Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

POTENSI KEBERHASILAN KULIT UDANG SEBAGAI BAHAN DASAR POLIMER KITOSAN: STUDI LITERATUR Rini Setiati; Septoratno Siregar; Deana Wahyuningrum; M. Taufik Fathaddin
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v6i1.8637

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi yang dimiliki oleh kulit udang sebagai bahan baku polimer kitosan.  Penelitian ini diawali dengan proses pemisalahan kulit udang kitin dan proses kitin menjadi kitosan serta menguji karakteristiknya. Kulit udang dapat diolah menjadi kitosan karena kandungan kitin yang terdapat di dalamnya.  Kitin merupakan bahan organik utama terdapat pada kelompok hewan crustacea, insekta, fungi, mollusca dan arthropoda. Cangkang kepiting, udang dan lobster juga merupakan sumber bahan dasar produksi kitin karena kandungan kitinnya cukup tinggi. Kitin merupakan biopolimer alam paling melimpah kedua setelah selulosa yang tidak beracun dan diproduksi dari limbah kulit udang. Kitosan diolah dari kulit udang melalui proses deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Reagen yang digunakan adalah NaOH dan KOH. Kemudian kitosan diuji sifat fisiknya melalui uji kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, viskositas, derajat deasetilasi, analisis gugus fungsi dengan spektroskopi IR dan kristalinitas dengan difraksi sinar X. Sifat fisik kitosan dilihat dari bentuk fisik, analisis gugus fungsi dan kristalinitas. Potensi penerapan kitosan, sebagai turunan kitin yang terdeasetilasi, bersifat multidimensi, seperti dalam makanan dan gizi, bioteknologi, ilmu material, obat-obatan dan farmasi, pertanian dan perlindungan lingkungan. Isolasi kitin dari kulit udang dan sintesanya menjadi kitosan, menjadikan kulit udang lebih barmanfaat untuk bidang-bidang lain. Kulit udang yang diolah menjadi kitosan polimer dapat berpotensi untuk digunakan dalam bidang Enhanced Oil Recovery sebagai fluida injeksi kimiawi dalam upaya menaikkan produksi minyak.
ANALISA SPEKTRUM INFRA RED PADA PROSES SINTESA LIGNIN AMPAS TEBU MENJADI SURFAKTAN LIGNOSULFONAT Rini Setiati; Deana Wahyuningrum; Sugiatmo Kasmungin
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN Prosiding Seminar Nasional Cendekiawan 2016
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/semnas.v0i0.903

Abstract

Secara umum, lignin adalah salah satu komponen penyusun tumbuhan yang biasa terakumulasi pada batang tumbuhan berbentuk pohon dan semak. Ampas tebu adalah salah satu bahan limbah yang di dalamnya masih terdapat lignin. Ampas tebu adalah hasil samping dari proses ekstraksi cairan tebu. Ampas tebu yang dipergunakan adalah ampas tebu setelah proses penggilingan ke lima kali dari proses pembuatan gula. Selama ini ampas tebu digunakan sebagai bahan bakar pabrik gula dan pakan ternak. Dengan proses pemisahan lignin dari ampas tebu dapat memberi nilai tambah pemanfaatan ampas tebu sekaligus sebagai alternatif mendapatkan surfaktan nabati. Surfaktan komersial yang selama ini telah digunakan umumnya berbahan baku minyak bumi. Lignin merupakan bahan baku pembentuk Lignosulfonat sebagai salah satu jenis surfaktan anionik yang digunakan sebagai bahan baku pada Injeksi Surfaktan untuk meningkatkan perolehan produksi minyak. Salah satu metoda sintesa yang digunakan untuk memisahkan lignin dari ampas tebu adalah menggunakan Natrium Hidroksida. Hasil lignin yang terbentuk dikarakterisasi dengan metode spektroskopis Infra Red untuk mengetahui gugus-gugus fungsi khas yang terdapat pada struktur lignin dan dibandingkan dengan spektrum lignin komersial standar . Selanjutkan dilakukan proses sulfonasi untuk membentuk lignosulfonat yang hasilnya juga diuji dengan Infra Red dan dibandingkan dengan spektrum sulfonat komersial standar sehingga dapat diketahui komponen di dalamya.
The Synthesis of Imidazoline Derivative Compounds as Corrosion Inhibitor towards Carbon Steel in 1% NaCl Solution Deana Wahyuningrum; Sadijah Achmad; Yana Maolana Syah; Buchari Buchari; Bambang Ariwahjoedi
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol. 40 No. 1 (2008)
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/itbj.sci.2008.40.1.4

Abstract

Oleic imidazoline is one of the nitrogen containing heterocyclic compounds that has been widely used as commercial corrosion inhibitor, especially in minimizing the carbon dioxide induced corrosion process in oilfield mining. In this present work, some imidazoline derivative compounds have been synthesized utilizing both conventional and microwave assisted organic synthesis (MAOS) methods, in order to determine their corrosion inhibition properties on carbon steel surface. The MAOS method is more effective in synthesizing these compounds than the conventional method regarding to the higher chemical yields of products (91% to 94%) and the shorter reaction times (7 to 10 minutes). The characterization of corrosion inhibition activities of the synthesized products towards carbon steel in 1% NaCl solution was determined by the Tafel plot method. The corrosion inhibition activities of compound 1b ((Z)-2-(2-(heptadec-8-enyl)-4,5-dihydroimidazol-1-yl)ethanamine), 2b ((Z)-2-(2-(heptadec-8-enyl)-4,5-dihydroimidazol-1-yl)ethanol) and 3b (2-(2-heptadecyl-4,5-dihydroimidazol-1-yl)ethanamine) at 8 ppm concentration in 1% NaCl solution are, respectively, 32.18%, 39.59% and 12.73%. The heptadec-8-enyl and hydroxyethyl substituents at C(2) and N(1) position of imidazoline ring, respectively, gave the most effective corrosion inhibition activity towards carbon steel compared to the presence of other substituents. The increase in concentrations of compound 1b, 2b and 3b in 1% NaCl solution tends to improve their corrosion inhibition activities. Based on the analysis of the free Gibbs adsorption energy (ÄG0ads) values of compound 1b, 2b and 3b (-32.97, -34.34 and -31.27 kJ/mol, respectively), these compounds have the potential to interact with carbon steel through semi-physiosorption or semi-chemisorption.
Synthesis of Oligosuccinimide and Evaluation of Its Corrosion Inhibition Performance on Carbon Steel in CO2-Saturated 1% NaCl Solution Muhamad Jalil Baari; Bunbun Bundjali; Deana Wahyuningrum
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol. 52 No. 2 (2020)
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.math.fund.sci.2020.52.2.5

Abstract

Oligosuccinimide (OSI) is an oligomer with several repeating units of succinimide. In this study, OSI was synthesized by thermal condensation between maleic anhydride and ammonium carbonate. The chemical structure of the synthesized compound was confirmed by FTIR and NMR spectroscopy as well as LC-MS characterization. Evaluation of its performance as corrosion inhibitor and the adsorption mechanism on a carbon steel surface in CO2-saturated 1% (w/v) NaCl solution was performed using electrochemical techniques (electrochemical impedance spectroscopy (EIS) and potentiodynamic polarization) and weight-loss methods. These tests were simultaneously carried out for all fractions without separation. The EIS results showed that the inhibition efficiency (IE) of the OSI increased with increasing concentration but decreased at higher temperatures. The potentiodynamic polarization data indicated that the OSI acted as a mixed inhibitor. Adsorption of OSI on the carbon steel generally obeys the Langmuir adsorption isotherm according to curve linearity, which relates the degree of surface coverage to the inhibitor concentration. The standard Gibbs free energy of the adsorption values (∆G° ads) were negative within the range of -33.14 to -38.73 kJ.mol-1, which indicates the spontaneity of the adsorption process on the carbon steel surface and that OSI molecules interacted with the carbon steel through semi-physisorption.
PENGARUH WETTABILITY SURFAKTAN NaLS AMPAS TEBU PADA BATUAN SANDSTONE DALAM PROSES ENHANCED OIL RECOVERY (EOR) Rini Setiati; Septoratno Siregar; Taufan Marhaendrajana; Deana Wahyuningrum
Prosiding Seminar Nasional Pakar Prosiding Seminar Nasional Pakar 2018 Buku I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pakar.v0i0.2596

Abstract

Surfaktan merupakan salah satu fluida injeksi dalam proses EOR untukmenaikkan produksi minyak yang masih tertinggal di reservoir. Salah satujenis surfaktan yang digunakan adalah surfaktan lignosulfonat berbahandasar lignin yang dapat diperoleh dengan proses hidrolisis dan sulfonasi dariampas tebu menjadi produk Surfaktan Natrium Lignosulfonat (NaLS) AmpasTebu. Surfaktan NaLS telah dilakukan uji injeksi pada core sintetis batuansandstone. Hasil penelitian laboratorium menghasilkan perolehan minyaktertinggi terjadi pada injeksi surfaktan pada salinitas 80.000 ppm dengankonsentrasi surfaktan 1,5%. Perolehan terendah terjadi pada injeksi surfaktandengan konsentrasi 4,5% pada salinitas 20.000 ppm. Hasil uji wettability yangtelah dilakukan menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi surfaktanmenghasilkan sistem water wet, berarti pemberian surfaktan NaLS ampastebu mampu membuat sifat permukaan menjadi water wet, sehinggasurfaktan NaLS tersebut memenuhi syarat untuk digunakan sebagai fluidainjeksi. Berdasarkan analisa sudut kontak, sudut kontak yang lebih kecilsurfaktan NaLS ampas tebu 4.5% - 20.000 ppm yaitu 28.14o, perolehan minyakhanya mencapai 1.05%. Sedangkan surfaktan NaLS ampas tebu 1,5% -salinitas 80.000 ppm dengan sudut kontak 50,55o , perolehan minyak jauhlebih besar yaitu mencapai 10,71%. Dengan demikian dapat disimpulkanbahwa konsentrasi surfaktan lebih sedikit menghasilkan sudut kontak yanglebih besar dan memberikan kinerja surfaktan yang lebih baik.
Ability of Ectoine to Stabilize Lipase against Elevated Temperatures and Methanol Concentrations I Putu Parwata; Deana Wahyuningrum; Sony Suhandono; Rukman Hertadi
Indonesian Journal of Chemistry Vol 21, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.54931

Abstract

Ectoine is one of the compatible organic molecules that can protect the protein from heating, freezing, and chemicals contact. This study aims to investigate the ability of ectoine to stabilize lipase on heating and in methanol treatments as an effort to provide a stable biocatalyst for the production of biodiesel. Various ectoine concentrations were added to lipase solutions, then the mixture was heated, and the residual activity of the lipase was determined. Similar steps were also conducted for methanol treatment. The results showed that ectoine maintained and even improved the catalytic activity of lipase after treatment with either heat or methanol. The addition of ectoine to a final concentration of 110 to 150 mM could maintain lipase activity up to 80% when heating to approximately 95 °C. Additionally, more than 20% of lipase activity increased on heating to temperatures below 75 °C in the presence of ectoine at a final concentration of 25 to 120 mM. Meanwhile, after incubation in methanol at a level of around 84% (v/v), the activity of lipase containing 40–90 mM ectoine was maintained. These results demonstrated that ectoine was highly effective in protecting lipase from heat and methanol.
Performance of N,O-Carboxymethyl Chitosan as Corrosion and Scale Inhibitors in CO2 Saturated Brine Solution Muhamad Jalil Baari; Bunbun Bundjali; Deana Wahyuningrum
Indonesian Journal of Chemistry Vol 21, No 4 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.64255

Abstract

The presence of salts and dissolved gas like CO2 that is carried with natural gas and crude oil along the pipeline is the main reason for corrosion and scale formation. These problems are usually resolved separately by corrosion inhibitors and scale inhibitors or acidification. Meanwhile, utilizing a compound to resolve both corrosion and scale formation has an advantage in the economic side and working time. N,O-carboxymethyl chitosan or N,O-CMCs is one of the chitosan's derivates. It is water-soluble and has different functional groups. Those properties support its capability as a complexing agent on corrosion and scale inhibitors. Synthesis of N,O-CMCs was carried out by chemical reactions between chitosan and chloroacetic acid under alkaline circumstances. N,O-CMCs product was characterized using FT-IR and 1H-NMR spectroscopy. The inhibition efficiency was analyzed by electrochemical impedance spectroscopy (EIS) and potentiodynamic polarization techniques. The measurements showed that the highest efficiency of corrosion inhibition reached 63.54% when the concentration and temperature were 30 ppm and 35 °C, respectively. N,O-CMCs was classified as a mixed-type inhibitor. The adsorption mechanism of the inhibitor followed Langmuir adsorption isotherm. The static scale inhibition test informed that the optimum inhibition efficiency of N,O-CMCs reached 60.00%.
SINTESIS KOMPLEKS NIKEL(II) DENGAN LIGAN TURUNAN SALISILIDEN ANILIN SEBAGAI SENYAWA POTENSIAL OLED Irma Nuril Maryam; Deana Wahyuningrum; Irma Mulyani
Jurnal TEDC Vol 10 No 1 (2016): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.841 KB)

Abstract

Senyawa kompleks Nikel(II) dengan ligan turunan salisiliden anilin berhasil disintesis dengan metode MAOS(Microwave Assisted Organic Synthesis) dan di pelajari aktivitasnya sebagai senyawa potensial OLED(Organic Light-Emitting Diode). Senyawa-senyawa imina (E)-2-((4-chlorophenylimino)methyl)phenol (L1) dan(E)-2-((p-tolylimino)methyl)phenol (L2) disintesis dengan pelarut etil l-laktat:air (9:1), rendemen masing-masing97% (Tl: 98-100°C) dan 96% (92-94°C). Berdasarkan analisis spektrum IR, 1H NMR, 13C NMR, dan MSmenunjukkan senyawa L1 dan L2 sudah terbentuk. Kompleks Nikel (II) hasil sintesis berwarna hijau mudauntuk K1 (terdekomposisi pada 190°C) dan hijau tua untuk K2 (terdekomposisi pada 170°C). Analisis IR danUV/Vis pada K1 dan K2 menunjukkan ikatan C-O-M telah terbentuk. Berdasarkan spektrum emisi antara K1dan K2, menunjukkan K2 merupakan senyawa yang lebih berpotensi sebagai OLED daripada K1.Kata kunci : Nikel(II), salisiliden anilin, OLED, MAOS
Hasil Studi Laboratorium Penentuan Karakteristik Alamiah Surfaktan Natrium Lignosulfonat Dari Ampas Tebu Sebagai Fluida Injeksi Di Reservoir Minyak Rini Setiati; Septoratno Siregar; Taufan Marhaendrajana; Deana Wahyuningrum
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.039 KB) | DOI: 10.25105/pdk.v3i1.2483

Abstract

Surfaktan Natrium Lignosulfonat (NaLS) dari ampas tebu merupakan salah satu pengembangan surfaktan lignosulfonat yang dibuat dari limbah nabati, yaitu adalah ampas tebu. Pada studi ini telah diperoleh hasil sintesa ampas tebu menjadi surfaktan lignosulfonat yang jika dikembangkan akan dapat menjadi alternatif surfaktan sebagai fluida injesi di reservoir minyak. Dari hasil penelitian dan pengujian yang telah dilakukan, surfaktan NaLS ampas tebu ini mempunyai kesamaan komponen dengan surfaktan lignosulfonat standar yaitu terdiri dari gugus ulur alkena, gugus ulur sulfonat, gugus tekuk karboksilat dan gugus tekuk ester. Berdasarkan analisis spektrum NMR, molekul monomer lignosulfonat tersebut mempunyai atom C, O, H dan S di dalam dengan jumlah atom C = 11, O = 8, H = 16, dan S = 1, sehingga rumus empiris monomer lignosulfonat adalah (C11H16O8S)n, dengan massa molekul relatif 308,06. Berdasarkan struktur monomer lignosulfonat ampas tebu, maka gugus-gugus fungsi dalam strukturnya dapat dikelompokkan sebagai gugus hidrofil atau gugus hidrofob dan dapat dihitung nilai HLB (Hidrofil-lipofilik Balance) yang dimiliki oleh surfaktan NaLS ampas tebu tersebut yaitu sebesar 11,62. Dengan nilai HLB ini maka surfaktan NaLS ampas tebu ini sesuai penggunaannya sebagai sistem tipe emulsi O/W (oil in water), yang berarti surfaktan tersebut larut dalam air dan dapat digunakan sebagai fluida injeksi.
POTENSI KEBERHASILAN KULIT UDANG SEBAGAI BAHAN DASAR POLIMER KITOSAN: STUDI LITERATUR Rini Setiati; Septoratno Siregar; Deana Wahyuningrum; M. Taufik Fathaddin
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1227.178 KB) | DOI: 10.25105/pdk.v6i1.8637

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi yang dimiliki oleh kulit udang sebagai bahan baku polimer kitosan.  Penelitian ini diawali dengan proses pemisalahan kulit udang kitin dan proses kitin menjadi kitosan serta menguji karakteristiknya. Kulit udang dapat diolah menjadi kitosan karena kandungan kitin yang terdapat di dalamnya.  Kitin merupakan bahan organik utama terdapat pada kelompok hewan crustacea, insekta, fungi, mollusca dan arthropoda. Cangkang kepiting, udang dan lobster juga merupakan sumber bahan dasar produksi kitin karena kandungan kitinnya cukup tinggi. Kitin merupakan biopolimer alam paling melimpah kedua setelah selulosa yang tidak beracun dan diproduksi dari limbah kulit udang. Kitosan diolah dari kulit udang melalui proses deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Reagen yang digunakan adalah NaOH dan KOH. Kemudian kitosan diuji sifat fisiknya melalui uji kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, viskositas, derajat deasetilasi, analisis gugus fungsi dengan spektroskopi IR dan kristalinitas dengan difraksi sinar X. Sifat fisik kitosan dilihat dari bentuk fisik, analisis gugus fungsi dan kristalinitas. Potensi penerapan kitosan, sebagai turunan kitin yang terdeasetilasi, bersifat multidimensi, seperti dalam makanan dan gizi, bioteknologi, ilmu material, obat-obatan dan farmasi, pertanian dan perlindungan lingkungan. Isolasi kitin dari kulit udang dan sintesanya menjadi kitosan, menjadikan kulit udang lebih barmanfaat untuk bidang-bidang lain. Kulit udang yang diolah menjadi kitosan polimer dapat berpotensi untuk digunakan dalam bidang Enhanced Oil Recovery sebagai fluida injeksi kimiawi dalam upaya menaikkan produksi minyak.