Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Penggunaan Sapaan Pedagang Makanan di Lingkungan Kampus Erfiani Baroroh, Hilma
Jurnal Humaya: Jurnal Hukum, Humaniora, Masyarakat, dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2022): JUNE
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/humaya_fhisip.v2i1.3425

Abstract

This research is a sociolinguistic study conducted in a simple scope of a campus setting. It aims at understanding the pronominal address system that is used in business conversational settings between sellers-buyers and canteen owners and their employees, as well as the responses from the speakers i.e. both the buyers and canteen employees. The theory used to achieve the goal is Brown and Gilman’s theory of pronominal address forms (1972). The analysis on the seven ways used by sellers in addressing (1) students; (2) security officers; (3) sellers from their own/same hometown; (4) sellers from different hometowns; (5) parking attendants; (6) photocopy employees; and (7) cleaning service employees, revealed that ‘addressing by name only’ was used to address younger people that the sellers had known already, as well as for addressing people whom they considered close, while the words “Mas” (brother), “Mbak” (sister), Ibu (madam), and Bapak (mister) were used for addressing older people as honorific titles that are deemed more respectful. The findings confirmed one of the Indonesians’ typical “Eastern” values, which is the use of specific pronominal address words in day-to-day lives. Penelitian ini merupakan penelitian dalam bidang sosiolinguistik, yang dilakukan di ruang lingkup yang sederhana yaitu di lingkungan kampus. Penelitian ini berusaha mengungkapkan sistem sapaan yang digunakan pada tuturan seputar kegiatan perdagangan, antara penjual-pembeli maupun antara pemilik kantin dengan pegawainya dan respon yang diberikan oleh petutur, baik itu pembeli maupun pegawai kantin. Teori yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah teori tutur sapa Brown dan Gilman (1972). Dari tujuh analisis penggunaan sapaan pedangang kepada (1) mahasiswa; (2) satpam; (3) sesame pedagang sedaerah; (4) sesama pedagan lain daerah; (5) petugas parkir; (6) petugas fotokopi; dan (petugas cleaning service), ditemukan panggilan “nama” sapaan bagi yang lebih muda karena sudah mengenal dan sebagai sapaan langsung secara akrab, dan panggilan “Mas”, “Mba”, “Ibu”, dan “Bapak” bagi yang lebih tua karena untuk lebih menghormati. Hal ini sejalan dengan ciri khas budaya ketimuran orang Indonesia dan kata sapaan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Digital Narratives of Religious Contestation: Social Media Responses to Buddhist Monks’ Prayer in a Mosque Firdian, Farhan; Anam, Haikal Fadhil; Baroroh, Hilma Erfiani
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v26i1.5656

Abstract

This study investigates the event of a group of Buddhist monks praying during the Vesak holiday in 2024 at the Baiturrahman Mosque in Bengkal, Temanggung, and the subsequent public responses on social media. In Indonesia, where Islam is the predominant religion, there are sometimes interfaith  encounters that transcend conventional borders. The monks’ prayer, which was recorded and extensively shared on social media sites including Facebook, Instagram, YouTube, and TikTok, provoked a range of responses, from appreciation for religious tolerance to concerns about the sanctity of sacred space. Using mediatization and framing theories, the study explores how the incident was portrayed and how it shaped public perception. A mixed-method approach, combining sentiment and thematic analyses of social media comments, identifies themes of societal harmony, religious identity, and tolerance. Positive sentiments celebrating interfaith tolerance predominated, though some saw it as overstepping religious boundaries. This case highlights social media’s role in framing religious discourse and influencing opinions, emphasizing its impact on interfaith relations and societal tolerance in Indonesia. The study sheds light on how digital media shapes views on interreligious engagement and coexistence.
Colonial Legacies and Gender Representation on Social Media's Muslim Fashion Brands in Indonesia Baroroh, Hilma Erfiani; Anam, Haikal Fadhil; Kharisma, Mifta
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol. 20 No. 1 (2025): April
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/sa.v20i1.25854

Abstract

Despite the positive impacts, there are challenges in how Muslim fashion is digitally represented, particularly in how social media can unintentionally reinforce stereotypes or uphold Western beauty standards shaped by colonial legacies. Therefore, critical engagement is essential to ensure a more inclusive and unbiased portrayal. This study examines postcolonial and gender representations in Indonesian Muslim fashion brands on social media using a qualitative content analysis approach. The study analyses four Instagram accounts using an interpretive framework: @vanillahijab, @winonamodest, @hijabalila, and @nusseyba.id. By integrating postcolonial and gender theories, this research critically explores the influence of colonial discourse on hijab brands in the digital space. The findings reveal that these brands' social media platforms serve as a space for cultural reclamation, challenge traditional gender roles, and offer more diverse representations of Muslim women. However, many still reflect colonial narratives, particularly in promoting Westernized beauty ideals such as fair (white/light) skin, a thin, and a tall figure. Regarding gender representation, the content predominantly depicts women as professionals actively engaged in the workforce. These highlight the need for a more conscious and inclusive approach in digital Muslim fashion branding, encouraging brands to actively challenge colonial beauty norms and promote diverse representations that resonate with Indonesia's rich cultural and ethnic identities.
Analisis Kontrastif Penanda Kala Pada Verba Bahasa Arab Fushā Dan Bahasa Arab ‘Ammiyyah Dialek Mesir Baroroh, Hilma Erfiani
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 1 No. 8 (2023): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v1i8.63

Abstract

Bahasa Arab Fushā adalah bahasa standar, sedangkan bahasa Arab 'Āmmiyyah adalah bahasa non-standar atau bahasa sehari-hari (digunakan secara informal dalam percakapan sehari-hari). Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan perbedaan penanda kala (tenses) pada verba Arab Fushā dan bahasa Arab 'Āmmiyyah dialek Mesir. Comrie (1985) merumuskan tiga bentuk kala mutlak: sekarang (present tense), masa lalu (past tense), dan masa depan (future tense). Data diambil menggunakan teknik deskriptif sinkronik (descriptive synchronic), yang dikumpulkan sebagaimana adanya dan dijelaskan sesuai dengan karakteristik alami teks (Djajasudarman, 1993). Pengumpulan data dilakukan dengan mencari sumber data menggunakan dialek Arab 'Āmmiyyah Mesir (buku dan percakapan sehari-hari orang Mesir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanda kala dalam bahasa Arab Fushā dan bahasa Arab 'Āmmiyyah dialek Mesir terjadi pada waktu sekarang (present tense) dan waktu yang akan datang (future tense) yang ditandai dengan perbedaan huruf di awal verbanya. Dalam bahasa Arab Fushā untuk kala sekarang (present tense) ditandai dengan adanya harf mudhoro'ah yaitu ي [ya] pada verba yang disesuaikan dengan subjeknya, sedangkan dalam bahasa Arab ‘Āmmiyyah dialek Mesir ditandai dengan menambahkan huruf "ب" [ba] di awal sebelum verba. Selanjutnya untuk kala mendatang (future tense), dalam bahasa Arab Fushā ditandai dengan adanya huruf س [sa] atau juga yang biasa dipakai سوف [saufa] yang kemudian diikuti oleh verbanya, sedangkan untuk bahasa Arab ‘Āmmiyyah ditandai dengan meletakkan huruf هـ [ha] di awal sebelum verba.
Ideologi Bentuk Tubuh Perempuan: Sebuah Analisis Wacana Kritis Iklan Televisi Wrp Erfiani Baroroh, Hilma
Journal of Comprehensive Science Vol. 2 No. 6 (2023): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v2i6.389

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan ideologi tentang bentuk tubuh perempuan yang sehat yang diciptakan melalui iklan. Wacana iklan menjadi menarik untuk dikaji dengan menggunakan analisis wacana kritis karena iklan merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan suatu ideologi kepada masyarakat. Landasan teori yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis. Tiga tingkat analisis wacana kritis Norman Fairclough digunakan untuk menjelaskan konstruksi ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari analisis teks (deskripsi), analisis proses (interpretasi), dan analisis sosial (penjelasan), iklan televisi WRP berupaya mengonstruksi ideologi, bahwa WRP dapat membuat tubuh langsing walaupun tetap makan.
Analisis Morfologi Infleksi Verba Dalam Bahasa Belanda Erfiani Baroroh, Hilma
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 5 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i5.721

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian morfologi yang bertujuan untuk menemukan bentuk infleksi verba dalam bahasa Belanda baik yang teratur ataupun tidak teratur. Beberapa teori digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu Verhaar (1999), Bauer (1988), dan Boiij (2005). Dari data hasil interviu dengan seorang informan, dihasilkan suatu kesimpulan bahwa 1) infleksi verba dalam bahasa Belanda mempunyai produktifitas yang terlihat jelas dan memiliki pola-pola yang terstruktur; 2) proses morfologis terkait infleksi tidak merubah kelas kata; 3) terdapat lima bentuk kala dalam bahasa Indonesia, dan 4) verba dalam bahasa Belanda terdiri atas verba beraturan dan tidak beraturan.