Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Telaah Paradigma Ilmu Sosial Profetik Dalam Memahami Transformasi Sosial Maskur, Dadang; Masykur; Iffan Ahmad Gufron
Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956 Vol. 5 No. 4 (2024): April
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jtm.v5i4.2915

Abstract

Tujuan utama penulisan artikel ini sederhana, yaitu menggugah para intelektual muda untuk mengapresiasi dan ikut mengembangkan atau paling tidak ikut mengkampanyekan hasil pemikiran Cendikiawan Muslim Indonesia. Dalam artikel ini penulis memilih pemikiran Kuntowijoyo yang berusaha membangun teori ilmu sosial islam yang kemudian dikenal sebagai Ilmu Sosial Profetik (ISP) dengan basis epistemology Al Quran, memiliki tujuan untuk tidak hanya membaca, memberikan penjelasan dan menginisiasi perubahan dalam fenomena sosial. saja tetapi juga kemana transformasi Umat diarahkan sesuai petunjuk Al Quran. Kajian mendetail mengenai ISP dalam memahami Transformasi sosial ini penulis rangkum dari berbagai sumber, dikemas dalam penelitian kualitatif menggunakan metode Studi Pustaka. Sebenarnya untuk menelaah proses transformasi sosial, banyak sekali grand theory dalam ilmu sosial yang bisa digunakan sebagai pisau analisis, akan tetapi dalam artikel ini penulis menelaah transformasi sosial dengan metode pendekatan Ilmu Sosial Profetik. Artikel ini menginformasikan tentang penelaahan Paradigma ISP sebagai sebuah teori ilmu sosial islam dan bagaimana metode ISP dalam memahami transformasi sosial, untuk itu ranah kajiannya meliputi 1. Kajian singkat Ilmu Sosial Profetik, 2. Landasan pemikiran Kuntowijoyo dalam membangun paradigma Ilmu Sosial Profetik dan 3. Pendekatan Ilmu Sosial Profetik dalam menelaah Transformasi sosial.
Inclusive Philanthropy and Poverty Alleviation in Indonesia: A Study of the Philosophy of Deliberative Justice Masykur, Masykur; Kurniawan, Ade Fakih; Sumintak, Sumintak; Suryani, Ade Jaya; M. Nanda, Fauzan
Aqlania Vol. 15 No. 2 (2024): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v15i2.11393

Abstract

This study explores the role of inclusive philanthropy in addressing the persistent challenge of poverty in Indonesia’s multicultural society, where structural disparities are often shaped by religious, ethnic, and socio-economic differences. While philanthropic traditions such as zakat, infaq, sadaqah, and waqf have long been central to Islamic social practice, their implementation has often remained confined within exclusive communal or religious boundaries, limiting their transformative potential. Taking the case of the LAZ Griya Yatim & Dhuafa Foundation in Cilegon City, this research seeks to understand how philanthropic initiatives that transcend identity-based limitations can contribute to more equitable and sustainable welfare distribution. Employing a qualitative approach that includes in-depth interviews with key philanthropic stakeholders and critical literature analysis, the study draws on Jürgen Habermas’s theory of deliberative justice to examine how inclusive philanthropy can operate within the public sphere as an instrument of both solidarity and justice. The analysis reveals that dialogically grounded and participatory philanthropy, when responsive to the pluralism of its social context, has the capacity to strengthen civil society engagement and promote fair access to welfare resources. It was found that inclusive philanthropy is an effective strategy for alleviating poverty regardless of ethnicity, religion, or race. These findings emphasize deliberative justice to ensure a fair welfare distribution through the active participation of civil society. It is hoped that inclusive philanthropic practices will increase through government policies in more structured state philanthropy and active involvement in the public sphere. Ultimately, this study offers both theoretical insight and practical direction for how inclusive philanthropic models can be integrated into broader strategies of poverty alleviation and social transformation in plural societies.
Tradisi Masyarakat Nahdliyin: Implementasi Fidyah Bidaur dengan Emas Bagi Orang Meninggal (Studi Kasus di Masyarakat Desa Muncung Kecamatan Kronjo Kabupaten Tangerang) Supe’i; Ayubi, Sholahuddin Al; Masykur
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1135

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang tradisi fidyah bidaur bagi orang meninggal di desa Muncung sebagai fenomena ditengah masyarakat yang masih menimbulkan kontroversi, baik dari segi pemahaman maupun praktiknya, dengan demikian, kalangan masyarakat desa Muncung, selalu melakukan tradisi fidyah bidaur yang dianngapnya tepat dengan ajaran hadis dan pandangan pendapat fuqoha yang termaktub dalam Fathul Muin dan kitabuthuros lainnya. Fidyah bidaur dalam perspektif ajaran agama Islam, adalah bentuk pengganti atau tebusan yang dilakukan ketika seseorang tidak dapat menjalankan kewajiban ibadah seperti sholat, puasa, dan kewajian lainnya. Studi ini bertujuan untuk memahami implementasi fidyah bidaur dalam konteks budaya dan religius masyarakat desa Muncung serta melihat bagaimana tradisi ini dipertahankan dan berkembang dari masa kemasa serta mengetahui pendapat ulama tentang  fidyah bidaur dengan emas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan menggunakan pendekatan fenomologi, etnografi, dan studi kasus. Untuk pengumpulan data, tokoh agama dan masyarakat yang terlibat dalam praktik fidyah bidaur diwawancarai dan diobservasi.
Fenomena "The Nuruls": Kontestasi Budaya dan Keagamaan dalam Pembentukan Identitas Remaja Muslimah Murlayani, Yani; Ayubi, Solahuddin AL; Masykur
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1144

Abstract

Identitas remaja muslim diera kontemporer dipengaruhi oleh beberapa factor, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan social yang terjadi saat ini, Budaya memiliki peran penting dalam pembentukan identitas remaja muslim tidak hanya pengaruh ajaran agama tetapi juga dinamika budaya local, global dan media social yang ada disekitar dapat membentuk cara remaja Muslim berpikir, Berprilaku, dan berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana remaja muslim membentuk identitas mereka melalui presepsi dan interpretasi terhadap aktivitas social dan keagamaan yang mereka lakukan. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali pandangan remaja muslim tentang nilai-nilai budaya, norma social serta praktik keagamaan yang mereka terima dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.Hasil penelitian menunjukan bahwa identitas remaja muslim dibentuk melalui interaksi antara nilai agama yang diterima dalam keluarga dan Masyarakat serta pengaruh budaya pop dan media social yang lebih luas. Sementara remaja muslim cenderung menafsikan aktivitas social dan keagmaaan secara fleksibel yang mencerminkan upaya mereka untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman tampa mengabaikan aspek relegiusitas dalam kehidupan mereka, dengan demikian pembentukan identitas remaja muslim di era kontemporer merupakan proses dinamis yang melibatkan negoisasi antara tradisi, agama dan budaya modern. Karena budaya memiliki pengaruh signifikan terhadap pementukan identitas remaja muslim. Remaja muslim yang tumbuh dalam lingkungan budaya yang kuat cenderung memiliki identitas yang lebih kuat dan stabil. Identitas remaja muslim diera kontemporer dipengaruhi oleh beberapa factor, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan social yang terjadi saat ini, Budaya memiliki peran penting dalam pembentukan identitas remaja muslim tidak hanya pengaruh ajaran agama tetapi juga dinamika budaya local, global dan media social yang ada disekitar dapat membentuk cara remaja Muslim berpikir, Berprilaku, dan berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana remaja muslim membentuk identitas mereka melalui presepsi dan interpretasi terhadap aktivitas social dan keagamaan yang mereka lakukan. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali pandangan remaja muslim tentang nilai-nilai budaya, norma social serta praktik keagamaan yang mereka terima dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.Hasil penelitian menunjukan bahwa identitas remaja muslim dibentuk melalui interaksi antara nilai agama yang diterima dalam keluarga dan Masyarakat serta pengaruh budaya pop dan media social yang lebih luas. Sementara remaja muslim cenderung menafsikan aktivitas social dan keagmaaan secara fleksibel yang mencerminkan upaya mereka untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman tampa mengabaikan aspek relegiusitas dalam kehidupan mereka, dengan demikian pembentukan identitas remaja muslim di era kontemporer merupakan proses dinamis yang melibatkan negoisasi antara tradisi, agama dan budaya modern. Karena budaya memiliki pengaruh signifikan terhadap pementukan identitas remaja muslim. Remaja muslim yang tumbuh dalam lingkungan budaya yang kuat cenderung memiliki identitas yang lebih kuat dan stabil.
Kritik Ibn Khaldun terhadap Budaya dan Kekuasaan: Analisis Konsep Ashabiyyah' dalam Muqaddimah Matin; Masykur; Ahmad Gufron , Iffan
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1179

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep ashabiyyah dalam pemikiran Ibn Khaldun sebagaimana tertuang dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, dengan fokus pada hubungan antara solidaritas sosial, budaya, dan kekuasaan. Dalam kerangka filsafat politik Islam klasik, ashabiyyah dipahami sebagai kekuatan kolektif yang menjadi fondasi pembentukan dan keberlangsungan kekuasaan politik serta stabilitas budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan studi kasus lokal di Provinsi Banten, dengan menyoroti keluarga besar H. Chasan Shohib sebagai representasi aktualisasi ashabiyyah dalam konteks kekuasaan kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa ashabiyyah yang bersifat inklusif dan etis dapat menjadi sumber kekuatan sosial-politik yang stabil dan berkeadilan, sementara ashabiyyah yang eksklusif dan tidak adaptif cenderung mendorong disintegrasi dan kemunduran kekuasaan. Temuan ini menegaskan relevansi pemikiran Ibn Khaldun dalam membaca dinamika kekuasaan modern, serta pentingnya revitalisasi nilai solidaritas sosial berbasis budaya dan moralitas untuk membangun kekuasaan yang berkelanjutan.
Perspektif H.O.S Tjokroaminoto Tentang Pendidikan, Islam, dan Nasionalisme Farijal, Farijal; Gufron, Iffan Ahmad; Masykur, Masykur
Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 4 No. 2 (2023): Permata : Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/permata.v4i2.1265

Abstract

The journey of human life will not be separated from various things that require the use of reason to be able to determine the outcome of every problem faced. The paradigm of thinking is influenced by the concentration of education pursued, so the important role of education will be comparable to the output of processing reason on a problem that uses thinking as its basic tool. However, there is something more important than education, namely Religion, because religion is a foundation of life. Which cannot be accepted only by reason, but by faith. Tjokroaminoto as one of the revolutionary educational figures in Indonesia who is determined to carry out every movement on a religious basis, resulting in extraordinary student products such as Soekarno, Kartosuwiryo and Semau'n. This research will examine Islam as a revolutionary education from the perspective of H.O.S Tjokroaminoto.Keyword: Islam; Education; Tjokroaminoto.
Hoarding Disorder dalam Perspektif Al-Qur'an dan Kesehatan Mental Dadang Hawari Firdausa, Salsabila; Masykur, Masykur; Ghufron, Ahmad Iffan
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 1: April (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i1.1055

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hoarding disorder dalam perspektif Al-Qur'an dan teori kesehatan mental Islam yang dikembangkan oleh Dadang Hawari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, serta mengintegrasikan kerangka biopsikososiospiritual (BPS-S) untuk memahami hoarding disorder secara komprehensif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis mendalam terhadap teks-teks Islam, termasuk ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, dan literatur terkait psikologi Islam serta kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hoarding disorder bukan sekadar masalah psikologis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Dalam Islam, perilaku menimbun barang secara berlebihan bertentangan dengan prinsip qana’ah (rasa cukup), tawakkal (berserah diri kepada Allah), dan infaq (berbagi harta). Ayat-ayat Al-Qur'an seperti QS. Al-Furqan (25:67) dan QS. At-Taubah (9:34-35) menekankan pentingnya keseimbangan dalam pengelolaan harta serta memperingatkan bahaya menimbun secara berlebihan. Pembahasan penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan terapi psikoreligius Islam, seperti shalat, dzikir, dan infaq, dapat membantu individu mengelola kecemasan dan mengurangi keterikatan terhadap barang. Penelitian ini berkontribusi dalam mengintegrasikan psikologi Islam dengan intervensi kesehatan mental,  menawarkan pendekatan holistik dalam menangani hoarding disorder melalui penyembuhan spiritual dan psikologis.
Kontribusi Pemikiran Al-Farabi dalam Membentuk Karakter Netizen di Media Sosial Auliya, Fikri; Masykur; Gufron, Iffan Ahmad
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 1: April (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i1.1074

Abstract

Era digital membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, terutama dalam media sosial. Tekhnologi digital menawarkan manfaat yang luas, tetapi juga menimbulkan tantangan etis, seperti penyalahgunaan informasi, perundungan siber, dan hilangnya privasi. Artikel ini mengeksplorasi pemikiran Al-Farabi terkait etika digital, dengan focus pada konsep kebajikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis bagaimana prinsip-prinsip etika Al-Farabi dapat diterapkan dalam perilaku pengguna media sosial. Hasilnya menunjukan bahwa penerapan etika Al-Farabi dalam dunia digital dapat membantu menerapkan suasana daring yang lebih adil, bertanggung jawab, dan harmonis. Dengan demikian, pemikiran Al-Farabi memberikan kontribusi penting dalam membangun kesadaran etis di era digital.
Tinjauan Sosio Kultural Terhadap Dilema Sistem Perkawinan Suku Baduy Luar Khafidhotulumah, Siti; Masykur; Iin Ratna Sumirat
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v5i2.3025

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membahas Sistem Perkawinan Dalam Tinjauan Yuridis yang berada di Baduy Luar Desa Kanakes Kecamatan Leuwidamar, Penelitian dan tulisan ini dibuat dan disusun dengan metode penelitian empiris yang menggunakan analisis kualitatif yaitu dengan melakukan wawancara langsung dengan Jaro (Kepala Kampung) dan masyarakat adat Baduy. Perkawinan merupakan hukum alam yang harus terjadi dan dilakukan oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Sistem hukum perkawinan pada masyarakat adat Baduy yaitu perkawinan Monogami yang artinya seorang laki-laki Baduy tidak boleh beristri lebih dari seorang dan perkawinan poligami merupakan suatu hal yang tabu. Selain itu juga faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan masyarakat adat Baduy pada hukum adat diantaranya factor agama dan kepercayaan, faktor sosial dan budaya, faktor hukum adat dan agama.
Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten Wahid, Masykur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.1888

Abstract

Baduy-style Islamic is pronounced with syahadat and practiced with tapa to maintain and preserve the natural heritage, karuhun. Tapa of Baduy is working in the fields to plant rice as a form to practice Islamic teachings, by mating the goddess of rice to the earth. Baduy’s action was guided by the pikukuh, custom, following the buyut, taboo. Religious teachings, tapa, pikukuh and buyut have shaped simple personalities Baduy people in maintaining the Kanekes natural conservation. Thus, welfare and peace can be felt by mankind. This paper describes the system of religion and religious rituals Sunda Wiwitan. In the perspective of religion phenomenology issue, the phenomena are studied using direct observation method and in-depth interviews. One of the finding illustrated that the Baduy people’s faith and obedience to God appears in their actions in taking care of forests, rivers and mountain to life in harmony. Their faith is not in the form of memorizing or interpreting old religious scripture. Furthermore, worship rituals are practiced by working in the fields under custom rules guidance and abiding the taboo to have successful harvest and prosperous people. Worship is not intended to become a respected man or benefactor. This is the Sunda Wiwitan people with life perspective of maintaining the Kanekes natural conservation. Islam ala Baduy diucapkan dengan syahadat dan diamalkan dengan tapa untuk menjaga dan melestarikan alam warisan karuhun, nenek moyang. Tapa Baduy adalah bekerja di ladang dengan menanam padi sebagai amalan ajaran agama, mengawinkan dewi padi dengan bumi. Tindakan masyarakat Baduy itu berpedoman kepada pikukuh, aturan adat, dengan mematuhi buyut, tabu. Ajaran agama, tapa, pikukuh dan buyut telah mengkonstruksi pribadi-pribadi Baduy yang sederhana dalam menjaga alam lindung Kanekes. Sehingga, kesejahteraan dan kedamaian dapat dirasakan oleh umat manusia. Tulisan ini memaparkan sistem religi dan ritual keagamaan Sunda Wiwitan. Dalam perspektif fenomenologi agama permasalahan itu dikaji dengan metode observasi terlibat langsung dan wawancara mendalam. Ditemukan jawaban bahwa keimanan dan ketaatan umat Baduy kepada Allah tampak dalam tindakan mereka menjaga hutan, sungai dan gunung hidup harmoni. Keimanannya bukan dalam hafalan ataupun penafsiran kitab suci. Sedangkan, 2 ibadah ritualnya dipraktikkan lewat bekerja di ladang dengan aturan adat dan patuh pada tabu supaya panen berhasil dan umat sejahtera. Ibadahnya bukan ingin menjadi manusia yang dihormati ataupun dermawan. Inilah umat Sunda Wiwitan dengan pandangan hidup menjaga alam lindung Kanekes.