Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Polygamy and Women's Rights: An Examination of Divorce Litigation in Sharia Court Rulings Pertaining to Revisions in Indonesian Matrimonial Legislation Analiansyah, Analiansyah; Dhiaurrahmah, Dhiaurrahmah; Jamhuri, Jamhuri; Salam, Abdul Jalil; Iskandar, Mizaj
AL-ISTINBATH : Jurnal Hukum Islam Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jhi.v9i2.10833

Abstract

This study aims to assess and elucidate the influence of polygamy on domestic violence as reflected in the Sharia Court rulings in Aceh, as well as the viability of polygamy as a justification for granting divorce petitions. The study of this topic is significant since Islam essentially allows polygamy, provided that men can behave justly. The divorce ruling at the Sharia Court in Aceh revealed that polygamy led to the neglect of women and other forms of domestic violence. Unfortunately, Indonesian laws and regulations do not acknowledge polygamy as a valid ground for women to petition for divorce. The study is normative juridical review in nature. The data source is a judicial ruling. The data is examined under a women's protection framework. The findings indicate that the wife initiated divorce proceedings against her husband for practicing polygamy, which contravened Indonesian marital law and the Compilation of the Islamic Law, namely polygamy conducted without the wife's consent. Furthermore, polygamy often leads to domestic abuse against the wife. Polygamy can be categorized as irresponsible when practiced by a husband lacking steady economic resources, resulting in the neglect of women and their children. This polygamy is likewise deemed a contravention of the rules of marriage in the Islamic jurisprudence. At the present time, polygamy is not recognized as the reason for divorce in the Indonesian law. This study advocates for the inclusion of polygamy without consent as a legal ground for divorce, as the current legislation recognizes only physical domestic violence as a valid justification for divorce.
THE ENFORCEMENT OF GOMPONG IN THE QANUN OF ACEH AND ITS RELATIVE POSITION IN THE INDONESIAN CONSTITUTION Iskandar, Mizaj
Jurnal Hukum dan Peradilan Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Pusat Strategi Kebijakan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25216/jhp.8.2.2019.255-274

Abstract

This paper aims to learn how the Qanun of Aceh, particularly Qanun No. 4 on Mukim and Qanun No. 5 on Gampong Government enforce Gampong as a government body. It further compares the hierarchical relationship between the qanun and the higher regulations in Indonesia such as Village Government Act No. 32 of 2004, Privileges of Aceh Act No. 44 of 1999, Special Autonomy No. 18 of 2001 and Aceh Government Act No. 11 of 2006. The study found that the Qanun integrates Acehnese identity coupled with the Islamic values into the Gampong institution. The Qanun on Gampong Government, in fact, does not negate any higher regulations in the Indonesian constitution. The principle of decentralization implemented post-Orde Baru requires a massive change in the government system in Indonesia from the centralized system of local state government, to local self-government and finally the decentralized system of the local community. The Qanun on Gampong government is in line with the local community spirit due to greater public participation channeled through Reusam Gampong. Reusam Gampong is the public aspiration, and its application shall not conflict with the higher regulation. In its cultural manifest, Resuam Gampong is an instrument that promotes the marriage between culture and religion into a single government body.
Hukum Adat Aceh dan Perlindungan Anak: Penyelesaian Kasus Kekerasan di Gampong Deah Raya Banda Aceh Reni Yuvita Amanda; Mizaj Iskandar; Boihaqi Adnan
Jarima: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Pidana Islam Vol. 1 No. 2 (2025): Jarima: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Pidana Islam
Publisher : Program Studi Hukum Pidana Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jarima.v1i2.767

Abstract

Penyelesaian kasus kekeraan terhadap anak melalui mekanisme adat di Aceh mencerminkan adanya kearifan lokal yang hidup berdampingan dengan sistem hukum nasional dan hukum Islam. Penelitian ini berangkat dari kasus pemukulan terhadap anak di Gampong Deah Raya, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, yang diselesaikan melalui peradilan adat, dan bertujuan untuk mengkaji mekanisme penyelesaiannya serta meninjaunya dari perspektif hukum pidana Islam. Masalah yang diteliti adalah bagaimana mekanisme penyelesaian kasus pemukulan terhadap anak secara adat di Gampong Deah Raya, dan bagaimana pandangan hukum pidana Islam terhadap mekanisme tersebut. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian menemukan mekanisme penyelesaian kasus kekerasan di Gampong Deah Banda Aceh dilakukan melalui beberapa tahapan; pelaporan ke kepala dusun, musyawarah oleh keuchik bersama tokoh adat, pengambilan keputusan berdasarkan mufakat. Mekanisme ini bertujuan untuk menciptakan perdamaian dan menjaga hubungan sosial. Dari perspektif hukum pidana Islam, pendekatan ini sejalan dengan prinsip iṣlāḥ (perdamaian) dan diyat (kompensasi), selama tidak melanggar prinsip keadilan dan perlindungan terhadap anak. 
Penyimpangan Seksual Pemerkosaan Sesama Jenis Dikalangan Anak Di bawah Umur Ditinjau Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam Fahira, Jeni; Iskandar, Mizaj; AzwarFajri, AzwarFajri; Abdullah, Muslem
Justicia Journal Vol. 15 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/jj.v15i1.15109

Abstract

Kekerasan seksual sesama jenis (Liwāṭ) yang melibatkan anak sebagai pelaku menjadi fenomena mengkhawatirkan di Aceh, memicu dilema yuridis antara penegakan sanksi jinayat yang tegas dan prinsip perlindungan anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi ‘uqubat ta`zīr berupa pembinaan bukan ḥudūd terhadap anak pelaku Liwāṭ, serta menguji kesesuaiannya dengan tujuan Hukum Pidana Islam. Menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan studi kasus pada Putusan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh Nomor 1/JN.Anak/2024/MS.Bna, data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan wawancara kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Temuan menunjukkan bahwa meskipun unsur materil jarimah terpenuhi, hakim melakukan ijtihad adaptif dengan mengalihkan hukuman badan menjadi pembinaan di LPKA karena status pelaku yang ghairu mukallaf dan pertimbangan sosiologis berupa dampak paparan pornografi. Penjatuhan sanksi ini dinilai selaras dengan prinsip maqasid syariah, khususnya aspek hifdz an-nafs (perlindungan jiwa) dan kemaslahatan, yang mengutamakan rehabilitasi mental daripada pembalasan fisik. Disimpulkan bahwa penegakan Syariat Islam di Aceh bersifat dinamis dan humanis, mampu menyeimbangkan ketegasan hukum Tuhan dengan penyelamatan masa depan anak.