Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Perbandingan Representasi Ketidaktstabilan Negara dalam Film Ditto ‘동감’ dan Remakenya: Kajian Semiotika: Perbandingan Ketidakstabilan Negara dalam Film ‘Ditto '동감’' dan Remakenya: Studi Semiotik Sekarwati, Widya; Velayeti Nurfitriana Ansas; Jayanti Megasari
ELOQUENCE : Journal of Foreign Language Vol. 4 No. 2 (2025): AUGUST
Publisher : Language Development Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58194/eloquence.v4i2.2923

Abstract

Background: This research discusses the comparison of the representation of state instability in the 2000 film Ditto '동감' with its national remake film Ditto '동감' (2022). The interesting point is there are many studies that have analyzed remake films, but few discuss about national remake films. Purpose: This research aims to fill the research gap by specifically highlighting the comparison of representation in national remake films, between film Ditto '동감' (2000) and its remake film Ditto '동감' (2022), especially on the phenomenon of state instability. Method: Through a qualitative method using John Fiske's semiotic theory, this research analyzes the differences in signs and symbols used by the two films in representing the phenomenon of state instability. The data used are audio, visual, and verbal elements in both films. Results and Discussion: This research shows that although national remake films are remade in the same country that relatively has the same culture and ideology, what and how a phenomena is represented can be very different. This is because representation has no definite standard and is highly dependent on the filmmaker. Conclusions and Implications: The instability of the country in the 2000 film Ditto '동감' is mostly represented through visual elements in the form of news and scenes with minimal dialogue. Meanwhile, the instability of the country in the remake of Ditto '동감' in 2022 is more likely to be represented verbally through dialogue. This research is expected to contribute to the study of semiotics in film, especially intramedium national remake films and aims to be used as teaching materials for Korean language education students to help develop an understanding of semiotics in Korean national remake films.
The Analysis of Compound Sentence Formation in Moon Jae-In's Posts on Social Media Instagram: An Effort to Increase Writing Skills of Korean Language Education Students UPI Megasari, Jayanti; Ansas, Velayeti Nurfitriana; Lubis, Arif Husein; Sukyadi, Didi; Restiseptya, Adisty Dyva; Putri, Thrisa Ananda
JLA (Jurnal Lingua Applicata) Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : DBSMB, Vocational College of Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jla.79637

Abstract

This research is on the formation of compound sentences in Korean, as seen from the uploads on Instagram of former South Korean President Moon Jae-in. On his Instagram, Moon Jae-in uploads photos, videos, and writings containing ideas and responses to things. Researchers see the need to develop writing skills in the Korean Language Education Study Program FPBS UPI. Therefore, the researcher wants to see how Korean speakers form compound sentences according to Korean grammar. As a president, Moon Jae-in is considered able to write in Korean grammar so that it does not cause ambiguity and misunderstanding. The research data found 76 posts by Moon Jae-in and 267 compound sentences. This study also classifies these compound sentences into two classifications, namely 내포문 [nae-pho-mun] 'embedded clause' and 접속문 [jeop-sok-mun] 'conjunctive sentence.' The analysis results show two categories of compound sentence formation patterns in Moon Jae-in's writings: patterns of stacked and non-stacked compound sentence formation. After the analysis was completed, the researcher concluded three strategies for learning to write, namely 1) Students must be able to determine the type of sentence to be made; 2) Students must pay attention to sentence patterns in Korean; and 3) Learners must be careful in choosing the correct grammar.
Swear Words dalam Ujaran Kebencian Pada Kolom Komentar Terhadap Karya Idol K-Pop Tahun 2023 Ansas, Velayeti Nurfitriana; Fianita, Fina; Samsudin, Didin; Megasari, Jayanti
JLA (Jurnal Lingua Applicata) Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : DBSMB, Vocational College of Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jla.94828

Abstract

Penelitian ini didasari atas ditemukannya banyak komentar negatif berisikan ujaran kebencian disertai kata-kata kasar yang ditujukan kepada idol K-Pop. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-kualitatif dan menggunakan teori tindak tutur untuk mengolah data komentar-komentar dengan ujaran kebencian dan mencari kata-kata umpatan apa saja yang paling banyak digunakan untuk mengutarakan ujaran kebencian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah komentar ujaran kebencian yang disampaikan oleh warganet Korea pada forum diskusi daring Korea yaitu Pann dan theqoo, kolom komentar Instagram, YouTube, dan Melon, serta halaman X (dulunya Twitter) tahun 2023. Ditemukan bahwa terdapat sembilan swear words yang digunakan pada kolom komentar yaitu 존나 [jon-na], 조카 [jo-jkha], 개- [gae], 시발 [si-bal], 개소리 [gae-so-ri], 병신[byeong-sin]/병신아[byeong-sin-a], 양아치 [yang-a-chi], 쓰레기 [sseu-re-gi], dan 그지 [geu-ji] serta terdapat lima jenis bentuk ujaran kebencian, yaitu merendahkan, menyinggung, menghina, memojokkan, dan menistakan. Ujaran yang paling banyak dilakukan adalah bentuk merendahkan dengan menggunakan kata 존나 [jon-na]. Penggunaan kata-kata tersebut banyak digunakan untuk menekankan emosi dengan tujuan untuk merendahkan kualitas karya yang telah dirilis oleh idol K-Pop, menistakan karya yang telah dirilis oleh idol K-Pop demi merendahkan reputasi mereka, menumbuhkan stereotip yang negatif dari idol K-Pop, dan memaki idol K-Pop.Kata Kunci: K-Pop, swear words, tindak tutur, ujaran kebencian 
Analisis Tindak Tutur Ilokusi School Bullying dalam Drama Korea The Glory (더글로리) Abdussalam, Nadzar; Triarisanti, Risa; Megasari, Jayanti
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i6.16384

Abstract

Penelitian ini mengulas tindak tutur ilokusi yang merujuk pada tindakan school bullying yang sering terjadi khususnya di Korea Selatan. Tindak tutur ilokusi ini diambil dari percakapan dalam drama Korea “The Glory”. Drama ini mengisahkan tentang Moon Dong-eun yang mengalami trauma masa lalu akibat bullying di sekolah dan cerita berlanjut dengan rencananya untuk balas dendam. Di sisi lain, karakter Park Yeonjin juga terlibat dalam konflik dengan Moon Dong-eun yang memunculkan berbagai jenis tindak tutur ilokusi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan tindak tutur ilokusi pada kajian pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan dominasi tindak tutur ilokusi direktif dalam drama Korea "The Glory". Pada hasil analisis yang sudah dilakukan terdapat pula tindak tutur ilokusi representatif, ekspresif, dan komisif yang digunakan dalam konteks school bullying. Dalam kesimpulan, komunikasi antara pelaku dan korban bullying ditandai dengan upaya kontrol, ekspresi emosional, dan penegasan kebenaran atau keadaan. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang dinamika komunikasi dalam situasi bullying di sekolah dan relevansinya dalam konteks sosial yang lebih luas.
Prompt-based AI Use Training for Research Preparation for Beginner Researchers at the Faculty of Teacher Training and Education, Ahmad Dahlan University, Yogyakarta Megasari, Jayanti; Azizah, Asma; Samsudin, Didin; Kurniawan, Muhammad Ardi
Jurnal Abdimas Vol. 29 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v29i2.37349

Abstract

The use of prompt-based Artificial Intelligence (AI) has grown rapidly in academia, offering efficiency and improved research quality. However, student researchers as novice researchers still face challenges such as difficulty formulating research problems, finding and summarizing relevant academic sources, and limited skills in writing effective prompts. Furthermore, there is a lack of programs or training specifically teaching the optimal use of AI in a research context. This Community Service (PkM) was implemented to provide a comprehensive understanding of the use of prompt-based AI in the context of preparing academic research critically, creatively, and ethically, and to help students utilize it in complex research stages, such as literature searches, problem formulation, and instrument development. This activity collaborated with students from the Faculty of Teacher Training and Education at Ahmad Dahlan University (UAD) as partners. The training implementation method used a blended learning model (online and offline) and a mixed explanatory method (sequential explanatory) to measure the effectiveness of the training through quantitative data (pre- and post-training surveys) followed by qualitative exploration. The results of the activity showed a significant increase in all aspects of student research competency. Understanding of scientific research procedures improved from "quite capable" to "capable–very capable." Furthermore, their ability to formulate research problems, locate relevant references, and develop scientific article outlines also consistently strengthened. This PkM successfully equipped students to be more independently prepared to initiate and conduct undergraduate research and produced training modules that can be used continuously.
Pembekalan bahasa korea dasar bidang pariwisata guna meningkatkan keterampilan komunikasi siswa SMK Negeri 3 Denpasar, Bali Ashanti Widyana; Didin Samsudin; Asma Azizah; Jayanti Megasari; Teja Mustika; Ibrahim Ibrahim
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.28014

Abstract

AbstrakSetelah pandemi melanda, Indonesia mulai bangkit untuk memulihkan roda perekonomian yang sempat terhenti. Salah satu sektor yang kembali menggeliat pasca pandemi adalah pariwisata, terutama di Bali. Bali memiliki daya tarik sendiri bagi wisatawan lokal dan mancanegara, terutama wisatawan dari Korea Selatan yang pada tahun 2023 menyumbang sebanyak 226.789 orang wisatawan atau sekitar 4,3 % dari total wisatawan mancanegara yang berwisata ke Bali. Industri pariwisata Bali yang semakin pulih meningkatkan kebutuhan tenaga profesional yang mampu berbahasa Korea, khususnya yang mendukung layanan pariwisata. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu elemen penting untuk menyiapkan generasi muda untuk memenuhi kebutuhan ini. Sebagai bentuk dukungan untuk mempersiapkan lulusan yang berkompeten dalam bahasa Korea bidang pariwisata, dilaksanakanlah program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dasar bahasa Korea. Program ini menggunakan metode pembelajaran bauran (blended learning), menggabungkan sesi daring melalui Zoom dan tatap muka di SMKN 3 Denpasar. Sebanyak 20 siswa dari SMKN 3 Denpasar menjadi peserta pelatihan, yang difokuskan pada penguasaan bahasa Korea dasar untuk pariwisata. Pelatihan ini dirancang dengan bahan ajar khusus, silabus terstruktur, dan panduan praktis. Hasil program ini mencakup lima luaran utama: panduan bahasa Korea untuk pariwisata, hak kekayaan intelektual (HKI), publikasi di jurnal nasional, liputan media massa, dan video dokumentasi kegiatan. Diharapkan, kegiatan ini mampu membekali siswa dengan keterampilan bahasa Korea yang relevan dan mendukung peningkatan kompetensi mereka di industri pariwisata. Kata kunci: bahasa korea dasar; Bali, blanded learning; pariwisata; pembekalan; pengabdian kepada masyarakat; sekolah menengah kejuruan  AbstractAfter the pandemic, Indonesia began to recover its economy, with tourism being one of the sectors that thrived again, particularly in Bali. Known for its unique charm, Bali remains a favorite destination for domestic and international tourists. In 2023, South Korean tourists made up 4.3% of international visitors to Bali, totaling 226,789 arrivals. This recovery has created a growing need for professionals proficient in Korean to support tourism services. Vocational High Schools (SMK) are pivotal in preparing students to meet this demand. To enhance their skills, a community service program was conducted at SMKN 3 Denpasar, focusing on basic Korean language proficiency for tourism purposes. The program used a blended learning approach, combining online sessions via Zoom with face-to-face classes. Twenty students participated in the training, which included specialized teaching materials, a structured syllabus, and practical exercises. Key outcomes included a Korean language guide for tourism, intellectual property rights registration, publication in a national journal, media coverage, and a video documentation of the activities. This initiative aims to equip students with essential Korean language skills, enabling them to thrive in Bali’s recovering tourism sector and meet its professional demands effectively. Keywords: Bali; basic korean language; blended learning; community service; facilitating; tourism; vocational high school