Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Profil Sosioekonomi Orang Tua dan Pola Pikir Pengeluaran dengan Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa di SD Negeri 2 Ngawonggo Ahnaf Hammam Al-Harits; Anugrah Nur Warthadi; Muhad Fatoni
Performa Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Performa Olahraga
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jpo737019

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara status sosioekonomi orang tua dan pola pikir pengeluaran konsumtif anak dengan tingkat kebugaran jasmani siswa SD N 2 Ngawonggo yang berjumlah 41 siswa, terdiri dari kelas 5 dengan jumlah 20 siswa, kelas 6 dengan jumlah 21 siswa. Masalah yang diangkat adalah kemungkinan adanya perbedaan signifikan dalam kebugaran jasmani siswa yang berasal dari latar belakang sosioekonomi yang berbeda. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif korelasi, dengan pengumpulan data melalui tes kebugaran jasmani dan angket kuisoner yang difokuskan pada sosioekonomi orang tua dan pola pikir pengeluaran siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebugaran jasmani siswa berada pada kategori sedang, dengan nilai rata-rata siswa laki-laki 51.76 sedikit lebih baik dibandingkan siswa perempuan yang nilai rata-rata nya 47.83. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan positif antara sosioekonomi orang tua dan tingkat kebugaran jasmani siswa, meskipun pengaruhnya tergolong rendah, dengan nilai hubungan siswa laki-laki memiliki nilai R=511 dan R square adalah 0.261 menunjukan 26.1% variasi antara Tingkat kebugaran dan variabel independent, dan perempuan memiliki nilai R=388 dan, R square adalah 0.150 menunjukan 14.9% variasi antara Tingkat kebugaran dan variabel independent. Kesimpulannya, penulis merekomendasikan agar sekolah mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler yang fokus pada aktivitas fisik. Kegiatan ini menjadi salah satu solusi penting, karena memberikan kesempatan bagi siswa untuk bergerak lebih banyak dan mengurangi perilaku sedentari selama di sekolah. Oleh karena itu, guru dan pihak sekolah diharapkan dapat merancang program-program yang konsisten untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam aktivitas fisik. Selain itu, peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung upaya ini. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua/wali murid diperlukan untuk mendorong peningkatan kebugaran siswa. Sinergi yang terjalin dengan baik akan memastikan siswa mendapatkan dukungan yang memadai untuk mengembangkan gaya hidup sehat dan aktif.
Tingkat Aktivitas Fisik Pada Masyarakat Urban Berdasarkan Faktor Demografi (Studi Kasus Masyarakat Perkotaan Kelurahan Joyotakan) Reza Putra Bachtiar Reza; Anugrah Nur Warthadi; Vera Septi Sistiasih
Performa Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Performa Olahraga
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jpo749019

Abstract

Aktivitas fisik merupakan rutinitas seseorang untuk melakukan kegiatan yang memerlukan sistem gerak, baik berupa pekerjaan fisik maupun olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pola aktivitas fisik yaitu berupa olahraga dengan intensitas sedang, aktivitas yang berhubungan dengan kebugaran, atau aktivitas rekreasi di masyarakat urban, khususnya di Kelurahan Joyotakan, Kota Surakarta, serta menganalisis pengaruh faktor demografi terhadap aktivitas fisik. Penelitian ini melibatkan 101 responden yang berusia antara 17 hingga 40 tahun baik laki-laki maupun perempuan meliputi keseluruhan masyarakat baik kelompok kerja maupun masyarakat umum dengan metode pengambilan sample menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner yang disebarkan mencakup pertanyaan tentang intensitas serta frekuensi aktivitas fisik sehari-hari, serta demografi responden. Metode penelitian menggunakan analisis statistik deskriptif yang bertujuan untuk memahami karakteristik perilaku aktivitas fisik masyarakat. Hasil analisa menunjukkan bahwa aktifitas dengan kategori rendah sebanyak 47 responden atau sebesar 46,53%, kemudian aktifitas fisik dengan kategori sdang sebanyak 34 responden atau sebesar 33,67% dan kategori aktifitas tinggi sebanyak 20 responden atau sebesar 19,80%. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam tingkat partisipasi aktivitas fisik berdasarkan faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Temuan ini menyoroti perlunya peningkatan aktivitas fisik seperti berjalan kaki secara rutin, bersepeda,  atau olahraga ringan seperti bulutangkis disertai dengan adanya fasilitas olahraga dan penciptaan lingkungan yang mendukung guna mendorong masyarakat untuk menjalani gaya hidup aktif. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan masukan bagi pembuat kebijakan dan pendidik dalam upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik yang bermanfaat bagi kesehatan.
Analisis Sarana Dan Prasarana Pembelajaran PJOK Di SMP Negeri Se-Kecamatan Colomadu Harmadi, Ilham Deni Anggoro; Vera Septi Sistiasih; Anugrah Nur Warthadi
Jurnal Ilmiah STOK Bina Guna Medan Vol 14 No 2 (2026): JURNAL ILMIAH STOK BINA GUNA MEDAN (IN-PRESS)
Publisher : Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jsbg.v14i2.5982

Abstract

Sarana dan prasarana (sarpras) merupakan faktor eksternal penting yang menentukan keberhasilan pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan tingkat kelayakan sarpras yang dimanfaatkan dalam pembelajaran PJOK di SMP Negeri se-Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling, melibatkan 249 siswa dari tiga SMP Negeri (SMP N 1, SMP N 2, dan SMP N 3 Colomadu) yang dipilih berdasarkan kriteria sekolah negeri di Kecamatan Colomadu. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan kuesioner daring dengan 10 butir pernyataan berskala Likert empat poin, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan kategorisasi norma Mean dan Standar Deviasi. Hasil penelitian menunjukkan nilai mean total 31,32 dari skor maksimum 40 dengan persentase pencapaian 78,3%, di mana 73,1% responden memberikan penilaian pada kategori Layak dan Sangat Layak. Aspek luas lapangan (97,6%), akses gudang peralatan (96,4%), dan tempat berteduh (94,8%) menjadi aspek terkuat, sedangkan kebersihan lapangan (60,6%), ketersediaan peralatan bola kecil (60,6%), dan kondisi bola (63,1%) menjadi aspek terlemah. Terdapat disparitas antara sekolah, dengan SMP N 1 memperoleh persentase terendah (74,7%) dan proporsi kategori Sangat Kurang Layak tertinggi (26,4%). Pengelolaan sarpras yang konsisten dan pengadaan peralatan yang terencana diperlukan guna mendukung tercapainya standar pembelajaran PJOK sesuai Permendikbudristek Nomor 22 Tahun 2023.
Profil Cedera Olahraga pada Atlet Pencak Silat Kategori Tanding Kontingen Jawa Tengah pada POMNAS XIX Jawa Tengah 2025 Athallah, Miftah Hafidh; Warthadi, Anugrah Nur; Sudarmanto, Eko
SPRINTER: Jurnal Ilmu Olahraga Vol. 7 No. 2 (2026): SPRINTER: Jurnal Ilmu Olahraga
Publisher : MAN Insan Cendekia Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46838/spr.v7i2.1113

Abstract

This study aims to analyze the profile of sports injuries in pencak silat sparring category athletes from the Central Java contingent at POMNAS XIX 2025. This research used a quantitative approach with a descriptive design. The population consisted of 31 athletes, with a sample of 5 injured athletes selected using purposive sampling. The instrument used was a structured questionnaire based on the STROBE-SIIS guidelines. Data were analyzed using descriptive statistics in the form of frequency and percentage. The results showed that all injuries occurred during competition (100%), with the dominant mechanism being direct contact between athletes (66.67%). Based on 11 injury events, injuries were most frequently found in the extremities, particularly the hands and feet (18.18% each). The most common type of injury was bone contusion (60%), followed by fractures and joint dislocations (20% each). The main cause of injury was contact with other athletes (83.33%). The estimated recovery time varied, ranging from no absence to more than six months. In conclusion, injuries in pencak silat sparring athletes are predominantly caused by direct contact, mainly affecting the extremities, with most injuries classified as mild to moderate, although severe injuries still occur. Therefore, comprehensive injury prevention strategies are needed through improved techniques, physical conditioning, and stricter match supervision.
Profil Cedera Olahraga Atlet Rugby 7’s Putra Kabupaten Grobogan pada Babak Kualifikasi PORPROV 2025 Risqi, Ananta Maulana; Warthadi, Anugrah Nur; Sudarmanto, Eko
SPRINTER: Jurnal Ilmu Olahraga Vol. 7 No. 2 (2026): SPRINTER: Jurnal Ilmu Olahraga
Publisher : MAN Insan Cendekia Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46838/spr.v7i2.1136

Abstract

This study aims to analyze the injuries experienced by athletes during the qualification round of the 2025 Central Java Provincial Sports Week (Porprov). This research utilizes a quantitative descriptive approach, with the subjects being all 12 male rugby 7s athletes from Grobogan Regency, including substitute players. Data collection procedures were conducted through observations and questionnaires, using an instrument in the form of a questionnaire containing statements regarding the injuries experienced by the athletes. Data analysis was performed by grouping the data and calculating it using a percentage formula. The results of the study indicate that the majority of injuries occurred in the lower extremities, with the dominant types of injuries being abrasions and muscle contusions resulting from physical contact. It can be concluded that rugby 7s at the regency qualification level carries a high risk of injury, thus necessitating a planned and survey-based injury prevention strategy.