I Made Kusuma Wijaya
Jurnal Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan Undiksha

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Karakteristik Penyakit Kulit dan Kelamin pada Penderita Infeksi Human Immunodeficiency Virus di Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng: Characteristics Of Skin And Venereal Diseases In Patients With Human Immunodeficiency Virus (HIV) Infection At Buleleng General Hospital Supradnyan, I Komang Harry; Wijaya, I Made Kusuma; Wibawa, Ketut Suteja
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 8/ Nomor 1/ Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33377/jkh.v8i1.190

Abstract

Introduction: Various skin and venereal diseases have been linked to HIV infection. This disease can be specifically related to HIV, but it can also be a common disease but with more severe manifestations and more difficult to treat. Objective: To determine the characteristics of skin and venereal diseases in patients with HIV infection at the Buleleng Regional General Hospital. Methods: a cross-sectional study approach carried out in the period May 2023 to July 2023. The diagnosis of HIV infection was proven by laboratory examination, meanwhile the diagnosis of the disease skin and genitalia are confirmed clinically by a skin and genital specialist, and if necessary, supporting examinations are carried out. Results: There were 28 HIV patients with complaints of skin and venereal diseases. The number of male patients compared to female is 2.1:1 with a predominance in the age group 31-40 years. Most of the patients are at stage 4 and the most common route of transmission is through free sex and homosexuality. There were 49 diagnoses in the field of skin and genitals from the 28 patients examined. The characteristics of skin and venereal diseases in patients were 57.1% diagnosed with infectious diseases, the rest were non-infectious diseases. Conclusion: Infectious diseases include bacterial infections (syphilis, ecthyma, granuloma inguinale, bartholinitis and impetigo crustosa), viral infections (herpes zoster, condyloma acuminata, molluscum contagiosum and herpes labialis) and fungal infections (oroesophageal candidiasis, oral candidiasis and angular cheilitis). Meanwhile, non-infectious cases consist of seborrheic dermatitis, papular pruritic eruption and drug eruption.
DIABETES MELITUS TIPE 2: FAKTOR RISIKO, DIAGNOSIS, DAN TATALAKSANA Widiasari, Kadek Resa; Wijaya, I Made Kusuma; Suputra, Putu Adi
Ganesha Medicina Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.605 KB) | DOI: 10.23887/gm.v1i2.40006

Abstract

AbstrakDiabetes melitus menggambarkan sekelompok penyakit metabolik yang temuan umumnya adalah kadar glukosa darah yang meningkat. Pada usia 20-79 tahun, terdapat 463 juta atau setara 9,3% orang di dunia menderita diabetes pada tahun 2019. Diabetes melitus tipe 2 ditandai dengan defisiensi insulin relatif yang disebabkan oleh disfungsi sel pankreas dan resistensi insulin. Faktor risiko penyebabnya dibagi menjadi dua yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Gejala klasik diabetes seperti poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Empat tes diagnostik untuk diabetes yaitu pengukuran glukosa plasma puasa, glukosa plasma 2 jam setelah TTGO 75 g, HbA1c, dan glukosa darah acak dengan adanya tanda dan gejala klasik diabetes. Tatalaksana dibagi menjadi dua, yaitu farmakologi dan non farmakologi. Tatalaksana non farmakologis terdiri atas edukasi, nutrisi medis, dan latihan fisik. Terapi farmakologis terdiri atas obat oral dan bentuk suntikan dalam bentu obat anti hiperglikemik dan insulin. Terapi farmakologi dan non farmakologi ini berjalan beriringan. Penulisan artikel ini menggunakan metode literature review dan diharapkan dapat dijadikan acuan kedepan dalam melakukan tindakan pencegahan dan pengobatan pasien diabetes melitus sehingga prevalensi berkurang dan komplikasi dapat dihindari.   AbstractDiabetes mellitus describes a group of metabolic diseases whose common finding is elevated blood glucose levels. At the age of 20-79 years, there were 463 million or 9.3% of people in the world suffer from diabetes in 2019. Type 2 diabetes mellitus is characterized by relative insulin deficiency caused by pancreatic cell dysfunction and insulin resistance. The risk factors that cause it are divided into two, namely modifiable and non-modifiable risk factors. The classic symptoms of diabetes include polyuria, polydipsia, polyphagia and unexplained weight loss. The four diagnostic tests for diabetes are measurement of fasting plasma glucose, plasma glucose 2 hours after OGTT 75 g, HbA1c, and randomized blood glucose in the presence of classic signs and symptoms of diabetes. Treatment is divided into two, namely pharmacological and non-pharmacological. Non-pharmacological management consists of education, medical nutrition, and physical exercise. Pharmacological therapy consists of oral drugs and injections in the form of anti-hyperglycemic drugs and insulin. Pharmacological and non-pharmacological therapy goes hand in hand. The writing of this article uses the literature review method and is expected to be used as a future reference in carrying out prevention and treatment of diabetes mellitus patients so that prevalence is reduced and complications can be avoided.  
Vitamin D supplementation and moderate intensity continuous training: Impact on leptin and anthropometric measures in obese individual Suputra, Putu Adi; Arsani, Ni Luh Kadek Alit; Wijaya, I Made Kusuma; Lestari, Ni Made Sri Dewi; Parwata, I Made Yoga
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 16, No 2, (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol16.Iss2.art3

Abstract

Background: Vitamin D may potentially have a significant influence in managing obesity-related risk factors. The current evidence suggests that observational studies have found a negative correlation between leptin levels and serum vitamin D, but heterogeneous intervention studies have not shown a significant effect. Objectives: This study aims to examine the effect of the combination of moderate-intensity continuous training (MICT) and vitamin D3 on leptin and anthropometry. Methods: A true experimental, randomized pre and post-test control group design were performed on 36 subject (18 male and female each) for 12 weeks. A treatment group received MICT and vitamin D3, control group only received MICT and placebo. Both groups received moderate-intensity exercise (64-75% HR Max) with a frequency of 3x/week and a time of 60 minutes, carried out. In the treatment group, 5000 IU vitamin D3 was administered daily for 12 weeks, while the control group only received a placebo. In this study, hypothesis testing was conducted to compare the means of two independent groups using an independent t-test or Mann-Whitney test. For comparisons between two related groups, a paired t-test or the Wilcoxon Signed Rank Test was used.Results: After conducting a test to compare two sample means from unrelated groups, statistically significant differences were observed between the treatment and control groups in this study. For the variables of BMI (p=0.025), waist circumference (p=0.042), body weight (p=0.008), leptin (p=0.015) and vitamin D3 (p<0.001). Conclusion: Combination of vitamin D3 supplementation and MICT significantly lowered leptin and anthropometry in obese individuals.
Gambaran Tingkat Penggunaan Smartphone dan Nyeri Kepala Primer pada Mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha Putra, Bayu Pramana Suryawan; Agustini, Ni Nyoman Mestri; Wijaya, I Made Kusuma
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/.v7i2.369

Abstract

Smartphone merupakan perangkat multifungsi yang memiliki kemampuan serupa dengan komputer. Saat ini, smartphone telah menjadi kebutuhan penting, terutama bagi mahasiswa kedokteran. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan dapat berdampak negatif bagi kesehatan, salah satunya adalah menyebabkan nyeri kepala primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat penggunaan smartphone dan nyeri kepala primer pada mahasiswa Program Studi Kedokteran di Universitas Pendidikan Ganesha. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan potong-lintang (cross-sectional). Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha, dengan sampel yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden (93,1%) berada pada kategori penggunaan smartphone tinggi, sementara 6,9% berada pada tingkat penggunaan sedang. Sebanyak 59,8% responden mengalami nyeri kepala, lebih tinggi dibandingkan 40,2% yang tidak mengalami nyeri. Baik pada kelompok dengan tingkat penggunaan tinggi maupun sedang, terdapat kecenderungan lebih besar mengalami nyeri kepala dibandingkan tidak nyeri kepala.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN PREMENSTRUAL SYNDROME : LITERATURE REVIEW Andari, Komang Ayu Satya Yuanita; Arsani, Ni Luh Kadek Alit; Wijaya, I Made Kusuma
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51069

Abstract

Premenstrual syndrome (PMS) merupakan sekumpulan gejala fisik dan psikologis yang muncul secara siklik pada fase luteal dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari wanita. Stres sebagai salah satu faktor pemicu premenstrual syndrome dengan memengaruhi ketidakseimbangan hormon. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara tingkat stres dengan premenstrual syndrome. Kajian dilakukan menggunakan metode literature review. Sumber data diperoleh melalui berbagai database, seperti PubMed, Google Scholar, dan didukung oleh sumber-sumber terpercaya lainnya yang dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir. Hasil literature review dari 10 jurnal menunjukkan bahwa 9 jurnal menyatakan hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan premenstrual syndrome, sedangkan 1 jurnal menyatakan tidak berhubungan. Stres memengaruhi keseimbangan hormon estrogen dan progesteron serta menurunkan kadar serotonin. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan premenstrual syndrome.
KORELASI HBA1C TERHADAP KEPARAHAN ULKUS KAKI DIABETIK : LITERATURE REVIEW Indira, Ida Ayu Tara; Udrayana, Oka; Wijaya, I Made Kusuma
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.51196

Abstract

Ulkus kaki diabetik  merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus yang sering berujung pada amputasi. Hemoglobin terglikasi (HbA1c) sebagai parameter kontrol glikemik jangka panjang diduga berperan dalam memprediksi keparahan DFU, namun hasil penelitian masih menunjukkan variasi. Tinjauan literatur ini  bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar HbA1c dengan derajat keparahan ulkus kaki diabetik berdasarkan klasifikasi Wagner. Penelitian menggunakan metode literature review dengan pencarian artikel melalui Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci HbA1c, diabetic foot, diabetes melitus, dan derajat Wagner. Artikel yang diinklusi adalah penelitian empiris yang diterbitkan tahun 2020-2025 dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Total 10 artikel dianalisis menggunakan pendekatan simplified approach. Dari 10 artikel yang dikaji, 9 artikel (90%) menunjukkan korelasi positif signifikan antara kadar HbA1c dengan keparahan ulkus kaki diabetik (p<0,05). Mayoritas pasien dengan HbA1c ≥7% mengalami ulkus Wagner grade 3-4. Pasien dengan HbA1c tidak terkontrol memiliki risiko 2,9-5 kali lebih besar mengalami ulkus derajat berat dan risiko amputasi yang lebih tinggi. Hanya satu studi yang tidak menemukan hubungan bermakna. Terdapat korelasi positif yang kuat antara kadar HbA1c dengan keparahan ulkus kaki diabetik. Kontrol glikemik yang buruk (HbA1c ≥7%) meningkatkan risiko keparahan ulkus dan komplikasi amputasi. Pemantauan HbA1c secara rutin penting untuk pencegahan dan penatalaksanaan DFU.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KADER LANSIA PADA POSYANDU LANSIA Pradiptha, I Dewa Agung Gde Fanji; Budiawan, Made; Wijaya, I Made Kusuma; Gayatri, Galih
Jurnal Keperawatan Malang Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Keperawatan Malang (JKM)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STIKes Panti Waluya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36916/jkm.v10i2.386

Abstract

Background: The increase in non-communicable diseases over the last 30 years in Indonesia requires early prevention and risk control. Puskesmas is the spearhead in improving the health status of the community through health cadres. Efforts to improve the role and function of Posyandu are not solely the responsibility of the government, but all components in the community, including the role of cadres. In addition to providing health information to the community, cadres also act as community mobilisers to come to Posyandu and implement clean and healthy living behaviours. Purpose: This study aims to analyse the relationship between individual characteristics and job satisfaction on the performance of elderly cadres at the elderly posyandu. Methods: This study is a correlational study with a cross sectional approach with a total sampling technique with a sample of 34 elderly cadres. Data collection instruments using questionnaires and observation sheets. Data analysis using chi square test. Result: The results showed that there was no significant relationship between age and the performance of elderly cadres with a p value = 0.566, there was no significant relationship between education and the performance of elderly cadres with a p value = 0.474, there was no significant relationship between tenure and the performance of elderly cadres with a p value = 0.292 and there was a significant relationship between job satisfaction and the performance of elderly cadres with a p value = 0.001. Implication: This research can be used as a reference for future researchers to conduct more in-depth research related to the relationship of individual characteristics to performance and factors that influence job satisfaction