Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : e-GIGI

Uji konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia Steenis) sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Warokka, Klaudya E.; Wuisan, Jane; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13766

Abstract

Abstract: Inadequate oral and dental hygiene can cause plaques containing various kinds of bacteria; one of them is Streptococcus mutans which is the main cause of dental caries. Binahong leaf (Anredera cordifolia Steenis) is a medicinal herb that contains antibacterial compounds namely flavonoids, alkonoid, terpanoid, and saponins. This study aimed to determine the minimal inhibitory concentration (MIC) of binahong leaf extract to the growth of Streptococcus mutans. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. The method used in this study was serial dilution method with turbidimetry and spectrophotometry as the test methods. Binahong leaves were taken from Tempok village and were extracted with maceration method using ethanol 96%. Streptococcus mutans bacteria were obtained from a pure bacterial stock in Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science University of Sam Ratulangi Manado. The result showed that the minimal inhibitory concentration (MIC) of binahong leaf extract (Anredera cordifolia steenis) to the growth of Streptococcus mutans was 6.25%.Keywords: Streptococcus mutans, binahong leaf, MIC, tooth cariesAbstrak: Kebersihan gigi dan mulut yang buruk dapat menyebabkan terbentuknya plak yang mengandung berbagai macam bakteri, salah satu diantaranya Streptococcus mutans yang menjadi penyebab utama terjadinya karies gigi. Daun binahong (Anredera cordifolia steenis) merupakan tanaman herbal yang mengandung senyawa antibakteri yaitu flavonoid, alkonoid, terpanoid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) dari daun binahong terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Jenis penelitian ini ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Penelitian ini menggunakan metode serial dilusi dengan metode pengujian turbidimetri dan spektrofotometri. Daun binahong diperoleh di desa Tempok, dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian mendapatkan bahwa KHM daun binahong terhadap pertumbuhan streptococcus mutans ialah pada konsentrasi 6,25%.Kata kunci: Streptococcus mutans, daun binahong, KHM, karies gigi
UJI KEKERASAN KOMPOSIT TERHADAP RENDAMAN BUAH JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA) Sitanggang, Patar; Tambunan, Elita; Wuisan, Jane
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.8198

Abstract

Abstract: Lime (Citrus aurantifolia) contains an acid agent which can affects the surface hardness of composite. Change of surface hardness of composite is caused by infiltration of water containing the acid agent that affects the bonding of matrix to filler of composite.This study aimed to determine the effect of immersed lime on surface hardness of composite. This was an experimental laboratory study with a pre and post test control group design. The samples of resin composite had 5 mm in diameters and 4 mm in thickness (n = 24). Samples were divided into two groups: mineral water as the control group and immersed lime as the trial group. Samples were alternately immersed for 30, 60, 120 minutes. Post immersion, the changes of composite hardness were measured with Mico Vickers Hardness Tester. Post immersion Vickers hardness was compared by using paired t-test. The result showed that immersed lime significantly reduced the surface hardness of composite (p<0.05). Duration of 60 and 120 minutes of lime immersion reduced significantly the surface hardness of composite (p<0.05). It is suggested to reduce the duration of acidic fruit exposure such as lime to the composite.Keywords: resin composite, surface hardness changes, limeAbstrak: Buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mempunyai kandungan asa m yang dapat memengaruhi kekerasan komposit. Perubahan kekerasan komposit disebabkan oleh menyerapnya air yang mengandung asam pada komposit yang memengaruhi ikatan matriks dan filler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman buah jeruk nipis terhadap perubahan kekerasan komposit. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorium dengan desain pre and post test control group. Jumlah sampel penelitian ialah 24 resin komposit dengan diameter 5 mm dan tebal 4 mm. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol air mineral dan kelompok perlakuan yang direndam dalam sari jeruk nipis dengan 3 durasi waktu yang berbeda 30, 60, dan 120 menit. Setelah perendaman diukur nilai perubahan kekerasan dengan Mico Vickers Hardness Tester. Hasil perendaman berdasarkan uji Vickers diuji banding secara statistik menggunakan uji paired sample t test. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh perendaman buah jeruk nipis terhadap perubahan kekerasan komposit (p<0,05). Pada durasi waktu 60 dan 120 menit terdapat pengurangan yang bermakna dari kekerasan permukaan resin komposit (p<0,05). Disarankan untuk mengurangi durasi paparan komposit terhadap buah-buahan yang mengandung asam seperti jeruk nipis.Kata kunci: resin komposit, perubahan kekerasan permukaan, jeruk nipis
Pengaruh berkumur larutan teh hijau dalam menurunkan akumulasi plak pada gigi anak usia 8-10 tahun Nubatonis, Nikhe D.; Gunawan, Paulina N.; Wuisan, Jane
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13925

Abstract

Abstract: Oral health is still a major problem in Indonesia. Ignorance towards oral health has lead to accumulation of dental plaques. Children aged 8-10 are susceptible to have dental caries because they like to consume rich-sugar foods. Moreeover, these children are in the process of teeth changes and the growth of new teeth. There are many methods to prevent plaque forming besides tooth brushing inter alia oral rinsing which can cover wider surfaces of the oral cavity. This study was aimed to determine the effect of oral rinsing with green tea solution on reducing dental plaque accumulation among children aged 8-10 years. This was a quasi-experimental study with a pre-test and post-test group design. Population of study was students of SDN 126 Manado aged 8-10 years old. Samples were obtained by using total sampling method. There were 32 participants divided into two groups: rinsing with green tea solution and rinsing with 0.2% chlorhexidine solution (control group). The paired t-test stated that the accumulation of plaque was decreased after rinsing with green tea solution significantly (p=0.001). Meanwhile, the t-independent test on green tea solution and chlorhexidine had different scores in reducing plaque accumulation (p=0.004). Conclusion: Oral rinsing with green tea solution could reduce plaque accumulation in students aged 8-10 years, however, the mean reduction of plaque accumulation after rinsing with green tea solution was less than after rinsing with 0.2% chlorhexidine solution. Keywords: dental plaque, green tea Abstrak: Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi perhatian di Indonesia. Salah satu penyebab ialah terabaikannya kesehatan gigi dan mulut yang mengakibatkan timbulnya akumulasi plak pada gigi. Usia 8-10 tahun sangat rentan terhadap karies karena anak senang mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Pada usia ini diperlukan perawatan lebih intensif karena terjadi pergantian gigi dan tumbuhnya gigi baru. Pendekatan pencegahan yang dikenal selain menyikat gigi ialah dengan berkumur yang mencapai lebih banyak permukaan rongga mulut, sehingga efektivitas kontrol plak meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berkumur dengan larutan teh hijau dalam menurunkan akumulasi plak pada gigi anak berusia 8-10 tahun. Jenis penelitian ialah kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test group design. Metode pengambilan sampel ialah total sampling Populasi penelitian ialah siswa SDN 126 Manado berusia 8-10 tahun dengan 32 orang responden yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dengan larutan teh hijau, dan kelompok kontrol dengan chlorhexidine 0,2%.. Uji t-paired menyatakan antara sebelum dan sesudah berkumur larutan teh hijau terjadi penurunan akumulasi plak yang bermakna (p=0,001). Berdasarkan uji t-independent larutan teh hijau dan chlorhexidine memiliki penurunan akumulasi plak yang berbeda (p=0,004). Simpulan: Larutan teh hijau dapat menurunkan akumulasi plak pada siswa berusia 8-10 tahun. Rerata penurunan akumulasi plak gigi berkumur dengan larutan teh hijau lebih kecil daripada berkumur dengan chlorhexidine 0,2%.Kata kunci: plak gigi, teh hijau
UJI EFEKTIVITAS JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava) TERHADAP LAJU ALIRAN SALIVA PADA PENDERITA XEROSTOMIA YANG MENGONSUMSI TELMISARTAN Waworuntu, Jemima L.; Wuisan, Jane; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9602

Abstract

Abstract: A study done by National Center for Biotechnologi Information (NCBI) to the user of antihypertension drugs, 50% of the individuals are suffering xerosomia or dry mouth. The reduction of saliva because of xerostomia may increase the risk of tooth damage. Vitamin C contained in red guava (Psidium Guajava) is expected to induce salivary flow rate in Xerostomia patients who consume antihypertensive Telmisartan.The purpose of this study is to acknowledge the effect of red guava in increasing salivary flow rate in Xerosotmia patients who consume antihypertensive Telmisartan. This is a clinical trial study with nonequivalent control group experimental design. Each group has 15 samples from the population of hypertensive patients who consume antihypertensive Telmisartan and are suffering Xerostomia in Pancaran Kasih Hospital and Prof. Dr. RD. Kandou Hospital. The treatment group is given red guava fruit that is already served as pure juice while the control group is only given mineral water. Saliva is collected twice, that is before treatment and after treatment. Saliva is collected by spitting method and the salivary flow rate is measured by using disposable syringe with the measurement of ml/minute.The result of this study shows that the average of salivary flow rate before of control group is 0.23 ml/minute and the average of salivary flow rate after is 0.28 ml/minute. While the average of salivary flow rate before treatmen in treatment group is 0.24 ml/minute and the average of salivary flow rate after treatment is 0.83 ml/minute. It can be concluded that red guava has been proved to be effectively increase salivary flowrate of xerostomia patients who consume antihypertensive Telmisartan.Keywords: xerostomia, red guava, salivary flow rateAbstrak: Sebuah studi yang dilakukan oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI) yang melakukan penelitian terhadap pengguna obat antihipertensi, sebanyak 50% menderita Xerostomia atau mulut kering. Laju aliran saliva yang menurun akibat Xerostomia dapat menyebabkan meningkatnya resiko kerusakan gigi. Kandungan vitamin C pada buah jambu biji merah (Psidium guajava) diharapkan dapat meningkatkan laju aliran saliva pada penderita xerostomia yang mengonsumsi obat antihipertensi golongan Telmisartan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek jambu biji merah dalam meningkatkan laju aliran saliva pada penderita Xerostomia yang mengonsumsi Telmisartan. Penelitian ini adalah penelitian uji klinis dengan rancangan eksperimental nonequivalent control group design. Setiap kelompok beranggotakan 15 orang dari populasi pasien pengguna obat antihipertensi golongan Telmisartan yang menderita Xerostomia di RSU Pancaran Kasih dan RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Malalayang. Kelompok perlakuan mengonsumsi buah jambu biji merah yang disajikan dalam bentuk jus murni sedangkan kelompok kontrol hanya mengonsumsi air mineral. Saliva dikumpulkan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah mengonsumsi buah jambu biji merah. Saliva dikumpulkan dengan metode spitting dan laju aliran saliva diukur menggunakan disposable syringe dengan satuan ml/ menit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata laju aliran saliva awal pada kelompok kontrol yaitu 0,23 ml/menit dan laju aliran saliva akhir kelompok kontrol yaitu 0,28 ml/menit. Sedangkan rerata laju aliran saliva awal pada kelompok perlakuan yaitu 0,24 ml/menit dan laju aliran saliva akhir kelompok perlakuan yaitu 0,83 ml/menit. Dapat disimpulkan bahwa buah jambu biji merah dapat meningkatkan laju aliran saliva pada penderita Xerostomia yang mengonsumsi Telmisartan.Kata kunci: xerostomia, jambu biji merah, laju aliran saliva.
Pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva Rawung, Feiby; Wuisan, Jane; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.16538

Abstract

Abstract: Mouthwash is one of the accessible oral healthcare and practical for use by the community. Various commercial products contain more than one active ingredient; the most common one is alcohol with varied concentrations from 6% to 26%. Mouthwash with high concentration of alcohol can cause some effects to some users, like burning and dry sensation of the oral mucosa. Dry oral mucosa caused by reduced saliva production will be more susceptible to irritation. Reduced amount of saliva also causes lower oral pH which leads to increased growth of cariogenic bacteria. This study was aimed to investigate the influence of alcoholic mouthwash to salivary flow and salivary pH. This was a quasi-experiment study with before and after treatment groups. The population study was students of Dental Medical Education Program of Medical Faculty of University of Sam Ratulangi, Manado, batch 2012, with a total of 30 respondents obtained by using purposive sampling method. The T test showed that salivary flow rate before and after treatment had no significant difference (p >0.05) based on T test. Moreover, the Wilcoxon test showed that there was no significant difference of salivary pH between before and after treatment (p >0.05). Conclusion: There was no effect of rinsing with alcoholic mouthwash on salivary flow and salivary pH.Keywords: alcoholic mouthwash, salivary flow rate, salivary pH Abstrak: Obat kumur merupakan salah satu produk perawatan kesehatan gigi dan mulut yang mudah diperoleh dan praktis digunakan sendiri oleh masyarakat. Berbagai produk komersial mengandung lebih dari satu bahan aktif; salah satunya yaitu alkohol dengan konsentrasi bervariasi dari 6% hingga 26,9%. Kandungan alkohol yang tinggi dapat menimbulkan efek bagi sebagian pengguna, seperti sensasi terbakar dan kering di area mukosa mulut disebabkan berkurangnya saliva yang memudahkan terjadinya iritasi. Berkurangnya saliva juga menyebabkan pH mulut rendah sehingga pertumbuhan bakteri kariogenik meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva. Jenis penelitian ialah eksperimen semu dengan kelompok sebelum dan sesudah perlakuan. Populasi penelitian yaitu mahasiswa Angkatan Tahun 2012 Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi Manado yang berjumlah 30 responden, diperoleh dengan purposive sampling. Hasil uji T berpasangan mennunjukkan data laju aliran saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Berdasarkan uji Wilcoxon, data pH saliva sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan bermakna (p >0,05). Simpulan: Tidak terdapat pengaruh berkumur dengan obat kumur beralkohol terhadap laju aliran saliva dan pH saliva.Kata kunci: obat kumur beralkohol, laju aliran saliva, pH saliva
Uji daya hambat ekstrak daun serai (Cymbopogon citratus L) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Kawengian, Susanna A. F.; Wuisan, Jane; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14736

Abstract

Abstract: One of the plants that can be used in medical field is the lemongrass plant (Cymboogon citratus) that has lush and dense leaves. Lemongrass leaves contain alkaloids, saponins, tannins, polyphenols, and flavonoids. Streptococcus mutans is known as one of the bacteria that can cause dental caries. An alternative way to eliminate Streptococcus mutans is by using lemongrass leaves. This study was aimed to determine the antibacterial effect of lemon grass leaves extract in inhibition of the growth of Streptococcus mutans and its degree of effectivenss referred to the inhibition zone. This was an experimental study using modified Kirby-bauer method with wells. The leaves of lemon grass were taken from Kalawat, North Minahasa then they were extracted with maceration method using 96% ethanol. Streptococcus mutans were obtained from the pure stock of Pharmacy Laboratory MIPA Sam Ratulangi University. The results showed that the total diameter of inhibition zone of lemon grass leaves extract against Streptococcus mutans was 19.8 mm with an average of 3.96 mm. Conclusion: Lemon grass extract was effective in inhibition of Streptococcus mutans with an average diameter of inhobotion zone of 3.96 mm.Keywords: lemon grass leaves, Streptococcus mutans, inhibition zone Abstrak: Salah satu tanaman yang dipercaya dapat dijadikan obat yaitu tanaman serai (Cymbopogon citratus) yang memiliki daun yang rimbun dan lebat. Daun serai mengandung alkaloid, saponin, tanin, polifenol dan flavonoid. Streptococcus mutans merupakan salah satu penyebab karies gigi. Cara alternatif untuk menanggulangi Streptococcus mutans yaitu dengan menggunakan daun serai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun serai memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans serta menilai besar daya hambat ekstrak daun serai terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dilihat dari diameter zona hambat. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-bauer menggunakan sumuran. Sampel daun serai diambil dari daerah Kalawat Kabupaten Minahasa Utara kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Farmakologi MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian mendapatkan total diameter zona hambat ekstrak daun serai terhadap Streptococcus mutans sebesar 19,8 mm dengan nilai rerata sebesar 3,96 mm. Simpulan: Ekstrak daun serai memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dengan rerata zona hambat sebesar 3,96 mm.Kata kunci: daun serai (cymbopogon citratus L), streptococcus mutans, zona hambat