Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pendidikan Vokasi Aviasi: Peluang dan Tantangan Heri Sudarmaji; Genny Luhung Prasojo; Gatut Rubiono; Rifki Arif
SKYHAWK : Jurnal Aviasi Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): SKYHAWK : Jurnal Aviasi Indonesia
Publisher : Indonesia Civil Pilot Academy Banyuwagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.845 KB) | DOI: 10.52074/skyhawk.v1i1.1

Abstract

Pendidikan vokasi memegang peranan penting dalam dunia Pendidikan, khususnya dalam menyiapkan tenaga ahli dan tenaga terampil di berbagai sektor kehidupan. Demikian halnya dengan pendidikan di bidang aviasi atau penerbangan. Berbagai perkembangan kehidupan manusia, baik perkembangan teknologi maupun meningkatnya berbagai kebutuhan kehidupan telah membawa dampak dalam berbagai hal. Pendidikan vokasi di bidang aviasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman agar dapat selalu memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan menyesuaikan dengan tuntutan dunia kerja yang selalu berkembang.
Diplomacy Review of Delegation of Republic of Indonesia to the International Civil Aviation Organization in Montreal Canada Afen Sena; Ahmad Hariri; Genny Luhung Prasojo; Prasetyo Iswahyudi
SKYHAWK : Jurnal Aviasi Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): SKYHAWK : Jurnal Aviasi Indonesia
Publisher : Indonesia Civil Pilot Academy Banyuwagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.438 KB) | DOI: 10.52074/skyhawk.v1i1.10

Abstract

The International Civil Aviation Organization (ICAO) is an important institution that mandates the world's civil aviation authorities to play a role in reforming Standards and Recommended Practices (SARPs) of civil aviation. SARPs are the main reference for all parties related to the issue of international civil aviation. Indonesia's relationship and cooperation with the ICAO is therefore, important and should be a priority. ICAO is an organization where Indonesia is able to protect and defend its national interests. Relations and cooperation with ICAO are priorities in order to help and improve Indonesian civil aviation safety and security. This study was based on observations made by the Permanent Delegation of Republic of Indonesia on the diplomatic role played in ICAO during 2020 by studying the latest aspects of ICAO governing bodies, development of specific issues, pending issues and follow-up of Indonesia diplomatic role in ICAO. In general, the aim of the diplomatic role in ICAO is focused on supporting the achievement of three items; 1) securing Indonesia's national interest in international civil aviation cooperation; 2) support international civil aviation programs and issues that are ICAO's priority; and 3) improve Indonesia's position in ICAO, especially in order to prepare for Indonesia's candidacy to the ICAO Council.
Strategi Membangun Kepercayaan Publik Bidang Transportasi Udara Terhadap Maskapai Penerbangan di Indonesia Ahnis Zulkarnain; Genny Luhung Prasojo; Hadi Prayitno; Efendi Efendi; Tri Agung Widayat
SKYHAWK : Jurnal Aviasi Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia
Publisher : Indonesia Civil Pilot Academy Banyuwagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52074/skyhawk.v3i2.127

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi peningkatan kepercayaan publik terhadap maskapai penerbangan di Indonesia dalam bidang transportasi udara. Kepercayaan publik terhadap maskapai penerbangan memiliki peran penting dalam mempengaruhi keputusan masyarakat untuk menggunakan jasa penerbangan. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kepercayaan publik serta merancang strategi yang efektif untuk meningkatkan kepercayaan publik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode statistik deskriptif untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Data diperoleh melalui kuisioner yang disebarkan kepada 50 responden yang merupakan masyarakat umum yang pernah menggunakan jasa maskapai penerbangan di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan terhadap faktor-faktor yang memengaruhi kepercayaan publik, seperti kompetensi, integritas, dan kepercayaan. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap strategi peningkatan kepercayaan publik yang diidentifikasi dalam penelitian ini. Strategi-strategi ini meliputi peningkatan kualitas pelayanan, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, seta membangun reputasi yang baik. Evaluasi terhadap efektivitas strategi ini dilakukan berdasarkan tingkat kepercayaan publik yang diukur setelah penerapan strategi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa strategi peningkatan kepercayaan publik terhadap maskapai penerbangan di Indonesia sangat penting untuk menjaga kepercayaan dan meningkatkan pengalaman positif penumpang. ­
Pengaruh Keterlibatan Orangtua Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar Taruna Program Studi Operasi Pesawat Udara Fajar Islam; Efendi Efendi; Hadi Prayitno; Genny Luhung Prasojo; Rangga Handhika Putra
SKYHAWK : Jurnal Aviasi Indonesia Vol. 3 No. 2 (2023): SKYHAWK: Jurnal Aviasi Indonesia
Publisher : Indonesia Civil Pilot Academy Banyuwagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52074/skyhawk.v3i2.138

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh keterlibatan orangtua terhadap motivasi dan hasil belajar taruna pada Program Studi Operasi Pesawat Udara di API Banyuwangi. Keterlibatan orangtua dalam konteks pendidikan mempunyai potensi untuk mempengaruhi sikap dan prestasi dalam akademik taruna. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel 60 taruna dari Program Studi Operasi Pesawat Udara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dilakukan terhadap responden dimana data yang didapatkan dari hasil kuesioner (google form) yang diedarkan kepada taruna Program Studi Operasi Pesawat Udara. Analisa data dilakukan menggunakan metode statistik deskriptif dan regresi untuk mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan orangtua terhadap motivasi dan hasil belajar taruna. Hasil penelitian menunjukkan variabel independen keterlibatan orangtua mempunyai pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar dimana nilai koefesien sebesar 0,666 dengan standar error 0,111 dan nilai t-statistik untuk variabel motivasi belajar sebesar 5,976 dengan nilai p yang sangat rendah (<0,001). Kemudian variabel independent keterlibatan orangtua juga memiliki pengaruh signifikan juga terhadap hasil belajar dimana nilai koefesien sebesar 0,566 dengan standar error 0,101 dan nilai t-statistik untuk variabel hasil belajar sebesar 4,866 dengan nilai p yang sangat rendah (<0,001). Faktor dari keterlibatan orangtua dalam pendidikan secara moral bisa meningkatkan motivasi dan hasil belajar taruna apalagi siswa tersebut menjalani pendidikan di sekolah kedinasan yang jauh dari orangtua dan diasramakan.
Beyond Spatial Proximity: Integrating GIS and User Perceptions to Assess Public Transport Accessibility in Indonesian Medium-Sized Cities Ahmad Hariri; Genny Luhung Prasojo; Ahnis Zulkarnain; Ronny Durrotun Nasihien
Logistica : Journal of Logistic and Transportation Vol. 4 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/logistica.v4i2.1741

Abstract

Public transport accessibility is fundamental to sustainable urban mobility, yet conventional GIS-based spatial indicators often fail to capture commuters' lived experiences. This study integrates GIS-based and perception-based accessibility measures to provide a more comprehensive understanding of conditions in Indonesian medium-sized cities. A qualitative multiple-case study design was conducted across four cities—Malang, Mataram, Pontianak, and Kendari—involving fourteen informants including commuters, operators, planners, elderly passengers, and a person with disability. Data were gathered through semi-structured interviews, field observations, document review, and spatial analysis, then analyzed using open, axial, and selective coding alongside cross-case comparison, integrating spatial and qualitative findings. Results reveal that objective spatial accessibility and perceived accessibility are often inconsistent, producing four typologies combining high/low spatial and perceived accessibility. Key factors shaping perceived accessibility include walkability, sidewalk continuity, pedestrian safety, service reliability, waiting time, route suitability, information availability, intermodal integration, and inclusive infrastructure. Some residents near transit stops reported poor accessibility due to discontinuous pedestrian infrastructure and unreliable services, while others accepted longer walking distances when services were predictable and affordable—showing accessibility depends on the entire travel experience, not just spatial proximity. The study concludes that GIS indicators should be complemented by perception-based measures, offering an integrated framework to identify mismatches between infrastructure and commuter experience and support inclusive, user-centered transport planning in Indonesian medium-sized cities.
Social Consequences of Public Transport Accessibility Gaps for Vulnerable Groups in Indonesian Medium-Sized Cities: A Multiple-Case Study Hadi Prayitno; Ahmad Hariri; Genny Luhung Prasojo
Logistica : Journal of Logistic and Transportation Vol. 3 No. 4 (2025): October 2025
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/logistica.v3i4.1743

Abstract

Public transport accessibility is essential for promoting equitable urban mobility and social inclusion, particularly in medium-sized cities experiencing rapid suburban expansion. In many Indonesian cities, the growth of peripheral settlements has outpaced the development of public transport networks, resulting in unequal accessibility between urban centers and peripheral areas. This study investigates the social consequences of these accessibility gaps for vulnerable population groups in three Indonesian medium-sized cities: Malang, Mataram, and Palu. A qualitative multiple-case study design was employed. Data were collected during January 2025 through field observations, document analysis, and semi-structured interviews with ten purposively selected participants representing public transport users, peripheral commuters, students, older adults, transport operators, drivers, government officials, and an academic. Interview transcripts were analyzed using thematic analysis through iterative open, axial, and selective coding to identify recurring patterns across the three case cities. The findings reveal consistent disparities in public transport accessibility between urban centers and peripheral areas. Urban centers were characterized by denser route networks, higher service frequency, shorter waiting times, and better first-mile and last-mile connectivity. In contrast, peripheral areas experienced limited route availability, infrequent and unreliable services, longer walking distances to stops, and inadequate pedestrian infrastructure. These accessibility gaps generated significant social consequences, including increased travel costs, delayed access to employment and education, restricted access to healthcare, reduced daily mobility, and greater dependence on private motorcycles, ride-hailing services, and family support. Older adults, persons with disabilities, students, low-income households, and peripheral residents were identified as the groups most adversely affected. The findings further indicate that accessibility inequality is reinforced by rapid suburban expansion, limited public funding, low commercial viability of peripheral routes, and insufficient integration between transport planning and land-use planning. The study concludes that improving public transport accessibility requires more than expanding route coverage. Equitable mobility depends on reliable service frequency, effective first-mile and last-mile connections, accessible pedestrian infrastructure, and integrated transport–land-use planning. Policy interventions should prioritize peripheral route expansion, feeder services, operational subsidies for socially necessary routes, and coordinated governance to reduce transport-related social exclusion and promote inclusive urban development in Indonesian medium-sized cities.