Asep Hidayat Wirayudha
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Secret of Brahms Cellos Sonata No. 1 Op. 38 and Shostakovich Cello Sonata Op. 40 Asep Hidayat Wirayudha
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 3, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v3i2.1843

Abstract

This study aims to find a technique solution behind the Far interval and Octave interval in Brahms Cello sonata no.1 opus 38 and Shostakovich cello sonata op. 40 through literature and Discography approach. The fingering problems may poses special difficulties to any cellists. According to the author’s assessment, there are two problems that warrant special attentions of the cellist. Both intervals may cause serious problems on the performance of short fingers cellists. The size of the fingerboard on the cello as compared to other string instruments are longer, resulting in harder difficulties regarding obtaining tone (Stowell, 1999). From the results of the Far Interval and Octave Interval and active involvement of the researchers, the results show that, what is shown that every cellist are anatomically different. The fingers of the cellists are naturally very flexible. It cannot be converted to another cellists. So flexibly that it is possible to overcome the problem in a simple and convenient.
International Symposium on practice as research (ISpar) (Controversies, Challenges, Conceptualisations East-West perfectives) Asep Hidayat Wirayudha
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 5, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v5i1.2218

Abstract

Eksperimentasi Permasalahan Teknik-teknik pada Cello Concerto No.1 Bagian Pertama “Allegretto” Karya Dmitri Shostakovich Neam Sahiqa Raya; Asep Hidayat; Ayub Prasetyo
INVENSI Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v6i2.5462

Abstract

ABSTRAK Penguasaan teknik bagi seorang resitalis merupakan suatu keharusan, sesuai dengan tingkat kesulitan teknis yang ingin dicapai. Penulis mengacu pada penandaan teknis oleh pemain cello Mstislav Rostropovich untuk fingering dan bowing dalam repertoar pertama Cello Concerto No. 1 karya Dmitri Shostakovich yang kemudian ditemukan ketidakcocokan dalam preferensi pertimbangan teknis dan membuat penulis ingin mencoba bereksperimen untuk memecahkan masalah kesulitan teknis dalam repertoar tersebut. Technical Problems Experimentation in The Cello Concerto No.1, First Movement "Allegretto" by Dmitri Shostakovich ABSTRACT A recitalist's mastery of technique is a must, according to the level of desired achievements of technical difficulties. The author refers to the technical markings by cellist Mstislav Rostropovich for fingerings and bowings in the first cello concerto No.1 by Dmitri Shostakovich, which later was found discrepancies in the preferences of technical considerations, thus have made the author want to try to solve technical problems in the repertoire in a more personal way. 
Implementasi Teknik “Rasguedo” Terhadap Interpretasi Musikal, Studi Kasus : Suite For Solo Cello Karya Gaspar Cassado Dubertho Christnoval Ngongady; Asep Hidayat Wirayudha
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti dampak dari implementasi  teknik rasguedo terhadap interpretasi musikal  dalam suite for solo cello karya Gaspar Cassado. Interpretasi musikal dapat dikembangkan melalui ide ataupun konsep dari seorang pemain musik. Dalam  penelitian tugas akhir ini penulis akan  mengembangkan interpretasi musikal dengan implementasi teknik rasguedo kedalam Suite for solo cello karya Gaspar Cassado. Teori yang di gunakan pada penelitian ini adalah pemahaman kontekstual dan konseptual sebagai pemahaman tentang unsur-unsur yang terkandung dalam interpretasi musikal dari suite for solo cello karya Gaspar Cassado. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus adalah metode penelitian yang melibatkan pemahaman secara mendalam tentang situasi, permasalahan, atau kejadian. Dalam tugas akhir ini  topik yang akan diteliti adalah dampak dari implementasi  teknik rasguedo terhadap interpretasi musikal  dalam suite for solo cello karya Gaspar Cassado. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa implementasi teknik rasguedo berdampak terhadap interpretasi musical dalam karya ini. Sehingga penulis dapat mengembangakan interpretasi musikal dari ide ataupun konsep yang berada di luar dari teks musikKata kunciInterpretsi musikal, Rasguedo, Suite, Gaspar Cassado Implementation of The “Rasguedo” Technique on Musical Interpretation, Case Studies : Gaspar Cassado's Suite for Solo Cello This study aimed to examine to examine the impact of the implementation of the rasguedo technique on musical interpretation in Gaspar Cassado's suite for solo cello. Musical interpretation can be developed through the ideas or concepts of a musician. In this research, the author will develop a musical interpretation by implementing the rasguedo technique into Gaspar Cassado's Suite for Solo Cello. The theory used in this study is contextual and conceptual, as an understanding of the elements contained in the musical interpretation of Gaspar Cassado's suite for solo cello. This study uses a qualitative research method with a case study approach. The case study approach is a research method that involves an in-depth understanding of a situation, problem, or event. In this final project, the topic to be examined is the impact of the implementation of the rasguedo technique on musical interpretation in Gaspar Cassado's suite for solo cello. The results of this study indicate that the implementation of the rasguedo technique has an impact on the musical interpretation of this work. So that the writer can develop a musical interpretation of ideas or concepts that are outside of the musical text.Keywords: Musical Interpretatio, Rasguedo, Suite, Gaspar Cassado
Efektivitas Metode Analisis Struktural Dalam Interpretasi Musik Abad 19 (Studi Kasus : Suite For Piano FP.19 Karya Francis Poulenc) Refael Refael; Asep Hidayat Wirayudha; Mardian Bagus Prakosa
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengemukakan pentingnya interpretasi bagi seorang pemain serta membuktikan efektifitas metode pendekatan analisis struktural dalam mendapatkan interpretasi dalam  memainkan Suite For Piano FP.19 karya Francis Poulenc. Penulis  menggunakan teori analisis struktural dari buku The Musician’s Way - A Guide to Practice, Performance and wellness karya Gerald Klickstein dan buku penunjang  yang memperkuat teori analisis struktural ini yaitu Musical Performance – A Guide to Understanding karya John Rink. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode studi kasus adalah suatu metode penelitian yang berdasarkan pada ilmu sosial dimana penulis mengamati secara khusus sebuah objek sebagai suatu kasus yang akan diteliti dan dibahas secara menyeluruh.Dalam tugas akhir ini objek yang akan diamati adalah analisis struktural dalam interpretasi teks musik pada karya Suite For Piano FP.19 karya Francis Poulenc. Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah penulis dapat membuktikan bahwa metode analisis struktural dapat menjadi metode pendekatan yang efektif dalam memperoleh interpretasi teks musik secara lebih detail dan akurat secara tekstual dalam karya karya Suite For Piano FP.19 karya Francis Poulenc. Sehingga penulis juga dapat menyimpulkan bahwa kemampuan seorang pemain untuk melakukan proses interpretasi teks musik melalui metode analisis struktural ini merupakan hal yang sangat penting yang pada penelitian selanjutnya dapat dikembangkan menjadi lebih luas lagi dan dapat memperkaya proses kreatif seorang pemain dalam menginterpretasikan suatu karya. The Effectiveness of Structural Analysis Methods in 19th Century Music Interpretation (Case Study: Suite For Piano FP.19 by Francis Poulenc)The purpose of this research is to explain the importance of interpretation for a performer and to prove the effectiveness of the structural analysis approach in obtaining interpretation in playing Francis Poulenc's Suite For Piano FP.19. The author uses the theory of structural analysis from the book The Musician's Way - A Guide to Practice, Performance and Wellness by Gerald Klickstein and a supporting book that strengthens the theory of structural analysis, namely Musical Performance - A Guide to Understanding by John Rink. The research method used in this study is a qualitative research method with a case study approach. The case study method is a research method based on social science where the author specifically observes an object as a case that will be thoroughly researched and discussed. In this final project the object to be observed is structural analysis in the interpretation of musical texts in Suite For Piano works. FP.19 by Francis Poulenc. The results and conclusions of this study are that the authors can prove that the structural analysis method can be an effective approach in obtaining a more detailed and textually accurate interpretation of musical texts in the work of Suite For Piano FP.19 by Francis Poulenc. So that the writer can also conclude that the ability of a performer to carry out the process of interpreting musical texts through this structural analysis method is very important which in further research can be developed even more broadly and can enrich the creative process of a performer in interpreting a work.
Peran Emosi dalam Interpretasi Musikal Musisi untuk Meningkatkan Kinerja Estetis: Studi Kasus Pada Pemain Cello dan Gitar Wirayudha, Asep Hidayat
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i2.5075

Abstract

ABSTRACT The complex task in musical performance sometimes makes musicians get an unsatisfactory evaluation. On the other hand, the structural approach to music itself, which is believed to be a fundamental tool for musical interpretation, has not clear yet how its capacities could become the basis for translating written notes into musical sounds. Moreover, music is experienced not exclusively as a mere structure and sound event but also participated as a subjective event. This study, therefore, explores the role of musicians' personal experiences, particularly emotions, in shaping musical interpretation. It uses a qualitative method with a comparative approach. The approach is used to investigate how emotion can mediate the transformation of written notes into musical sounds. A comparison of two cases of interpretation on the cellist and the guitar player is held to explain if there are differences in the interpretation process of the two groups of musicians. The result of this study shows that, firstly, emotional experience gained in the socialization of everyday emotions plays an essential role in understanding music. Secondly, after musicians can apprehend the feeling in the musical structure, they can manifest them into an acoustic code that has an iconic relationship with the emotional content of the musical form. And thirdly, emotional experience posts as the basis for translating structural information into meaningful sound.ABSTRAK Rumitnya tugas atau peran pemain musik membuat musisi terkadang mendapat evaluasi yang kurang memuaskan dari pendengar. Di sisi lain, pendekatan teoritis yang diyakini dapat menjadi alat bantu untuk menginterpretasi musik belum diketahui dengan jelas bagaimana musisi dapat menjadi basis dalam menerjemahkan nada-nada tertulis menjadi bunyi musikal. Padahal, musik dialami tidak hanya ekslusif sebagai peristiwa struktural dan bunyi semata, namun juga dialami sebagai peristiwa subjektif. Oleh sebab itu, penelitian ini mengeksplorasi peran pengalaman emosi subjektif pemain dalam membentuk interpretasi musikal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif. Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari bagaimana emosi dapat menjadi perantara musisi dalam mentransformasi not tertulis menjadi bunyi musikal. Komparasi dua kasus interpretasi pada pemain cello dan pemain gitar dilakukan dalam rangka melihat apakah ada kemiripan dan perbedaan dalam proses menginterpretasi pada dua kelompok musisi intrumen yang berbeda. Hasilnya ditemukan bahwa pertama, pengalaman emosi yang diperoleh dalam sosialisasi emosi sehari-hari, berperan penting dalam memahami musik yang muatannya juga sarat dengan emosi. Kedua, setelah musisi dapat menangkap emosi yang terkandung dalam struktur musikal, musisi dapat merealisasikannya menjadi kode akustik yang memiliki relasi ikonikal dengan muatan emosi struktur musikal. Ketiga, pengalaman emosi menjadi basis dalam menterjemahkan informasi struktual menjadi bunyi yang bermakna.
A Solution to the Fingering Problem of Brahms Cellos Sonata No. 1 Opus 38 and Shostakovich Cello Sonata Opus 40 Wirayudha, Asep Hidayat
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.803

Abstract

The flexibility of fingers is one main factor of responsibility on their spread ability. Considering thecello playing, the spread ability of cellists’ fingers is very important since it has a direct correlation to theirability to play the octave interval. The short- fingers cellists would find difficulties to play the octave intervalsat the first, second, third, and fourth position. Nevertheless, short-fingers are not dead-end for cellist. Thespread ability of finger, up to some extent, might be increasing through practices and exercises. It is with thisspirit that the author proposes some stratagems, which may be used to increase the spread ability of a cellist’sfingers in this section - using the octave interval problems as a case of pint. The discussion on the types andstyles of problem show that even though the octave intervals in Brahms cellos sonata No. 1 opus 38 andShostakovich cello sonata opus 40 are different in details, but fundamentally they are similar: the problemscome from the difficulty of the first and the fourth fingers to reach the proper note when the size and lengthof the fingers are limited.Solusi dari Permasalahan Fingering dalam Brahms Cellos Sonata No.1 Opus 38 danShostakovich Cello Sonata Opus 40. Kemampuan penyebaran jari pemain cello sangat penting karenamemiliki korelasi langsung dengan kemampuan mereka untuk bermain interval oktaf. Jari-jari pendekpemain cello akan menemukan kesulitan untuk bermain interval-interval oktaf di posisi pertama,kedua, ketiga, dan keempat. Namun demikian, kemampuan penyebaran jari, bisa ditingkatkan melaluipraktik dan latihan. Hal tersebut menggugah penulis untuk mengusulkan beberapa siasat baru mengenaikemampuan teknis memainkan interval dan oktav dan persoalan jarak interval dalam konteks Sonatayang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan penyebaran jari seorang pemain cello. Meskipuninterval oktaf di Brahms cello sonata No 1 opus 38 dan Shostakovich cello sonata opus 40 berbeda,tetapi pada dasarnya keduanya sama: masalah datang ketika kesulitan terjadi pada jari pertama dankeempat untuk mencapai nada yang tepat ketika ukuran dan panjang jari-jari terbatas.
Skenografi Drama Musikal Peter And The Wolf Karya Sergei Prokofiev dalam Perspektif Orkestrasi Dongeng Tatang Rusmana; Asep Hidayat
PANGGUNG Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3385

Abstract

Repertoar Peter And The Wolf (A Symphonic tale for Children) karya Sergei Prokofiev, ditulis Prokofiev tahun 1936. Repertoar diangkat ke dalam bentuk pertunjukan dongeng yang dikompos bersama musik secara ansamble. Narator bercerita kisah anak-anak, sedangkan orkestra mengilustrasikannya menggunakan instrumen untuk memainkan tema dalam mewakili setiap karakter. Karya Prokofiev ini merupakan salah satu karya yang ideal untuk cerita anak dan sering ditampilkan diseluruh repertoar klasik. Alur cerita melukiskan orang Rusia di kawasan hutan, dengan tema utama tentang pesan kemenangan manusia menjinakkan alam. Peter and The Wolf ditulis dengan partitur yang bagus. Hal yang menarik dari cerita tersebut ditulis menjadi bagian symphoni orchestra, memiliki alur cerita efik dalam spektakle cerita kepahlawanan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan perspektif hermeneutik, serta tiga struktur dasar pertunjukan (deep structures) Richard Schechner; Preparation, Performances, dan Aftermath. Teks mengalami transformasi, guna memberi nilai kebaruan semiotik dalam eksplanasi perkembangan drama musikal Indonesia. Tujuan penelitian dan pertunjukan, guna menemukan kongkritisasi dramaturgi untuk diterapkan menjadi materi studi di Jurusan Teater. Kata Kunci: A Symphonic tale for Children, Drama Musikal, Peter and The Wolf, Skenografi
Skenografi Drama Musikal “Peter And The Wolf” Karya Sergei Prokofiev dalam Perspektif Orkestrasi Dongeng Tatang Rusmana; Asep Hidayat
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3385

Abstract

Repertoar Peter And The Wolf (A Symphonic tale for Children) karya Sergei Prokofiev, ditulis Prokofiev tahun 1936. Repertoar diangkat ke dalam bentuk “pertunjukan dongeng” yang dikompos bersama musik secara ansamble. Narator bercerita kisah anak-anak, sedangkan orkestra mengilustrasikannya menggunakan instrumen untuk memainkan “tema” dalam mewakili setiap karakter. Karya Prokofiev ini merupakan salah satu karya yang ideal untuk cerita anak dan sering ditampilkan diseluruh repertoar klasik. Alur cerita melukiskan orang Rusia di kawasan hutan, dengan tema utama tentang pesan “kemenangan manusia menjinakkan alam”. Peter and The Wolf ditulis dengan partitur yang bagus. Hal yang menarik dari cerita tersebut ditulis menjadi bagian symphoni orchestra, memiliki alur cerita efik dalam spektakle cerita kepahlawanan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan perspektif hermeneutik, serta tiga struktur dasar pertunjukan (deep structures) Richard Schechner; Preparation, Performances, dan Aftermath. Teks mengalami transformasi, guna memberi nilai kebaruan semiotik dalam eksplanasi perkembangan drama musikal Indonesia. Tujuan penelitian dan pertunjukan, guna menemukan kongkritisasi dramaturgi untuk diterapkan menjadi materi studi di Jurusan Teater. Kata Kunci: A Symphonic tale for Children, Drama Musikal, Peter and The Wolf, Skenografi
Eksperimentasi Penggunaan Kayu Mangga sebagai Inovasi Alternatif Pengganti Kayu Maple dalam Pembuatan Violin Alam, Ghoni Maulana; Wirayudha, Asep Hidayat; Latif, Bakhrudin
Ekspresi Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v13i2.13450

Abstract

Penelitian ini merupakan upaya eksplorasi yang mendalam terhadap proses pembuatan biola menggunakan kayu mangga dengan desain model Stradivarius tahun 1703, serta analisis terperinci terhadap karakteristik akustik yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental untuk menguji kelayakan kayu mangga sebagai bahan dasar violin, menggantikan kayu maple, yang tidak tersedia secara luas di Indonesia. Model yang digunakan adalah Violin model Stradivarius tahun 1703. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu mangga dapat dianggap sebagai alternatif yang potensial untuk bahan pembuatan biola, meskipun terdapat perbedaan signifikan dibandingkan dengan biola yang menggunakan kayu maple. Uji frekuensi resonansi dan analisis kekerasan suara menunjukkan bahwa biola dari kayu mangga mampu menghasilkan suara yang mampu bersaing, namun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan stabilitas harmonik dan respons frekuensi tinggi. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan saran bahwa dengan penyesuaian teknik konstruksi yang tepat, potensi kayu mangga sebagai bahan baku untuk pembuatan biola bisa dioptimalkan. Temuan ini tidak hanya memberikan wawasan baru dalam bidang pembuatan alat musik tradisional, tetapi juga mengilustrasikan pentingnya eksplorasi bahan baku alternatif dalam konteks modern yang mengutamakan keberlanjutan dan ketersediaan bahan.Kata kunci: Violin, kayu mangga, frekuensi, eksperimentasi AbstractExperimental Use of Mango Wood as an Alternative Innovation to Maple Wood in Violin Construction. This study presents an in-depth exploration of the process of constructing violins using mango wood, modeled on the 1703 Stradivarius design, along with a detailed analysis of the resulting acoustic characteristics. An experimental approach was adopted to assess the viability of mango wood as a primary material in violin production, substituting the traditionally used maple wood, which is not widely available in Indonesia. The model applied was a 1703 Stradivarius-style violin. Findings indicate that mango wood has potential as an alternative material for violin making, although notable differences were observed when compared to violins crafted with maple wood. Resonance frequency tests and sound hardness analyses revealed that mango wood violins can produce competitive sound quality, yet further refinements are necessary to enhance harmonic stability and high-frequency response. Overall, this study suggests that with appropriate construction technique adjustments, the potential of mango wood as a violin-making material could be maximized. These findings not only provide new insights into traditional musical instrument manufacturing but also underscore the importance of exploring alternative materials in a modern context that prioritizes sustainability and material availability.Keywords: violin, manggo wood, frequency, experimentation