Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Teacher Readiness in Deep Learning for the IPAS Subject My Indonesia: Rich in Culture and History at SDN Sungai Lutut 4 Banjarmasin Yahya, Daud; Safitri, Hijrah
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 14, No 2 (2026): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (Issu in Progress)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v14i2.14750

Abstract

Deep Learning as a core approach in the Merdeka Curriculum requires teachers to design meaningful, contextual, and student-centered learning experiences. This study aims to describe the readiness level of teachers at SDN Sungai Lulut 4 Banjarmasin in implementing Deep Learning in the subject of Natural and Social Sciences (IPAS), particularly for the topic “My Indonesia Rich in Culture and History.” This research employed a descriptive qualitative approach through in-depth interviews, classroom observations, and document analysis of teaching materials. The main informants were two fourth-grade teachers at SDN Sungai Lulut 4 Banjarmasin. The findings indicate that teachers possess a basic understanding of the Deep Learning concept; however, they still encounter challenges in its implementation, particularly in planning authentic assessments, managing project-based activities, and utilizing local learning resources. In addition, teachers expressed enthusiasm for integrating Banjar cultural values, yet limited time and training hinder optimal implementation. In conclusion, the teachers’ readiness level is categorized as adequate, but further improvement in pedagogical competence, curriculum understanding, and school support is needed to ensure IPAS learning becomes deeper, more relevant, and contextual for students.
Bertahan Melewati Krisis: Etnis Tionghoa Pasca Kerusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin Alfarius, Willy; Rahayu, Rahayu; Effendi, Rusdi; Yahya, Daud; Susanto, Heri; Akmal, Helmi
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 9, No 1 (2026): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v9i1.113318

Abstract

Peristiwa 23 Mei 1997 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan merupakan kerusuhan besar yang dipicu pertikaian kampanye Pemilu 1997 dan meluas menjadi isu rasial dengan etnis Tionghoa sebagai sasaran kekerasan di tengah krisis ekonomi dan politik jelang akhir Orde Baru. Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses bertahan dan membangun kembali kehidupan etnis Tionghoa pasca kerusuhan tersebut. Selama ini, kajian mengenai Peristiwa 23 Mei 1997 terbatas pada jalannya peristiwa kerusuhan saja. Dampak panjang, termasuk trauma yang menyertai korban kerusuhan bertahun-tahun setelah peristiwa, masih sangat jarang diteliti. Metode sejarah digunakan dengan sumber berupa surat kabar sezaman, laporan penelitian, dan wawancara saksi sejarah, menggunakan pendekatan sejarah sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mengalami serangan masif dan harus mengungsi, bahkan menghadapi krisis berikutnya pada 21 Mei 1998, etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas mampu bertahan melewati masa-masa krisis. Penelitian menyimpulkan bahwa etnis Tionghoa berhasil memulihkan kembali kehidupan sosial ekonominya seperti sebelum krisis, meskipun sebagian tidak kembali ke Banjarmasin.