Claim Missing Document
Check
Articles

Metode Deteksi Terputusnya Koneksi Tcp Pada Receiving Host Berdasarkan Packet Inter-Arrival Timeout Widodo, Pangestu; Wibisono, Waskitho
INTEGER: Journal of Information Technology Vol 2, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.65 KB) | DOI: 10.31284/j.integer.2017.v2i1.96

Abstract

Abstract. Novel Method to Detect Failed TCP Connection on Receiving Host Based on Packet Inter-arrival Timeout. TCP use retransmission timeout (RTO) as a standard mechanism to detect connection failure. Nevertheless, RTO can only be used by the sending host, and not by the receiving host. Until today there is no standardized mechanism for the receiving host to detect connection failure. Meanwhile a study on internet traffic shows that majority of internet traffic is unidirectional. This means the receiving host in majority of internet traffic does not have a standardized method to detect connection failure. This paper propose a novel method to detect failed TCP connection based on history of packet inter-arrival time. Simulation using NS2 shows the effectiveness of the proposed method.Keywords: Failed TCP connection detection, receiving host, packet inter-arrival timeoutAbstrak. TCP menggunakan retransmission timeout (RTO) sebagai mekanisme standar untuk mendeteksi terputusnya koneksi. Namun RTO hanya dapat dimanfaatkan pihak pengirim data (sending host), sedangkan pihak penerima data (receiving host) tidak memiliki mekanisme untuk mendeteksi terputusnya koneksi. Sementara itu sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar traffic internet bersifat satu arah. Ini berarti pihak penerima data pada sebagian besar traffic internet tidak memiliki metode yang terstandarisasi untuk mendeteksi terputusnya koneksi. Penelitian ini mengajukan sebuah metode baru bagi receiving host untuk mendeteksi terputusnya koneksi TCP berdasarkan jeda waktu antar paket data (packet inter-arrival timeout) yang diterima. Simulasi menggunakan NS2 menunjukkan efektivitas metode yang diajukan.Kata Kunci: Deteksi terputusnya koneksi TCP, receiving host, packet inter-arrival timeout 
Pengembangan mekanisme grid based clustering untuk peningkatan kinerja LEACH pada lingkungan Wireless Sensor Network Fallo, Kristoforus; Wibisono, Waskitho; Pamungkas, Kun Nursyaful Priyo
Register: Jurnal Ilmiah Teknologi Sistem Informasi Vol 5, No 2 (2019): July-December
Publisher : Information Systems - Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1316.216 KB) | DOI: 10.26594/register.v5i2.1708

Abstract

Development of a grid-based clustering mechanism to improve LEACH performance in the Wireless Sensor Network environmentLow Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) merupakan algoritma routing pada Wireless Sensor Network (WSN) berbasis cluster. LEACH memilih sebuah node sebagai cluster head (CH) yang tugasnya untuk melakukan komunikasi dengan sink maupun guna mengumpulkan data dari member node. Persebaran CH pada LEACH yang dikatakan acak, kadang mengalami masalah mengingat rumus probabilitas pada tiap round. Hal ini akan menyebabkan CH yang terpilih bisa berada di tepi area, juga terjadinya pemborosan energi karena jalur yang terbentuk akan menjadi panjang. Oleh karena itu, kami ingin mengembangkan routing protocol G-LEACH menggunakan teknik merge CH dalam suatu area (grid) disertai beberapa parameter yang relevan, seperti posisi node, node dengan sisa energi terbesar, dan jarak yang dihitung dalam tiga jarak yaitu jarak node menuju cluster center, jarak node menuju merge CH, dan jarak merge CH menuju sink. Hasil pengujian menunjukan bahwa dengan menggabungkan cluster (merge CH) pada transmisi data menuju sink pada protokol G-LEACH dapat menghasilkan masa hidup jaringan yang lebih lama pada seluruh operasi node, energi yang dibutuhkan pada semua node lebih rendah, dan lebih banyak paket data yang dikirim dan diterima oleh sink. Low Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) is a routing algorithm in a cluster-based Wireless Sensor Network (WSN). LEACH selects a node as a cluster head (CH) whose responsibility is for communicating with sinks and collect data from the node members. The distribution of CH on LEACH, which is basically random, sometimes has a problem in remembering the probability formula on each round. This may make the selected CH on the edge of the area as well as generate energy waste because the pathway formed will be lengthy. Therefore, we would like to develop the G-LEACH routing protocol using a merge CH technique in one area (grid) with several relevant parameters, such as the position of the node, the node with the largest remaining energy, and the distance calculated in three distances: the distance of the node to the clustercenter, the distance of the node to the merge CH, and the distance of the merge CH to the sink. The test result showed that combining clusters (merge CH) in the data transmission to the sink in the G-LEACH protocol could produce a longer network life on all node operations, lower energy required for all nodes, and more data package sent and received by the sink.
Pengembangan Komponen Media Uploading untuk mendukung E-Elearning Pada Kondisi Jaringan Dinamis Daniyanto, Rahmat; Wibisono, Waskitho; Ijtihadie, Royyana Muslim
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.23969

Abstract

Kemajuan teknologi informasi saat ini memudahkan setiap orang dalam kegiatannya masing-masing, Saat ini kegiatan belajar mengajar tidak harus dilakukan dengan cara tatap muka langsung tetapi dapat dilakukan dengan melalui secara online melalui internet. Pengajar dan murid dapat berkomunikasi melalui suatu web yang didesain untuk memudahkan kegiatan belajar mengajar.Saat ini masyarakat dapat mengakses internet melalui media seperti komputer , laptop serta smartphone yang sudah banyak digunakan. Pada web terdapat banyak fungsi yang dapat digunakan oleh pengguna untuk berdiskusi antar pengajar dan  murid . Salah satunya pengajar dapat memberikan tugas pada murid. Pengajar dapat membuat topik bahasan tertentu lalu murid mengumpulkan tugas yang dikerjakan dengan cara mengunggahnya. Namun kualitas koneksi internet tidak selalu baik, ada kalanya koneksi internet yang buruk mengakibatkan proses mengunggah tugas menjadi gagal. Dalam tugas akhir ini , elearning akan digunakan sebagai sarana pengumpulan tugas.. Dalam proses mengunggah , web akan menggunakan Chunked Upload Progress yang memungkinkan pengguna untuk mengatasi masalah koneksi yang buruk saat mengupload Upload Progress akan tersimpan saat proses mengunggah sedang berlangsung pada kondisi koneksi jaringan yang
Adaptive Data Aggregation for Shortest Geopath Routing Protocol in Wireless Sensor Network Ady Kusuma, I Gusti Ngurah; Wibisono, Waskitho
IPTEK The Journal for Technology and Science Vol 28, No 2 (2017)
Publisher : IPTEK, LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.395 KB) | DOI: 10.12962/j20882033.v28i2.2926

Abstract

Wireless sensor network is a network that contains many nodes in each nodes with limited power source and ability to send a sensing data to a cordinator node that called sink node. Every data that sent through network, will cost amount of energy for transmitting and draw energy each time a data transmitted from power soucve. To extend the network lifetime, we should optimize the data that transmitted. In this research author propose an adaptive method that using in network data aggregation with cluster and tested in SIDnet-SWANS. This method collecting the data at Cluster Head node before it forward to sink node rather than forwarding every data that arrive at cluster head to next hop. This method has better performance than other method, average energy left after 48 hours sensing is 17.23% and 78818.67 second to first node dead. This method giving more efficiency of energy use better than non-aggregation method
Pengembangan Mekanisme Change Detection Untuk Efisiensi Energi Pada Wifi-Based Indoor Positioning System Hendi, Ade; Wibisono, Waskitho; Shiddiqi, Ary Mazaharudin
Jurnal ELTIKOM : Jurnal Teknik Elektro, Teknologi Informasi dan Komputer Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.021 KB) | DOI: 10.31961/eltikom.v4i1.157

Abstract

Pengembangan mekanisme change detection mempunyai peranan penting terhadap Indoor Positioning System (IPS). Namun permasalahan yang masih umum dijumpai adalah konsumsi energi yang tinggi, karena proses WiFi scanning berjalan secara terus menerus. Proses WiFi scanning mengirimkan data dari klien ke server secara terus menerus, terkadang memberikan informasi yang sama dan berulang kepada user. Informasi yang dikirim secara redundansi bisa berdampak pada konsumsi energi yang tinggi. Paper ini mengusulkan mekanisme perbaikan dengan change detection untuk penghematan energi dalam melakukan sampling secara adaptif pada kekuatan sinyal WiFi dengan accelerometer sebagai trigger. Mekanisme change detection yang dilakukan adalah mengukur kekuatan sinyal pada accelerometer dengan menentukan silent zone. Silent Zone merupakan rentang nilai yang didapatkan ketika accelerometer dalam kondisi diam. Apabila diketahui nilai kekuatan sinyal pada accelerometer melebihi nilai silent zone, maka diidentifikasi user dalam kondisi bergerak dan secara otomatis proses WiFi scanning akan berjalan. Change detection dengan Bluetooth mempunyai proses yang sama dengan menggunakan accelerometer. Algoritma yang diusulkan dapat menghasilkan penghematan daya baterai sebesar 4,384% untuk scanning dengan change detection menggunakan accelerometer dan 2,666% untuk change detection menggunakan Bluetooth.
OPTIMASI PEMILIHAN CLUSTER HEAD DENGAN ANT-BEHAVIOR PADA LINGKUNGAN MANET Permatasari, Desy Intan; Wibisono, Waskitho
SCAN - Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol 9, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/scan.v9i3.861

Abstract

Abstrak. Pergerakan node secara dinamis di dalam lingkungan MANET (mobile ad-hoc network)merupakan tantangan utama hingga saat ini. Pemilihan metode yang paling sesuai untuk mengirimkanpesan pada layer routing harus diterapkan untuk mengurangi service discovery delay. Service discoverydi lingkungan jaringan mobile ad-hoc network merupakan isu yang masih diteliti hingga saat ini,karena pada lingkungan mobile ad-hoc network tidak terdapat titik pusat administrasi yang mengaturnode di jaringan. Untuk mengurangi service discovery delay, mekanisme cluster diterapkan padalingkungan mobile ad-hoc network. Node dibagi dalam beberapa daerah yang disebut cluster, dimanasetiap cluster memiliki cluster head yang bertugas mengkoordinasikan pergerakan node dalam clustertersebut. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana menentukan cluster head yang tepat. Pemilihancluster head yang tidak tepat dapat menyebabkan menurunnya performa efisiensi di jaringan. Padapenelitian ini, penulis mengemukakan usulan untuk melakukan optimasi pada pemilihan cluster headdengan mengadopsi perilaku semut dalam menemukan jalur ke sumber makanan. Pada koloni semut,terdapat istilah zat pheromone. Pheromone adalah petunjuk bagi semut untuk menemukan sumbermakanan, karena semut akan meninggalkan zat pheromone pada jalur yang dilaluinya apabila sudahmenemukan sumber makanan. Dengan mengadopsi perilaku semut ini, maka parameter yang dapatdigunakan untuk pemilihan cluster head pada penelitian ini adalah jumlah node tetangga dan jumlahterpilihnya node menjadi cluster head. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pemilihan clusterhead dengan mengadaptasi perilaku semut untuk service discovery mampu mengurangi servicediscovery delay hingga sebesar 33,22 ms dan meningkatkan service success rate sebesar 8,57%. Kata kunci: Service Discovery, Cluster Formation, Cluster Head Selection, JiST/SWANS
MESSAGE FERRY UNTUK DELAY TOLERANT NETWORK DENGAN ADAPTIVE ROUTE Muliansani, Muliansani; Wibisono, Waskitho
SCAN - Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol 9, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/scan.v9i3.863

Abstract

Abstrak. Arsitektur jaringan Delay Tolerant Network (DTN) adalah sistem jaringan tanpa koneksilangsung antara source dan destination. Konsep dalam Delay Tolerant Network memiliki masapenundaan yang cukup tinggi, waktu antrian yang panjang, sumber daya yang terbatas dan koneksiyang terputus. Message ferry (MF) merupakan salah satu sumber daya yang digunakan dalam DTN.MF dapat menyediakan efisiensi pengiriman data karena dapat bergerak secara proaktif untukmenerima dan mengirim pesan sehingga dapat menurunkan penundaan. Penggunaan pemilihanroute dalam pengiriman paket data dapat memberikan hasil yang lebih optimal, seperti penggunaanalgoritma next hop. Namun algoritma tersebut dapat majadi masalah baru apabila node tujuantidak dapat menerima pesan yang dibawa oleh MF. Akan terjadi looping yang dapat peningkatandelay sehingga menurunkan efisiensi pengiriman. Dalam penelitian ini kami mengusulkan skemabaru untuk mengatasi permasalahan looping dengan menggunakan adaptive route agar dapatmenggurangi delay akibat dari kondisi pada node tujuan yang tidak dapat menerima pesan. Skemausulan kami beri nama dengan Adaptive Message Ferry Routing (AMFR).Kata kunci : Delay Tolerant Network, Message ferry, Adaptive Message Ferry Routing, algoritmanext hop.
Reduksi Feedback Implosion pada Reliable Multicast Protocol Menggunakan Backup Node Terdistribusi Data, Mahendra; Wibisono, Waskitho
Jurnal EECCIS Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.471 KB)

Abstract

Salah satu masalah dalam pengiriman data secara massal, seperti pendistribusian update perangkat lunak, adalah pemborosan bandwidth. IP multicast yang reliabel dapat dimanfaatkan sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan ini, namun IP multicast yang reliabel memiliki peluang feedback implosion yang besar ketika terdapat paket yang hilang dalam jumlah besar. Dalam penelitian ini, penulis mengemukakan sebuah metode untuk meminimalisir kemunculan negative-acknowledgment (NAK) agar dapat menekan peluang terjadinya feedback implosion. Pada metode ini, tiap node dalam sebuah multicast group akan memetakan node lain yang berdasarkan tingkat reliabilitas dan menjadikannya sebagai backup node. Reliabilitas ini diukur berdasarkan besarnya ketersediaan bandwidth dan packet loss pada jaringan. Node yang mengalami packet loss, akan mengirimkan NAK ke backup node sesuai dengan urutan reliabilitasnya. Tujuannya agar tidak terjadi bottleneck di node pengirim, sehingga dapat menurunkan pengiriman NAK yang sama berulang kali. Dari hasil percobaan, terbukti metode ini dapat menurunkan total NAK yang dikirimkan dengan cara mengurangi peluang bottleneck pada node pengirim sehingga dapat meningkatkan peluang terbalasnya NAK dan menurunkan jumlah pengiriman ulang NAK dengan signifikan.Kata Kunci—IP multicast, reliabel, feedback implosion, NAK, backup node, ketersediaan bandwidth, packet loss.
Pengembangan mekanisme grid based clustering untuk peningkatan kinerja LEACH pada lingkungan Wireless Sensor Network Fallo, Kristoforus; Wibisono, Waskitho; Pamungkas, Kun Nursyaful Priyo
Register: Jurnal Ilmiah Teknologi Sistem Informasi Vol 5, No 2 (2019): July
Publisher : Information Systems - Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/register.v5i2.1708

Abstract

Development of a grid-based clustering mechanism to improve LEACH performance in the Wireless Sensor Network environmentLow Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) merupakan algoritma routing pada Wireless Sensor Network (WSN) berbasis cluster. LEACH memilih sebuah node sebagai cluster head (CH) yang tugasnya untuk melakukan komunikasi dengan sink maupun guna mengumpulkan data dari member node. Persebaran CH pada LEACH yang dikatakan acak, kadang mengalami masalah mengingat rumus probabilitas pada tiap round. Hal ini akan menyebabkan CH yang terpilih bisa berada di tepi area, juga terjadinya pemborosan energi karena jalur yang terbentuk akan menjadi panjang. Oleh karena itu, kami ingin mengembangkan routing protocol G-LEACH menggunakan teknik merge CH dalam suatu area (grid) disertai beberapa parameter yang relevan, seperti posisi node, node dengan sisa energi terbesar, dan jarak yang dihitung dalam tiga jarak yaitu jarak node menuju cluster center, jarak node menuju merge CH, dan jarak merge CH menuju sink. Hasil pengujian menunjukan bahwa dengan menggabungkan cluster (merge CH) pada transmisi data menuju sink pada protokol G-LEACH dapat menghasilkan masa hidup jaringan yang lebih lama pada seluruh operasi node, energi yang dibutuhkan pada semua node lebih rendah, dan lebih banyak paket data yang dikirim dan diterima oleh sink. Low Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) is a routing algorithm in a cluster-based Wireless Sensor Network (WSN). LEACH selects a node as a cluster head (CH) whose responsibility is for communicating with sinks and collect data from the node members. The distribution of CH on LEACH, which is basically random, sometimes has a problem in remembering the probability formula on each round. This may make the selected CH on the edge of the area as well as generate energy waste because the pathway formed will be lengthy. Therefore, we would like to develop the G-LEACH routing protocol using a merge CH technique in one area (grid) with several relevant parameters, such as the position of the node, the node with the largest remaining energy, and the distance calculated in three distances: the distance of the node to the clustercenter, the distance of the node to the merge CH, and the distance of the merge CH to the sink. The test result showed that combining clusters (merge CH) in the data transmission to the sink in the G-LEACH protocol could produce a longer network life on all node operations, lower energy required for all nodes, and more data package sent and received by the sink.
Modifikasi Inisialisasi Cluster head menggunakan Fuzzy C-Means Clustering untuk Efisiensi Energi pada Proses Data Gathering di Lingkungan Wireless Sensor Network Muhammad Awwib Ahsana; Waskitho Wibisono
BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Vol 5, No 4 (2020): Volume 5 Nomor 4, November 2020
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.789 KB) | DOI: 10.28926/briliant.v5i4.533

Abstract

Proses pengumpulan data (data gathering) akan berpengaruh terhadap masa hidup jaringan dan konsumsi energi. Salah satu permasalah yang sering terjadi adalah konsumsi energi dan masa hidup jaringan, dimana energi yang dimiliki pada suatu protokol Wireless sensor network sangat terbatas, sedangkan proses pengambilan data dilakukan secara berulang-ulang. Sehingga diperlukan suatu metode penghematan energi agar energi yang dikonsumsi menjadi rendah dan masa hidup jaringan lebih lama. Penelitian ini mengusulkan modifikasi pemilihan cluster head menggunakan Fuzzy C-Means dan Particle Swarn Optimation untuk efisiensi nnergi pada wireless sensor network. Perbandingan masa hidup jaringan menunjukan bahwa strategi usulan memiliki tingkat hidup yang lebih panjang yaitu 9549 round atau 2,06 kali lipat dari protokol Low Energy Adaptive Clustering Hierarchy (LEACH) pada sink (50,50) dengan rata-rata energi per transmisi 0.00032676 joule per transmission dan 7644 round atau 1,6 kali lipat dari protokol LEACH pada sink (50,100) dengan rata-rata energi per transmisi 0.000486052 joule per transmission. Hal ini mempertegas bahwa dengan melakukan optimasi data gathering dengan konsep multi hop pada wireless sensor network mampu meningkatkan masa hidup jaringan dan konsumsi energi yang rendah.