Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Tari Glipang Probolinggo: Kesenian Akulturatif Islam, Simbol Perlawanan, Hingga Media Hiburan Hendra Afiyanto; Risa Winanti
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 3 No. 1 (2022): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.94 KB) | DOI: 10.22515/isnad.v3i1.5369

Abstract

This study is to reconstruct the Probolinggo Glipang Dance during the Dutch colonialism. The long life span makes Glipang Dance live in several different periods of time. It is interesting to study why this Glipang Dance is able to exist through several changes in the times. Is the existence of Glipang Dance related to its ability to negotiate its functions against the times? Does Glipang Dance have a different function according to the needs of the community in each changing era? For analysis, Malinowski's theory of Functionalism was used in looking at the function of Glipang Dance in each period. Historical methods are also used to help analyze Glipang Dance in the past. There are 3 (three) findings in this study. First, the beginning of Glipang Dance's entry into Probolinggo was identified as Islamic-Culture or Islamic acculturative art. The people of Probolinggo, which is majority Islamic, make Glipang Dance have to adapt itself to the religious conditions of the community. Second, in the period of colonialism, Glipang Dance served as a medium for spreading the ideology of resistance. Third, the existence of Glipang Dance until now because of its ability to add to its function in society, namely as an entertainment medium. Key Words: Arts; Existence; Function Changes; Glipang  
TUBAN DAN GELOMBANG PASANG ISLAMISASI ABAD KE-15 SAMPAI DENGAN KE-17 Muhammad Afifudin Khoirul Anwar; Hendra Afiyanto
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 19, No 1 (2022): AL-TSAQAFA : JURNAL ILMIAH PERADABAN ISLAM
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v19i1.15421

Abstract

Tuban sebagai kota pelabuhan niaga yang berada di pesisir utara laut Jawa telah memposisikan dirinnya sebagai jalur perdagangan laut dunia sejak abad ke-11. Melalui peran para saudagar muslim dan ulama, Islam dapat berkembang dan melembaga di Tuban. Islamisasi di Tuban berfokus pada kaum bangsawan, harapannya ketika Islam mendapat kekuasaan tertinggi di Tuban maka dapat dikenal oleh masyarakat secara luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap sejarah Islam di Tuban dan bagaimana Islam mendominasi pesisiran Tuban abad ke-15 sampai ke-17. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah yaitu pengumpulan data, kritik sumber, penafsiran dan penulisan sejarah. Terdapat beberapa temuan dalam penelitian ini. Pertama, terdapat tiga ulama yang berperan dalam menyebarkan Islam di Tuban. Kedua, Islam masuk di Tuban pada masa abad ke-15 bersamaan ketika Adipati Arya Dikara masuk Islam. Ketiga, pengaruh dan dominasi Islam di pesisiran Tuban terhadap agama, budaya, ekonomi dan politik lokal.
Siti Walidah Dahlan Pelita Pemberdayaan Perempuan Yogyakarta 1917-1946 Difa Annida Utami; Hendra Afiyanto
ASANKA : Journal of Social Science and Education Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/asanka.v3i2.4763

Abstract

ABSTRAK             Melihat realitas pada awal abad ke-20 di Yogyakarta kaum perempuan hanya berada pada posisi pasif di ranah domestik, dan laki-laki dianggap lebih superior dari perempuan. Upaya peningkatan peran perempuan sebagai mitra sejajar dengan laki-laki tentunya tidak terlepas dari peran para tokoh, termasuk Siti Walidah. Tentunya dari permasalahan umum di atas, dapat dirinci ke dalam beberapa permasalahan, pertama, apa pengaruh gerakan Siti Walidah terhadap kaum perempuan Yogyakarta? Kedua, bagaimana bentuk partisipasi dan kontribusi Siti Walidah dalam organisai Aisyiyah? Ketiga, bagaimana reaksi masyarakat mengenai pergerakan Siti Walidah yang menjunjung hak-hak perempuan? Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahap, yaitu: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Terdapat 3 (tiga) hasil temuan dalam kajian ini, pertama, Siti Walidah membawa perubahan baru dan memberikan pengetahuan dengan mendirikan Sapa Tresno sebagai bentuk upaya Siti Walidah dalam memberdayakan kaum perempuan. Kedua, Siti Walidah dalam perjalanannya membersamai Aisyiyah selalu memberikan dukungan juga teladan kepada anggota Aisyiyah, selain itu Siti Walidah juga turut berkontribusi dalam beberapa kegiatan di Aisyiyah. Ketiga, perjungannya dalam melepaskan belenggu kaum perempuan dari adat istiadat yang sudah mapan menuai pro-kontra. Siti Walidah harus berhadapan dengan masyarakat yang konservatif dan memegang prinsip bahwa perempuan hanya merupakan “konco wingking”. ABSTRACT Seeing the reality at the beginning of the 20th century in Yogyakarta, women were only in a passive position in the domestic sphere, and men were considered superior to women. Efforts to increase the role of women as equal partners with men certainly cannot be separated from the role of figures, including Siti Walidah. Of course, from the general problems above, it can be broken down into several problems, first, what was the influence of the Siti Walidah movement on the women of Yogyakarta? Second, what is the form of Siti Walidah's participation and contribution in the Aisyiyah organization? Third, how is the public's reaction to the Siti Walidah movement which upholds women's rights? In this study, the author uses historical research methods which include four stages, namely: heuristics, verification, interpretation, and historiography. There are 3 (three) findings in this study, first, Siti Walidah brought new changes and provided knowledge by establishing Sapa Tresno as a form of Siti Walidah's efforts in empowering women. Second, Siti Walidah in her journey with Aisyiyah always provides support as well as role model to Aisyiyah members, besides that Siti Walidah also contributes to several activities in Aisyiyah. Third, her struggle to release women's shackles from established customs has brought pros and cons. Siti Walidah has to deal with a conservative society and holds the principle that women are only "konco wingking".
DYNAMICS OF ISLAMIC EDUCATION: MADRASAH TULUNGAGUNG REGENCY (1968-1984) Muhammad Risalul Amin; Hendra Afiyanto
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 5 No 1 (2021): Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.252 KB)

Abstract

The growth of madrasas in Tulungagung Regency has contributed to the development of Islamic education in Indonesia. The existing madrasas in Tulungagung Regency do not exist just like that but go through various processes. The development of madrasas in Tulungagung Regency cannot be separated from the effects of historical events, government policies and community responses. In the early days of growth, the madrasa in Tulungagung Regency also intersected with a historic event, namely the G30 S PKI. This paper aims to provide a description of how the early development of madrasas in Tulungagung Regency. In this study, the research method used is historical research methods. Historical research methods include heuristics, verification, interpretation, and historiography. In this study it was found that the early growth of madrasas in Tulungagung Regency began around the 1950s and developed in the 1960s. The presence of madrasas in Tulungagung Regency is the result of the ideas of Muslim leaders, scholars as well as from the development of Islamic boarding school education. Madrasas play an important role in their presence in Tulungagung Regency. Apart from being a syi'ar da'wah Islam madrasa also helps eradicate illiteracy in Tulungagung Regency.
ARENA OF PUBLIC DOMINANCE SEEING THE TRANSFORMATION OF THE SOCIAL FUNCTION OF ISLAMIC ART JEDORAN TULUNGAGUNG Risa Winanti; Hendra Afiyanto
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.v10i2.7240

Abstract

This study aims to analyze the existence and sustainability of Jedoran art in Tulungagung, a city in East Java. Jedoran art was brought to Tulungagung by Sunan Kalijaga in the 16th century and has a long history. However, a big question arises: Does Jedoran art currently have the same social function as when it first appeared, or is this the result of adaptation of the old Jedoran art to fit in with new cultures and traditions? This research was conducted in Tulungagung because it is a Mataram Islam territory with a relationship to the Yogyakarta Sultanate. The researcher used historical and ethnographic methods as well as Foucault discourse analysis to understand how Jedoran art has developed according to the discourse that appears in every era. The results show that the sustainability of Jedoran art is not separated from the ability of Jedoran artists to read and adapt to the discourse that develops in accordance with changes in time. In addition, this adaptation is actualized through the transformation of the social function of Jedoran art according to the discourse that appears in every era.
PENGISLAMAN BLITAR OLEH LASKAR DIPONEGORO Dari Pra Hingga Pasca Perang Jawa 1820-1830 Nurul Laelatul Husna; Hendra Afiyanto
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 12 No. 2 (2022): Juli - Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study researching about the first entry of Islam and known Islamic Religion in Kuningan Blitar by Laskar Diponegoro. The analyzis spread of Islam that Laskar Diponegoro doings it’s can be able to answer the formulation First, how was Laskar Diponegoro comes to Blitar? Second, how was Laskar Diponegoro spread Islam in Blitar? Third, who was the figure behind the achievement of Islamisation in Blitar. This study used a historical method which consist of  4 step, that are heuristic, verification, interpretation and historiography. There are 3 findings, First Laskar Diponegoro arrived to Blitar because of problem happened in the Central Java between lord along society and Dutch Colonial. Second, Laskar Diponegoro who brought the Islamic Religion peacefully, finally well received by Kuningan society in Blitar. Third, there are 3 figure who spread Islam in Blitar that Syaikh Abu Hasan the head of the palace, Syaikh Abu Manshur as lord and Kiyai Sholeh the expert in monotheism. From the spread of Islam in Blitar, than bring up the real motive behind the arrival of Laskar Diponegoro in Blitar that there’s a ploy lord of Diponegoro for gather strangth outside the area of Central Java as an effort to prepare for the Java War.
Desa Perdikan Majan, Winong, Tawangsari: Studi Pemerintahan dan Kebudayaan Tahun 1900-1979 Muhamad Fikri Haikal; Hendra Afiyanto
Jurnal Pattingalloang Vol. 10, No. 1, April 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v10i1.38080

Abstract

Desa Majan, Winong dan Tawangsari menjadi desa perdikan pada abad 18 Masehi. Hak istimewa desa perdikan memberikan kuasa penuh bagi pemimpin desa perdikan untuk mengatur jalanya pemerintahan dan sosial budaya masyarakat perdikan. Pada tahun 1979 desa Majan, Winong dan Tawangsari dihapus status perdikan dan pencabutan hak istimewa. Perumusan masalah penelitian meliputi sejarah desa perdikan Majan, Winong dan Tawangsari, dinamika masyarakat perdikan dan dampak pengapusan status perdikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, verivikasi sumber sejarah, interpretasi dan historiografi. Desa Majan, Winong dan Tawangsari diberi status perdikan dan hak istimewa menjadi sebuah ciri identitas desa tersebut. Identitas ini terdapat pada kuasa mengatur pemerintahan, pelaksanaan perkawinan, sistem pertanahan dan agama Islam menjadi agama tunggal. Perubahahan dinamika desa terjadi pada saat penghapusan status dan pencabutan hak istimewa. Dampak penghapusan dan pencabutan hak istemewa meliputi pemerintahan desa, perkawinan dan hak kuasa tanah bekas desa perdikan. Kata Kunci: Pemimpin desa, Desa perdikan, Dinamika masyarakat, Hak istimewa AbstractThe villages of majan, winong, and tawangsari became penal villages in the 18th century AD. The privilege of the perdikan village gives full power to the perdikan village leader to regulate the administration and social culture of the perdikan community. In 1979 the villages of Majan, Winong, and Tawangsari were removed from their fiefdom status and their privileges revoked. The formulation of the research problem includes the early history of the perdikan villages of Majan, Winong, and Tawangsari, the dynamics of the fief community, and the impact of abolishing the status of the fief. This study uses historical research methods consisting of heuristics, historical source verification, interpretation, and historiography. The fief villages of Majan, Winong and Tawangsari were granted fief status and special privileges became a feature of the village's identity. This identity is contained in the power to regulate village government, the implementation of marriage, the land system, and Islam into a single religion. Changes in the dynamics of the perdikan villages of Majan, Winong, and Tawangsari occurred during the abolition of status and revocation of privileges. The impact of the abolition and revocation of privileges includes village government, marriage, and land tenure rights of the former village perdikan. Keywords: Village leader, Perdikan village, Community dynamics, Privileges 
JIDOR SENTULAN: SEJARAH, MEDIA DAKWAH, DAN IDENTITAS LOKAL JOMBANG Li'ila Nur Ainiyah; Hendra Afiyanto
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.9622

Abstract

This study seeks to analyze the origins of Jidor Sentulan which was used as a da'wah media and as the identity of the Jombang district. By analyzing Jidor Sentulan in Jombang, can answer the first formulation, what is the history of Jidor Sentulan art in Jombang? Second, how is Jidor Sentulan used as a media of da'wah and how is the procession performed in Jombang? Third, how can the process of Jidor Sentulan become a local identity and what are the analogical characteristics of Jidor Sentulan's art? The historical method is used as an analytical tool which consists of four stages including heuristics, verification, interpretation, and historiography. In the process of collecting data, this study used library research and interview techniques. The findings in this study are, first, the beginning of the existence of Jidor Sentulan in Jombang was brought by one of the followers of the Diponegoro Army, namely mbah Suhadak. Second, Jidor Sentulan is used as a symbol of Islam in marriage and has eight stages of events. Third, Jidor Sentulan is a local identity from Jombang Regency which has an analogical character in its performance. Kajian ini berupaya menganalisis awal mula adanya Jidor Sentulan yang digunakan sebagai media dakwah dan sebagai identitas kabupaten Jombang. Dengan menganalisis Jidor Sentulan di Jombang, maka dapat menjawab rumusan pertama, bagaimana sejarah kesenian Jidor Sentulan di Jombang? Kedua, bagaimana Jidor Sentulan digunakan sebagai media dakwah dan bagaimana prosesi pementasannya di Jombang? Ketiga, bagaimana proses Jidor Sentulan bisa menjadi identitas lokal dan bagaimana karakteristik analogis pada kaesenian Jidor Sentulan? Metode sejarah digunakan sebagai alat analisisnya yang terdiri dari empat fase termasuk heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Teknik pencarian literatur dan wawancara digunakan dalam proses pengumpulan data penelitian ini. Hasil temuan dalam penelitian ini, pertama, awal mula adanya Jidor Sentulan di Jombang dibawa oleh salah satu pengikut dari Laskar Diponegoro yaitu Mbah Suhadak. Kedua, Jidor Sentulan dijadikan sebagai syiar Islam dalam pernikahan dan memiliki delapan tahapan peristiwa. Ketiga, Jidor Sentulan merupakan identitas lokal dari Kabupaten Jombang yang memiliki karakter analogi dalam pementasannya.
KYAI MUSTAQIM DAN EKSISTENSI TAREKAT SYADZILIYAH SEBAGAI MEDIA DAKWAH TAHUN 1936 FAIQOTUR ROHMAH; Hendra Afiyanto
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 8, No 1 (2023): JUNI
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v8i1.6950

Abstract

This Research aims to study about the existence of Tarekat Syadziliyah in Tulungagung at the beganing and its development. From the main Problem its can be able to answer how about are the doctrine and practice of Tarekat Syadziliyah that taugh by Kyai Mustaqim? How was the role of Tarekat Syadziliyah in Islamic education Tulungagung? So, how does Kyai Mustaqim’s da’wah influence his studens? The metodologhy used is a historical research method consisting of four stages that is Heuristic (Source collection), verification (Source Critique), Interpretation and historiography. There are 3 findings from this study, first that Tarekat Syadziliyah taugh by Kyai Mustaqim has a rituals and own way in guiding studens for following tarekat. Second, the easily  and relevant doctrine with everyday life attracting the people of Tulungagung for learning Tarekat Syadziliyah to Kyai Mustaqim. Third, faith education, spiritual, morals and Social behavior is somethings priority in his doctrine. The influence that felt by Kyai Mustaqim’s students like more spirit, felt calmly, patient, tawakal, Istiqomah in worship and really respect to the teacher.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi Tarekat Syadziliyah di Tulungagung di awal masuk dan perkembangannya. Dari permasalahan utama tersebut nantinya dapat menjawab terkait bagaiamana ajaran dan amalan Tarekat Syadziliyah yang diajarkan Kyai Mustaqim? Bagaimana peran Tarekat Syadziliyah dalam pendidikan Islam di Tuluanggagung? Hingga bagaimana pengaruh dakwah Kyai Mustaqim kepada para muridnya? Metode sejarah digunakan sebagai alat analisisnya, terdiri dari empat tahapan yakni heuristic (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), Interpretasi dan historiografi. Ada 3 temuan dari penelitian ini, pertama bahwa Tarekat Syadziliyah yang diajarkan Kyai Mustaqim memiliki ritual dan cara tersendiri dalam menuntun muridnya untuk mengikuti tarekat. Kedua, ajaran yang tidak terlalu rumit dan relevan dengan kehidupan sehari-hari memikat masyarakat Tulungagung untuk mempelajari Tarekat Syadziliyah kepada Kyai Mustaqim. Ketiga, pendidikan keimanan, spiritual, akhlaq dan perilaku social adalah hal yang diutamakan dalam ajarannya. Pengaruh yang dirasakan oleh murid-murid Kyai Mustaqim seperti lebih bersemangat, merasa tenang, sabar, tawakal, istiqomah dalam beribadah dan tentunya sangat menghormati guru.
Pengaruh Mode Paris di Indonesia Tahun 1920’an-1970’an Fikriyatul Azzahro Aulia; Hendra Afiyanto
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 3 No 1 (2023): JISHI - Juni 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.108

Abstract

Artikel ini mengulas terkait eksistensi mode Paris dan pengaruhnya di Indonesia tahun 1920’an hingga 1970’an. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah menjelaskan bagaimana mode Paris mempengaruhi mode yang ada di Hindia Belanda sampai Indonesia merdeka dan juga menambah khazanah pengetahuan tentang mode Paris di Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode penetilian sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Beberapa hasil temuan, antara lain: pertama, masuknya mode Paris di Hindia Belanda dibawa oleh perempuan-perempuan Eropa yang tinggal di Hindia Belanda. Kedua, mode Eropa merupakan hal yang penting bagi perempuan Eropa yang tinggal di Hindia Belanda. Sejak abad ke-19 Mode Paris menjadi kiblat mode di Hindia Belanda, bahkan mode Paris tetap digemari setelah perang dunia berakhir. Setelah Indonesia merdeka, mode paris tampil pada iklan-iklan di majalah atau surat kabar. Ketiga, mode Paris dipakai beberapa publik figure Indonesia. Salah satunya adalah Ratna Sari Dewi yang merupakan istri dari presiden pertama Indonesia. Masyarakat umum yang memiliki pakaian dengan label Paris adalah orang yang mampu dalam finansial. Bisa disimpilkan bahwa pakaian yang memiliki label Paris adalah pakaian milik orang dengan latar belakang mampu secara finansial.