Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Karakteristik Batubara Formasi Warukin di Kalimantan Selatan serta Implikasinya pada Teknologi Pencairan Batubara Nursanto, Edy; Haq, Shofa Rijalul; Ardian, Aldin
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2023): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan Volume 7 No. 2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v7i2.11075

Abstract

Batubara di Indonesia didominasi oleh peringkat rendah (low rank coal) prosentase lebih dari 85% dari total cadangan batubara. Meskipun demikian, batubara peringkat rendah lebih mudah diolah untuk meningkatkan nilai tambahnya karena struktur molekul dan gugus hidroksil batubara peringkat rendah yang reaktif dibandingkan dengan batubara peringkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik batubara peringkat rendah formasi Warukin pada proses pencairan batubara. Data primer berupa pengambilan sampel batubara dan arah kedudukannya serta kemiringannya diperoleh dengan metode pengambilan ply by ply. Analisis proksimat, ultimat, maseral dan reflektan vitrinit dilakukan pada sampel-sampel tersebut dengan variasi pengujian, kemudian diolah dengan analisis secara teoritis empiris yang disajikan dalam bentuk tabel. Analisis data dilakukan berdasarkan hasil pengujian di laboratorium secara deskriptif kualitatif.  Dengan penelitian ini, sebaran sifat dan kualitas batubara dapat dievaluasi, serta alternatif teknologi penambangan dengan pencairan dapat direncanakan secara efektif dan efisien dengan penciri maseral liptinit mempunyai persentasi besar, yaitu rata-rata 34,28 % pada lapisan.
Karakteristik Batubara Formasi Warukin di Kalimantan Selatan serta Implikasinya pada Teknologi Pencairan Batubara Nursanto, Edy; Haq, Shofa Rijalul; Ardian, Aldin
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2023): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan Volume 7 No. 2 Tahun 2023
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v7i2.11075

Abstract

Batubara di Indonesia didominasi oleh peringkat rendah (low rank coal) prosentase lebih dari 85% dari total cadangan batubara. Meskipun demikian, batubara peringkat rendah lebih mudah diolah untuk meningkatkan nilai tambahnya karena struktur molekul dan gugus hidroksil batubara peringkat rendah yang reaktif dibandingkan dengan batubara peringkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik batubara peringkat rendah formasi Warukin pada proses pencairan batubara. Data primer berupa pengambilan sampel batubara dan arah kedudukannya serta kemiringannya diperoleh dengan metode pengambilan ply by ply. Analisis proksimat, ultimat, maseral dan reflektan vitrinit dilakukan pada sampel-sampel tersebut dengan variasi pengujian, kemudian diolah dengan analisis secara teoritis empiris yang disajikan dalam bentuk tabel. Analisis data dilakukan berdasarkan hasil pengujian di laboratorium secara deskriptif kualitatif.  Dengan penelitian ini, sebaran sifat dan kualitas batubara dapat dievaluasi, serta alternatif teknologi penambangan dengan pencairan dapat direncanakan secara efektif dan efisien dengan penciri maseral liptinit mempunyai persentasi besar, yaitu rata-rata 34,28 % pada lapisan.
Rancangan Saluran Pada Pemindahan Aliran Sungai Kili Besar Di Area Pertambangan Batubara di Lahat, Sumatra Selatan Menggunakan Apllikasi HEC-HMS dan HEC-RAS Mendrofa, Yudha Chrisman; Tedy Agung Cahyadi; Shofa Rijalul Haq
Retii Vol 18 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-18 (Edisi Penelitian)
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada pertambangan batubara, sering dijumpai adanya aliran sungai yang membentang di kawasan tambang. Hal ini tentu mempengaruhi produksi dan jalannya penambangan sehingga perlu dilakukan perlakukan khusus, yaitu pemindahan aliran sungai. Dalam pemindahan aliran sungai, perlu memperhatikan beberapa hal seperti, debit sungai rancangan, dimensi saluran sungai yang baru, dan lain sebagainya. Ini dilakukan tidak merusak lingkungan dan tidak mengakibatkan banjir di kemudian hari pada saluran sungai yang baru. Penggunaan aplikasi HEC-HMS dan HEC-RAS dapat membantu dalam perhitungan dan pemodelan saluran.
Study of The Effect of Temperature On The Desorption Efficiency of Precious Metals In The Elution Process Using Anglo American Research Laboratories (AARL) Method Frideni Yushandiana Putri G.F.; Mei Iftita Mawarda'; Sulaeman - -; Riria Zendy Mirahati; Shofa Rijalul Haq
Equilibrium Journal of Chemical Engineering Vol 8, No 2 (2024): Volume 8, No 2 December 2024--Online First
Publisher : Program studi Teknik Kimia UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/equilibrium.v8i2.89289

Abstract

The elution process, known as the desorption of gold from carbon into solution, uses high temperature and pressure. Activated carbon is used as an adsorbent in the precious metal adsorption process. PT Indo Muro Kencana uses the Anglo American Research Laboratories (AARL) method to desorb valuable metals from the activated carbon of the Carbon In Pulp (CIP) process. The elution process of this research involves 9 stages: Pre-heat, Pre-soak 1, Pre-soak Circulation, Lean 1, Presoak 2, Lean 2, Water Elution 1, Water Elution 2, and Cooling. This study found that copper (Cu) metal desorbed from carbon first, followed by silver (Ag) metal, with the desorption of gold (Au) metal occurring last due to the influence of the stability value of metal cyanide complexes. High cyanide concentrations (~ 10% CN-) were given in Pre-soak 1, Pre-soak Circulation, and Pre-soak 2. The elution process is significantly affected by high process temperatures, particularly 123°C in the Lean 2 stage, which effectively desorbs gold (Au) at its optimal point. The solution product that only contains copper from the initial 60 minutes of the Pre-heat and Pre-soak 1 processes was transferred to the tailings tank to improve the efficiency of the refining process. The total recoveries for gold (Au), silver (Ag), and copper (Cu) were 93.1%, 95%, and 94.7%, respectively.
Thermogravimetric Analysis of Indonesian Low-Rank Coal: Optimization of Drying Temperature and Kinetic Modeling Haq, Shofa Rijalul; Shafiyurrhaman, Muhammad Faiz; Kurniawan, Ade; Prasetyo, Yuda; Prasetyo, Imam; Jeon, Sanghee
Jurnal Rekayasa Proses Vol 19 No 1 (2025): Volume 19, Number 1, 2025
Publisher : Jurnal Rekayasa Proses

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.18102

Abstract

Drying high-moisture of low rank coal in the mining sector is essential for increasing energy efficiency and ensuring stability in its use as an energy source. This study aims to determine the optimal drying temperature and kinetic parameters for Indonesian low rank coal (i.e., lignite and sub-bituminous) using thermogravimetric analysis (TGA) under both isothermal and non-isothermal conditions. Coal samples were tested at three heating rates (5, 10, and 20°C/min) and three fixed temperatures (150, 200, and 250°C). Several drying kinetics models, including the Newton, Henderson and Pabis, Logarithmic, and Page models, were used to evaluate the drying characteristics of both coal types. The results indicate that the Page model provided the best fit, with the highest ?2 value and the lowest ?2 value, making it the most accurate model for describing coal drying rates under various conditions. The optimal drying temperature for lignite was 83.04°C, with an activation energy of 3224.04 J/mol, while for sub-bituminous coal, the optimal temperature was 109.65°C with an activation energy of 17972.83 J/mol. These findings support the optimization of the drying process in the industry, particularly for efficiently reducing coal moisture content without compromising energy quality.