Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

SEBARAN DAN KONDISI ANAKAN JENIS MERANTI (Shorea spp) DARI POHON INDUK DI KHDTK ULM Dony Pratama; Gusti Syeransyah Rudy; Susilawati Susilawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i3.9217

Abstract

Kalimantan has tropical natural forests which are mostly dominated by the dipterocarpaceae family, which are known by the trade names: meranti (Shorea spp), bangkirai (Shorea laevis), lime (Dryobalanops aromatica), resak (Vatica wallichii), and keruing (Dipterocarpus). The Shorea clan or commonly referred to as the meranti group is one of the genera of the Dipterocarpaceae tribe that grows in the lowlands. Meranti is a commercial tree species with the main wood producer in Indonesia that has been traded since the start of natural forest exploitation in the era around 1970. Sampling of the mother tree of meranti (Shorea spp) was determined purposive sampling in the KHDTK ULM Mandiangin area with a total of 3 trees for 3 types of meranti. The observation of meranti (Shorea spp) saplings was carried out around the meranti mother tree. Data analysis was carried out to identify mother trees and natural meranti saplings by calculating tree diameter, branch-free height, total tree height, measuring canopy area, and calculating the number of meranti saplings. There are 3 types of meranti mother tree distribution in KHDTK Mandiangin (Shorea spp), namely red meranti (Shorea leprosula), white meranti (Shorea javanica), and yellow meranti (Shorea acuminatissima). Each type of meranti mother tree has various diameters, total height, branch-free height, and canopy width. The distribution of saplings from the mother meranti tree (Shorea spp) contained 3 types of meranti saplings, namely red meranti saplings with a total of 58 tillers, white meranti saplings with 167 tillers, and yellow meranti saplings with a total of 45 tillers.Kalimantan memiliki hutan alam tropis yang sebagian besar didominasi oleh famili dipterocarpaceae yang antara lain dikenal dengan nama perdagangan: meranti (Shorea spp), bangkirai (Shorea laevis), kapur (Dryobalanops aromatica), resak (Vatica wallichii) dan keruing (Dipterocarpus). Marga shorea atau yang secara umum biasa disebut dengan kelompok meranti merupakan salah satu marga dari suku dipterocarpaceae yang tumbuh di dataran rendah. Meranti merupakan jenis pohon komersil dengan penghasil kayu utama di Indonesia yang telah diperdagangkan sejak dimulainya pengusahaan hutan alam pada era sekitar tahun 1970. Pengambilan sampel pohon induk meranti (Shorea spp) ditentukan secara purposive sampling di areal KHDTK ULM Mandiangin dengan jumlah 3 pohon untuk 3 jenis meranti. Pengamatan anakan meranti (Shorea spp) dilakukan disekitar pohon induk meranti. Analisis data yang dilakukan untuk mengidentifikasi pohon induk dan anakan alam meranti dengan cara menghitung diameter pohon, tinggi bebas cabang, tinggi total pohon, pengukuran luas tajuk, dan perhitungan jumlah anakan meranti. Persebaran jenis pohon induk meranti di KHDTK Mandiangin terdapat 3 jenis meranti (Shorea spp) yaitu Meranti merah (Shorea leprosula), Meranti putih (Shorea javanica), dan Meranti Kuning (Shorea acuminatissima). Setiap jenis pohon induk meranti memiliki diameter, tinggi total, tinggi bebas cabang, dan lebar tajuk yang bervariasi. Persebaran jenis anakan dari pohon induk meranti (Shorea spp) terdapat 3 jenis anakan meranti yaitu anakan meranti merah dengan jumlah 58 anakan, anakan meranti putih dengan jumlah 167 anakan, dan anakan meranti kuning dengan jumlah 45 anakan.
ANALISIS ASOSIASI JENIS VEGETASI DI HUTAN LINDUNG GUNUNG KERAMAIAN KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Syifa Camellya Usman; Setia Budi Peran; Gusti Syeransyah Rudy
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i5.10667

Abstract

One of the protected forest located in the Tanah Laut district, namely Mount Crowds with fairly well-maintained forest conditions. This study aims to analyze the association of vegetation types in the Gunung Keramaian Protection Forest at each growth rate at different altitudes. Checkered lines in identifying vegetation and performing analysis of vegetation type association calculations. The results showed that there were associations of vegetation types with positive combinations, negative combinations and neutral combinations. However, for combinations with real significance, there were only nine negative combinations found at each growth stage.Hutan lindung yang berada di kawasan Kabupaten Tanah Laut salah satunya yaitu Gunung Keramaian dengan kondisi hutan yang cukup terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asosiasi jenis vegetasi di hutan lindung Gunung Keramaian pada setiap tingkat pertumbuhan di ketinggian yang berbeda. Penelitian menggunakan metode kombinasi berupa metode jalur dan garis berpetak dalam melakukan identifikasi terhadap jenis vegetasi serta melakukan perhitungan asosiasi jenis vegetasi. Hasil penelitian terdapat asosiasi jenis vegetasi dengan kombinasi bernilai positif, kombinasi bernilai negatif dan kombinasi netral. Namun, untuk kombinasi dengan signifikansi nyata hanya terdapat sembilan kombinasi bernilai negatif yanng terdapat pada setiap tingkat pertumbuhan.
ANALISIS JENIS GULMA BERPOTENSI OBAT PADA KAWASAN PERKEBUNAN KARET DESA MABURAI KECAMATAN MURUNG PUDAK KABUPATEN TABALONG Ruben Taurio Krisnadi; Gusti Syeransyah Rudy; Normela Rachmawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11023

Abstract

Weeds in the rubber plantation area of Maburai Village have potential benefits as medicines. This study aims to analyze the diversity of weed species and weeds with medicinal potential in rubber plantations in Maburai Village. The study used a combination method in the form of purposive sampling and random methods in identifying weed species and calculating the diversity index and evenness index of weed species. The results showed that the diversity index of medicinal weeds H' was 2.43, with the dominance of weed species 54% and individual dominance of weed 60%.Gulma yang berada di kawasan perkebunan karet Desa Maburai memiliki potensi manfaat sebagai obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman jenis gulma dan gulma berpotensi obat di perkebunan karet Desa Maburai. Penelitian menggunakan metode kombinasi berupa metode purposive sampling dan random dalam melakukan identifikasi terhadap jenis gulma serta melakukan perhitungan indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan jenis gulma. Hasil penelitian terdapat indeks keanekaragaman jenis gulma obat H’ 2,43, dengan dominansi jenis obat 54% dan dominansi individu obat 60%.
ANALISIS KOMUNITAS TUMBUHAN DI HUTAN LINDUNG GUNUNG KERAMAIAN KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Asfinnur Ahmad Triputra; Gusti Syeransyah Rudy; Setia Budi Peran
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.12317

Abstract

Mount Keramaian is included in a protected forest area in Tanah Laut Regency. The research was conducted to analyze the composition and structure, diversity, evenness and similarity of plant communities at different altitudes in the area. Identification is done by using a combination method between the path method and the checkered line method. Obtained the results of the number of vegetation types as many as 45 species with very less, lees and sufficient dominance categories. As for diversity, there are moderate and evenly distributed categories and community similarities, there are seven communities with low categories and five communities with high categories.Gunung Keramaian termasuk dalam kawasan hutan lindung yang berada di Kabupaten Tanah Laut. Penelitian dilakukan untuk menganalisis komposisi dan struktur, keanekaragaman, kemerataan serta kesamaan komunitas tumbuhan pada ketinggian berbeda di kawasan tersebut. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi antara metode jalur dengan garis berpetak. Memperoleh hasil jumlah jenis vegetasi sebanyak 45 jenis dengan kategori dominasi sangat kurang, kurang dan cukup. Sedangkan untuk keanekaragaman terdapat kategori sedang dan merata, serta kesamaan komunitas terdapat tujuh komunitas dengan kategori rendah dan lima komunitas dengan kategori tinggi
Analisis Vegetasi Hutan Wisata Bukit Pulau Tangka Di Desa Mandiangin Timur Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Muhammad Adnan Nurwachid; Setia Budi Peran; Gusti Syeransyah Rudy
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9155

Abstract

Vegetation analysis is a way studying arrangement or composition of types and forms or structure of vegetation. This research uses 4 formulas as a reference, namely Importance Value Index, Diversity Index, Evenness Index, and Dominance Index. Purpose of this research was the structure and composition of vegetation, to analyze the dominant species at various growth levels, to provide information on the diversity of vegetation in the Bukit Pulau Tangka tourist forest as an area development effort. This research method covers the objects used, namely all levels of growth and equipment in general. The plots used were 3 plots with each plot being 300 meters long and the distance between plot lines being 100 meters long which contained 2x2 seedling levels, 5x5 saplings, 10x10 poles and 25x25 trees. The species composition found at all growth stages in the Bukit Pulau Tangka tourism forest was 54 species. At the seedling growth stage there were 35 species with 630 individual species, at the sapling growth stage there were 35 species with 551 individual species, at the pole growth stage there were 25 species with 433 individual species, and at the tree growth stage there were 20 species. with the number of individuals as many as 237 species. The highest importance value index was at the seedling growth rate, namely the Sari Berangkat species with a value of 32.8%, then at the sapling level, the Sari Berangkat species with a value of 20.21%, then at the pole level, the Madang puspa type with a value of 68.58%, and at the tree level, namely the Madang puspa with a score of 132.65%.Analisis vegetasi yaitu cara mempelajari komposisi dan susunan jenis atau bentuk serta struktur dalam vegetasi. Penelitan ini menggunakan 4 rumus sebagai acuannya yaitu indeks nilai penting (INP), indeks keanekaragaman (H’), indeks kemerataan (E), dan indeks dominansi (C). Tujuan penelitian ini untuk mempelajari struktur dan komposisi vegetasi, menganalisis dominan berbagai tingkat pertumbuhan, memberikan informasi keanekaragaman vegetasi pada hutan wisata Bukit Pulau Tangka sebagai upaya pengembangan kawasan. Metode penelitian ini mencakup objek yang digunakan yaitu semua tingkat pertumbuhan dan peralatan secara umum. Plot yang digunakan sebanyak 3 plot dengan masing-masing plot sepanjang 300 meter  dan jarak antar jalur plot sepanjang 100 meter yang berisikan tingkat semai seluas 2x2, pancang seluas 5x5, tiang seluas 10x10, dan pohon seluas 25x25. Komposisi jenis yang ditemukan disemua tingkat pertumbuhan pada hutan wisata Bukit Pulau Tangka sebanyak 54 jenis. Pada tingkatan pertumbuhan semai sebanyak 35 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 630 jenis, pada tingkatan pertumbuhan pancang sebanyak 35 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 551 jenis, pada tingkatan pertumbuhan tiang sebanyak 25 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 433 jenis, dan pada tingkatan pertumbuhan pohon sebanyak 20 jenis yang terdapat jumlah individu sebanyak 237 jenis. Terdapat INP tertinggi di tingkat pertumbuhan semai yaitu jenis Sari Berangkat dengan nilai 32.8%, kemudian di tingkatan pancang yaitu jenis Sari Berangkat dengan nilai 20.21%, kemudian di tingkatan tiang yaitu jenis Madang puspa dengan nilai sebesar 68.58%, dan pada tingkatan pohon yaitu jenis Madang puspa dengan nilai sebesar 132.65%.