Claim Missing Document
Check
Articles

Navigasi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam Diskursus Sains: Tinjauan Pustaka Kritis Hasyim Hasyim; Syahril Ramadhan; Agung Pranoto Kadiatmaja
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji posisi dan fungsi Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Edisi V dalam konteks komunikasi ilmiah kontemporer, khususnya kaitannya dengan kredibilitas epistemik karya ilmiah dan kesenjangan antara penguasaan kaidah ejaan secara teoretis dan penerapannya dalam praktik penulisan ilmiah di berbagai jenjang pendidikan serta dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah global turut memengaruhi rendahnya kepatuhan terhadap EYD, sehingga bahasa Indonesia kerap diposisikan sebagai bahasa ilmiah sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi celah, kontradiksi, serta peluang dalam penerapan EYD guna memperkuat peran bahasa Indonesia sebagai wahana pengetahuan ilmiah yang kompetitif di tingkat global.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka kritis terhadap dokumen resmi dan literatur ilmiah yang relevan, serta mengikuti prosedur PRISMA untuk menjamin sistematisitas analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengabaian EYD dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, selain itu, digitalisasi memberikan dampak ganda berupa dukungan melalui alat bantu bahasa sekaligus tantangan dalam visibilitas karya ilmiah akibat mekanisme algoritma pencarian. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan dan adaptasi kebijakan kebahasaan agar bahasa Indonesia mampu berfungsi secara optimal sebagai wahana pengetahuan ilmiah yang kompetitif di tingkat global.
Penyimpangan Kaidah Penulisan Unsur Serapan Dalam Komentar Warganet Pada Portal Berita Daring Muhammad Adib Jamal; Fa’iz Al Fauzan; Agung Pranoto Kadiatmaja
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penyimpangan kaidah penulisan unsur serapan dalam komentar warganet pada portal berita daring, mengidentifikasi faktor penyebabnya, serta menganalisis dampaknya terhadap penggunaan bahasa Indonesia di media digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi komentar warganet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyimpangan meliputi penggunaan langsung bahasa asing tanpa penyesuaian, pencampuran bahasa (interferensi), kesalahan ejaan (ortografis), ketidakkonsistenan penggunaan bentuk serapan, serta pengaruh bahasa lisan dan gaya informal. Faktor penyebabnya antara lain kurangnya pemahaman terhadap kaidah bahasa, pengaruh kuat bahasa asing, kebiasaan penggunaan bahasa tidak baku di media sosial, tuntutan kecepatan dalam menulis, rendahnya kesadaran berbahasa, serta pengaruh tren populer. Dampak yang ditimbulkan mencakup menurunnya kualitas penggunaan bahasa Indonesia, munculnya kebingungan makna, terbentuknya kebiasaan berbahasa tidak baku, terhambatnya proses pembelajaran, berkurangnya efektivitas komunikasi, serta terganggunya upaya pembinaan bahasa.
Kesalahan Penggunaan Kalimat Efektif dalam Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Zainal Arif; Muhammad Alvian; Agung Pranata Kadiatmaja
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis fenomena ketidakefektifan kalimat dalam karya tulis ilmiah mahasiswa dengan fokus pada aspek gramatikal dan semantis. Ketidakefektifan bahasa dalam ranah akademik sering kali menghambat diseminasi gagasan secara presisi dan objektif. Melalui metode studi analisis dokumen terhadap makalah mahasiswa, penelitian ini mengevaluasi enam parameter utama keefektifan kalimat, yaitu kesatuan, kelogisan, kehematan, kepaduan, ketepatan ejaan, dan ketepatan pemilihan kata (diksi). Temuan penelitian menunjukkan adanya deviasi mendasar pada struktur sintaksis yang menyebabkan kaburnya gagasan pokok, redundansi preposisi, serta inkonsistensi paralelisme bentuk kata. Selain itu, ditemukan penggunaan diksi yang bersifat negatif-defensif serta kesalahan penerapan tanda baca yang memicu ambiguitas makna. Hasil analisis ini menegaskan bahwa penguasaan kalimat efektif yang bersifat afirmatif, logis, dan hemat merupakan prasyarat mutlak dalam meningkatkan kualitas serta otoritas ilmiah tulisan mahasiswa. Sebagai solusi praktis, penelitian ini menyertakan rekonstruksi kalimat berdasarkan kaidah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI/EYD) guna memberikan referensi aplikatif bagi peningkatan literasi akademik di perguruan tinggi.
Pergeseran Kaidah Penggunaan Huruf Kapital dalam Media Sosial pada Penutur Muda Ega Alreda Ramadhani; Agung Pranoto Kadiatmaja; Dafa Rizki
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan huruf kapital dalam media sosial pada kalangan penutur muda menunjukkan adanya perubahan dari kaidah bahasa baku menuju praktik yang lebih kontekstual dan ekspresif. Fenomena ini dilatarbelakangi oleh karakteristik komunikasi digital yang menekankan kecepatan, keakraban, dan ekspresi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk variasi penggunaan huruf kapital serta fungsi pragmatis dan makna sosial yang menyertainya dalam komunikasi media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi dan analisis wacana terhadap data berupa potongan teks dari WhatsApp dan Instagram yang dianonimkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga pola utama penggunaan huruf kapital, yaitu kapital penuh, huruf kecil secara konsisten, dan kapitalisasi parsial. Ketiga bentuk tersebut memiliki fungsi pragmatis yang berbeda, seperti mengekspresikan emosi, menciptakan keakraban, serta memberikan penekanan makna. Selain itu, variasi kapitalisasi juga berfungsi sebagai penanda identitas sosial penutur dalam komunitas digital. Dengan demikian, penggunaan huruf kapital dalam media sosial tidak lagi semata-mata mengikuti kaidah baku, tetapi telah mengalami perluasan fungsi sebagai bagian dari praktik komunikasi digital yang dinamis. Meskipun demikian, penggunaan kaidah bahasa tetap diperlukan dalam konteks formal untuk menjaga kejelasan dan keteraturan komunikasi.
STUDI LINGUISTIK DAN SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA Muhammad Fauzan
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 1 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JANUARI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i1.21782

Abstract

Penelitian ini membahas sejarah perkembangan ejaan Bahasa Indonesia sebagai bagian dari perjalanan bangsa dalam membentuk identitas linguistik dan nasional. Ejaan memiliki peranan penting tidak hanya sebagai sistem teknis penulisan, tetapi juga sebagai representasi sosial, politik, dan ideologis yang mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia dari masa kolonial hingga era modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri perubahan sistem ejaan dari Ejaan Van Ophuijsen , Ejaan Soewandi, Ejaan Yang Disempurnakan, hingga Ejaan Bahasa Indonesia, serta mengungkap konteks sosial dan politik di balik setiap transformasi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif historis dengan pendekatan kualitatif dokumenter melalui analisis terhadap literatur, arsip kebahasaan, dan dokumen resmi pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perubahan ejaan berakar pada kondisi sosial dan ideologis yang berbeda: masa kolonial menampilkan dominasi linguistik Barat, masa kemerdekaan mencerminkan nasionalisme dan kemandirian, sementara era modern menunjukkan adaptasi terhadap globalisasi dan teknologi digital. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa evolusi ejaan merupakan manifestasi kesadaran nasional dan refleksi perkembangan peradaban bangsa Indonesia, sekaligus menjadi fondasi penting dalam pembinaan literasi dan kebijakan bahasa masa kini.
A Tawhid Analysis Of Worshiping Created Beings In Shaykh Ibn Baz's View Avanticha Dewi Harits; Mutia Azra Khadijah; Agung Pranoto Kadiatmaja
AL - IBRAH Vol 10 No 2 (2025): Al-Ibrah : Jurnal Pendidikan dan Keilmuan Islam
Publisher : Institut Bahri Asyiq Galis Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v10i2.759

Abstract

This paper examines the concept of tawhid as the fundamental principle in understanding the prohibition against worshipping created beings, based on the perspective of Shaykh Ibn Baz. The study aims to explain how tawhid al-uluhiyyah (the oneness of divinity in worship) confines all forms of devotion exclusively to Allah while rejecting any form of veneration directed toward prophets, angels, saints, or other creatures. Employing a qualitative, library-based research design through a content analysis approach, this study investigates selected Qur’anic verses, authentic hadiths, and the writings of Shaykh Ibn Baz to identify the patterns of reasoning and theological foundations underlying his thought. The analysis reveals that Ibn Baz consistently emphasizes tawhid al-uluhiyyah as the primary safeguard against various forms of contemporary polytheism, including the deification of individuals and the redirection of supplications to entities other than Allah. The findings indicate that approximately seventy percent of Ibn Baz’s arguments focus on the purification of worship and the prevention of tawhid distortion within modern social contexts. This study concludes that Ibn Baz’s thought not only reinforces the Qur’anic message of purifying worship but also provides a relevant theological paradigm for addressing modern phenomena that may obscure the oneness of Allah.
Political Occultism in Contemporary Indonesia: Divination, Epistemic Confusion, and the Eclipse of Tawhid Azfa Muzaki Ali; Agung Pranoto Kadiatmaja
Aqlania Vol. 17 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v17i1.258

Abstract

The use of political occultism is still prevalent in the political circles of Indonesia in the form of divination, paranormal consultation, talismans, and supernatural claims are some of the ways these practices are being used to support a candidate's political legitimacy. The article uses Muhammad Abid al-Jabiri's views on the different kinds of reasoning as the basis. Moreover, it incorporates Ibn Taymiyyah's distinction between divine and worship-related monotheism. With the aid of qualitative library research, conceptual analysis, source criticism, and philosophical interpreting techniques the researchers have been able to sort out the recorded activities and have also made judgments about their claims for knowledge, theological aspects, and the threats of democracy. The authors state that political occultism is not the same thing as Sufism or 'irfān. A misunderstanding of the epistemic level takes place if individual unchallengeable assertions are transformed into public power without textual supervision, demonstration of proof, or ethical accountability. The article sets up an epistemic-theological grid in which the different functions of moral advising, customary practices, divination, and talismanic protection can be identified, so as to allow an accurate critique of supernatural absolutization without the need to brand the local culture as a whole.
Online Ruqyah in The Digital Age: A Tawhid Based Critical Analysis from Al-Qur’an and Hadits Nur Fathin Hakim; Maritsa Zein; Agung Pranoto Kadiatmaja
Al-Hukumah: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Studi Islam Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Konsultan Jurnal Ilmiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63738/al-hukumah.v2i2.25

Abstract

This study critically examines the phenomenon of online Ruqyah in the digital era through a Tawhid based theological framework derived from the Qur’an, Hadith, and classical works such as Kitab At-Tauhid by Muhammad ibn Abd al-Wahhab. It explores whether this digital adaptation of spiritual healing aligns with the principles of Ruqyah Shar‘iyyah and safeguards the purity of Tawhid al-Uluhiyyah. Employing a qualitative library research approach, the study analyzes Qur’anic texts, Prophetic traditions, and scholarly literature on digital Islam. Findings indicate that while online Ruqyah enhances accessibility and serves as a medium for da’wah and spiritual education, it fails to fulfill the essential methodological (kayfiyyah) elements prescribed in the Sunnah particularly Masah (wiping) and Nafth (blowing) thereby challenging its theological validity as affirmed by scholars such as Shaykh Al-Fawzan. The digital mediation of supplication, absent during the Prophet’s era, further risks bid‘ah (religious innovation) and dilutes the sincerity (ikhlāṣ) and tawakkul central to authentic worship. Nevertheless, the study underscores the need for empirical engagement with users’ experiences to evaluate whether digital Ruqyah may function as a complementary form of guided self Ruqyah and an evolving expression of faith within contemporary digital religiosity.
Tawhid’s Therapeutic Potential Against Overthinking and Anxiety in Muslim Societies: Qur’anic, Hadith, Salafi Scholarship Arba’iniyah Khoirunnisa’; Alphareza Lovina Ramadhanie; Agung Pranoto Kadiatmaja
Quality : Journal Of Education, Arabic And Islamic Studies Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/qwt.v4i1.135

Abstract

This research investigates the therapeutic potential of Tawhid (affirming God's absolute oneness) as a Qur'anic and Hadith-based solution for overthinking and anxiety prevalent in contemporary Muslim societies. The study addresses the escalating prevalence of these mental health issues, which affect up to 30% of the population in Muslim-majority countries and are exacerbated by socio-economic pressures and inadequate culturally tailored mental health resources. Utilizing a qualitative Library Research method, the study conducts an in-depth content analysis of primary sources (Qur'an and Hadith) and secondary sources (classical tafsir and Salafi scholarly works). The findings affirm that Tawhid serves as a foundational al-ilaj ar-ruhiy (spiritual therapy) that provides a robust cognitive and emotional framework. The study identifies three core mechanisms derived from Tawhid: Tawhid Rububiyyah (Lordship) combats future anxiety and rumination through reliance on Qadar (Divine Decree) and cultivating Tawakkul (reliance); Tawhid Uluhiyyah (Worship) provides behavioral solutions like Dhikr, which acts as a cognitive soother; and Tawhid Asma’ wa Sifat (Names and Attributes) enhances psychological resources by combating helplessness and guilt rumination through names like Al-Wakil (The Disposer of Affairs) and Al-Ghafur (The Forgiving). Furthermore, specific Islamic strategies such as Tahajud, Dhikr, Tawakkul, and Rida (acceptance of divine decree) are affirmed to promote sakinah (tranquility), aligning the Salafi creedal doctrine with principles of modern cognitive restructuring therapy. The novelty lies in its rigorous, targeted, and holistic analysis through the Salafi scholarly lens, offering a doctrinally sound and psychologically relevant framework for intervention.
The Concept and Virtue of Tauhid in Kitab At-Tauhid by Shaykh Muhammad bin Abdul-Wahhab: An Analytical Study of Chapters One and Two: - Ainaya Azahra; Sakinah Rahmania Bajubair; Agung Pranoto Kadiatmaja
Quality : Journal Of Education, Arabic And Islamic Studies Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/qwt.v4i1.141

Abstract

This study aims to examine the concept and significance of Tauhid (the Oneness of Allah) as presented in Kitab At-Tauhid by Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab, with a focus on the first two chapters: “At-Tauhid” and “The Virtue of Tauhid and Its Expiation of Sins.” This research employs a qualitative method using a library research approach by analyzing primary and secondary sources, including the Qur’an, authentic hadiths, and classical Islamic commentaries. The findings reveal that Tauhid is not merely a theological doctrine but a transformative principle that purifies the heart, strengthens faith, and shapes moral character. Shaykh ibn Abd al-Wahhab’s reformist effort sought to restore the purity of Islamic monotheism and eliminate deviant practices such as reliance on intermediaries and saint veneration. This study concludes that Tauhid possesses enduring spiritual and ethical relevance in addressing contemporary moral crises, materialism, and secularism, functioning as a foundational framework for faith renewal, moral integrity, and universal harmony.