Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

HARAKAH DAN KEMANDIRIAN PEREMPUAN Mukhtar, Muhammad
Al-Maiyyah : Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan Vol 12 No 1 (2019): AL-MAIYYAH
Publisher : LP2M IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.854 KB) | DOI: 10.35905/almaiyyah.v12i1.684

Abstract

Perempuan memiliki akses yang sama terhadap laki-laki dalam peran mereka dalam masyarakat. Konteks makro, yang sama sekali berbeda, berdampak pada masalah penafsiran Alquran secara keseluruhan dan khususnya mengenai harakah dan kemandirian perempuan. Alquran tidak mengatakan bahwa semua laki-laki memiliki kelebihan dari semua perempuan. Tapi Alquran mengatakan "sebagian dari Anda lebih baik dari yang lain". Beberapa laki-laki unggul atas beberapa perempuan dan sebaliknya. Pandangan yang mengekspresikan superioritas laki-laki terhadap perempuan dan membatasi kebutuhan perempuan hanya pada aspek domestik harus mempertimbangkan konteks makro di masa lalu dengan konteks makro mereka saat ini. Untuk mewujudkan martabat dan kemandirian perempuan dan untuk melestarikan hak-hak mereka, sifat, dan identitas, perempuan dituntut untuk menyadari potensi mereka dan membuktikan kemampuan mereka di dunia nyata.
AURAT DAN PAKAIAN PEREMPUAN Mukhtar S., Muhammad; Mardia, Mardia
Al-Maiyyah : Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan Vol 12 No 2 (2019): AL-MAIYYAH
Publisher : LP2M IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.195 KB) | DOI: 10.35905/al-maiyyah.v12i2.690

Abstract

Isu aurat dan pakaian adalah masalah kontekstual-historis. Ini berarti bahwa batas aurat dan bagaimana tatacara berpakaian adalah masalah budaya lokal. Perkembangan budaya juga mempengaruhi konsepsi nilai dalam tindakan dan pola interaksi masing-masing anggota masyarakat. Berbagai masalah justru bermunculan di masyarakat yang memunculkan opini pro dan kontra terkait dengan masalah alat aurat dan pakaian wanita, khususnya masalah pembatasan aurat pada wanita dan hukum untuk menutupnya, kriteria pakaian atau pakaian yang digunakan untuk menutupinya. Terkait dengan aurat dan pakaian perempuan terdapat beberapa ketentuan, yaitu, pertama, seorang perempuan tidak boleh menampakkan auratnya (aurat besar) kecuali di hadapan suaminya; kedua,batasan minimal pakaian perempuan yang berlaku secara umum adalah menutup aurat bagian atas (al-juyub al-?ulwiyyah), yaitu daerah payudara dan bawah ketiak, dan menutup aurat bagian bawah (al-juyub as-sufliyah), bentuk berpakaian semacam ini bukan yang harus diperlakukan dalam melakukan interaksi sosial dalam masyarakat, tetapi dituntut untuk berpakaian sopan sesuai dengan etika, moral, dan adat masyarakat setempat; ketiga, Alqur?an dan sunnah secara pasti melarang segala aktivitas baik pasif maupun aktif yang dilakukan seseorang bila diduga dapat menimbulkan ransangan birahi kepada lawan jenisnya. Keempat, QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59 merupakan tuntunan etika dan moral dalam berpakaian bagi perempuan agar mereka terhindar dari gangguan sosial ketika mereka keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya.
MANAJEMEN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MAN 3 SLEMAN Muhammad Dirman Rasyid; Muh. Mukhtar S.; M.Taufiq Hidayat Pabbajah
EDUCANDUM Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami manajemen pengembangan kurikulum PAI dalam perspektif multikultural di MAN 3 Sleman, dan mengetahui problematika yang dihadapi dalam implementasi nilai-nilai multikultural dalam manajemen pengembangan kurikulum PAI di MAN 3 Sleman. Adapun teorinya berdasar dari teori yang dikemukakan Oemar Hamalik, yaitu mengacu pada kerangka pikir manajemen, berupa perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, implementasi, dan pengontrolan atau evaluasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan filosofis, pendekatan agama, pendekatan pendidikan, dan pendekatan psikologi pendidikan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, sumber datanya melalui dokumentasi dan narasumber, teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dan uji keabsahan data melalui uji kredibilitas data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pengembangan kurikulum PAI di MAN 3 Sleman, yaitu dari aspek perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, dan pengimplementasiannya mengacu pada keragaman dan kebutuhan peserta didik dan melibatkan beberapa pihak dalam pengambilan keputusan, dan dari aspek evaluasinya meliputi aspek konteks, proses, dan produk dan dilakukan melalui tes maupun non-tes serta dilakukan secara berkesinambungan. Problematika dalam manajemen pengembangan kurikulum di MAN 3 Sleman, yaitu faktor penyediaan dan kesiapan personel dalam menjalankan konsep dari kurikulum, sering kali guru tidak memahami ide yang terkandung dalam kurikulum, adanya perbedaan persepsi visi dan misi yang hendak dicapai, serta ketidakloyalan sebagian pihak dalam merealisasikan konsep atau isi kurikulum.
PEMASARAN DAN UPAYA DALAM MEMPENGARUHI HARAPAN STAKEHOLDER DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Muhammad Mukhtar
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/tarbawi.v14i2.621

Abstract

Marketing is an activity or approach that always oriented on consumers whoaim to make management decisions. Marketing should be done with careful planning and clear goals and oriented to customer satisfaction. Marketing in educational institutions is to establish a good image (image) of the institution and attract a number of prospective students. Marketing should be oriented to "customers" who in the context of a school or madrasah are called students/learners. This is where the need for a school or madrasah to find out how prospective students see the school or madrasah to choose. In addition, in order to know the needs and attract customers (students) then the strategic steps that can be done, namely market identification, market segmentation and positioning, product differentiation, marketing communications, and school services. The tool that can be used as a step in marketing is the 7P marketing mix that is composed of traditional 4P used in the marketing of goods and 3P as an expansion of the marketing mix. The 4P element is product; services such as what is offered, price; pricing strategy; place (location); where services are provided, promotion; how promotion is given. The 3P elements are people (people / human resources); quality, qualifications, and competencies held by persons engaged in the execution of services, physical evidence; facilities and infrastructure, such as what is owned, and process; management of the given learning. Pemasaran merupakan kegiatan atau pendekatan yang selalu berorentasipada konsumen dengan tujuan untuk membuat keputusan manajemen.Pemasaran hendaklah dilakukan dengan perencanaan matang, tujuanjelas, serta berorentasi pada kepuasan pelanggan. Pemasaran di lembagapendidikan adalah untuk membentuk citra (image) yang baik terhadaplembaga dan menarik minat sejumlah calon siswa. Pemasaran harusberorentasi kepada “pelanggan” yang dalam konteks sekolah ataumadrasah disebut dengan siswa/peserta didik. Disinilah perlunya sekolahatau madrasah untuk mengetahui bagaimana calon siswa melihat sekolahatau madrasah yang akan dipilihnya. Selain itu, dalam rangka mengetahuikebutuhan dan menarik pelanggan (siswa) maka langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan, yaitu identifikasi pasar, segmentasi pasar dan positioning, diferensiasi produk, komunikasi pemasaran, dan pelayanan sekolah. Alat yang dapat dijadikan sebagai langkah dalam pemasaran adalah bauran pemasaran 7P yaitu terdiri dari 4P tradisional yang digunakan dalam pemasaran barang dan 3P sebagai perluasan bauran pemasaran. Unsur 4P yaitu product (produk); jasa seperti apa yang ditawarkan, price (harga); strategi penentuan harganya; place (tempat/lokasi); di mana tempat jasa diberikan, promotion (promosi); bagaimana promosi diberikan. Adapun unsur 3P yaitu people (orang/SDM); kualitas, kualifikasi, dan kompotensi yang dimiliki oleh orang yang terlibat dalam pelaksanaan jasa, physical evidence (bukti fisik); sarana dan prasarana, seperti apa yang dimiliki, dan process (proses); manajemen pembelajaran yang diberikan.
ANALISIS SUPERVISI AKADEMIK KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI MADRASAH Mardia; Muhammad Mukhtar. S
AL-MUNADZOMAH Vol. 1 No. 2 (2022): AL-MUNADZOMAH
Publisher : Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.438 KB) | DOI: 10.51192/almunadzomah.v1i2.321

Abstract

Supervisi akademik kepala madrasah merupakan kemampuan membina kinerja guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran dan mengembangkan keprofesian guru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui supervisi akademik kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru. Metode penelitian menggunakan kajian pustaka dengan dua sumber data yaitu data primer dan sukunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan supervisi akademik kepala madrasah yang dilaksanakan bukan hanya ditujukan bagi penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan juga membantu guru dalam meningkatkan kemampuan profesionalnya. Pelaksanaan supervisi akademik secara optimal harus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan tindak lanjut. Tahap perencanaan meliputi, (1) menetukan tujuan supervisi, (2) membuat jadwal supervisi, (3) menentukan teknik dan pendekatan supervisi, (4) menelaah instrumen supervisi. Tahap pelaksanaan meliputi, (1) Melaksanakan Supervisi Perangkat Pembelajaran, (2) Melakasanakan Supervisi Pemantauan RPP, (3) Melaksanakan Supervisi Proses Pembelajaran, dan (4) Melaksanakan Supervisi Penilaian Hasil Belajar. Tahap monitoring meliputi menilai program tahunan, program semester, silabus, rencana pelaksanaan program pembelajaran, pemetaan, kriteria ketuntasan minimal, jurnal guru, buku nilai, kisi-kisi soal, analisis nilai, program perbaikan dan pengayaan dan buku sumber yang dipakai untuk memberikan materi kepada siswa. Tahap tindak lanjut meliputi dua aspek kegiatan, yaitu (1) melihat kembali catatan-catatan hasil supervisi, (2) melakukan pembinaan terhadap guru, baik secara individu maupun secara kelompok
ANALISIS PEMBELAJARAN FIKIH BERBASIS PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI MTs DDI KABALLANGAN KABUPATEN PINRANG Mardia; Muhammad Mukhtar. S; Rohman Rohman
Edu Global : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2022): EDU GLOBAL: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/eduglobal.v3i1.845

Abstract

Multicultural-based education is seen as important in responding to existing differences. The diversity of schools of law in fiqh and issues of khilafiyah often become internal debates among Muslims and often lead to divisions. This type of research is qualitative research, the data source is through documentation and resource persons, data collection techniques are through observation, documentation, and interviews. Data analysis techniques through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that (1) the dimensions of multicultural values ​​in fiqh learning consist of curriculum dimensions, dimensions in teaching materials consist of values ​​of tolerance, equality of rights, values ​​of brotherhood, justice, and social ethics, (2) implementation of multicultural values ​​in comparison of schools in fiqh learning, namely promoting the values ​​of tolerance and not being fanatical, being inclusive, not discriminatory, teaching the background of the emergence of differences, ethics in responding to differences, and promoting the values ​​of peace and unity, (3) the implications of multicultural values in fiqh learning, namely (1) implications in the domain of attitude (affection) which consists of awareness and cultural sensitivity, responsiveness to culture, and skills to avoid conflict, (2) domain of knowledge (cognitive) which consists of knowledge of the language and culture of people others, and the ability to analyze and translate cultural behavior and knowledge about cultural awareness. (3) the learning domain which consists of the ability to correct distortions, stereotypes, and misunderstandings about ethnic groups.
STUDY OF THE THINKING OF MUHAMMAD SYAHRUR AND M. QURAISH SHIHAB ABOUT THE CONCEPT OF POLYGAMY: (Study of Interpretation of Qs. An-nisa/4:3) Muhammad Mukhtar; Mardia Mardia; Andika Aminuddin
LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan Vol. 17 No. 1 (2023): JUNI
Publisher : LP2M Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.307 KB) | DOI: 10.35316/lisanalhal.v17i1.22-32

Abstract

Polygamy is one issue that is always hot to study because it creates contradictions in understanding it. Some allow it absolutely, and some forbid it regardless of whether or not there are conditions that must be met for those who want to become polygamous. This research method is literature, which is carried out using literature related to the thoughts of Syahrur and M. Quraish Shihab. The data sources are primary data and secondary data. Syahrur requires that the second, third, and fourth wives be polygamous widows who already have orphans, and there must be a fear of being unable to do justice to the orphans. Syahrur adheres to the kitab ayat approach. Society (the government) determines whether polygamy is enforced or prohibited by looking at whether or not polygamy is required. Meanwhile, M. Quraish Shihab views polygamy as focused on the redaction of verses and involving the context and history of the verse's revelation. The polygamy verse does not indicate an order requiring the practice of polygamy but rather an alternative solution to individual problems.
Internalization of the Values of Religious Moderation in Islamic Religious Education at State Senior High School 2 Pinrang S, Muhammad Mukhtar
International Journal on Advanced Science, Education, and Religion Vol 7 No 3 (2024): IJoASER (International Journal on Advanced Science, Education)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Furqan, Makassar - Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33648/ijoaser.v7i3.713

Abstract

This research aims to analyze the internalization of religious moderation values in Islamic religious education at State Senior High School 2 Pinrang. The study uses a qualitative approach with a focus on in-depth exploration of social phenomena through phenomenological methods. Data sources include the principal, teachers, and students selected using purposive sampling techniques. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and document studies, and analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The results of the study indicate that the values ​​of religious moderation applied at State Senior High School 2 Pinrang include tolerance, humanity and equality, national commitment, and accommodation of local culture. The process of internalizing these values ​​is carried out through learning integration (hidden curriculum), by linking diversity issues to teaching materials. Through interactive learning through group discussions and case studies. Teacher role models who demonstrate moderate attitudes and share experiences related to moderation practices. Extracurricular activities through diversity-themed competitions. Comprehensive evaluation, covering cognitive, affective, and psychomotor aspects. The development of Islamic religious education based on moderation in State Senior High School 2 Pinrang is carried out through the integration of moderation values ​​in the curriculum, training and improving teacher competencies, implementing active learning methods, strengthening extracurricular activities that support moderation, and ongoing evaluation and monitoring
Ahmadiyah dan Pembentukan Wacana Islam Moderat di Dunia Barat Modern : The Ahmadiyya Movement and the Construction of Moderate Islamic Discourse in the Modern Western World Mukhtar S, Muhammad; Salvia Salmawati; Samriono; Widia; Rahmawati
IQRA JURNAL ILMU KEPENDIDIKAN & KEISLAMAN Vol 21 No 1: Januari 2026
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/iqra.v21i1.9526

Abstract

Penelitian ini mengkaji perkembangan Ahmadiyah dan pengaruhnya dalam konteks dunia Barat modern dengan menyoroti peran sosial, media, dan diplomasi publik yang dijalankan komunitas ini. Melalui metode studi pustaka, penelitian ini menelaah literatur akademik, laporan hak asasi manusia, publikasi internal Ahmadiyah, serta sumber-sumber media yang relevan untuk memahami bagaimana gerakan ini membangun citra Islam yang damai dan moderat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Ahmadiyah berhasil memanfaatkan media global seperti Muslim Television Ahmadiyya (MTA), jaringan literasi keagamaan, serta kampanye sosial Love for All, Hatred for None sebagai instrumen pendidikan publik dan diplomasi keagamaan. Di dunia Barat, komunitas Ahmadiyah tampil sebagai agen dialog antaragama, promotor toleransi, dan aktor yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan, sehingga berkontribusi pada konstruksi wacana Islam inklusif. Namun, pengaruh ini masih jarang dikaji secara komprehensif dalam kajian akademik, khususnya dalam perspektif sosial, keagamaan, dan pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menegaskan pentingnya melihat Ahmadiyah sebagai salah satu model keberagamaan minoritas yang relevan dalam penguatan nilai moderasi dan literasi keagamaan di masyarakat Barat modern
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SMAN 9 PINRANG Syuaib, Muhammad Mukhtar; Haddade, Hasyim; Rusmin, Muhammad
Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Al-Munadzomah Vol 5 No 1 (2025): AL-MUNADZOMAH
Publisher : Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/almunadzomah.v5i1.2224

Abstract

This research is grounded in the need for Islamic religious education that does not merely instill religious values in a dogmatic manner, but is also capable of fostering tolerant, inclusive attitudes and respect for cultural, ethnic, and religious diversity. The aim of this study is to analyze the development of Islamic Religious Education learning in the perspective of multicultural education at SMAN 9 Pinrang. This study employs a qualitative approach. Data were obtained through in-depth interviews, observation, and document analysis. Data analysis techniques included data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings indicate that the development of multicultural-based Islamic Religious Education learning at SMAN 9 Pinrang is carried out in an integrated manner through four dimensions: contextual development of learning materials, enhancement of teacher competencies in conflict resolution, cross-subject curriculum collaboration, and the involvement of parents along with continuous evaluation of students’ attitudes. This approach is systemic and comprehensive, distinguishing it from previous studies that tended to focus only on isolated aspects such as teaching methods, teacher roles, or curriculum design. These findings suggest that multicultural-based Islamic Religious Education learning can foster inclusive, dialogical, humanistic, moderate, and contextual learning practices in the dynamics of a multicultural society