Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pengaruh Imbangan Energi-Protein Terhadap Bobot dan Tebal Kerabang Telur Ayam Arab Herni; Laily Agustina; A. Mujnisa
Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/jstp.v3i2.1686

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui imbangan protein dan energi yang paling tepat dalam menghasilkan bobot dan ketebalan kerabang telur ayam Arab. Komposisi ransum terdiri dari: jagung kuning, dedak, dan konsentrat RK 24 yang disusun berdasarkan imbangan energi dan protein. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 10 ulangan terdiri dari 40 petak percobaan degan masing-masing petak terdiri dari 2 ekor ayam, sehingga total ayam Arab yang digunakan sebanyak 80 ekor. Perlakuan terdiri dari: R1 (protein 15 % dengan energi metabolisme 2500 kkal/kg); R2 (protein 16 % dengan energi metabolisme 2600 kkal/kg); R3 (protein 17 % dengan energi metabolisme 2700 kkal/kg); dan R4 (protein 18 % dengan energi metabolisme 2800 kkal/kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan energi dan protein tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot dan tebal kerabang telur ayam Arab. Rataan bobot telur yang dihasilkan berkisar antara 37,24 – 39,15 g sedangkan rataan tebal kerabang yang dihasilkan berkisar antara 0,42 – 0,46 mm terhadap telur ayam Arab umur 5 bulan. Disimpulkan bahwa pemberian ransum dengan level protein 18 % dan energi 2800 kkal meningkatkan bobot telur dan tebal kerabang ayam Arab petelur.
Performa Sapi Pasundan dengan Suplementasi Wafer Pakan Daun Lamtoro Herni; Nurfaida; Ita Puspitasari; Muhammad Farid
Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/jstp.v4i1.2005

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui taraf pemberian suplementasi wafer pakan daun lamtoro terhadap performa sapi Pasundan. Komposisi ransum terdiri dari pakan konvensional (dedak, jerami padi, dan hijauan rumput gajah), dan wafer suplemen pakan (daun lamtoro, bungkil kelapa, bungkil kedelai, molases, pollard, CaCO3, molases, dan CGM (Corn Gluten Meal) sebagai perlakuan. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 5 kelompok sebagai ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 = pakan konvensional (dedak, jerami padi, dan rumput gajah), P1 = pakan konvensional + 5 % wafer daun lamtoro, P2 = pakan konvensional + 10 % wafer daun lamtoro, P3 = pakan konvensional + 15 % wafer daun lamtoro. Pengelompokan didasarkan pada bobot badan yaitu sangat kecil (70,23 ± 9,15 kg), kecil (99,55 ± 7,87 kg), sedang (102,05 ± 7,29 kg), besar (115,23 ± 8,44 kg) dan sangat besar (136,59 ± 7,10 kg). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah bobot badan akhir, pertambahan bobot hidup harian, dan efisiensi pakan. Disimpulkan bahwa pemberian suplemen wafer pakan pada taraf 10 % (P2) nyata (P < 0,05) meningkatkan bobot badan akhir, pertambahan bobot hidup harian, dan efisiensi pakan sapi Pasundan.
Pemberdayaan Peternak melalui Bimbingan Teknis Formulasi Ransum Ayam Buras Purwanti, Sri; Yamin, Abdul Alim; AW, Andi Muh Fuad; Hakim, Mita Arifa; Amal, Ichlasul; Herni, Herni; Syamsu, Jasmal Ahmari
ADMA : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 1 (2024): ADMA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/adma.v5i1.4029

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi Kelompok Tani Batara Deceng dalam memproduksi pakan ayam buras adalah rendahnya kemampuan anggota kelompok dalam teknik formulasi ransum ayam buras. Untuk itu diperlukan upaya meningkatkan pengetahuan peternak dalam formulasi ransum dengan melakukan bimbingan teknis sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Bimbingan teknis formulasi ransum ayam buras dilaksanakan dengan tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi, dengan metode pembelajaran orang dewasa dengan penyajian materi dalam bentuk ceramah, tanya jawab/diskusi. Materi yang disampaikan dalam bimbingan teknis adalah bahan pakan dan kandungan nutrisinya, teknik formulasi ransum, feed additive, produksi pakan, serta praktik penyusunan ransum menggunakan komputer dengan Microsoft Excel. Beberapa hal yang menjadi topik pembahasan dalam diskusi antara lain pengaruh kualitas nutrisi bahan pakan terhadap kualitas ransum ayam buras, manfaat penggunaan feed additive dalam ransum dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ayam buras, serta cara menghitung formulasi ransum. Tingkat pengetahuan peserta secara signifikan terjadi peningkatan dengan skor 54.28 sebelum bimbingan teknis, menjadi 68.67 setelah bimbingan teknis. Dengan demikian, bimbingan teknis formulasi ransum ayam buras yang dilakukan dapat meningkatkan pengetahuan peserta.
Pengaruh Karakteristik Sosial Ekonomi Terhadap Skala Usaha Sapi Potong Di Desa Itterung Kecamatan Tellusiattinge Maryam, Maryam; Nurfaida, Nurfaida; Herni, Herni; Farid, Muhammad; Puspitasari, Ita; Bonewati, Yulia Irwina
Anoa: Journal of Animal Husbandry Vol 3 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/anoa.v3i2.48860

Abstract

Business scale is one of the keys to developing livestock businesses to support the national meat self-sufficiency program. If the scale of the farmer's business increases, the cattle population will also increase. This research aims to determine the influence of socio-economic characteristics on the scale of beef cattle businesses in Itterung Village, Tellusiattinge Regency. This research was conducted from July to August 2021 with the consideration that in Itterung Village, the population of cattle is largest. The type of research used is explanatory quantitative research. The number of breeders in Itterung Village was 72 people selected as research samples. This research method uses data analysis using the F test and t test using a multiple linear regression model with the help of the SPSS 23 program. The research result show that capital (X1), land (X3), food (X4), education level (X6 ), number of family members (X7), farmer experience (X8), and farmer motivation (X9) have a significant effect P<0.005 on the scale of beef cattle farming business (Y) while livestock breeds (X2), age (X5), perception of farming (X10), extension intensity (X11) and livestock ownership status (X12) have no significant effect P>0.005 on the scale of beef cattle farming business (Y).
Sifat Fisiko Kimia Bakso Daging Sapi Bali Dengan Fortifikasi Serat Menggunakan Tepung Rebung Nurfaida, Nurfaida; Herni, Herni; Hardianti, Hardianti; Hamka, Hamka
Tarjih Tropical Livestock Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Tarjih Tropical Livestock Journal
Publisher : Program Studi Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47030/trolija.v3i1.602

Abstract

Kualitas bakso dipengaruhi oleh komposisi bahan penyusunnya, salah satu yang dijadikan bahan pengisi pada penelitian ini yaitu tepung rebung . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung rebung terhadap kualitas bakso daging sapi Bali. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3 dengan 3 kali penelitian yaitu : Faktor Pertama yaitu level tepung rebung (0%, 10%, dan 20%). Faktor Kedua yaitu lama penyimpanan bakso (0 hari, 7 hari, dan 14 hari). Data diolah dengan analisis ragam. Parameter yang diamati adalah susut masak, daya putus dan nilai thiobarbituric acid (TBA). Hasil penelitian menunjukkan level tepung rebung berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap nilai susut masak, namun tidak berpengaruh terhadap daya putus bakso dan nilai TBA. Lama penyimpanan tidak berpengaruh (P > 0.05) terhadap nilai susut masak dan daya putus bakso sedangkan lama penyimpanan nilai TBA berpengaruh (P < 0.05) terhadap nilai TBA bakso. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung rebung dengan level yang berbeda belum mampu memperbaiki kualitas yang baik dilihat dari susut masak, daya putus dan TBA bakso.
Nilai Organoleptik Bakso Daging Sapi dengan Penambahan Berbagai Level Tepung Rebung dan Waktu Penyimpanan yang Berbeda Nurfaida, Nurfaida; Nursani, Nursani; Herni, Herni; Lestari, Rika Hari
Tarjih Tropical Livestock Journal Vol. 4 No. 1 (2024): Tarjih Tropical Livestock Journal
Publisher : Program Studi Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47030/trolija.v4i1.769

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung rebung terhadap nilai organoleptik bakso daging sapi. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3 dengan 3 kali ulangan. Daging sapi Bali Longissimus dorsi digunakan dalam pembuatan bakso, dengan mencampurkan tepung tapioka dan bumbu-bumbu. Faktor Pertama yaitu tepung rebung (level tepung rebung 0 %, 10% dan 20%) dan faktor kedua yaitu lama penyimpanan bakso (0, 7 dan 14 hari). Parameter yang diamati yaitu nilai organoleptik berupa kekenyalan, rasa dan tekstur. Hasil penelitian menyatakan bahwa penambahan tepung rebung tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap nilai organoleptik kekenyalan, rasa dan tekstur bakso, sedangkan lama penyimpanan bakso tidak berpengaruh (P>0,05)  terhadap kekenyalan dan rasa, namun berpengaruh (P<0.05) terhadap tekstur. Penyimpanan 7 hari menyebabkan peningkatan skor tekstur bakso menjadi  agak halus. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan tepung rebung tidak berpengaruh terhadap nilai organoleptik bakso.
Transformasi Manajemen Pakan: Pemberdayaan Peternak dalam Optimalisasi Silase untuk Ternak Sapi Potong Bonewati, Yulia Irwina; Herni; Maryam; Farid, Muhammad; Nurdaida; Puspitasari, Ita
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 8 No 2 (2025): April-Juni 2025
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v8i2.11809

Abstract

The availability of high-quality feed is a crucial factor in supporting the productivity of beef cattle especially in areas with limited resources and seasonal fluctuations. Particularly during the dry season, the availability of green forage becomes limited and difficult to obtain. This community service activity aims to assist farmers in utilizing locally available materials as economical, nutritious, and sustainable alternative feed. The methods employed include extension, technical training, and hands-on practice in making silage from local ingredients such as Pennisetum purpureum, rice bran, and molasses. The activity was conducted at the Agricultural Extension Center in Waempubbu Village, Amali Subdistrict, Bone Regency, involving 38 livestock farmers representing farmer groups from across Amali Subdistrict. The results of the mentoring program showed an increase in farmers' knowledge and skills in formulating alternative feed. This activity is expected to strengthen feed security at the farmer level and serve as a sustainable empowerment model within smallholder livestock systems.
Pelaksanaan Injeksi Vitamin B12 Pada Ternak Sapi Potong di Desa Bamba Puang Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Tullah, Aswa; Herni; Maryam, Maryam
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jdt.v5i2.1434

Abstract

Kekurangan vitamin B12 pada ternak dapat menyebabkan anemia, gangguan pertumbuhan, dan penurunan nafsu makan. Vitamin B12 berperan sebagai kofaktor enzim dalam proses pembentukan energi, metabolisme protein, dan lipid. Tujuan dari pengabdian adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan ternak sapi dengan melakukan penyuntikan vitamin B12 di Desa Bamba Puang Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan  pelayanan Kesehatan ternak dilakukan dengan observasi terlebih dahulu tentang kebutuhan vitamin pada ternak Masyarakat setempat. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan melakukan konsolidasi dengan dinas peternakan setempat untuk mendampingi dan memfasilitasi kegiatan penyuntikan vitamin B12. Alat dan bahan yang digunakan pada kegiatan ini menggunakan alat berupa spuit serta bahan yaitu Injekvit B12. Pemberian vitamin pada ternak sapi potong dilakukan oleh mahasiswa dengan dosis yang telah ditentukan, yaitu 5-10 ml/ekor kepada 50 ekor untuk ternak. Kegiatan penyuntikan tersebut dilakukan oleh mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Bone dan petugas pusat kesehatan hewan Kabupaten Enrekang dengan cara menyuntikkan langsung injekvit B12 pada ternak dilapangan agar meningkatkan kesehatan  ternak, daya tahan tubuh dan produktivitas ternak masyarakat Desa Bamba Puang, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.
Peran Penyuluh dalam Peningkatan Kapasitas Keterampilan Peternak Sapi Potong Yulia Irwina Bonewati; Maryam Maryam; Muhammad Farid; Nurfaida Nurfaida; Herni Herni; Muhammad Prawira Anugrah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3265

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penyuluh dalam peningkatan kapasitas keterampilan peternak sapi potong. Penelitian dilaksanakan pada bulan November hingga Desember 2024 di Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone dengan melibatkan 38 orang peternak sebagai responden. Penentuan responden dilakukan secara purposive sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner serta diskusi kelompok terarah (focus group discussion) dan dianalisis secara deskriptif menggunakan SPSS. Indikator yang digunakan untuk mengukur peran penyuluh meliputi peran sebagai fasilitator, motivator, dan edukator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran penyuluh sebagai fasilitator, motivator, dan edukator berada pada kategori cukup baik. Keterampilan peternak secara umum juga berada pada kategori sedang. Masih terdapat variasi persepsi dan tingkat keterampilan antar peternak. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan peran penyuluh yang lebih intensif dan kontekstual, serta dukungan tambahan melalui pelatihan teknis dan pemberdayaan kelompok ternak.
Pengaruh Pemberian Fitobiotik Terhadap Bobot Relatif Organ Hati dan Ginjal Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB 2) Wendi Wardana; Herni Herni; Yulia Irwina Bonewati
Tarjih Tropical Livestock Journal Vol. 6 No. 1 (2026): Tarjih Tropical Livestock Journal
Publisher : Program Studi Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47030/trolija.v6i1.1075

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian fitobiotik (feed additive) terhadap bobot relatif organ hati dan ginjal ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB 2). Penelitian ini menggunakan 80 ekor ayam kampung KUB 2 umur 1 bulan. Komposisi ransum terdiri dari atas jagung, dedak, dan konsentrat (pakan komersil), kunyit, jahe, bawang putih, bawang merah, lengkuas, sereh, dan temulawak sebagai fitobiotik yang diberikan selama 90 hari pemeliharaan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan, perlakuannya yaitu P0 (pakan komersil yang terdiri dari jagung, dedak dan konsentrat), P1 (pakan komersil + 0,25 gram fitobiotik), P2 (pakan komersil + 0,50 gram fitobiotik), dan P3 (pakan komersil + 0,75 gram fitobiotik). Hasil penelitian menunjuhkan bahwa pemberian fitobiotik tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot relatiforgan hati dan ginjal ayam KUB 2, dengan bobot relatif hati rata-rata 1,75-2 %, dan bobot relatif ginjal rata-rata 0,41-0,5 %.