Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Lokasi Bertelur Penyu Di Pantai Timur Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kasenda, Petros; Boneka, Farnis B.; Wagey, Billy T.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.2.2013.2496

Abstract

Hampir semua negara dan lembaga-lembaga konservasi resmi di dunia melarang perdagangan eksploitasi penyu. Penyu telah terdaftar dalam daftar Apendik I Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna Spesies Terancam (Convention on International Trade of Endangered Species - CITES). Penyu terancam bahaya kepunahan karena tempat bertelur penyu mengalami degradasi. Tempat bertelur penyu belum terdokumentasikan dengan baik  di Sulawesi Utara sehingga perlu penelitian tentang lokasi bertelur penyu. Penelitian dimaksudkan untuk memetakan dan mendeskripsikan lokasi tempat bertelur penyu di Pantai Timur Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Data diperoleh dengan survei dan wawancara warga yang tinggal di sekitar lokasi penelitian, mencakup Tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Kombi, Kecamatan Lembean Timur, dan Kecamatan Kakas. Hasil menemukan bahwa tempat bertelur terdapat di Pantai Ranowangko, Pantai Kawis, Pantai Toloun, Pantai Kolongan, Pantai Lembean, Kamenti, Atep Oki, Parentek, dan Pantai Tumpaan. Hampir semua kondisi lokasi bertelur penyu memiliki karakteristik yang mirip, yaitu garis pantainya yang panjang dengan di dominasi oleh pasir putih, daerah intertidal yang luas serta terdapat lamun. Sebagian besar penduduk yang tinggal di sekitar lokasi bertelur penyu pernah menangkap penyu, mengambil telur untuk dikonsumsi bahkan menjualnya.
Biodiversitas Alga Makro Di Lagun Pulau Pasige, Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro Tampubolon, Agrialin; Gerung, Grevo S.; Wagey, Billy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.2.2013.2122

Abstract

Alga makro sebagai salah satu sumberdaya yang ada di perairan Indonesia dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan misalnya Gracilaria, Euchema dan Kappaphycus, disamping itu juga untuk kebutuhan farmasi, kosmetik, kertas dan cat, alga bernilai ekonomis penting dan memiliki tingkat kegunaan yang tinggi karena komoditas alga laut dapat bermanfaat baik bagi manusia maupun lingkungan perairan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis alga makro yang ada di perairan Pulau Pasige, Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro dengan mengidentifikasi jenis-jenis alga makro yang ditemukan. Dari hasil penelitian ini ditemukan ada 9 jenis alga hijau Halimeda macroloba, Halimeda opuntia, Halimeda discoidea, Halimeda incrassata, Caulerpa lentillifera,Caulerpa racemosa, Boergesenia forbesii, Dictyospheria cavernosa, Boodlea coacta 10 alga merah Gracilaria blodgetti, Gracilaria edulis, Laurencia papilosa, Amphiroa fragilisima, Gelidiopsis intricata, Gracilaria verucosa, Acanthopeltis sp, Hypnea sp, Amansia glomerata, Euchema denticulatum dan 2 alga coklat Padina minor, Turbinaria ornata.
Morfologi Sargassum sp dI kepulauan RAJA AMPAT, PAPUA BARAT Pansing, Jenita; Gerung, Grevo; Sondak, Calvyn; Wagey, Billy; Ompi, Medy; Kondoy, Khristin
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.1.2017.14990

Abstract

Sargassum sp. merupakan salah satu sumberdaya alam pesisir yang memiliki fungsi ekologis dan ekonomis bagi masyarakat pesisir. Di Kepulauan Raja Ampat ini belum banyak alga Sargassum yang di eksplorasi. Alga Sargassum memiliki berbagai macam bentuk morfologi tallus, misalnya ada yang berbentuk seperti benang yang halus, bercabang banyak, berbentuk gelembung, daun yang lebar, bergerigi pada bagian daun dan bertalus lebar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan mendeskripsikan morfologi Sargassum yang ditemukan di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Dari hasil penelitian ditemukan ada 4 spesies di Pulau Yeftip Yefnawam (S. paniculatum, S. grevillei, S. cristaefolium), dan yang ditemukan di Pulau Salawati (S. polycystum).
Penentuan Kandungan Pigmen Klorofil Pada Lamun Jenis Halophila ovalis Di Perairan Malalayang Rosang, Christy I.; Wagey, Billy Th.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 1 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.4.1.2016.11452

Abstract

Tumbuhan di dunia beraneka ragam.  Ada yang di darat dan ada yang di laut.  Lamun Halophila ovalis merupakan tumbuhan laut yang berbentuk oval dan hidup pada substrat berpasir dan pasir bercampur lumpur.  Lamun ini mengandung pigmen terlihat pada hasil analisis spektrofotometer pada ekstrak pigmen total lamun dan pemisahan pigmen lewat uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Dalam proses ekstraksi digunakan pelarut aseton untuk penggerusan dan petroleum eter sebagai pemisah larutan. Pada kurva spektrofotometer terlihat dua puncak yaitu pada panjang gelombang 428 nm dan 660 nm terlihat masih adanya pencampuran pigmen.  Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan pemisahan pigmen lewat KLT dan terdapat tiga lapisan yaitu lapisan pertama berwarna kuning teridentifikasi adalah pigmen karotenoid dengan nilai Rf 0,93, lapisan kedua berwarna hijau adalah klorofil a dengan nilai rata-rata Rf 0,96 dan lapisan ketiga berwarna kelabu yang teridentifikasi adalah feofitin a dengan nilai Rf 0,97.
Sediment removal activities of the sea cucumbers Pearsonothuria graeffei and Actinopyga echinites in Tambisan, Siquijor Island, Central Philippines Bucol, Lilibeth; Cadivida, Andre; Wagey, Billy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.19454

Abstract

Teripang terkenal mengkonsumsi sejumlah besar sedimen dan dalam proses meminimalkan jumlah lumpur yang negatif dapat mempengaruhi organisme benthic, termasuk karang. Kegiatan pengukuran kuantitas pelepasan sedimen dua spesies holothurians (Pearsonuthuria graeffei dan Actinophyga echites) ini dilakukan di area yang didominasi oleh ganggang dan terumbu terumbu karang di Pulau Siquijor, Filipina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. graeffei  melepaskan sedimen sebanyak 12.5±2.07% sementara pelepasan sedimen untuk A. echinites sebanyak 10.4±3.79%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua spesies ini lebih memilih substrat yang didominasi oleh macroalgae, diikuti oleh substrat berpasir dan coralline alga
COMMON GARDEN OF SEAGRASSES Halodule uninervis (Forsskål) Aschershon AND Halodule pinifolia (Miki) den Hartog Wagey, Billy Theodorus
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.193 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.2.2012.368

Abstract

A simple culture system ‘common garden’ has been set up in Institute of Environmental and Marine Science (IEMS) Dumaguete City Philippines (N 09° 19' 52.8" and E 123° 18' 34.1") at the running seawater outdoor experiment tank aimed to monitor the variation of shoot density, leaf morphology and growth rates of marine plant genus Halodule.  The mean shoot densities of Halodule pinifolia were varied and tend to decrease after the three month period of common garden.   Using one-way ANOVA tests, significant differences were detected on the comparison among the months of common garden (F=6.400; p=0.005), mean leaf growth rate (mm/day) of H. pinifolia (F=13.510; p=0.000), and the mean leaf widths from Siquijor (F=9.274; p=0.001) among the three month period of common garden.  Meanwhile, there were no significant differences detected on leaf width (mm) of H. pinifolia origin from Bantayan site, on mean leaf widths of H. uninervis from Bantayan, on mean leaf widths of H. uninervis from Banilad, and on mean leaf growth rate (mm) of H. uninervis among the three month period of common garden.  The result suggests that the ‘common garden’ procedure could have possibly given a clearer pattern of genus Halodule leaf width, shoot density, and growth rate if the could be prolonged.  It could also be suggested that an adequate number of shoot density on the initial procedure for ‘common garden’ should be properly determined.  This is to avoid overcrowding of the samples later, when growth rate will tend to increase without compromising the leaf width and shoot density measurements. Keywords: common garden, seagrasses, shoot density, leaf width, growth rate, Halodule pinifolia, Halodule uninervis.   Sistem kultur Common Garden sederhana telah dibangun di Institute of Environmental and Marine Science (IEMS) Dumaguete City Philippines (09° 19' 52,8" LU dan 123° 18' 34,1" BT) dalam tangki penelitian di luar ruangan untuk memantau variasi kepadatan tunas, morfologi daun dan laju pertumbuhan rumput laut genus Halodule.  Kepadatan tunas rata-rata Halodule pinifolia bervariasi dan cenderung menurun setelah periode tiga bulan. Menggunakan uji ANOVA satu arah, perbedaan nyata terdeteksi pada pembandingan bulan (F = 6.400, p = 0,005), rata-rata laju pertumbuhan daun (mm/hari) H. pinifolia (F = 13,510, p = 0,000), dan rata-rata lebar daun dari Siquijor (F = 9,274, p = 0,001) antara ketiga bulan common garden.  Sementara itu, tidak ada perbedaan nyata yang terdeteksi pada lebar daun (mm) H. pinifolia asal Bantayan, pada lebar daun rata-rata H. uninervis dari Bantayan, pada lebar daun rata-rata H. uninervis dari Banilad, dan laju pertumbuhan daun rata-rata (mm) dari H. uninervis dalam periode tiga bulan dari common garden. Hasil ini menunjukkan bahwa prosedur 'common garden' mungkin bisa memberikan pola yang lebih jelas tentang lebar daun, kepadatan tunas, dan laju pertumbuhan genus Halodule jika waktu bisa diperlama. Juga dapat disarankan bahwa kepadatan tunas pada prosedur awal common garden harus ditentukan dengan baik untuk menghindari kesesakan sampel di kemudian hari, karena laju pertumbuhan cenderung meningkat sehingga ukuran lebar daun dan kepadatan tunas tidak terpengaruhi. Kata kunci: common garden, lamun, kepadatan tunas, lebar daun, laju pertumbuhan, Halodule pinifolia, Halodule uninervis.
Studies on seagrasses of North Sulawesi, Indonesia and adjacent waters: A critical review Wagey, Billy T.
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.6.2.2018.20152

Abstract

The importance of seagrasses in terms of ecological and economic benefits are well-known. This paper describes the status of research on seagrasses conducted so far, with relevance to the North Sulawesi region. Most of the studies done in Indonesia, especially in North Sulawesi, have focused on species richness and biodiversity as well as basic biological questions such as biomass and morphometric differences of certain seagrass species between sampling localities. While several studies have been conducted, there is a general need for Indonesian marine scientists to expand research areas related to food-web dynamics and inter-connectivity of major fishery and nursery habitats (mangroves-seagrass-coral reefs) with the aid of modern tools (e.g. molecular approach).   Keywords: benefits, biology, ecology, economic, seagrass
Jenis-Jenis Ikan Di Padang Lamun Pantai Tongkaina Assa, Jerly D.; Wagey, Billy Th.; Boneka, Farnis B.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 3, No 2 (2015): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.3.2.2015.10852

Abstract

Padang lamun memilki berbagai peranan dalam kehidupan ikan dimana padang lamun dapat dijadikan daerah asuhan (nursery ground), sebagai tempat mencari makan (feeding ground), dan daerah untuk mencari perlindungan. Untuk spesies lamunnya sendiri dapat merupakan makanan langsung bagi ikan. Peranan lamun adalah sebagai daerah asuhan, dimana sebagian besar ikan penghuni padang lamun adalah ikan-ikan juvenil apabila telah dewasa akan menghabiskan hidupnya pada tempat lain.Jenis ikan yang yang di dapat pada padang lamun pantai Tongkaian dengan menggunakan survey jelajah dan alat tangkap gil net yaitu 10 jenis ikan. 10 jenis ikan yang di dapat pada saat penelitian di padang lamun pantai tongkaiana adalah umumnya penghuni daerah padang lamun dan ada juga ikan yang hanya mencari makan di daerah padang lamun atau ikan penghuni terumbu karang.Jenis lamun yang paling dominan di padang lamun pantai Tongkaina yaitu 2 jenis lamun. Kedua jenis lamun tersebut adalah lamun Enhalus acroides dan Thalassia hemprichii.
Pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii (Doty) yang direndam dalam ekstrak daun ketapang Terminalia catappa L. dengan frekuensi berbeda Kurniawan, Putra M.; Kreckhoff, Reni L.; Ngangi, Edwin L. A.; Wagey, Billy T.
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.8.2.2020.28728

Abstract

This study aimed to evaluate the benefits of Terminalia catappa L. leaf extract on the growth of Kappaphycus alvarezii seaweed. Treatment A (control /without soaking into ketapang leaf extract), treatment B (soaking into ketapang leaf extract at the beginning of maintenance), C (soaking ketapang leaf extract every 1 week) and D (soaking into ketapang leaf extract every 2 weeks). Differences in growth of K. alvarezii seaweed for 42 days were not significantly affected by differences in the frequency of immersion of ketapang leaf extract. Absolute growth of Fcount (3.9521977 tn) <Ftable value of 5% (4.06), relative growth of Fcount (2.957545 tn) <Ftable value of 5% (4.06) and daily growth rate of Fcount (3.237068tn) <Ftable value of 5% (4.06). Even so the results of absolute growth measurements, relative growth and the best daily growth rate on soaking ketapang leaf extract every two weeks, followed by soaking ketapang leaf extract at the beginning of cultivation, soaking ketapang leaf extract every one week and without soaking into leaf extract.
The Collapse of Donkey’s Ear Abalone (Haliotis asinina) Fishery in Siquijor, Philippines Wagey, Billy Theodrus
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.2.2.2014.4898

Abstract

We briefly describe the localized abalone (Haliotis asinina) fishery in Siquijor Island, central Philippines and discussed the possible reasons of the sudden collapse in local trade and fishery. The lack of management system may have contributed to over-exploitation of abalone leading to closure in 2012. Prior to the collapse in 2012, abalone gatherers spent an average of 4.18±0.15 hours/day/site with catch-per-unit-effort (CPUE) of H. asinina ranged from 0.1 to 0.6 kg/person/hr with mean value of 0.25±0.03 (SE) kg/person/hr. Recommendations to revive and sustain the abalone fishery of Siquijor Island are also provided.   Keywords: abalone, fishery, overharvesting, Siquijor