Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Gambaran Sebab Kematian pada Kasus Kematian Tidak Wajar yang Diautopsi di RS Bhayangkara Tingkat III Manado dan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2017-2018 Ango, Charissa P.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.26928

Abstract

Abstract: Unnatural deaths are not caused by diseases but by others such as accidents, killings, and suicide. The death of someone which is suspected unnaturally, needs to be found out with certainty about the cause of death through an autopsy by a forensic doctor. This study was aimed to obtain the causes of unnatural death cases autopsied at RS Bhayangkara tingkat III Manado and Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2017-2018. This was a retrospective and descriptive study using Visum et Repertum data. The results showed 77 cases of unnatural deaths. As many as 45 cases were autopsied in 2017 and 32 cases in 2018. Most victims were male (68 cases), aged 17-25 years (late adolescence; 18 cases). The most common cause of death was sharp violence (45 cases). In conclusion, most autopsy cases of unnatural deaths were performed on males, aged 17-25 years (late adolescence), and sharp violence as the cause of death.Keywords: unnatural death, cause of death, autopsy Abstrak: Kematian tidak wajar adalah kematian yang tidak disebabkan oleh penyakit, seperti kecelakaan, pembunuhan dan bunuh diri. Kematian seseorang yang diduga tidak wajar, perlu dicari tahu secara pasti penyebab kematiannya melalui autopsi oleh dokter forensik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sebab kematian pada kasus kematian tidak wajar yang diautopsi di RS Bhayangkara Manado dan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2017-2018. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil Visum et Repertum. Hasil penelitian mendapatkan 77 kasus kematian tidak wajar yang diautopsi, yaitu pada tahun 2017 sebanyak 45 kasus dan pada tahun 2018 sebanyak 32 kasus. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan (68 kasus vs 9 kasus). Usia terbanyak ialah 17-25 tahun (masa remaja akhir) sebanyak 18 kasus. Penyebab kematian terbanyak ialah kekerasan tajam sebanyak 45 kasus. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kasus kematian tidak wajar yang diautopsi dilakukan pada usia 17-25 tahun (masa remaja akhir), jenis kelamin laki-laki, dengan sebab kematian kekerasan tajam.Kata kunci: kematian tidak wajar, sebab kematian, autopsi
GAMBARAN PERUBAHAN LUKA MEMAR PADA SUKU MINAHASA Tilaar, Nathasya A. F.; Mallo, Johannis F.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.28606

Abstract

Abstract: Bruise is bleeding in the subcutaneous tissue due to rupture of capillaries and veins caused by blunt force. A forensic pathologist is usually asked about the time of bruise occurrence and this information is very important concerning to a medicolegal case. The ability to assess, document, and interpret injuries correctly is an important part of a doctor's task. This study was aimed to identify the color changes of bruise among Minahasan people. This was a prospective and descriptive study using sample observations. The results obtained 5 cases with bruises. In 1-4 days, the color of bruises was bluish red then turned to greenish yellow until days 10-12, and then it disappeared. In conclusion, there was no specific difference in bruise color of Minahasan people compared to previous studies.Keywords: traumatology, bruise, Minahasan people Abstrak: Memar merupakan perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya kapiler dan vena yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Seorang ahli forensik sering ditanyakan mengenai umur dari memar, dan informasi demikian dapat menjadi sangat penting dalam suatu kasus. Kemampuan menilai, mendoku-mentasikan, dan menginterpretasikan luka dengan tepat merupakan bagian penting dari tugas dokter. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan warna luka memar pada orang yang berasal dari suku Minahasa. Jenis penelitian ialah deskriptif prospektif dalam observasi sampel. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 5 kasus dengan memar. Pada 1-4 hari memar berwarna merah kebiruan, berubah menjadi kuning kehijauan sampai pada hari ke 10-12 kemudian menghilang. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan spesifik pada memar orang suku Minahasa dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya.Kata kunci: traumatologi, memar, suku Minahasa
Hubungan usia waktu menikah dengan kejadian kekerasan pada anak di Kota Manado Bulan Oktober 2014 – Oktober 2016 Sumayku, Gian P.S.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14681

Abstract

Abstract: Child abuse is all forms of painful treatment physical or emotional, sexual abuse, trafficking, neglect, commercial exploitation including sexual exploitation of children resulting in injury/loss of actual or potential harm to the child's health, child survival, child development or dignity children, conducted in the context of a relationship of responsibility, trust, or power. Early marriage can be defined as an inner and outer bond between a man and a woman as husband and wife at a young age/adolescent. This study was aimed to determine the relationship between marriage age and child abuse in Manado. This was a retrospective study with a cross-sectional design using secondary data from several sources in Manado from October 2014 to October 2016. The results showed that many cases of child abuse occured with parents at susceptible age of 21-25 years in 8 cases (47.1%), followed by age 31-35 years in 4 cases (23.5%), susceptible age of 26-30 years and >35 years, each in 2 cases (11.8%), and the least at the marriage age of 15-20 years in 1 case (5.88%). Conclusion: Parents/step parents that married at the age of 21-25 years had the higher percentage of child abuse compared to those that maried at the ages of 15-20 years and over 25 years.Keywords: marriage age, child abuse Abstrak: Kekerasan terhadap anak adalah semua bentuk/tindakan perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, trafiking, penelantaran, eksploitasi komersial termasuk eksploitasi seksual komersial anak yang mengakibatkan cidera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Perkawinan usia muda dapat didefenisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri pada usia yang masih muda/remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia waktu menikah dengan kekerasan pada anak di Kota Manado. Jenis penelitian ialah retrospektif dengan desain potong lintang dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari RS Bhayangkara, Polresta Manado, dan BKKBN Manado. Hasil penelitian ini menunjukan kasus kekerasan pada anak banyak terjadi pada usia 21-25 tahun yang berjumlah 8 kasus (47,1%), diikuti usia 31-35 tahun yang berjumlah 4 kasus (23,5%), usia 26-30 tahun dan >35 tahun masing-masing berjumlah 2 kasus (11,8%), dan yang paling sedikit pada usia waktu menikah 15-20 tahun berjumlah 1 kasus se (5,88%). Simpulan: Orang tua kandung/tiri dengan usia waktu menikah 21-25 tahun yang paling banyak melakukan kekerasan pada anak dibandingkan usia waktu menikah dini 15-20 tahun atau usia di atas 25 tahun. Kata kunci: usia menikah, kekerasan pada anak
Gambaran Kasus Kejahatan Kekerasan Seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2017-Desember 2019 Latjengke, Aditya P.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30181

Abstract

Abstract: Rape or sexual violence is very prominent in this globalization era. This sudy was aimed to obtained the profile of sexual violence crimes in Forensic Department of RS Bhayangkara Tingkat III in the period of January 2017 to December 2019. This was a retrospective and descriptive study using visum et repertum. Data were presented in tables of frequency distribution. There were 305 cases of sexual violence crimes in this study; 152 cases were 12-16 years (teenagers). Most victims were females (304 cases); had occupation/education as students (184 cases); and lived in Manado (169 cases). Perpetrators of sexual violence crimes were friends of the victims (108 cases). In conclusion, the majority of sexual violence victims were 12-16 years old (teenagers), females, had occupation/education as students, and lived in Manado. Most perpetrators were friends of the victims.Keywords: sexual violence crimes, victims, perpetrators Abstrak: Fenomena kejahatan pemerkosaan atau kekerasan seksual pada era globalisasi saat ini sangat menonjol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kasus kejahatan kekerasan seksual di Bagian Forensik RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2017-Desember 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan hasil visum dan dilaporkan menurut distribusi frekuensi. Hasil penelitian mendapatkan 305 kasus kejahatan kekerasan seksual. Sebagian besar kasus kekerasan seksual berusia 12-16 tahun (masa remaja awal) yaitu 152 kasus. Jenis kelamin korban yang terbanyak ialah perempuan yaitu 304 kasus. Pekerjaan/pendidikan korban ialah pelajar sebanyak 184 kasus. Alamat korban terbanyak berada di Kota Manado yaitu 169 kasus. Pelaku kejahatan kekerasan seksual yang terbanyak ialah teman korban yaitu 108 kasus. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas korban kasus kekerasan seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado berusia 12-16 tahun, berjenis kelamin perempuan, pekerjaan/pendidikan sebagai pelajar dengan alamat di Kota Manado. Pelaku kekerasan seksual terbanyak ialah teman korban.Kata kunci: kejahatan kekerasan seksual, korban, pelaku
HASIL VISUM ET REPERTUM KORBAN PERKOSAAN DI RS.BHAYANGKARA MANADO TAHUN 2012 Pemasela, Irianti; Siwu, James; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.10154

Abstract

Abstract: Visum et repertum is a description made by a doctor at the request of official investigator about the results of medical examination on human, whether alive or dead, or which suspected as part of human's body, based on medical sciences and under the oath for the sake of judiciary. The increasing of rape cases are related to the socio-cultural aspect. The culture is increasingly open, the way woman's dress also more tempting than before, and sometimes with variety of expensive jewelry, the habit to traveling alone are dominant factors that affect the high frequency of rape cases. This study aimed to find out the results of visum et repertum on rape victims in 2012 at Bhayangkara Manado Hospital. The study design used is descriptive using secondary data from rape victims at Bhayangkara Manado Hospital. The results of this study from 100 samples is 28 people was pregnant and 72 people was not pregnant, obtained from distribution of visum are 60 people does not take the visum results, obtained from distribution by age mostly from age 15 are 16 people, obtained from distribution based on resort is Polresta Manado, obtained from distribution based on signs of violence that proved the existence of copulation are only 1 people. This study proves that the results of Visum et Repertum can be found in existence of sexual violence to victims.Keywords: visum et repertum , rape victimsAbstrak: Visum et repertum adalah keterangan yang di buat oleh dokter atas permintaan penyidik yang wenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Meningkatnya kasus perkosaan yang terkait pula dengan aspek sosial budaya. Budaya semakin terbuka, pergaulan yang semakin bebas, cara berpakaian perempuan yang semakin merangsang, dan kadang-kadang dengan berbagai perhiasan mahal, kebiasaan bepergian jauh sendiri, adalah faktor-faktor dominan yang juga mempengaruhi tingginya frekuensi kasus perkosaan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hasil visum et repertum korban perkosaan tahun 2012 di RS. Bhayangkara Manado. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan data sekunder korban perkosaan di RS. Bhayangkara Manado. Hasil penelitian yang di dapat dari 100 sampel yang didapatkan 28 orang yang hamil dan 72 orang tidak hamil, dari distribusi visum didapatkan ada 60 orang yang tidak mengambil hasil visum, dari distribusi umur didapatkan yang terbanyak pada umur 15 tahun yaitu 16 orang, dari distribusi resor terbanyak polresta manado, dari distribusi tanda kekerasan yang terbukti adanya persetubuhan 1 orang. Penelitian ini membuktikan bahwa hasil visum et repertum bisa ditemukan adanya kekerasan seksual yang di alami korban.Kata kunci: visum et repertum, korban perkosaan
Kematian akibat kecelakaan lalu lintas Kota Tomohon tahun 2012-2014 Rompis, Arischa; Mallo, Johannis; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10837

Abstract

Abstract: Traffic accident as a health problem being the most causal factor of injury in the world. Most cases of injuries occur in the age range 15-44 years and are dominated by man with disability proportion and also that of traffic accident around 25%. The most important factor who determine level of accident distribution by human error who contribute 75-80% and also affected by disciplinary factor in driving (80-90%), vehicle factor (4%), the road (3%), and environment factor (1%). This study aimed to obtain some information about the death caused by traffic accident in Tomohon city between the years 2012-2014. This was a descriptive retrospective study using data of Police Department in Tomohon from October to November 2015. The results showed that the peak of deaths due to traffic accidents in Tomohon city (2012-2014) was in 2013 with 50 male victims from 59 victims aged 15-24 years. Most of the victims were motorcycle drivers.Keywords: death, traffic accidentAbstrak: Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah kesehatan yang menjadi penyebab terbanyak terjadinya cedera di seluruh dunia. Kasus cedera terbanyak terjadi pada rentang usia 15 - 44 tahun yang didominasi kaum pria dengan proporsi disabilitas dan kematian karena kecelakaan sekitar 25%. Faktor yang dianggap menentukan tingginya jumlah kecelakaan dan keparahan korban kecelakaan yaitu faktor manusia yang memberikan kontribusi 75-80% yang juga dipengaruhi oleh faktor kedisiplinan dalam berkendara (80-90%), faktor kendaraan (4%), faktor jalan (3%) , dan faktor lingkungan (1%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi mengenai kematian akibat kecelakaan lalu lintas di kota Tomohon tahun 2012 – 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif retrospektif yang dilakukan di bagian lalu lintas POLRESTA TOMOHON pada bulan Oktober – November 2015. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menggambarkan kematian akibat kecelakaan lalu lintas di kota Tomohon 2012 – 2014 mengalami puncak kenaikan pada tahun 2013 dengan korban terbanyak laki – laki dan berada direntang usia 15 – 24 yang berstatus sebagai pengendara sepeda motor. Lokasi kejadian kecelakaan tersering di wilayah Tomohon Tengah yang didominasi jalan dalam kota.Kata kunci: kematian, kecelakaan lalu lintas
Gambaran Luka pada Kecelakaan Lalu Lintas Khususnya Pengendara Kendaraan Roda Dua yang Tidak Memakai Helm Lintang, Richard D; Mallo, Johannis F; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32706

Abstract

Abstract: According to WHO data, the Global status report on road safety 2018, Indonesia in 2018, with a population of 261,115,456 people reported 31,282 deaths due to traffic accidents, with an estimated mortality rate of 12.2 per 100,000 people. From the number of deaths, 73.6% were two-wheeled-vehicle riders. It is also stated in this report that even though Indonesia has implemented regulations regarding the need to wear head protection while riding, it is estimated that only 71% wear helmets. This study was aimed to obtain the description of injuries that occurred among two-wheeled-vehicle riders who had traffic accidents with and without wearing helmets. The results showed that the wound description of two-wheeled riders who did not wear helmets was not much different from the riders who wore helmets when they had traffic accidents, however, it could be differed from the severity of the injuries. In conclusion, there was a difference in wound description of traffic accidents between two-wheeled drivers with and without wearing helmets. Keywords: wound, traffic accident, two-wheeled riders, helmet  Abstrak: Menurut data WHO “Global status report on road safety 2018”, pada tahun 2018, Indonesia dengan populasi 261.115.456 penduduk dilaporkan mengalami 31.282 jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas, dengan estimasi angka kematian 12,2 per 100.000 orang. Dari jumlah kejadian kematian tersebut, 73,6% ialah pengendara kendaraan roda dua. Dikatakan juga bahwa dari semua pengendara tersebut, walaupun Indonesia telah menerapkan peraturan akan keperluan memakai alat pelindung kepala selagi berlalu lintas, terestimasi hanya 71% yang memakai helm. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran luka pada kecelakaan lalu lintas khususnya pengendara kendaraan roda dua yang tidak memakai helm. Jenis penelitian ialah literature review, menggunakan data yang diperoleh dari database Pubmed, Clinical Key, dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan 10 literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta lolos tahap seleksi dari 1.321 literatur. Gambaran luka yang didapat pada pengendara roda dua yang tidak dan yang memakai helm saat mengalami kecelakaan lalu lintas dapat dibedakan dengan melihat tingkat keparahan dari luka dan cedera yang dialami oleh pengendara tersebut. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan gambaran luka akibat kecelakaan pada pengendara roda dua yang memakai helm dan yang tidak memakai helm.Kata kunci: luka, kecelakaan lalu lintas, pengendara roda dua, helm
Angka Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga di Kota Manado Tahun 2018-2019 Tumewu, Rebennia; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.31704

Abstract

Abstract: Domestic violence is universal and can occur regardless of age, profession, economic level or education of the victims. According to World Health Organization, 1 in 3 women in the world had experienced physical or sexual violence. In addition, according to the British Crime Survey, 1/3 of victims of domestic violence were male. This study was aimed to obtain the number of domestic violence cases in Manado during 2018-2019. This was a retrospective and descriptive study with a cross-sectional design using secondary data of domestic violence case reports at Polresta Manado regarding domestic violence in Manado 2018-2019. The results showed that there were 111 cases of domestic violence in 2018-2019 in Manado. Most cases occurred at Sario District (14 cases; 13%) dominated by physical violence (78 cases; 70%), committed by male perpetrators (101 cases; 91%), husbands of the victims (101 cases; 91%), and age group of 15-24 years (43 cases; 39%). In conclusion, there was a fluctuation in the number of domestic violence cases; an increase of 51.3% comparing to the number of cases in 2012-2013 and a decrease of 27.4% comparing to the number of cases in 2015-2016.Keywords: domestic violence Abstrak: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan hal yang universal dan dapat terjadi tanpa memandang usia, profesi, tingkat ekonomi, maupun pendidikan dari korban. Menurut data WHO (World Health Organization), 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual. Selain itu, menurut British Crime Survey, 1/3 korban KDRT ialah laki-laki.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan angka kasus KDRT di Kota Manado tahun 2018-2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Data sekunder yaitu laporan kasus KDRT di Polresta Manado mengenai KDRT di Kota Manado pada tahun 2018-2019. Hasil penelitian mendapatkan, kasus KDRT pada tahun 2018-2019 di Kota Manado berjumlah 111 kasus, paling banyak terjadi di Kecamatan Sario (14 kasus; 13%), didominasi oleh jenis kekerasan fisik (78 kasus; 70%), pelaku berjenis kelamin laki-laki (101 kasus; 91%), yang merupakan suami korban (101 kasus; 91%), dan paling sering dialami oleh kelompok usia 15-24 tahun (43 kasus; 39%). Simpulan penelitian ini ialah terdapat fluktuasi angka kasus KDRT dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2012-2013 yaitu terjadi peningkatan sebanyak 51,3% dan terjadi penurunan 27,4% bila dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2015-2016.Kata kunci: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
Gambaran Kasus Penganiayaan di Wilayah Kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022 Tumiwa, Josua S.; Siwu, James F.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol. 12 No. 2 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i2.54472

Abstract

Abstract: Illness and death can occur not only as a result of abnormalities or disease, but also through accidents or criminal acts. One form of crimes that is often encountered is persecution. Langowan is one of the areas in North Sulawesi where acts of abuse are often found. This study aimed to describe cases of persecution in the working area of Polsek Langowan in years 2021-2022. This was a descriptive and retrospective study with a cross-sectional design using reports of cases of persecution in the working area of Polsek Langowan in years 2021-2022. The results obtained a total of 55 cases of persecution occurred in 2021-2022, and the highest percentages of cases were in July 2021 and January 2022, each of six cases (10.91%). Gender was dominated by men, namely 52 cases (94.55%). The largest age range is 17-25 years which was late adolescence with a total of 24 cases (43.64%). The most common form of maltreatment was moderate maltreatment in 50 cases (90.91%). The most common type of violence was blunt violence with a total of 34 cases (58,62%). Most of the injuries occurred on the head with a total of 38 cases (50%). In conclusion, the most persecution occurred in July 2021 and January 2022, dominated by male victims, aged 17-25 years, moderate form of persecution, blunt violence, and the location of injury on the head. Keywords: persecution; blunt trauma; victim   Abstrak: Kesakitan dan kematian bisa terjadi bukan hanya akibat adanya kelainan atau penyakit, tetapi juga melalui kecelakaan maupun tindakan kejahatan. Salah satu bentuk kejahatan yang sering ditemui yaitu penganiayaan. Langowan merupakan salah satu daerah di Sulawesi Utara yang sering didapatkan adanya tindak penganiayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus penganiayaan di Wilayah Kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022. Jenis penelitian ialah potong lintang dengan mengumpulkan data sekunder yaitu laporan kasus penganiayaan di wilayah kerja Polsek Langowan Periode 2021-2022. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 55 kasus penganiayaan di wilayah kerja Polsek Langowan periode 2021-2022, dengan kasus penganiayaan terbanyak terjadi pada bulan Juli 2021 dan Januari 2022 dengan total masing-masing enam kasus (10,91%). Jenis kelamin didominasi oleh laki-laki yaitu sebanyak 52 kasus (94,55%). Rentang usia terbanyak yaitu 17-25 tahun yang merupakan masa remaja akhir dengan total 24 kasus (43,64%). Bentuk penganiayaan terbanyak yaitu penganiayaan sedang sebanyak 50 kasus (90,91%). Jenis kekerasan terbanyak yaitu kekerasan tumpul dengan total 34 kasus (58,62%). Lokasi perlukaan terbanyak terjadi di bagian kepala dengan total 38 kasus (50%). Simpulan penelitian ini ialah penganiayaan paling banyak terjadi di bulan Juli 2021 dan Januari 2022, didominasi oleh korban laki-laki, usia 17-25 tahun, bentuk penganiayaan sedang, jenis kekerasan tumpul, dan lokasi perlukaan di bagian kepala. Kata kunci: penganiayaan; trauma tumpul; korban
Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang Terjadi di Kota Bitung Adam, Rahmat S.; Mallo, Nola T. S.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.59408

Abstract

Abstract: According to the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection (PPPA) through the Online Information System for the Protection of Women and Children (SIMFONI PPA), in North Sulawesi 2023, the most dominant violence based on the location of the incidence is household.  Bitung is the area with the second highest number of domestic violence cases in 2023. This study aimed to obtain the description of domestic violence cases in Bitung 2022. This was a retrospective and descriptive study using secondary data taken from the Women's Empowerment and Child Protection Service and Police Department in Bitung. The relationships between variables were analayzed with the chi-square test. The results showed that the majority of victims were children (74.5%) with the type of penance violence (45.8%). Most often the perpetrator was the father (38.2%). The chi-square test  obtained p=0.008 for the relationship between victim and all types of violence; p=0,000 for the relationship between the relation of perpetrator and victim  and all types of violence; and p=0.542 for the relationship between location and all types of violence. In conclusion, the majority of domestic violence in Bitung is penance violence with children as the victims, and the father as perpetrator. There is no relationship between location and all types of violence. Keywords: types of violence; domestic violence; victim   Abstrak: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) melaporkan  bahwa di Sulawesi Utara pada korban kekerasan per tahun 2023 yang paling mendominasi berdasarkan tempat kejadian ialah rumah tangga. Kota Bitung merupakan daerah dengan posisi ke-2 kasus kekerasan per tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kasus KDRT di Kota Bitung. Jenis penelitian ialah deskrptif restrospektif dengan menggunakan data sekunder diambil dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bitung serta Polisi Resort Kota Bitung tahun 2022. Uji statistik terhadap hubungan variabel menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian mendapatkan bahwa mayoritas korban ialah kategori anak (74,5%) dengan jenis kekerasan penelantaran (45,8%) serta pelaku paling banyak ialah ayah (38,2%). Hasil uji chi-square mendapatkan nilai p=0,008 pada variabel korban dengan semua jenis kekerasan; p=0,000 pada variabel hubungan pelaku dengan korban terhadap semua jenis kekerasan; dan p=0,542 pada hubungan antara variabel kecamatan dengan semua jenis kekerasan. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Kota Bitung ialah penelantaran dengan korban terbanyak ialah anak, pelaku yang berstatus ayah, namun hubungan wilayah kejadian dari setiap kasus tidak berkontribusi dalam terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Kata kunci: jenis kekerasan; kekerasan dalam rumah tangga; korban