Asep Hidayat Wirayudha
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Efek Reinstrumentasi Karya Organ Js. Bach Melalui Alih Timbre Terhadap Selera Musik Djohan, Djohan; Wirayudha, Asep Hidayat; Mawarni, Aghisna Indah
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v24i2.9747

Abstract

As today teenagers have less appreciation for instrumental works from Baroque era, the objective of this research is to identify the indicators their music preference through timbre shifting of the musical instrument. In the context of the creative economy, this will open opportunities for art music to compete in the music industry. Music has been studied and observed for centuries, and even today, the works of great composers are associated with timeless creations. One factor that has contributed to the continued existence of music is its strong reliance on conductors during performances, especially when presented in orchestral format involving dozens of supporting musicians. Generally, not only do audiences watch a stage filled with musicians, but they also listen to the works of composers in various timbres. Some musics are performed in the form of solo, duet, or as ensemble. However, the challenge for musicians is that the majority of society do not understand art music well due to lack of knowledge and the prevalence of easily accepted popular music. It occurs because music education still upholds the tradition of classifying music into high and low art according to European concepts. Art music carries musicological elements rooted in mathematical discipline, which implicitly requires audiences to have a background in music knowledge, even during performances. In Indonesia, which is currently developing and strengthening its creative economy, creative breakthroughs are needed to make art music more popular and have a positive impact on musicians. In this study, the author implemented a quantitative method with a one-posttest design approach. The sample consisted of teenagers studying art music. The total sample was N=100, consisting of students in music performance vocational program who were given treatment by listening to a recorded toccata in D minor by JS Bach played on the organ and re-instrumented using the electric guitar, electric bass, and synthesizer. The results reveal that the subjects' preference for rock music is significantly influenced by personal preference with p<0.05. Particularly, the predictor of preference has a coefficient of R 0.900 with an R2 of 0.809, indicating that preference contributes 80.9% to the variability of the preferences. Therefore, it can be concluded that the renewing instrumentaion of Baroque music by shifting timbre of electric instruments with rock sensation has an influence on the musical preference of today youth. It happens especially when the ornamentation, one of the characteristic of Baroque music, is played with forte dynamic and blended technique, resulting in piercing and swinging sounds as an effect of electric guitar distortion.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi indikator selera musik remaja masa kini yang kurang menyukai karya instrumental era Barok (musik seni) melalui rekayasa warna suara (timbre) alat musiknya. Karena dalam konteks ekonomi kreatif akan membuka peluang musik seni untuk berkompetisi dalam dunia industri musik. Selama ini musik seni telah berabad lamanya dipelajari dan ditekuni hingga saat ini bahkan karya-karya para komponis besar diasosiasikan dengan karya abadi. Salah satu faktor yang menjadikan eksistensi musik seni hingga sekarang adalah karena dalam pertunjukkannya sangat dipengaruhi oleh konduktor. Terutama sekali jika karya tersebut dipertunjukkan dalam format orkestra yang melibatkan puluhan musisi pendukung. Di satu sisi secara visual selain menyaksikan panggung penuh dengan musisi juga mendengarkan karya para komponis dalam berbagai macam warna suara. Sementara di sisi lain, ada musik seni yang dimainkan secara solo, duet atau kelompok (musik kamar). Pada kenyataannya, tantangan musisi musik seni adalah karena sebagian besar masyarakat tidak paham musik seni baik karena kurangnya pengetahuan dan maraknya musik industri yang jauh lebih mudah dicerna. Hal ini terjadi karena dalam pendidikan musik seni pun masih mempertahankan tradisi seni tinggi sesuai dengan sumbernya di Eropah. Musik seni memiliki muatan musikologi yang berasal dari disiplin matematika sehingga dalam bentuk pertunjukanpun secara implisit mensyaratkan audiens memiliki latar belakang pengetahuan musik. Indonesia yang sedang mengembangkan serta memperkuat ekonomi kreatif maka diperlukan terobosan kreatif agar musik seni dapat semakin digemari sehingga membawa dampak positif bagi musisi musik seni. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan one posttest design only dan sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang sedang belajar musik seni. Total sampel sebanyak N=100 terdiri dari mahasiswa program vokasi penyajian musik yang diberi intervensi dengan mendengarkan rekaman toccata in d-minor karya JS Bach untuk alat musik organ dan yang sudah direinstrumentasi menggunakan alat musik gitar, bas elektrik dan synthesizer. Hasilnya menunjukkan bahwa selera subjek terhadap musik rock secara signifikan lebih ditentukan oleh preferensi pribadi dengan p<0.05. Terutama dengan prediktor preferensi yang memiliki koefisien R 0.900 dengan R2 0.809 sehingga preferensi memberi sumbangsih sebanyak 80.9% terhadap variabilitas selera. Maka, dapat disimpulkan bahwa reinstrumentasi musik barok menggunakan warna suara instrumen elektrik dengan sensasi rock memiliki pengaruh terhadap selera musik subjek remaja. Terutama sekali ketika pada bagian ornamentasi sebagai ciri khas musik barok dibunyikan dalam dinamika forte dengan teknik blend sehingga terdengar melengking dan mengayun sebagai efek dari suara distorsi gitar elektrik.
Eksperimentasi Penerapan Sistem Nada Pelog Dan Slendro Pada Cadenza (Flute Concerto In G Major, Op. 29 Karya Carl Stamitz) Wicaksono, Satrio Bagus; Wirayudha, Asep Hidayat; Ceri, Danny
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10367

Abstract

Penelitian tugas akhir ini dibelakangi oleh faktor tidak berkembangnya cadenza dalam musik klasik, karena sedikitnya orang yang menulis komposisi cadenza untuk lagu concerto. Pada konsepnya, cadenza merupakan improvisasi bebas yang ditulis maupun tidak yang dibawakan dengan berbagai macam sistem nada. Seiring perkembangan zaman, peneliti ingin menerapkan sesuatu yang baru melalui eksperimen. Teori dan konsep yang digunakan pada penelitian ini ialah teori metode eksperimen. Karena peneliti ingin mencari hasil penerapan yang baru. Didalam metode ini menggunakan desain penelitian One Shot Case Study, mencari sampel dari populasi yang telah ditentukan, penggunaan kuesioner lalu penggunaan uji validitas dan reabilitas, dan analisis data. Hasil penelitan yang didapatkan adalah dapat diterapkannya cadenza menggunakan sistem nada pelog dan slendro dengan dipadukan menggunakan teknik-teknik dalam instrumentasi flute. Responden dalam eskperimen ini juga mendukung adanya pembaharuan pada cadenza, tetapi sebagian responden juga tidak setuju terhadap penerapan cadenza menggunakan sistem nada pelog dan slendro.
Pola Latihan “Cramming” Terhadap Resiko Carpal Tunnel Syndrome Pada Mahasiswa Biola ISI Yogyakarta Bagaskara, Gary; Wirayudha, Asep Hidayat; Raharjo, Rahmat
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 2 (2023): Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v17i2.10498

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resiko terkena carpal tunnel syndrome terhadap pola latihan sistem cramming pada mahasiswa biola ISI Yogyakarta. Penelitian ini dilatar belakangi atas fenomena sistem latihan cramming yang kerap dilakukan oleh mahasiswa. Latihan yang berlebihan akan menggangu kesehatan tubuh, dalam hal ini pada jari-jari dan pergelangan tangan. Gejala-gejala tersebut hampir menyerupai dari gejala carpal tunnel syndrome. Teori yang digunakan adalah carpal tunnel syndrome, teori ini berhubungan dengan proses terjadinya carpal tunnel syndrome. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi serta pemilihan lokasi yang berhubungan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan banyak mahasiswa yang mengaku mengalami gejala-gejala yang mengacu pada carpal tunnel syndrome ketika melakukan pola latihan cramming, gejala yang dimaksud berupa kelelahan jari-jari, sakit pada bagian bahu kanan, sakit pada leher dan pergelangan tangan. Dari kesimpulan tersebut penulis dapat memahami struktur dari pola latihan cramming terhadap resiko carpal tunnel syndrome dengan kajian teori dan pengumpulan data yang dilakukan secara terstuktur. Penelitian ini dapat meningkatkan tingkat kesadaran mahasiswa agar memperhitungkan pola latihan yang baik, yang akan mempengaruhi kualitas saat bermain biola.
Reinterpretasi Penjarian Cello pada Fantasia for Cello and Piano karya Joko Suprayitno & Sulistyo Utomo (Sebuah Studi Komparatif) Raden Dwityatama Darmasakti; Asep Hidayat Wirayudha; Prisca Nada Nurcahyo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.15950

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian tentang eksplorasi praktik instrumen cello. Penelitian ini akan berfokus pada reinterpretasi penjarian peneliti pada karya Fantasia for Cello and Piano dalam bentuk eksperimen dengan meninjau interpretasi para pemain sebelumnya yang diharapkan dapat memberi opsi penjarian yang lebih nyaman yang disesuaikan dengan anatomi jari peneliti. Fenomena pengaruh penyesuaian anatomi jari dalam keputusan opsi penjarian ini menjadikan dorongan bagi peneliti untuk bereksperimen dalam reinterpretasi penjarian dari karya tersebut. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif dan practice led research. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan hasil reinterpretasi penjarian berupa opsi penjarian pada beberapa bagian yang dirasa krusial dan memerlukan perhatian khusus.  Hasil penelitian menunjukan bahwa beberapa opsi dari keseluruhan pembahasan tidak relevan bagi para pemain sebelumnya mengenai opsi penjarian peneliti. Akan tetapi, hasil reinterpretasi penjarian ini dapat menjadi alternatif bagi para pemain lain yang ingin memainkan karya ini di masa mendatang. Dengan semakin banyak alternatif opsi penjarian, maka akan semakin mempermudah dalam menentukan opsi penjarian yang dirasa paling cocok pada seorang pemain. Artikel ini diharapkan menambah pemahaman bagi para pembaca mengenai karya Fantasia for Cello and Piano agar semakin dikenal dikalangan masyarakat dan mancanegara. Artikel ini juga diharapkan menjadi sebuah literasi baru bagi para pembaca yang ingin meneliti tentang reinterpretasi khususnya reinterpretasi karya musik.Kata kunci: reinterpretasi, eksperimen, penjarian cello, practice led research, studi komparatifCello Fingering Reinterpretation on Fantasia for Cello and Piano by Joko Suprayitno & Sulistyo Utomo (a Comparative Study)This article is the result of research on cello practice exploration. This research focused on author’s fingering reinterpretation based on Fantasia for Cello and Piano in the forms of experiment of previous player’s interpretation, which is expected to provide more comfortable fingering options that are adapted to author’s finger anatomy. Phenomenon of finger anatomical adjustments on fingering option decisions has prompted author to experimenting on fingering options of the work. This research method uses qualitative method with comparative and practice led research approach. This research aims to create the result from reinterpreting fingering option on several spot that are crucial and require extra attention. The result of this research has shown that some of author’s fingering option from the overall discussions are not relevant for the previous players. However, the result of this fingering reinterpretation could be an alternative for some other players who who want to play this piece in the future. With more alternatives fingering options, will make it more easier for the players to choose the best fingering options. This article is expected to increase readers' understanding of the work Fantasia for Cello and Piano so that can be increasingly known among the public and abroad. This article is also expected to be a new literacy for readers who want to research about reinterpretation, especially reinterpretation of musical works.Keywords: reinterpretation, experiment, cello fingering, practice led research, comparative study
FINGER VIBRATO PADA INSTRUMEN VIOLA: ANALISIS FLEKSIBILITAS DAN KENYAMANAN JARI KIRI MAHASISWA ISI YOGYAKARTA Hieronymus Bayu Caritas; Asep Hidayat Wirayudha; Rahmat Raharjo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 20, No 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v20i1.20510

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fleksibilitas dan kenyamanan jari kiri dari penerapan teknik finger vibrato pada mahasiswa viola, serta mengetahui alasan teknik finger vibrato yang dapat menjadi alternatif teknik vibrato bagi instrumen viola. Studi kasus dilakukan terhadap mahasiswa aktif ISI Yogyakarta. Fokus penelitian mencakup analisis dari penerapan finger vibrato dari segi kenyamanan dan fleksibilitas jari kiri pemain viola. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar narasumber belum mengetahui finger vibrato secara spesifik. Melalui proses observasi dan penerapan finger vibrato, sebagian subjek mengalami kesulitan dan kendala pada jari kiri saat menerapkan finger vibrato, hal ini disebabkan karena finger vibrato yang hanya mengandalkan gerakan pada jari kiri tanpa dibantu oleh pergelangan dan lengan kiri. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa teknik finnger vibrato merupakan salah satu jenis vibrato paling sulit dari kelurga string gesek. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan dan menambah pemahaman bagi para pemain viola mengenai finger vibrato.kata kunci : finger vibrato, viola, kenyamanan, fleksibilitas FINGER VIBRATO ON THE VIOLA: AN ANALYSIS OF THE FLEXIBILITY AND COMFORT OF THE LEFT FINGER OF ISI YOGYAKARTA STUDENTSThis study aims to analyze the flexibility and comfort of the left finger from the application of the finger vibrato technique on viola students, as well as to find out the reasons why the finger vibrato technique can be an alternative vibrato technique for viola instruments. The case study was conducted on active students of ISI Yogyakarta. The focus of the study includes an analysis of the application of finger vibrato in terms of comfort and flexibility of the left finger of viola players. This study uses a qualitative method with a case study approach. The results showed that most of the informants did not know finger vibrato specifically. Through the process of observation and application of finger vibrato, some subjects experienced difficulties and obstacles in the left finger when applying finger vibrato, this is because finger vibrato only relies on movements of the left finger without the assistance of the left wrist and arm. From the results of the study, it can be concluded that the finger vibrato technique is one of the most difficult types of vibrato from the string string family. This finding provides an important contribution in improving and adding to the understanding of viola players about finger vibrato. Keywords: finger vibrato, viola, comfort, flexibility