan endometrium di dalam miometrium, menyebabkan pembesaran rahim, infertilitas, dismenore, dan perdarahan menstruasi yang berat. Meskipun etiologi pastinya masih belum jelas, kehamilan yang tertunda kemungkinan berkontribusi pada peningkatan insidennya di kalangan wanita infertil. Kondisi ini, yang sebagian besar memengaruhi wanita multipara, juga dikaitkan dengan tingkat keguguran dini yang lebih tinggi. Meskipun disregulasi imun pada endometriosis telah didokumentasikan dengan baik, penelitian serupa pada adenomyosis masih terbatas.Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Interleukin-10 (IL-10), sitokin anti-inflamasi, Faktor Pertumbuhan Saraf (NGF) dan faktor neuroimun dalam adenomyosis.Diskusi: Peningkatan kadar IL-10 dalam jaringan endometrium ektopik menunjukkan mekanisme imunosupresif potensial yang dapat memperburuk gejala. NGF juga berperan dalam nyeri dan peradangan yang terkait dengan adenomyosis. Pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi antara IL-10 dan NGF dapat memberikan wawasan penting mengenai sifat inflamasi dan mekanisme nyeri dari kondisi ini.Kesimpulan: Tinjauan ini mengusulkan IL-10 sebagai biomarker inflamasi potensial dan NGF sebagai penanda nyeri pada adenomyosis. Hal tersebut membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut untuk target terapeutik baru. Menguraikan jalur-jalur ini dapat mengarah pada perawatan yang berfokus pada mitigasi peradangan dan mengurangi gejala adenomyosis.Kata kunci: adenomiosis; interleukin-10; neuronal growth factor; nyeri pelvis.
Urinary Complications after Radical Hysterectomy in Cervical Cancer: A Retrospective Cohort Study Pradoto, Muhammad Edo Antariksa; Sutrisno, Sutrisno; Tjahyadi, Dian
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.932

Abstract

Objective: Radical hysterectomy and pelvic lymphadenectomy are standard treatments for cervical cancer. A common long-term complication is lower urinary tract dysfunction (LUTD), which can lead to urinary tract infections (UTIs) due to urinary stasis. Incontinence may also increase UTI risk by allowing bacteria to enter through the urethra. This study aims to determine the incidence of LUTD and UTI in cervical cancer patients after radical hysterectomy and to analyze their relationship.Methods: A retrospective cohort study was conducted on patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer who underwent radical hysterectomy at Margono Soekarjo General Hospital. Urinary catheters were placed postoperatively, and bladder training was initiated on postoperative day three. Urine samples were collected on day fourteen or upon the return of bladder sensation to assess for urinary tract infection (UTI). The relationship between lower urinary tract dysfunction (LUTD) and UTI was analyzed using.Result: LUTD incidence was 13.8%. UTI incidence was significantly higher in patients with LUTD than in those without (7.7% vs. 1.5%, p < 0.001). The relative risk of UTI in patients with LUTD was 31.1 (95% CI: 6.396–739.029), likely due to the limited sample size.Conclusion: There is a significant association between LUTD and UTI in cervical cancer patients after radical hysterectomy. Early detection and monitoring of bladder function are essential in postoperative care.Keywords: Lower urinary tract dysfunction; radical hysterectomy; urinary tract infection.Komplikasi Urinaria Setelah Histerektomi Radikal pada Kanker Serviks: Studi Kohort RetrospektifAbstrak Tujuan: Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvik merupakan terapi standar untuk kanker serviks. Salah satu komplikasi jangka panjang yang umum adalah disfungsi saluran kemih bagian bawah (Lower Urinary Tract Dysfunction/LUTD), yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) akibat stasis urin. Inkontinensia urin juga dapat meningkatkan risiko ISK melalui masuknya bakteri melalui uretra. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi insidensi LUTD dan ISK pada pasien kanker serviks pasca-histerektomi radikal tipe II serta hubungan antara keduanya.Metode: Sebuah studi kohort retrospektif dilakukan pada pasien kanker serviks stadium IA2–IIA2 yang menjalani histerektomi radikal di RSUD Margono Soekarjo. Setelah operasi kateter urin dipasang dan melatih kandung kemih dimulai pada hari ketiga pascaoperasi. Sampel urin dikumpulkan pada hari keempat belas atau saat sensasi kandung kemih kembali untuk menilai adanya infeksi saluran kemih (ISK). Hubungan antara disfungsi traktus urinarius bawah (LUTD) dan ISK dianalisis menggunakan uji Fisher’s exact.Hasil: Penelitian ini menunjukan insidensi LUTD adalah 13,8%. Insidensi ISK secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan LUTD dibandingkan yang tidak mengalami LUTD (7.7% vs. 1.5%, p < 0.001). Risiko relatif ISK pada pasien dengan LUTD adalah 31.1 (CI 95%: 6.396–739.029) karena jumlah subjek penelitian sedikit.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara LUTD dan kejadian ISK pada pasien kanker serviks pasca-histerektomi radikal. Deteksi dini dan pemantauan fungsi kandung kemih sangat penting dalam perawatan pascaoperasi.Kata kunci: Disfungsi urin; histerektomi radikal; infeksi saluran kemih