Noor Wijayahadi
Department Of Pharmacology, Faculty Of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Hubungan Antara Derajat Asfiksia dengan Beratnya Hipokalsemia pada Bayi Baru Lahir Edwin Tohaga; Kamilah Budhi; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.29-34.

Abstract

Latar belakang. Kalsium merupakan ion yang sangat penting untuk proses metabolisme biomolekular. Selama kehamilan, kalsium ditransfer secara aktif melalui kalsium transplasental yang diregulasi hormon parathyroid-related peptide (PTHrP). Hipokalsemia dapat menyebabkan gangguan neuromuskular, irama jantung apneu, dan gangguan gastrointestinal. Asfiksia dapat menurunkan kadar kalsium darah pada bayi baru lahir di bawah batas nadir. Pada asfiksia terjadi insufisiensi ginjal, metabolik asidosis, dan sekresi parathyroid hormon (PTH) kurang sehingga menurunkan kadar kalsium plasma.Tujuan. Mengetahui hubungan antara derajat asfiksia dengan beratnya hipokalsemia pada bayi baru lahirMetode. Desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional pada bayi dengan asfiksia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di bangsal perawatan bayi risiko tinggi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr.Kariadi Semarang pada tahun 2012. Derajat asfiksia ditentukan berdasarkan nilai APGAR, yaitu asfiksia sedang dan berat, derajat hipokalsemia ditentukan berdasarkan nilai kadar kalsium serum. Analisis statistik dengan uji chi-square.Hasil. Subjek 66 bayi terdiri dari 29 bayi laki-laki dan 37 bayi perempuan, 20 bayi lahir kurang bulan dan 46 bayi lahir cukup bulan. Terdapat hubungan antara asfiksia dengan hipokalsemia (p=0,013). Hipokalsemia berat pada asfiksia berat PR 4,9, (IK95% 1,2-20,3; p=0,027), Hipokalsemia sedang pada asfiksia sedang PR 4,51(IK95% 1,3-14,6; p=0,009).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara derajat asfiksia dengan beratnya hipokalsemia pada bayi baru lahir.
Kadar Vitamin E Rendah Sebagai Faktor Risiko Peningkatan Bilirubin Serum pada Neonatus Tun Paksi Sareharto; Kamilah Budhi R; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 11, No 5 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.568 KB) | DOI: 10.14238/sp11.5.2010.355-62

Abstract

Latar belakang. Hiperbilirubinemia terjadi pada 25%-50% bayi baru lahir (BBL) dapat menurunkan kualitashidup. Secara fisiologis bilirubin meningkat mencapai puncak pada kadar 5-6 mg/dL pada hari ke 3-4kehidupan, terbanyak karena hemolisis (75%) yang kemungkinan terjadi akibat paparan oksidan. VitaminE melindungi membran eritrosit dari kerusakan oksidatif, sedangkan vitamin C membantu regenerasi seluntuk dapat berfungsi kembali.Tujuan. Menganalisis kadar vitamin E dengan memperhatikan kadar vitamin C serum yang rendah sebagaifaktor risiko peningkatan kadar bilirubin serum yang patologis pada neonatus.Metode. Desain penelitian adalah nested case control dengan subjek 80 neonatus aterm sehat di RSUP Dr.Kariadi pada Maret-Mei 2009, 40 neonatus sebagai kasus dan 40 neonatus sebagai kontrol. Kadar bilirubindiperiksa hari ke 3-4, kadar vitamin E dan vitamin C diperiksa dari sampel darah hari pertma setelah lahir.Faktor risiko dianalisis dengan rasio odds (95% interval kepercayaan) dan regresi logistik.Hasil. Subjek 40 neonatus aterm sehat dengan kadar bilirubin 􀁴5 mg/dL sebagai kasus dan 40 neonatusdengan kadar bilirubin <5 mg/dL sebagai kontrol. Rerata bilirubin total (mg/dL): 9,69±2,41 (kasus),2,81±1,21 (kontrol). Rerata kadar vitamin E (mg/dL): 0,19±0,03 (kasus) dan 0,23±0,02 (kontrol). Analisisbivariat menunjukan kadar vitamin E rendah merupakan faktor risiko terjadinya peningkatan kadar bilirubin(OR=23,7; 95%CI 6,8-82,4). Analisis multivariat menunjukkan kadar vitamin E dan vitamin C rendahmempunyai faktor risiko yang lebih tinggi terhadap peningkatan kadar bilirubin (OR=55,9; 95%CI 6,7-467,7).Kesimpulan. Kadar vitamin E dan vitamin C rendah merupakan faktor risiko peningkatan kadar bilirubinpada neonatus.
Pengaruh Probiotik pada Diare Akut: Penelitian dengan 3 Preparat Probiotik Ken Shinta; Hartantyo Hartantyo; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.89-95

Abstract

Latar belakang.Probiotik diketahui memiliki dampak yang menguntungkan dalam pengobatan diare akut pada anak. Probiotik mengurangi frekuensi dan durasi diare dengan meningkatkan respon imun, produksi substansi antimikroba dan menghambat pertumbuhan kuman patogen penyebab diare. Probiotik dengan galur spesifik efektif menurunkan frekuensi dan durasi diare.Tujuan.Membuktikan efektifitas suplementasi probiotik tunggal maupun kombinasi pada anak dengan diare akut. Metode. Uji klinis acak tersamar buta ganda terhadap pasien diare akut usia 6-24 bulan dengan diare akut di RS Dr. Kariadi Semarang periode Juli 2010 - Februari 2011. Subyek dibagi dalam 3 kelompok perlakuan(kelompok 1 perlakuan L.reuteri, kelompok 2 perlakuan L.acidophilus-LGG, kelompok 3 perlakuan L.acidophilus-Blongum-S.faecium) dan kelompok 4 dengan plasebo. Probiotik diberikan selama 5 hari dalam bentuk bubuk. Setiap kelompok mendapat terapi standar berupa rehidrasi dan dietetik. Diamati rekuensi dan durasi diare perhari. Uji statistik dengan menggunakan One Way Anova.Hasil. Dari 84 anak yang ikut dalam penelitian, rerata durasi diare lebih pendek pada kelompok L.reuteri (37,4±14,4) jam danL.acidophilus-LGG (38,6±19,6) jam dibanding kelompok 3 galur probiotik dan kontrol (p=0,002).Rerata frekuensi diare menurun pada kelompok L.reuteri(5,6±2,9 kali danL.acidophilus-LGG(6,9±8,4) kali dibanding dengan kelompok 3 galur probiotik dan kontrol (p=0,02).Kesimpulan.Probiotik L. reuteridanL.acidophilus-LGGefektif menurunkan durasi dan frekuensi diare. Probiotik dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada anak dengan diare akut.
Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak Fuadi Fuadi; Tjipta Bahtera; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.142-9

Abstract

Latar belakang. Kejang demam dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan nilai akademik dansangat mengkhawatirkan orang tua anak. Bila faktor risiko diketahui lebih awal dapat dilakukan pencegahansedini mungkin akan terjadinya bangkitan kejang demam pada anak.Tujuan. Membuktikan dan menganalisis faktor demam, usia, riwayat keluarga, riwayat prenatal (usia ibusaat hamil), dan perinatal (usia kehamilan, asfiksia dan berat lahir rendah) sebagai faktor risiko bangkitankejang demam pada anak.Metode. Studi kasus kontrol pada 164 anak dipilih secara consecutive sampling dari pasien yang berobat diRS. Dr. Kariadi Semarang periode bulan Januari 2008-Maret 2009. Pasien kejang demam sebagai kelompokkasus 82 anak dan demam tanpa kejang sebagai kelompok kontrol 82 anak. Pengambilan data dari catatanmedik dan dilanjutkan wawancara dengan orang tua anak.pada kunjungan rumah. Analisis data dengantes chi square dan uji multivariat regresi logistik.Hasil. Didapatkan hubungan yang bermakna antara faktor risiko dengan terjadinya bangkitan kejang demamyaitu faktor demam lebih dari 39oC dan faktor usia kurang 2 tahun.Kesimpulan. Demam lebih dari 39oC dan usia kurang dari 2 tahun merupakan faktor risiko bangkitankejang demam.
Pengaruh Kadar Vitamin C dan Vitamin E Terhadap Peningkatan Kadar Bilirubin pada Neonatus Kamilah Budhi Rahardjani; Rifki Agung; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.95 KB) | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.30-5

Abstract

Latar belakang. Hiperbilirubinemia terjadi pada 25%-50% bayi baru lahir. Secara fisiologis bilirubinmeningkat mencapai puncak pada kadar 5-6 mg/dl pada hari 3-4 setelah kelahiran, penyebab terbanyakkarena hemolisis (75%) akibat pendeknya usia eritrosit fetus yang kemungkinan juga akibat paparan oksidan.Vitamin C dan E bersinergi melindungi eritrosit dari kerusakan oksidatif.Tujuan. Menganalisis pengaruh kadar vitamin C dan vitamin E terhadap kadar bilirubin pada neonatus.Metode. Desain penelitian ini cross sectional dengan subjek adalah 40 neonatus aterm sehat yang dirawat dibangsal rawat gabung RSUP Dr. Kariadi selama bulan Maret - Mei 2009. Dilakukan pemeriksaan vitaminC dengan metode Colorimetric Assay, vitamin E menggunakan metode Elisa (Immunoassay). Uji beda Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin C dan vitamin E pada kedua kelompok peningkatanbilirubin. Uji bivariat dan multivariat regresi logistik untuk mengetahui pengaruh kadar vitamin C danvitamin E terhadap peningkatan kadar bilirubin.Hasil. Kadar vitamin C pada kelompok bilirubin meningkat (6,89±0,09) μg/ml dan tidak meningkat(7,18±0,28) μg/ml, vitamin E (0,19±0,03) μg/ml dan (0,23±0,01) μg/ml, terdapat perbedaan bermakna padakedua kelompok dengan nilai p=0,001. Pengaruh kadar vitamin C (OR 16,734, IK95% 2.976; 93.885),sedangkan vitamin E (OR 21, IK95% 3664;120.373) dengan p=0,001. Analisis multivariat menunjukkanterdapat peningkatan pengaruh kadar vitamin C (OR 21,674, IK95% 2.048; 229.324), vitamin E (OR26,734, IK95% 2.654; 269.260), p=0,001.Kesimpulan. Kadar vitamin C dan vitamin E di bawah normal mempunyai pengaruh lebih besar terhadappeningkatan kadar bilirubin. Kadar vitamin E di bawah normal mempunyai pengaruh lebih besar dibandingkadar vitamin C di bawah normal.
Korelasi Kadar Seng Serum dan Bangkitan Kejang Demam Iva-Yuana Iva-Yuana; Tjipta Bahtera; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.150-6

Abstract

Latar belakang. Kejang demam merupakan kelainan saraf tersering pada anak. Sekitar 2%-5% anak di bawahumur 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Prognosis kejang demam baik, namun mengkhawatirkanorang tua. Penelitian tentang hubungan kadar seng serum dengan bangkitan kejang demam belum banyakdilakukan.Tujuan. Membuktikan korelasi kadar seng serum dan bangkitan kejang demam.Metode. Penelitian kasus kontrol dengan subyek penelitian anak berumur 3 bulan-5 tahun di RS Dr.Kariadipada April 2009–Maret 2010, kelompok kasus dengan bangkitan kejang demam dan kelompok kontroldengan demam tanpa kejang. Kadar seng serum diperiksa di laboratorium GAKI FK UNDIP denganmetode atomic absorption spectrophotometry. Data dianalisis dengan uji Chi-square, korelasi Spearman,dan analisis determinan.Hasil. Subyek penelitian 72 pasien, 36 kelompok kasus dan 36 kelompok kontrol. Rerata kadar seng kelompokkasus 111,73 􀁍g/mL dan kelompok kontrol 114,56 􀁍g/mL (p=0,33). Tidak terdapat korelasi antara kadarseng serum dengan bangkitan kejang demam (r=0.114;p>0,05). Analisis determinan menunjukkan urutanbesarnya kontribusi faktor genetik (0,548), infeksi berulang (0,493), riwayat penyulit kehamilan-persalinan(0,364), suhu (0,309), gangguan perkembangan otak (0.141), kadar seng serum (-0,102), umur (-0,041)dengan confusion matrix 81,9% untuk prediksi.Kesimpulan. Rerata kadar seng serum pada bangkitan kejang demam lebih rendah dibanding tanpa kejangdemam, namun tidak bermakna. Tidak terdapat korelasi antara kadar seng serum dengan bangkitan kejangdemam. Kadar seng serum bersama faktor genetik, infeksi berulang, penyulit dalam kehamilan maupunpersalinan, suhu badan, gangguan perkembangan otak, dan umur dapat digunakan sebagai prediktorbangkitan kejang demam meskipun memiliki peranan kecil.
Pengaruh Suplementasi Seng Terhadap Kejadian Pneumonia pada Penyakit Jantung Bawaan Pirau Kiri ke Kanan Elvi Suryati; Agus Priyatno; Noor Wijayahadi
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.075 KB) | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.221-8

Abstract

Latar belakang. Anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) pirau kiri ke kanan lebih mudah menderitapneumonia. Seng merupakan trace element yang berperan dalam sistem imunitas tubuh.Tujuan. Membuktikan pengaruh suplementasi seng dalam mencegah kejadian pneumonia pada anak PJBpirau kiri ke kanan.Metode. Dilakukan double blind randomized controlled trial pada anak PJB pirau kiri ke kanan usia 12–60bulan di Poliklinik Kardiologi Anak RS dr Kariadi. Subjek penelitian dibagi 2 kelompok yang mendapatsuplementasi seng 20 mg/hari dan plasebo, pemberian selama 2 minggu, selanjutnya dipantau selama 3bulan. Data kejadian pneumonia dikumpulkan melalui wawancara saat kontrol atau melalui telepon setiap2 minggu selama 3 bulan. Pemeriksaan antropometri dan laboratorium dilakukan sebelum dan sesudahsuplementasi. Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-square dan Mann-Whitney.Hasil. Subjek 40 anak dengan PJB pirau kiri ke kanan didapatkan kejadian pneumonia pada kelompok seng(5%) lebih rendah dibanding plasebo (30%), perbedaan ini tidak berbeda bermakna. Episode pneumonialebih rendah pada kelompok seng 1 kali dibandingkan plasebo 1-2 kali selama 3 bulan pengamatan, tidakberbeda bermakna. Terdapat peningkatan kadar seng secara bermakna pada kelompok perlakuan dari median57,55 menjadi 72,42 mcg/dL dibandingkan plasebo 42,40 menjadi 52,85 mcg/dL (p=0,002). Terdapatperbedaan bermakna selisih peningkatan kadar seng pada kelompok seng 20 mcg/dL dibanding plasebo7,25 mcg/dL (p=0,004). Didapatkan manfaat suplementasi seng terhadap pencegahan pneumonia denganrelative risk reduction (RRR) 83%.Kesimpulan. Suplementasi seng menurunkan kejadian pneumonia pada anak PJB pirau kiri ke kanan.