Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KHILAFAH DALAM PANDANGAN 'ALI 'ABD AL-RAZIQ Saad, Suadi
ALQALAM Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1854.578 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v20i97.648

Abstract

Di dalam Islam, persoalan kenegaraan telah menjadi bahan diskusi berkepanjangan sejak wafatnya nabi Muhammad SAW sampai zaman modem ini. Polemik dan perdebatan di sekitar masalah itu terasa semakin seru pada saat kaum Muslimin memasuki periode modern, lebih-lebih ketika berbagai ideologi besar dunia Barat mulai menanamkan pengaruhnya di dunia Islam. Tema-tema diskusi itu dalam garis besarnya berkisar pada wajib tidaknya kaum muslimin mendirikan negara; bagaimana susunan dari bentuk negara; siapa yang berhak menduduki jahatan Kepala negara; bagaimana posisi syari'ah dalam kaitannya dengan mekanisme pemerintahan, dan lain sebagainya. Bahwa pada zaman modern timbul pula persoalan yang menyangkut "apakah agama harus bersatu dengan negara"; apakah Islam memerintahkan umatnya untuk membentuk dan mendirikan "Negara Islam" atau tidak.Dalam hal ini, kita melihat pentingnya kehadiran para tokoh dan pemikir politik muslim guna memecahkan persoalan mengenai sistem ketatanegaraan dalam Islam. Di antara para tokoh tersebut terdapat beberapa pemikir Islam kontemporer, seperli Ali Abd al-Raziq, yang pemikiran-pemikirannya akan dibahas dalam makalah ini. Kehadirannya dengan gagasan-gagasan yang diterangkan di dalam bukut Al-Islam wa Usul al-Hukm -yang merupakan sumber utama penulis -telah menjadi sebuah alternatif bagi pemikiran politik Islam masa kini. Apalagi masa saat-saat terakhir ini di mana isu tentang negara Islam dan khilafah mulai mencuat kembali.Beberapa waktu lalu dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi, Abdul Wahid Kadungga, salah seorang warga Belanda asal Makassar dan menantu Kahar Muzakar (tokoh NII) yang disangka mempunyai hubungan dengan kelompok "teroris" Jema'at lslamiyah, menyatakan bahwa kini saatnya untuk menegakkan kembali khilafah. Sebaliknya, sebelumnya, secara implisit Ulil Abshar-Abdallah, di Harian Kompas, menyatakan hahwa Islam tidak menuntut berdirinya negara Islam atau sistem khilafah --pernyataan yang mengundang munculnya "fatwa hukum bunuh" atas dirinya, dari sebagian ulama.Saya berpikir, buku ini mendapatkan momentumnya kembali saat ini, dan perlu untuk kita kaji.Kata Kunci: Khilajah, Negara Islam, al-Islam wa Usul al-Hukm
Kontribusi Madrasah Diniyah Dalam Membentuk Karakter Anak Dina Indriana; Suadi Saád
Tarbawiyah Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol 5 No 1 (2021): Tarbawiyah : Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/tarbawiyah.v5i1.3022

Abstract

The purpose of this study was to determine the contribution of junior high school (madrasah diniyah) to shaping children's character. Madrasah Diniyah (JHS) as an Islamic education institution was established to hold learning activities based on the Islam religion. The students who take part in this school activity start at the age of 8 or those who are already in grade 2 up to the age of 11 or those in grade 5. The research method used in this research was qualitative research. The author's data collection techniques used observations and interviews. The data analysis technique used was through the data reduction stage, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study show that most of the children who attend madrasah diniyah (JHS) have noble morals, such as performing religious activities (reciting the Qur'an or praying together known as jamaáh). It can be seen that teenagers in Taman Puri housing complex do prayer together at the mosque, participate in routine recitation studies, study religious books, provide compensation to the poor during the month of Muharram, celebrate the Prophet Muhammad's birthday activities with the community at the mosque, act honest and polite towards elders and so on.
PEMIKIRAN KALAM T.M. HASBI ASH-SHIDDIEQY Suadi Saad
Al Qalam Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1342.285 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i3.1367

Abstract

Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy adalah seorang tokoh ulama Nusantara abad XX yang sangat produktif dan telah menyumbangkan segudang karya dalam berbagai bidang ilmu, termasuk di bidang ilmu T auhid. Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa Hasbi lebih cendenmg kepada pemikiran corak Salafi. Salah satu hal yang membuktikan tesis tersebut adalah kurang apresiatifnya Hasbi terhadap upaya mentakwilkan makna teks, sebagaimana halnya para ulama Salaf atau Ahl al-Nass.Di dalam tulisannya, Hasbi seringkali menyatakan, hendaklah kita cukupi dalam masalah yang kita bahas ini dengan apa yang diterangkan dalam Qur'an dan Sunnah, tidak membahasnya lebih lanjut lagi, karena akan membawa kepada sesuatu yang sebenamya tidak dapat diketahui akal manusia dan tidak ada kaitannya dengan kebahagiaan kehidupan manusia di dunia ini ataupun di akhirat.Kata Kunci: Dayah, maddah, salafi, kalafi, sunnah Allah, sirk, nadhar, mu'aththilah, musabbihah, ru'yah bila kayfa
PERSPEKTIF HADIS NABI SAW. TENTANG ZUHUD Suadi Saad
Al Qalam Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2026.928 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v23i3.1502

Abstract

Dilihat dari perspektif hadis Nabi saw, zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan hal-hal duniawi, tetapi merasa hati lebih terpaut kepada apa yang di sisi Allah daripada kepada harta, serta lebih berharap akan pahala dari musibah yang menimpa. Zuhud tidak selalu identik dengan kemiskinan. Kaya harta dengan cara yang halal, dan tidak menghambakan diri kepada kekayaan tersebut, sebaliknya hati selalu terpaut dengan apa yang ada di sisi Allah, juga merupakan zuhud.Dari perspektif hadis pula, pada hakikatnya zuhud ada dua: 1) zuhud dari dunia, dan 2) zuhud dari apa yang dimiliki manusia. Zuhud terhadap dunia, bukanlah dengan mengharamkan hal-hal yang dihalalkan oleh syariat, tetapi "hati lebih terpaut kepada apa yang ada di sisi Allah dari pada kepada apa yang kita miliki': dan 'Jika ditimpa musibah duniawi, lebih berharap akan pahalanya daripada tidak adanya musibah itu sendiri': Sementara, zuhud terhadap milik manusia akan menimbulkan rasa cinta mereka kepada kita.
PERSPEKTIF QUR'AN TENTANG KEHIDUPAN Suadi Saad
Al Qalam Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2009.829 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v23i1.1449

Abstract

Sikap manusia terhadap hidup di dunia ini ada dua: ada yang berpandangan optimis dan ada yang berpandangan pesimis. Kaum optimis, yang beragama maupun yang anti agama, sama-sama berpendapat bahwa hidup ini cukup berharga karena mengandung makna dan tujuan. Inilah pandangan manusia pada umumnya. Tetapi berkesimpulan bahwa hidup ini bermakna dan bertujuan belum berarti banyak, jika tidak diteruskan dengan upaya menjawab pertanyaan, makna yang mana dan tujuan yang mana, bernilai positi (baik) atau negatif (jahat)?Di dalam artikel ini dijelaskan tentang hidup di dalam perspektif ayat-ayat Qur'an menurut pemahaman saya dengan, tentusaja, ditunjang oleh hadis-hadis Nabi maupun pandangan beberapa mufasir. Upaya ini terasa penting agar kita dapat memahami apa sebenarnya hakikat, arti, dan tujuan hidup yang kita jalani ini, menurut Qur'an.
MENGGEMPUR TASAWUF HETERODOKS Suadi Saad
Al Qalam Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2078.214 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1492

Abstract

Ajaran wahdat al-wujud (yang dibawa oleh Ibn 'Arabi) membawa konsekwensi bahwa subyek dari semua predikat adalah Tuhan, bahkan sekalipun subyek itu nyata-nyata berbeda, manusia atau non-manusia. Tuhan adalah imanen sekaligus transenden. Sekalipun demikian, doktrin tersebut terus mendominasi spekulasi sufi selama empat ratus tahun sehingga Ahmad Sirhindi menjadikan konsep-konsep dasar serta konsekuensi moral dan keagamaannya sebagai sasaran kritik tajam, dan memunculkan teosofi yang sejajar, yakni, yang dikenal dengan Wahdat al-suhud.Sirhindi melihat bahwa keyakinan akan Wujud Tunggal tidaklah obyektif. Ia adalah sebuah fenomena subyektif Bukti kesubyektifannya terletak pada munculnya ide itu sendiri. Sirhindi bersikap kritis terhadap aspek-aspek tertentu dari ajaran Ibn 'Arabi, tetapi kritik tersebut tidak menghalanginya untuk mengapresiasi kontribusi Ibn 'Arabi terhadap tasawuf secara keseluruhan.Berbagai ''gempuran" yang dilancarkan terhadap Wahdatul Wujud - corak tasawuf yang oleh sebagian ulama dianggap heterodoks - tidak lain adalah upaya purifikasi tasawuf yang ontologis-filosofis menuju kepada tasawuf yang lebih sufistik dan yang tidak mengabaikan syariat.
Kontribusi Madrasah Diniyah Dalam Membentuk Karakter Anak Indriana, Dina; Saád, Suadi
Tarbawiyah Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol 5 No 1 (2021): Tarbawiyah : Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/tarbawiyah.v5i1.3022

Abstract

The purpose of this study was to determine the contribution of junior high school (madrasah diniyah) to shaping children's character. Madrasah Diniyah (JHS) as an Islamic education institution was established to hold learning activities based on the Islam religion. The students who take part in this school activity start at the age of 8 or those who are already in grade 2 up to the age of 11 or those in grade 5. The research method used in this research was qualitative research. The author's data collection techniques used observations and interviews. The data analysis technique used was through the data reduction stage, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study show that most of the children who attend madrasah diniyah (JHS) have noble morals, such as performing religious activities (reciting the Qur'an or praying together known as jamaáh). It can be seen that teenagers in Taman Puri housing complex do prayer together at the mosque, participate in routine recitation studies, study religious books, provide compensation to the poor during the month of Muharram, celebrate the Prophet Muhammad's birthday activities with the community at the mosque, act honest and polite towards elders and so on.
Internalisasi Akhlakul Karimah dalam Era Digital: Tantangan dan Strategi Pendidikan Islam Ahmad Zainuddin; Suadi Saad; Rifyal Ahmad Lugowi; Wasehudin; Uyu Muawanah
Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam Vol. 24 No. 2 (2025): Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/mk.v24i2.7581

Abstract

The development of digital technology has changed the way individuals understand and internalize religious values, especially for Generation Z who grew up in a digital ecosystem. The practicality of accessing religious knowledge through social media such as YouTube, Instagram, TikTok, and Facebook creates its own challenges in strengthening a deep understanding of Islam and noble manners. This study aims to explore the challenges and formulate strategies in internalizing akhlakul karimah in the digital era. Through a qualitative method based on a literature review, the study reveals that Islamic educational institutions play a crucial role in developing a valid understanding of Islam through a curriculum that focuses on digital literacy and the critical ability to sort out religious information. The proposed strategies include integrating technology in learning, enhancing the role of educators in social media, and establishing a learning environment conducive to Islamic values. By implementing adaptive strategies, it is hoped that the younger generation will be able to internalize the values of akhlakul karimah well amid the swift flow of digital information.
Analisis Normatif dan Etis terhadap Bantuan Medis dalam Bunuh Diri dan Eutanasia (Perspektif Hukum Islam dan Bioetika) Suhaemi, Hamdan; Suadi Saad; Kurniawan, Ade Fakih
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1133

Abstract

Penelitian ini menganalisis bantuan medis dalam bunuh diri (physician-assisted suicide) dan eutanasia dari perspektif hukum Islam dan bioetika. Seiring dengan meningkatnya legalisasi eutanasia di berbagai negara, muncul dilema etis dan hukum yang memerlukan kajian lebih dalam. Dalam Islam, kehidupan adalah amanah yang harus dijaga sesuai dengan prinsip ḥifẓ al-nafs dalam maqāṣid al-sharī‘ah, sehingga euthanasia dan bantuan medis dalam bunuh diri umumnya dilarang. Namun, terdapat perdebatan mengenai konsep futility care, yaitu penghentian perawatan medis yang tidak lagi memberikan manfaat bagi pasien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif untuk menganalisis fatwa, hukum Islam, serta prinsip-prinsip bioetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Islam melarang eutanasia, terdapat fleksibilitas dalam penghentian perawatan medis dalam kasus tertentu. Kajian ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan hukum Islam kontemporer dan kebijakan kesehatan berbasis nilai Islam.
Transformasi Epistimologi Hukum Islam Klasik: Rekostruksi Metodologis Untuk Yurisprudensi Kontemporer Arinalhaq, Muhammad Syauqi; Suadi Saad; Endang Saeful Anwar
El-Faqih : Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol. 11 No. 2 (2025): EL FAQIH
Publisher : Institut Agama Islam (IAI) Faqih Asy'ari Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the evolution of Islamic law in the classical period, analyze its sources and methods, and review the extent of its influence on contemporary jurisprudence. This research employs a qualitative method with historical, normative, and epistemological approaches. The findings indicate that the development of Islamic law in the classical era emerged from the interaction between sacred texts, rational reasoning, and socio-historical conditions. Various schools of thought that arose at that time demonstrated distinctive characteristics while maintaining adherence to the fundamental principles of law. The study further reveals that the concept of maqāṣid al-sharī‘ah had been employed by classical scholars to formulate laws that remained relevant to the needs of their society. The novelty of this research lies in the epistemological reconstruction of classical Islamic law, which is proposed as a new methodological framework for contemporary jurisprudence. It emphasizes that modern ijtihad does not merely replicate classical legal products but rather integrates maqāṣid principles and interdisciplinary approaches to address the complexities of social, economic, political, and cultural transformations. The theoretical implication of these findings is the need to reposition the epistemology of Islamic law from a purely textual-normative paradigm toward a contextual-adaptive paradigm that is more responsive to contemporary challenges. Thus, this study contributes to the development of modern Islamic law by offering a methodological framework that is critical, dynamic, and relevant to the demands of a global society.