Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Pengaruh Jumlah Lapisan dan Rasio Coating Epoxy pada Pipa JIS G3141 terhadap Ketebalan, Kekasaran Coating, dan Laju Korosi Rohmat, Muhammad Yusuf Nur; Rosidah, Afira Ainur; Saidatin, Naili
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan 2024: Menjembatani Energi Berkelanjutan dan Ekonomi Hijau melalui Transformasi Riset dan Teknologi T
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi disebabkan oleh beberapa faktor seperti temperatur, kadar air, zat elektrolit, permukaan logam yang tidak rata. Oleh karena itu, logam dilindungi untuk mencegah korosi, salah satunya dengan cara pelapisan (coating). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi jumlah lapisan coating epoxy dan rasio epoxy:hardener yang mampu memperlambat laju korosi secara optimal. Variasi yang digunakan adalah jumlah lapisan coating dengan 2, 4, dan 6 lapis, serta variasi rasio epoxy:hardener 1:1; 1:0,75; dan 1:0,5. Sedangkan pengaruh variasinya dianalisis terhadap ketebalan lapisan coating, kekasaran dan laju korosi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, semakin banyak jumlah lapisan coating dan perbandingan epoxy:hardener, maka ketebalan semakin besar. Ketebalan terbesar 177µm pada variasi jumlah lapisan 6 lapis dan epoxy:hardener 1:1. Tren nilai yang sama juga dapat dilihat pada hasil kekasaran. Nilai kekasaran tertinggi adalah 1,704 µm pada variasi jumlah lapisan 6 lapis dan epoxy:hardener 1:1. Nilai laju korosi mengalami penurunan seiring dengan penambahan ketebalan lapisan coating, nilai laju korosi terendah didapatkan pada variasi jumlah lapisan 6 lapis dan epoxy:hardener 1:1 dengan nilai 0,313 mpy.
Analisis Pengaruh Variasi Inhibitor dan Konsentrasi Media Korosi terhadap Laju Korosi dan Kekuatan Impak Baja AISI 1020 pada Media Asam Syahara, Hariz; Rosidah, Afira Ainur; Suheni, Suheni; Ubaidulloh, Dawud Ariza
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan 2024: Menjembatani Energi Berkelanjutan dan Ekonomi Hijau melalui Transformasi Riset dan Teknologi T
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi disebabkan oleh penurunan kualitas dari material yang berinteraksi  dengan lingkungan. Bahan yang terbuat dari baja seringkali diserang terjadinya pengkaratan akibat dari korosi yang bervariasi. Oleh karena itu ada beberapa cara dalam penanganan terjadinya korosi salah satunya yaitu dengan penambahan inhibitor. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inhibitor paracetamol dan asam askorbat terhadap laju korosi pada baja AISI 1020 dengan konsentrasi asam sulfat. Pengujian laju korosi dilakukan dengan menggunakan metode weight loss dan pengujian impact charpy. Hasil penelitian ini menunjukkan laju korosi tertinggi terjadi tanpa inhibitor dalam asam sulfat 6% dengan nilai 65,60 mmpy dan laju terendah dengan inhibitor parasetamol dalam asam sulfat 2% dengan nilai 17,5631 mmpy. Peningkatan konsentrasi asam sulfat menyebabkan peningkatan laju korosi. Hasil uji impak tertinggi sebesar 0,079 J/mm2, ditunjukkan pada media dengan inhibitor parasetamol dan konsentrasi asam sulfat 2%. Selain itu, kekuatan impak terendah adalah 0,073 J/mm2 tanpa inhibitor dengan asam sulfat 6%. Semakin besar konsentrasi, semakin kecil kekuatan impaknya.
Swing and Electrode Diameter Effects on Toughness and Hardness of Stainless Steel 304 MIG Welding Results Alifian, Fahrizal; Setiawan, Eko Agung; Rosidah, Afira Ainur
Jurnal IPTEK Vol 28, No 2 (2024)
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2024.v28i2.5375

Abstract

Welding is one of the commonly used methods for joining metals. One of the welding techniques frequently employed is MIG welding (Metal Inert Gas welding). This type of welding is typically used for joining stainless steel. Consequently, many factors need to be analyzed to achieve optimal welding results. The objective of this research is to investigate the influence of swing variation and electrode diameter on hardness, toughness, and macrostructure from the welded stainless steel 304 using MIG welding. The research results showed the highest toughness test results with a 2.0 mm electrode diameter and a zig-zag swing of 0.459 J/mm2, while the lowest toughness test results were obtained with a 2.6 mm electrode diameter and a spiral swing of 0.201 J/mm2. The highest hardness test results were observed with a 2.6 mm electrode diameter and a zig-zag swing in the Heat Affected Zone (HAZ) at 292.0 kg/mm2, whereas the lowest hardness test results were obtained with a 2.0 mm electrode diameter and a zig-zag swing in the welded metal at 203.6 kg/mm2. The widest HAZ occurred with the spiral swing variation and a 1.5 mm electrode diameter, resulting in a HAZ width of 1.92 mm, while the narrowest HAZ of 1.25 mm occurred with the spiral swing variation and a 2.0 mm electrode. Thus, it can be concluded that the electrode diameter variation affects the results of toughness, hardness, and macrostructure tests.
Analisis Sifat Fisik dan Mekanik Komposit Polyurethane Foam Berpenguat Ampas Tebu Crespo Romansyah; Afira Ainur Rosidah
AL-JAZARI JOURNAL SCIENTIFIC OF MECHANICAL ENGINEERING Volume 10, Issue 1, Mei 2025
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/al-jazari.v10i1.16238

Abstract

Penggunaan komposit dengan campuran bahan alami semakin banyak dikembangkan terutama untuk penguatnya. Seperti pemanfaat ampas tebu yang sudah tidak terpakai, dapat digunakan sebagai penguat atau pengisi komposit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan variasi fraksi volum serbuk ampas tebu dan komposisi matriks polyurethane/PU (poliol:isosianat) terhadap densitas, daya serap air dan hasil uji flexural dari komposit PU berpenguat serbuk ampas tebu. Pada pengujian densitas, nilai tertingi 0,9 g/cm3 didapatkan pada perbandingan komposisi PU 30:70 dengan fraksi serbuk 16%. Sedangkan untuk nilai daya serap air, didapatkan hasil tertinggi sebesar 55,435% pada variasi PU 40:60 dan serbuk tebu 16%. Pengujian flexural menunjukkan hasil tegangan bending dari hasil uji flexural tertinggi sebesar 1,421 MPa pada variasi komposisi PU 40:60 dengan fraksi 11%. Variasi komposisi PU dan penambahan serbuk ampas tebu pada komposit terbukti mempengaruhi kenaikan densitas, daya serap air, dan tegangan bending.
Analisis Pengaruh Jenis Cat dan Jumlah Pelapisan Spray Coating Baja Karbon Rendah ASTM A36 Terhadap Kekasaran dan Laju Korosi pada Media NaCl 5% Prayoga, Danang; Rosidah, Afira Ainur; Suheni, Suheni
Prosiding SENASTITAN: Seminar Nasional Teknologi Industri Berkelanjutan Prosiding SENASTITAN Vol. 05 2025
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi secara umum didefinisikan sebagai perubahan struktur logam atau kerusakan logam akibat interaksi dengan lingkungan korosif seperti larutan asam, air laut, dan lain-lain. Baja merupakan salah satu contoh material yang sangat rentan terhadap korosi. Korosi dapat merusak baja dan mengurangi masa pakainya. Beberapa metode telah dikembangkan untuk menghambat laju korosi, seperti proteksi menggunakan lapisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis cat dan jumlah pelapis terhadap kekasaran permukaan dan laju korosi baja ASTM A36 dengan media imersi NaCl 5%. Pengujian laju korosi menggunakan metode penurunan berat badan dan pengujian kekasaran permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju korosi tertinggi terjadi pada spesimen tanpa lapisanan sebesar 10,888 mpy, sedangkan laju korosi terendah terdapat pada spesimen dengan tiga lapisan cat epoksi, dengan laju korosi sebesar 2,475 mpy. Kesimpulannya, semakin banyak lapisan, maka permukaan semakin halus dan semakin baik dalam menghambat laju korosi. Dari hasil pengujian kekasaran (roughness tester), nilai tertinggi terjadi pada spesimen dengan satu lapis cat zinc chromete sebesar 32,7 µin, sedangkan nilai kekasaran terendah terjadi pada spesimen dengan tiga lapis cat epoxy sebesar 8,1 µin. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak lapisan yang diaplikasikan, maka permukaan akan semakin halus.
Analisis Pengaruh Konsentrasi Inhibitor Terhadap Laju Korosi Baja Karbon Menengah Pada Media H2SO4 Dan Uji FT-IR Ekstrak Daun Ketapang Ehwando, Wenny; Rosidah, Afira Ainur
Prosiding SENASTITAN: Seminar Nasional Teknologi Industri Berkelanjutan Prosiding SENASTITAN Vol. 05 2025
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi adalah suatu siklus atau peristiwa alami  yang menyebabkan penurunan sifat material dan tidak dapat dicegah ataupun dihentikan tetapi dapat di hambat, salah satu cara untuk menghambat korosi yaitu dengan menggunakan inhibitor yang akan melapisi logam dan memberikan perlindungan yang efektif. Dalam penelitian ini inhibitor yang digunakan adalah inhibitor alami yaitu inhibitor yang terbuat dari ekstrak daun ketapang dengan metode ekstraksi refluks, inhibitor digunakan untuk memproteksi korosi terhadap baja karbon menengah di dalam media asam sulfat (H2SO4). Metode yang digunakan untuk menguji kandungan ekstrak daun ketapang adalah, pengujian FT-IR dan fitokimia, lalu metode yang digunakan dalam pengujian korosi menggunakan pengujian weight loss. Dalam penelitian ini didapatkan hasil uji FT-IR yang diduga menunjukan gugus tanin dan flavonoid dan divalidasi dengan uji fitokimia yang positif mengandung tanin dan flavonoid lalu dalam pengujian weight loss laju korosi yang terendah di tunjukan pada baja karbon AISI 1045 dengan konsentrasi inhibitor 15% dan nilai rata-rata 4,76 (mmpy). Lalu pada efesiensi terbesar terdapat pada baja karbon AISI 1045 dengan konsentrasi inhibitor 15% dan efesiensi sebesar 81,57%. Konsentrasi inhibitor yang ditambahkan membuat laju korosinya semakin kecil dan semakin banyak kandungan karbon pada baja maka semakin kecil laju korosinya.
Analisis Komposit Karbon Aktif Dari Tongkol Jagung Dengan Aktivator NaCL Terhadap Hasil Morfologi Dan Sifat Fisik Lathifah, Hana; Rosidah, Afira Ainur; Yunus, Muhammad
Rekayasa Material, Manufaktur dan Energi Vol 8, No 2: JULI 2025
Publisher : Fakultas Teknik UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/rmme.v8i2.23361

Abstract

Corn cobs (Zea mays L.) can produce charcoal as a source of carbon. Carbon is a potential candidate for reducing exhaust gas emissions containing hydrocarbons, carbon dioxide, and nitrogen dioxide. This research aims to convert corn cobs into activated carbon by adding NaCl activator in concentrations of 0%, 8%, and 16% and then compositing it with sago starch. FTIR testing occurred on the carbon from corn cobs before and after activation to analyze the functional groups in the activated carbon. The carbon was then composited with a ratio of 75:25 and subjected to SEM-EDX testing, moisture content analysis, and ash content analysis. FTIR testing revealed the carbonyl group (C-O) that could reduce emission levels. SEM-EDX testing showed that higher concentrations of NaCl activator (16%) resulted in more and smaller pores. Moisture content analysis indicated that higher concentrations of activators led to increased moisture content. Conversely, ash content analysis showed that lower concentrations of activator resulted in higher ash content. The tests concluded that the optimal composite of activated carbon from corn cobs and sago starch existed at an 8% NaCl activator concentration and a 75:25 composition, making it a promising candidate for reducing exhaust gas emissions.
The Mechanical Properties and Microstructure Analysis of Carbon Structural Steel After Quenching in Circulated Water Medium Rosidah, Afira Ainur; Setyowati, Vuri Ayu; Suheni, Suheni; Febrianto, Muhamad
Jurnal IPTEK Vol 26, No 1 (2022)
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2022.v26i1.1139

Abstract

The use of carbon structural steel in construction is widely developed. It is important to do research continuously in order to get the optimum mechanical and physical properties of a material. Heat treatment which includes heating and quenching is a process that can be carried out to improve mechanical properties. A fast cooling rate is used to obtain higher strength and hardness. This research studied the effect of quenching using circulated water medium with water flow rate variations in structural steel Q235, Q255, and Q275 to their mechanical properties and microstructure. The heat treatment process was done with hardening at 1150oC, roll milling at austenitizing temperature, then quenching using circulated water medium with water flow rate of 225, 238, 247 m3/h. The tensile and hardness test results showed that water flow rate and carbon content in steel give an effect on strength and hardness. The highest tensile strength and hardness value were achieved by Q275 steel with a flow rate of 247 m3/h, which are 73,49 kgf/mm2 and 298 HVN, respectively. Meanwhile, the microstructures resulted in the presence of the mixture of martensite and pearlite, as well as ferrite in every sample with the increase in the composition of martensite and pearlite in Q275 steel with a flow rate of 247 m3/h.
Influence of Quenching Media and Holding Time on Hardness and Microstructure of AISI 1045 Tama, Bayu Widias; Rosidah, Afira Ainur
Jurnal Teknik Mesin Vol 14 No 1 (2024): Jurnal Teknik Mesin Vol.14 No.1 April 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) - ITP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21063/jtm.2024.v14.i1.8-12

Abstract

AISI 1045 material is carbon steel which is widely used in the industrial world as a material for making gears, bolts, and axles, however, in its use AISI 1045 steel has shortcomings in its hardness value. When used, AISI 1045 steel must be hardened through a hardening heat treatment process so that it is more capable of being used. It is important to carry out the hardening process so that the material has greater hardness, this property is related to wear resistance. This research was carried out with the aim of analyzing the effect of variations in holding time and variations in cooling media on the hardness and microstructure of AISI 1045 Steel. The heating temperature used was 840⁰C with a holding time of 17 and 22 minutes using air, oil, and grease cooling media. The method used to measure hardness in this research is the Brinell hardness method. The results of the research showed changes in the microstructure from initially ferrite and pearlite to bainite and martensite, the highest hardness was obtained in the specimen with oil quench media with a holding time of 17 minutes with a value of 643.35 kgf/mm2 and the lowest hardness value was obtained in the specimen with quench media air with a holding time of 22 minutes with a value of 153.44 kgf/mm2.
Austenitizing Temperature and Quenching Media Effects on Hardness and Microstructure in Hardening of AISI 1040 Steel Pangestu, Mulyo Aji; Rosidah, Afira Ainur
Metrotech (Journal of Mechanical and Electrical Technology) Vol 3 No 2: Mei 2024
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, UNIRA Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33379/metrotech.v3i2.4178

Abstract

Hardening process is an important to make materials have harder properties related to wear resistance. This research determined the effects of austenitizing temperature and quenching media on the hardness and microstructure of AISI 1040. The austenitizing temperatures varies at 850°C, 900°C, and 950°C with PVA 10%, SAE 20W-50 oil, and salt water as quenching media. The method to measure hardness was the Brinell hardness test. The results showed changes in the microstructure from untreated steel with the structures of ferrite and pearlite to bainite and martensite. The highest hardness value of 416.22 kgf/mm2 was obtained in specimens with salt water media at an austenitizing temperature of 850°C.